Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Perjuangan Menuju Pelaminan


__ADS_3

Tata hanya bisa termenung. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan perkataan Haikal kemarin. Haikal pasti benar-benar marah padanya. Buktinya saat ia datang ke salon untuk mengembalikan rantang, Tata tidak menemukannya.


Hari ini, sejak satu jam lalu, Tata terus menatap gerbang kampus. Berharap Haikal muncul di sana seperti biasanya.


Tata tidak pernah menyangka jika kata-katanya tempo hari menyakiti hati Haikal. Seandainya Haikal ada di depannya saat ini, Tata ingin sekali meminta maaf.


Waktu terus berjalan, penantian Tata rupanya sia-sia. Mungkin Haikal masih marah hingga tidak mengantarkan rantang makanan untuknya.


Hati Tata mulai terasa nyeri. Hampir serupa saat ia melihat Gus Ali bersanding dengan orang lain. Mungkinkah ia sebenarnya telah jatuh hati pada Haikal?


Tata meraba dadanya. Seakan tak percaya kalau ia memikirkan pria yang lebih muda darinya itu. Jadi benar jika ia memang menyukai Haikal?


Tresno jalaran saka kulina, mungkin pepatah itu sedang ia rasakan. Dan entah mengapa Tata amat menyesali perkataannya saat itu.


Merasa Haikal tidak akan datang, Tata membalikkan badannya. Mungkin ia harus kembali ke kantornya untuk menenangkan diri.


Mengendalikan perasaan yang selalu kacau adalah hal yang tidak mudah. Jika ingat bagaimana tingkah lakunya saat ia terbawa perasaan, Tata malu sendiri. Ia berusaha bisa mengendalikan emosi.


Baru dua langkah, Tata berjalan. Suara salam dari arah gerbang membuatnya terkejut dan seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh." Tata menatap Haikal dengan sendu, bahkan air matanya mulai menetes.


Wajah Haikal spontan terlihat terkejut. Tata masih menatapnya dengan air mata yang bercucuran. Haikal merogoh sakunya, mengambil saputangan dan menyerahkannya kepada Tata.


Tata menerima sapu tangan itu, ia ingin sekali meminta maaf dan berterimakasih. Tapi tenggorokannya terasa tercekat. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar bertegur sapa dengan Haikal.


Seperti biasa, Haikal meletakkan rantang itu di dekat meja taman depan kampus. Tata masih menatapnya. Haikal terlihat ingin berbicara, tapi masih tidak angkat bicara.


Lama sekali mereka hanya saling menatap. Hingga akhirnya Haikal tersenyum kecil pada Tata sebelum berpamitan. Mendapati senyuman dari Haikal, hati Tata bergetar hebat.


Tepat setelah Haikal berjalan meninggalkan tempat, Tata bisa menguasai dirinya.


"T, tunggu Haikal." Tata menyusul Haikal yang menghentikan langkahnya.


"Saya minta maaf soal itu, ...."


"Sudah saya maafkan."

__ADS_1


Tata hanya bisa terdiam. Ia belum pernah merasa sekikuk ini di depan seorang laki-laki.


"Sudah, Ta? Tidak ada lagi yang mau anti bicarakan?" tanya Haikal dengan tenang. Pembawaannya yang tenang dan dewasa, membuat Tata menyadari siapa dirinya.


Tata kagum dengan sikap bijak Haikal yang mudah memaafkannya. Bahkan Haikal terasa lebih mampu menguasai diri dibanding Tata yang berusia lebih tua darinya. Hal ini membuat Tata merasa malu.


Tata menggeleng. Ia masih bergelut dengan hatinya hingga Haikal berpamitan lagi dan berjalan menjauh darinya.


Setelah keluar dari kampus, Haikal tidak bisa menahan senyumnya. Ia segera kembali ke salon karena di sana ada tamu agung yang sangat ia segani.


Baru mengucapkan salam dan masuk rumah yang juga salon itu, Haikal langsung diberondong pertanyaan oleh sang tamu.


"Bagaimana Tata?"


"Dia minta maaf, Gus."


"Waktu antum melamar ke abinya, gimana?" tanya Gus Ali lagi.


Haikal terlihat mengingat kembali bagaimana suasana saat ia memberanikan diri melamar Tata kepada abinya. Hal inilah yang membuatnya terlambat mengantar rantang pada Tata.


"Sepertinya abinya tidak suka sama ana." Haikal menunduk.


Wajah Gus Ali terlihat semringah saat membicarakan usaha Haikal melamar Tata, sahabatnya itu memang bermasalah dengan pengendalian emosi. Dan Gus Ali berharap banyak pada Haikal.


Apalagi Haikal telah menceritakan semua kepadanya. Dari sana pula Gus Ali melihat Haikal dan Tata sama-sama memiliki perasaan. Tinggal diarahkan ke jenjang yang lebih serius saja.


Mengetahui uminya Haikal selalu mengirim makanan kepada Tata, bagi Gus Ali ini pertanda kalau umi Haikal akan menerima Tata dengan baik. Tinggal menunggu jawaban Tata.


"Semoga kalian berjodoh. Sudah, jangan pikirkan tentang masalah sepele," ujar Gus Ali melihat Haikal termenung sesaat.


"Ehem, ehem." Dika yang sejak tadi merasa dikacangi mencari perhatian.


"Eh, iya, Kal. Sampai lupa tujuan utama kami ke sini. He he he." Gus Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sejak Mega memberitahu kalau ia memilih Dika, laki-laki itu ingin buru-buru melangsungkan pernikahan.


Bahkan Dika memaksa Gus Ali yang baru selesai mengajar di Madrasah untuk datang ke salon uminya Haikal yang sekaligus menjadi wedding organizer.

__ADS_1


"Jadi gini, perkenalkan ini Dika. Sepupu istri ana. Dia akan menikahi Mega."


Haikal cukup terkejut dengan ucapan Gus Ali. Ia tak menyangka jika Dika, lelaki yang pernah mengejar cinta Tata akhirnya melabuhkan hati pada Mega, sahabat Fatimah.


"Terkadang, dunia selebar daun kelor ya, Gus. Sepupu istri Gus ternyata jodohnya sahabat istri Gus. Jadi apa yang bisa ana bantu?"


"Ya banyaklah, Kal. Nanti ana akan nyewa wedding organizer antum untuk mewujudkan pernikahan impian Mega." Dika mengatakannya dengan sangat percaya diri. Dalam benaknya terbayang jika dia dan Mega duduk berdua di pelaminan yang mewah dan megah. Mengalahkan kemegahan pernikahan Gus Ali.


"Eh, memangnya antum sudah tahu tanggalnya?" Gus Ali menyenggol bahu Dika.


Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Dika hanya menggeleng dengan senyuman aneh.


"Belum sih, Gus. Kan baru tiga hari lagi lamaran resminya." Dika menggaruk tengkuknya.


"Antum sudah beli seserahan?" tanya Gus Ali memastikan.


"Belumlah, Gus. Kan dibeliin sama wedding organizer kan?"


"Astaghfirullah, ya enggaklah Dik. Mana bisa begitu? Ya antum tanya Mega dulu ukuran baju, sepatu, dan lain-lainnya."


"Begitu ya?"


Gus Ali dan Haikal terlihat jengkel dengan jawaban Dika. Mereka tidak pernah menyangka jika Dika bisa sangat tidak nyambung seperti ini.


"Kok antum gak kayak biasanya, sih, Dik?" tanya Gus Ali.


"Maaf, Gus. Deg-degan mau jadi pengantin, jadi eror ini kepala."


Gus Ali dan Haikal hanya saling pandang lalu berdecak heran. Tapi Gus Ali memaklumi karena ia juga pernah di posisi Dika.


"Ya sudah, antum temuin Mega. Ajak dia beli seserahan," perintah Haikal pada Dika.


"Nanti setelahnya bawa ke sini, biar kami yang membantu mengemas," lanjut Haikal.


"Oke, deh."


"Bentar, deh. Kata Mega kan nggak mau kalo jalan berduaan aja? Gus sama Fatimah harus ikut dong." Dika kini menoleh pada Gus Ali.

__ADS_1


"Iya, deh, iya. Ya sudah, Kal. Gitu aja ya. Ana harus ngurus calon manten nih. Kabarin juga ya kalau Tata udah ngasih jawaban. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Gus Ali dan Dika beranjak dari tempatnya. Mereka harus ke rumah dulu untuk menjemput Fatimah, baru ke kostnya Mega untuk mengajaknya membeli keperluan lamaran.


__ADS_2