
Di sisi lain, Mega membekap mulutnya sambil mendengar perbincangan di telepon yang dibiarkan saja. Mendengar bagaimana kondisi Fatimah dari suaranya yang lemah, Mega kembali meneteskan air mata.
Hatinya juga berdentum-dentum karena sedih, takut, dan bercampur menyesal. Emosi yang sesaat ia rasakan karena Fatimah dja Gus Ali menikah tanpa pengetahuannya itu lenyap.
"Maafkan ana, Tim. Ana sahabat yang buruk." Mega berdialog dalam hatinya.
Merasa tidak sanggup lagi mendengar telepon di seberang, Mega memutuskan panggilannya.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Takut dan sedih. Ia telah salah mengambil langkah. Ia telah melakukan hal yang dilarang agama.
Tok tok tok. Suara pintu kamar kost diketuk dari luar membuat Mega menghapus air matanya. Ia segera bangkit dan membukakan pintu.
"Kak Dika?" Mega ternganga melihat sosok lelaki yang telah bekerja sama dengannya untuk mengacaukan hubungan Gus Ali dan Fatimah.
"Fatimah ilang, Meg." Wajah Dika terlihat ketakutan. Walau dia anak malas, sebenarnya Dika tidak pernah berbuat sejahat ini.
"Dia sudah pulang, Kak."
Mendengar kalimat Mega, wajah tegang Dika segera mengendur. Ia mengembuskan napas lega jika Fatimah dalam keadaan yang baik-baik saja.
Dika melihat sekitar yang sepi. Ingin sekali mengajak Mega berbincang tentang perasaannya yang kalut setelah mencoba melakukan penculikan kepada temannya sendiri. Apalagi Gus Ali dan Fatimah sebenarnya tidak melakukan hal apapun terhadap mereka. Hanya saja setan sangat pandai merayu. Mereka sampai melupakan segala kebaikan Gus Ali maupun Fatimah karena hal ini.
"Boleh aku masuk?" tanya Dika ragu-ragu.
Mega menggeleng, ia tidak mungkin memasukkan laki-laki yang bukan mahramnya di kamar.
"Jangan, Kak."
Kilatan mata Dika meredup. Ia kembali teringat kalau Mega bukan seperti teman-temannya yang hidup dengan bebas. Dika ingin mengumpat. Tapi tidak ia lakukan karena mengingat Mega juga bukan wanita sembarangan.
"Ya sudah, keluar yuk?" ajak Dika terlihat gerogi.
"Kemana?" tanya Mega ragu-ragu. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Apalagi saat bersahabat dengan Fatimah, Mega sangat dijaga baik-baik oleh Fatimah.
__ADS_1
"Makan aja."
Mega belum menjawab. Ia terkejut dengan ajakan Dika. Yang dikenalnya berperangai buruk. Tapi ia juga tidak bisa menutupi ketertarikan pada laki-laki yang baru kali ini sedekat itu dengannya.
***
"Kak, ana takut." Mega mengeluh ketika duduk berseberangan dengan Dika di sebuah cafe. Mega sebenarnya tidak ingin ikut dengan Dika. Apalagi keduanya hanya pergi berdua. Ia ingat pesan Fatimah jika dua anak manusia berbeda jenis berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan yang merayu untuk keduanya melakukan dosa besar.
"Jangan takut, kamu tidak salah. Akulah yang rencanain ini semua. Kalau ada apa-apa, aku nggak akan libatin kamu." Dika mengatakan dengan fear.
"Tapi bagaimana jika Gus Ali sampai lapor polisi?" tanya Mega, ketakutannya pada ucapan Gus Ali ditelepon ia luapkan pada Dika.
"Nggak apa-apa, aku yang tanggung jawab." Dika kembali meyakinkan Mega.
Tak sengaja saat keduanya berbicara, sepasang suami istri yang duduk di meja samping mendengar obrolan itu.
Yang laki-laki masih terdiam, tidak mau ikut campur. Tapi yang perempuan segera berdiri menghampiri meja Dika dan Mega.
"Maaf, jangan ikut campur." Dika berdiri dan menggertak perempuan yang tadi menanyakan apa yang sudah mereka lakukan.
"Bagaimana bisa tidak ikut campur? Antum telah merusak kehormatan seorang wanita, bagaimana bisa ana diam saja?" Sofia bersuara lantang, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Kini Sofia beralih menatap Mega dengan iba. Ia mengira laki-laki yang bersama Mega telah menodai Mega karena ucapan Dika tentang tanggungjawab itu.
"Anti jangan diam saja, mintalah tanggungjawab lelaki yang telah menodai anti."
Mega dan Dika saling berpandangan. Mereka menyadari kalau ibu-ibu di depan mereka salah mengira tentang tanggungjawab yang mereka perbincangkan.
Sofia kembali berusaha meyakinkan Mega untuk meminta tanggung jawab Dika. Dan hal itu menjadi perhatian khusus di cafe itu. Terlihat bidikan handphone mengarah kepada mereka. Bisa saja hal ini akan ada yang menganggap perlu diviralkan.
"Jangan ikut campur urusan kami." Dika berdiri dan menggebrak meja. Ia sudah tidak bisa mentolerir apa yang sudah dilakukan Sofia.
Kini Rahman tidak bisa tinggal diam. Ia berjalan dan menghampiri istrinya. Tidak mungkin membiarkan masalah seperti ini akan menjadi konsumsi publik.
__ADS_1
"Sofia, jangan berlebihan. Ini bukan urusan kita. Ayo pergi!" ajak Rahman menggandeng tangan istrinya.
Mega tentu mengenali wajah Pak Rahman yang bagai pinang dibelah dua dengan Abah dari Fatimah.
"Ustaz Adi?" lirihnya tak terdengar.
Mega ingin menghampiri sepasang suami istri itu, tapi Dika segera meraih tangannya untuk pergi dari sana.
"Tunggu dulu, Kak. Ana harus, ...." Belum selesai Mega berkata, Dika langsung memotong ucapannya.
"Jangan, Meg. Kamu nggak tahu mereka di sana sudah videoin kita?"
Mega semakin ternganga mendengar kalimat Dika di depannya. Ia mulai mengerti alasan Dika segera mengajaknya pergi.
"Lalu bagaimana, Kak?" Mega bertanya dengan cemas. Bagaimana nasip mereka jika kejadian ini sampai ada yang mengunggah ke sosial media?
"Entahlah, Meg. Aku nggak tahu. Aku antar kamu balik aja." Dika langsung menancap gas dan menuju kost Mega.
Sepanjang perjalanan, Mega berpikir keras. Ia takut jika apa yang mereka takutkan akan terjadi. Sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan karena Mega dan Dika tidak ada apa-apa.
Tapi keduanya sadar jika apa yang ada di media sosial sangat mudah dipelintir dan tidak sesuai dengan kenyataan. Jika sampai kejadian tadi menjadi viral, Mega tidak tahu lagi mukanya akan ditaruh dimana.
Dika sama saja. Takut jika hal itu terjadi. Tapi yang lebih ia takutkan adalah jika Bu Tata tahu kelakuannya pada Fatimah, istri Pak Ali. Ia takut jika Bu Tata akan semakin membencinya.
Seharusnya Dika lebih sabar. Jika ia tidak terburu-buru, ia akan menunggu Bu Tata mengetahui tentang pernikahan Gus Ali dan Fatimah. Dan di saat Bu Tata terpuruk dan sedih, ia akan masuk menjadi penghibur.
Sayangnya rencana yang sudah ia susun itu kacau karena emosi sesaatnya. Kini Dika harus memutar otak agar bisa mendekati Bu Tata.
Setelah menurunkan Mega di kostnya, Dika langsung tancap gas pulang. Kepalanya berat memikirkan hal yang akan terjadi. Ia juga memikirkan kembali bagaimana cara mendapatkan hati Bu Tata.
"Karena terburu-buru, kesempatan buat deketin Bu Tata hilang sudah. Sekarang malah mikirin gimana kalau sampai kejadian tadi viral." Dika meletakkan kepalanya di setir mobil.
Sayangnya, sebuah sepeda motor datang dari depan secara tiba-tiba. Dika yang terkejut langsung memutar setir dan kecelakaan tidak bisa dielakkan.
__ADS_1