
Tata berjalan bersama Hilma dan Haikal yang berada beberapa langkah di belakang mereka. Walau baru bertemu, Hilma terlihat langsung akrab dengan Tata. Mungkin karena sesama perempuan.
Haikal mengawasi mereka yang menuju ke taman. Tadi setelah mereka berkenalan, Hilma yang ternyata baru pulang dari pondok merengek meminta berjalan-jalan.
"Mas Haikal, Hilma mau punya Mbak kayak Mbak Tata." Celotehan itu terdengar biasa, tapi berefek pada Haikal dan Tata.
Keduanya terdiam dan saling pandang. Lalu tersipu dan menunduk. Haikal masih takut untuk berharap. Seandainya Tata sudah memiliki calon, seharusnya wanita itu memberi isyarat.
Semakin Tata diam saja ketika diberi perhatian oleh Haikal dan uminya, semakin kedua orang itu banyak berharap pada Tata.
"Hilma, jangan ngomong sembarangan ya." Haikal menegur adiknya, merasa tak pantas kalau Hilma mengatakan keinginan polosnya.
"Jangan gitu, Kal. Dia hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya." Tata mendekat pada gadis berabaya marun itu. Tata tersenyum melihat gadis polos itu menatap Haikal tidak suka dengan pemikirannya.
"Alhamdulillah kalau Hilma cocok sama Mbak Tata. Tapi coba tanyakan dulu, Mas anti mau nggak sama Mbak?"
Haikal terkejut dengan pernyataan Tata. Ia berusaha mencari penjelasan lain di wajah wanita itu, tapi Haikal tidak berani menatapnya lagi.
"Yeay, berarti Mas Haikal harus segera menikahi Mbak Tata." Hilma berteriak kegirangan lalu memeluk Tata.
Haikal terpaku di tempatnya. Ingin bertanya, ia tidak tahu harus bertanya bagaimana. Haikal hanya mematung melihat Tata semakin memenangkan hati Hilma, adiknya.
***
Mega meletakkan secangkir teh ke meja. Ia tersenyum melihat wanita di depannya menatapnya.
"Udah, jangan repot-repot, Tante ke sini pengen ketemu anti." Umi Nafisah mengajak Mega duduk di sampingnya.
Mega duduk di samping ibunya Dika. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, melihat sekilas wajah Mega, umi Naf tahu gadis di depannya sedang memiliki beban.
"Ada apa, Mega? Sepertinya anti sedang ada masalah?" Umi Naf menyentuh dagu Mega dan menatapnya lekat.
__ADS_1
"Naam, Tante. Mega sedang galau," aku Mega dengan mata sayu. Ia ragu mengatakan kalau Dika melamar Mega di atas lamaran Gus Jaka.
"Cerita aja sama Tante, siapa tahu Tante bisa bantu kasih nasehat."
Mega menunduk. Ia merasa dekat dengan ibunya Dika, tapi tetap saja seperti ada sekat yang menghalangi.
"Nggak apa-apa, Mega. Tante bisa jaga rahasia, kok." Umi Naf membuat isyarat dengan mengunci mulutnya.
"Hem, tapi Tante janji nggak akan marah?" tanya Mega, berusaha menyingkap sekat antara dirinya dan ibunya Dika.
"Beres, Mega."
Mega menunduk, mencoba menenangkan pikirannya sebelum mengatakan semua. Apalagi ini juga menyangkut anak dari wanita di depannya,
"Mega sedang dihadapkan dengan dua lamaran, Tante." Mega mengatakannya dengan ragu.
"Pilih yang ditunjukkan Allah, Meg." Umi Naf mengelus pundak Mega. Walau sebenarnya umi Naf sedikit kecewa karena kesempatannya untuk menjadikan Mega menantunya.
"Oh, Dika juga ya." Umi Naf menunduk, hatinya menghangat, tapi ia juga penasaran siapa saingan dari putranya.
"Iya Tante, yang bikin Mega bingung itu Gus-nya akan menjadikan Mega istri kedua, tapi Mega udah suka sama Gus-nya," terang Mega membuat harapan di mata perempuan di depannya meredup.
"Istri kedua seorang Gus itu juga posisi yang mulia, Meg. Tante bisa memahami kalau anti juga akan kecipratan barokah dari suami anti. Tapi masalahnya, apa orang tua anti setuju?" tanya Umi Naf dengan pelan.
Dalam hati Umi Nafisah tidak akan memaksakan jika putranya tidak berjodoh dengan Mega. Karena masalah jodoh adalah hal gaib, hanya Allah Yang Maha Gaib yang mengetahuinya.
"Mega belum bilang sama mama, Tan. Masih takut." Mega menunduk.
"Penting lho Meg, melibatkan orang tua dalam memilih jodoh. Jadi Tante sarankan minta pendapat orang tua anti dulu."
Saran itu diterima Mega dengan wajah sedikit mulai cerah. Mega merasa ibunya Dika itu memang memberi saran yang bagus tanpa memaksa Mega menerima pinangan Dika.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau ada apa-apa cerita ke Tante ya. Tante pulang dulu, mau ada majelis di sekitar sini. Makanya tadi mampir, soalnya juga ada kepentingan di sini." Umi Nafisah mengambil tasnya, Mega membalas salam dari ibunya Dika yang berpamitan itu.
Tapi setelah umi Naf keluar dari kamarnya, Mega buru-buru menyusul.
"Tante, Mega ikut Tante ke taklim ya."
Umi Nafisah mengangguk. Ia wajahnya senang karena Mega mau ikut ke taklim. Jarang-jarang mahasiswi mau mengikuti taklim di luar kegiatan kampusnya.
Akhirnya Mega bersiap dengan cepat lalu berangkat ke taklim bersama ibunya Dika. Ternyata benar yang dikatakan umi Naf tadi, acara majelis taklimnya memang di masjid dekat dengan kostnya.
Baru saja duduk bersama umi Naf, hati Mega langsung berdebar begitu melihat siapa yang berdiri di depan dan sedang menyampaikan tausiah.
Mata Mega seolah tidak bisa terlepas darinya. Gus Jaka terlihat sangat berwibawa saat menjelaskan bab tentang hidayah. Logatnya yang santun dan penuh semangat membuat siapapun yang mendengarkan turut semangat dalam berhijrah.
"Makanya jika ada teman yang setelah curhat susahnya dapat hidayah, coba tanyakan. Usaha apa yang sudah dia lakukan? Sudah mendekat pada orang-orang mukmin? Sudah ikut dalam majelis taklim? Jangan-jangan antum atau anti yang menghambat hidayah itu datang kepada antum atau anti."
Gus Jaka menghentikan tausiahnya. Ia mengambil dan meminum air mineral di depan mejanya. Sebelum melanjutkan tausiah.
"Makanya banyak yang bilang, hidayah itu mahal. Sangat mahal. Kenapa? Karena antum atau anti punya uang seratus juta tidak bisa membeli hidayah. Bahkan di sini yang mendengarkan saya berbicara, kalau Allah tidak memperkenankan hidayah mengetuk kalbunya, tidak akan ada gunanya duduk di sini berjam-jam."
Mega membulatkan mata begitu Gus Jaka menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan melihatnya. Mega bisa merasakan keterkejutan Gus Jaka karena melihatnya di sini.
Mega kembali menunduk. Ia memegang dadanya yang terasa berdegub kencang. Ia merasakan cinta yang luar biasa.
Mega bergelut dalam dirinya, apa mungkin ini hidayah dari Allah agar ia mantap menjadi istri kedua Gus Jaka?
Melihat adab dan kesholihan Gus Jaka, keraguan Mega jika kelak Ning Rere akan mencemburuinya seolah sirna.
Hati Mega merasa senang dan sejuk begitu melihat wajah Gus Jaka. Ia seolah teringat kata Fatimah tempo hari. Jika cinta yang sebenarnya itu menyembuhkan. Karena sejatinya cinta adalah cinta murni kepada Dzat Yang Maha Perkasa, Allah azza wajalla.
Dan Mega yakin hatinya kini sedang diberi rahmat. Sedang merasakan betapa Allah ingin ia selalu dekat denganNya. Jalan itu ialah ia menjadi bagian keluarga orang Sholeh, yaitu Gus Jaka dan Ning Rere.
__ADS_1