
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Hari sudah semakin sore, Gus Ali terdiam merenung di ruang tamu. Bahkan Fatimah belum pulang. Ia sangat mencemaskan istrinya itu.
Kembali ia mengulang ingatan peristiwa yang terjadi padanya hari ini sangat berat menimpanya. Gus Ali membuang napas kasar. Matanya sesekali menatap jam di dinding yang jarumnya terus berputar.
Gus Ali mematung. Melihat foto Fatimah di galeri handphone membuat dadanya sedikit nyeri. Apalagi beberapa hari ia tidak akan ke kampus.
Sebuah telepon masuk dan mengagetkan. Gus Ali memandang deretan nomor itu dengan terheran. Nomor tidak diketahui. Dengan ragu Gus Ali mengangkatnya, sedikit berharap Fatimah lah yang menelepon.
"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Sayangnya harapan itu menguap bersamaan dengan suara laki-laki di seberang. Kening Gus Ali berkerut. Kalimat ancaman dari lawan bicaranya membuat dirinya menebak-nebak siapa yang kini menelponnya.
"Sampe lu bikin nangis Tata lagi, lu akan gua bikin nangis!" bentak orang di seberang.
"Apa belum cukup lu gua bikin di skors dari kampus?" tanya pria itu membuat Gus Ali langsung menebak kalau pria ini juga yang memasang foto dirinya dan Fatimah di kampus.
Gus Ali menghela napas. Ia sebenarnya tidak punya urusan dengan orang di telepon. Apalagi dia menyebut nama Tata. Gus Ali tidak bodoh, pasti lelaki ini orang yang menyukai sahabatnya itu.
"Sudah, saya banyak masalah. Jangan bikin saya tambah mumet. Kalau antum suka sama Tata, saya bantu dekati dia. Jangan ganggu saya apalagi rumah tangga saya."
Bukannya takut, pria di seberang malah tertawa. Gus Ali sebenarnya malas meladeni. Jika memang lelaki di telepon ini menyukai Tata, mengapa tidak langsung meminta Tata pada orang tuanya? Mengapa harus melibatkannya?
Apalagi jika Gus Ali teringat bagaimana Tata terbujuk rayuan setan untuk menggodanya. Padahal Gus Ali berkali-kali mengatakan kalau dirinya sudah menikah. Mungkin karena Tata tidak langsung bertemu dengan Fatimah membuat Tata meragukan kata Gus Ali.
"Awas lu. Lu jauhin Tata kalo mau istri lu selamat."
Mata Gus Ali langsung melebar. Ia sangat terkejut jika laki-laki di telepon telah menculik istrinya.
"Jangan main-main dengan kata-kata antum, apa Fatimah ada bersama antum?" Gus Ali panik. Ia merasa Fatimah dalam keadaan yang tidak baik.
"Haha. Jadi lu takut kalau istri lu gua apa-apain?"
"Jangan pernah sentuh istri saya atau kamu akan menyesal!" Gus Ali tak kalah menggertak saat menyangkut istrinya.
"Yaudah, bye-bye selamat tidur sendirian, sedangkan istri lu sekarang ada sama gua!"
Tut. Telepon terputus. Gus Ali langsung berdiri. Ia tidak bisa diam saja saat istrinya menjadi taruhan.
Gus Ali memaksa kepalanya berpikir keras untuk mencari pemecahan masalah. Ia tidak menyangka kalau orang di telepon tidak sedang main-main.
Tak lama kemudian handphonenya berdering lagi. Gus Ali segera mengangkatnya, barangkali penculik Fatimah memberi kabar apa yang harus ia lakukan untuk menukar Fatimah. Gus Ali tak takut kehilangan apapun asal istrinya bisa selamat.
"Halo, apa yang harus saya lakukan untuk menebus istri saya, Fatimah?"
"Hah? Halo assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh?"
__ADS_1
Gus Ali tersadar jika orang di seberang telepon bukan orang yang tadi meneleponnya. Gus Ali melirik nomor telepon panggilan yang sedang berlangsung. Ternyata nomornya berbeda dengan yang tadi.
"Halo, Pak Ali? Ini ana dosen baru pengganti antum, ana mau menanyakan bab yang sudah antum jelaskan di kelas."
Gus Ali menutup matanya dengan kedua tangan. Ia telah salah menyangka. Ia segera meminta maaf dan menjawab pertanyaan dosen baru.
"Afwan, Pak. Tadi ana keliru menyangka. Kalau boleh tahu dengan Bapak siapa?" tanya Gus Ali dengan ramah.
"Rahman, Syamsurrahman."
"Salam kenal, Pak Rahman. Sekali lagi maafkan saya."
"Tidak apa-apa, ngomong-ngomong nama istri antum mirip dengan keponakan ana."
"Iya, Pak. Sekali lagi maaf atas ketidaknyamanan ini."
"Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu simpan nomor ana ya, kalau antum butuh bantuan bisa hubungi ana."
Gus Ali berterimakasih atas perhatian dosen baru yang akan menggantikannya itu. Lalu telepon ditutup dengan salam perkenalan.
Gus Ali memijat keningnya. Terasa sangat pening. Bahkan sejak tadi perutnya belum terisi makanan apapun. Kini asam lambungnya terasa naik. Membuat dadanya panas. Mau tak mau Gus Ali mencari makanan atau minuman untuk meredakan sakitnya.
***
Di tempat lain, Fatimah baru terbangun setelah terlelap akibat efek samping obat pusingnya. Fatimah terkejut melihat Mega masih berada di sana. Sahabatnya itu tersenyum melihat Fatimah terbangun.
"Astaghfirullah, ini sudah sore ya? Ana harus pulang." Fatimah mencoba bangkit tapi rasa pusing di kepalanya kembali membuatnya berbaring.
Jangankan untuk pulang, untuk berdiri saja ia tidak bisa. Bagaimana caranya ia akan pulang dengan keadaan seperti ini? Belum lagi bagaimana caranya menghubungi Gus Ali?
Mega menyadari tatapan Fatimah yang tidak seperti biasanya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu.
"Ada yang mau anti sampaikan, Tim?" pancing Mega.
"E, enggak, kok."
"Atau anti mau menghubungi rumah biar om anti nggak cemas?" Mega mengulurkan handphonenya ke dekat Fatimah.
"Meg, ada yang mau ana omongin ke anti." Fatimah berusaha mengatur napas. Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat hidup Gus Ali tidak semakin sulit. Bahkan Fatimah tidak tahu bagaimana Gus Ali menghadapi hari ini yang penuh masalah.
"Soal apa, Tim?" tanya Mega duduk di samping sahabatnya itu.
Sejak tadi sebenarnya Mega berusaha mengendalikan diri. Tapi tetap saja ia tidak bisa. Fatimah adalah sahabatnya yang baik. Tidak ingin melukai Fatimah maupun orang yang kini bersama Fatimah.
"Sebenarnya ana sudah menikah." Fatimah menunduk. Ia takut kalau reaksi Mega akan marah padanya atau berbuat yang bahkan lebih buruk.
Tapi ternyata Mega masih datar. Tidak ada perubahan di wajah itu. Fatimah sedikit curiga. Lalu ia melanjutkan ceritanya.
"Dan yang menjadi suami ana, sebenarnya adalah, ...."
"Gus Ali."
__ADS_1
Fatimah terdiam menyadari Mega sudah mengetahui apa yang ia sembunyikan. Entah sejak kapan ia mengetahuinya, tapi yang membuat Fatimah semakin heran adalah air mata yang mengumpul di mata Mega. Walau matanya menahan tangis, bibir Mega tersenyum.
"Ana sudah menunggu anti mengatakannya." Mega mengalihkan pandangannya dari Fatimah.
Hal itu membuat Fatimah sedikit tidak enak hati kepada Mega. Sebenarnya ia pun tersiksa rasa bersalah kepada sahabatnya.
"Anti sudah tahu? Sejak kapan?" tanya Fatimah berusaha bangkit dari tidurnya. Meski kepalanya terasa berputar, Fatimah tetap berusaha berdiri.
"Sejak foto itu terpasang di mading." Mega mengangsurkan sebuah foto saat Gus Ali mendekap Fatimah dengan mesra.
"Kalian bahagia ya?" tanya Mega dengan suara yang berat.
"Maafkan ana, Meg." Fatimah menunduk.
Mega tetap menjaga jarak dari Fatimah. Ia sedikit merasa asing dengan sahabatnya itu. Sejak Mega melihat foto itu di mading, tentu saja Mega langsung mengetahui perawakan Fatimah. Meski di sana wajah Fatimah tidak terlalu jelas, tapi Mega tak mungkin salah mengenali sahabatnya.
"Kalau begitu, minta tolong hubungi Mas Ali, Meg." Akhirnya Fatimah menyerah.
Jika Mega sudah mengetahui kalau Fatimah adalah istri dari Gus Ali, bukankah lebih mudah untuk meminta tolong kepadanya memberitahu Gus Ali keberadaannya?
Sayangnya Mega yang saat itu emosional lebih menuruti rasa sakit hatinya. Ia sedikit dendam kepada Fatimah.
"Enak saja, cari aja telepon umum buat hubungi suami tercintamu itu." Mega berbicara sangat ketus. Membuat Fatimah melongo karena terkejut.
Mega tidak lagi seperti dulu. Bahkan Fatimah menyayangkan sekali tindakan Mega yang terlihat berambisi menuntaskan perasaan sakit hatinya.
"Mega, anti tahu kan ana sedang sakit seperti ini?" tanya Fatimah berusaha meminta pengertian dari Mega.
"Enggak, udah ya. Ana mau pulang." Mega berdiri dan menghapus air matanya. Ia juga langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian Mega, Fatimah tidak bisa mengendalikan emosi. Ia menangis sejadinya. Sekarang ia bingung harus bagaimana menghubungi Gus Ali. Apalagi ia tak mampu berdiri.
Fatimah yang akan berusaha bangkit dari tempatnya, segera menoleh ke pintu saat seseorang datang. Fatimah terdiam takjub melihat seseorang yang selama ini ia kenali berdiri dan menyeringai di sana.
"Sudah bangun ya?"
Fatimah mengangguk. Hatinya yang dipenuhi khusnuzon berharap laki-laki di depannya akan membantunya.
"Kebetulan antum di sini, bolehkah ana pinjam handphone?" tanya Fatimah mengulas senyum di hadapan pria yang sejatinya akan mencelakainya itu.
"Boleh, tapi ijinkan aku buat bantu kamu pulang dari sini."
"Wah, terimakasih banyak, Dik." Fatimah langsung tersenyum. Ia pikir lelaki yang dikenal sebagai mahasiswa malas dan bermasalah ini akan membantunya. Ia mengira Dika sangatlah baik.
Setelah membantu Fatimah menyelesaikan administrasi di klinik, Dika membantu Fatimah naik ke dalam mobilnya.
Fatimah tentu saja merasa kagum dengan teman sekelasnya itu. Ia berkali-kali memuji Dika karena lelaki itu membantunya. Bahkan sebelum Fatimah menceritakan apapun.
Di dalam mobil, Dika juga sering mengajak berbicara. Ia sama sekali tak menyangka jika wanita di sampingnya ini sangat polos.
Dika mengembuskan napas berat. Ia jadi sedikit gemetar karena melihat tatapan mata bahagia di mata Fatimah.
__ADS_1
"Sampai kapanpun ana akan berhutang budi dengan antum." Senyum Fatimah kembali melebar. Ia kembali mengurai rasa bahagianya karena kebaikan Dika.
Sedangkan Dika hanya diam saja. Ia hanya sesekali menyeringai.