
Pagi ini Gus Ali menata pakaian dan segala ***** bengek untuk kepindahannya ke Surabaya. Hari ini juga ia telah dibebastugaskan dari Madrasah. Sejenak Gus Ali merenung. Benarkah keputusan yang dia ambil ini?
Apalagi Abah dan calon Abah mertuanya juga sudah merestui kepergiannya. Tapi seperti ada yang masih menahannya di sini.
"Ah, aku kan sudah ngasih tahu Fatimah," pikirnya menenangkan diri.
Iya secara tersirat Gus Ali mengatakan kepergiannya. Ia juga merasa tak perlu mengatakan secara jelas kepergiannya, toh Fatimah pasti akan mengerti.
Gus Ali memandang foto profil Fatimah yang ada di aplikasi WhatsApp. Gadis itu bahkan tidak memasang foto dirinya. Hanya ada animasi bergambar seorang akhwat berniqab memegang Quran.
Gus Ali harus melakukan sesuatu untuk calon istrinya itu. Ia mengambil celengan berbentuk ayam dari dalam lemarinya. Hanya dengan menjatuhkannya ke tanah, celengan yang berasal dari tanah lempung itu langsung pecah. Isinya tercecer di bawah pecahan celengan.
Dengan cepat Gus Ali mengambil lembaran merah di sana. Uang ini adalah bayarannya ikut mengajar di Madrasah. Sengaja ia tabung untuk keperluan menikahi Fatimah.
Bibir Gus Ali melengkung tersenyum. Ia bisa memperkirakan kalau uang ini cukup untuk membelikan keperluan lamarannya nanti. Tapi Gus Ali langsung terdiam. Memikirkan cara untuk mengajak Fatimah memilih perhiasan untuk gadis itu.
"Gimana caranya?" tanya Gus Ali dalam hati. Mengetuk-ngetuk dagunya untuk memikirkan alasan, tapi Gus Ali sama sekali tidak menemukannya.
Gus Ali menyerah. Barangkali hanya bisa menitipkan uang itu kepada orang yang bisa mengajak Fatimah berbelanja.
Gus Ali punya ide. Ia akan meminta umi Afin mengajak Fatimah berbelanja. Dengan begitu ia bisa turut membuntuti mereka.
Ia segera mengambil handphonenya dan menghubungi ustaz Adi. Setelah tersambung, Gus Ali kembali ragu mengatakan maksud tujuannya.
"Anu, ustaz, saya pengen ngajak Fatimah membeli keperluan lamaran."
"Tapi apa tidak terlalu cepat, Gus? Fatimah masih fokus ujian kelulusan."
Wajah Gus Ali langsung berubah. Baiklah ia tidak mungkin mnegajak Fatimah membeli keperluan lamaran. Tapi ada sisi hatinya yang kecewa. Ah, tidak apa. Nanti setelah menikah, mereka tidak akan terpisahkan.
'Sebentar lagi, Li. Tunggu sebentar lagi.' Gus Ali menepuk dahinya. Lalu beranjak membersihkan bekas pecahan celengan. Barangkali ia akan memberikan uang itu kepada kedua orang tua Fatimah.
Langit sore memerah. Haikal telah sampai di depan rumah Fatimah. Gus Ali akhirnya memilih kang ndalem sekaligus santrinya itu untuk memberikan tabungan Gus Ali kepada pihak Fatimah.
Setelah mengetuk pintu, Haikal memandangi amplop yang cukup tebal di tangannya. Tak lama kemudian pintu terbuka. Umi Afin, ibunya Fatimah yang ada di depannya kini.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Bu. Afwan saya mengganggu sore begini," ujar Haikal.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, silakan masuk."
Umi Afin sebenarnya terkejut dengan kedatangan Haikal. Terlebih ia belum pernah melihat pemuda itu.
"Tunggu sebentar ya, ustaz Adi masih di dalam."
Saat itu juga, Fatimah baru masuk rumah setelah mengantar makanan ke tetangganya. Seperti biasa, Jumat sore umi Afin membuat makanan yang lebih banyak untuk dibagikan ke tetangga. Kata umi Afin ini adalah kebiasaan orang-orang Yaman, yaitu bersedekah di hari Jumat.
Fatimah terkejut dengan kedatangan Haikal di rumahnya. Ingin menyapa lelaki yang juga teman sekelasnya itu. Tapi ia juga tak berani. Akhirnya Fatimah hanya tersenyum kecil saat melewati Haikal.
Tak lama kemudian ustaz Adi berjalan ke ruang tamu. Menemui Haikal. Sedangkan Fatimah yang berada di dapur segera menanyakan maksud Haikal bertamu ke rumahnya. Bisa dibilang Haikal adalah laki-laki pertama yang berkunjung di rumah ini. Membuat Fatimah sempat berpikir kalau Haikallah calon suami yang digadang-gadang sekufu dengannya.
Sejenak Fatimah teringat percakapan antara dirinya dan Gus Ali tempo hari. Ia refleks menyebut nama Haikal. Apakah itu cara Allah menunjukkan kalau Fatimah adalah jodoh Haikal? Atau hanya kebetulan semata? Fatimah jadi bingung memikirkan hal ini.
"Haikal ngapain, mi?" tanya Fatimah penasaran.
"Kamu kenal dia?"
Fatimah mengangguk. Lalu memberitahu kalau laki-laki itu adalah teman sekelasnya.
"Oh." Hanya kata pendek itu yang terucap dari bibir umi Afin. Lalu wanita paruh baya itu mengangkat baki berisi teh dan toples makanan ringan ke ruang tamu. Tak memberi jawaban yang jelas untuk Fatimah.
Terpaksa Fatimah mengulang perbuatan buruknya. Menguping pembicaraan antara Abah, umi, dan Haikal di ruang tamu.
"Saya kemari karena dititipi ini." Haikal meletakkan amplop di meja. Abah dan umi Afin terkejut.
"Apa ini?"
Suara tegas ustaz Adi mampu membuat Haikal gelagapan. Ia terbata-bata menyampaikan pesan Gus-nya kepada kedua orang tua Fatimah.
"Ini untuk keperluan lamaran Fatimah."
Deg. Di balik tembok, Fatimah hampir melompat. Jadi benar dugaannya itu? Haikal yang akan menjadi suaminya?
"Afwan, Nak Haikal. Tapi kami tidak bisa menerimanya," terang ustaz Adi dengan wajah sedikit menegang.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu apa alasannya, ustaz? Biar saya juga enak menyampaikannya."
"Kami ini orang tua pihak perempuan, kami akan menerima serah-serahan di saat lamaran. Kalau sebelumnya, kami rasa itu hanya akan menimbulkan fitnah."
Nyali Haikal sebenarnya sudah menciut sedari sebelum berangkat ke tempat ini. Benar feeling-nya, keinginan Gus Ali itu tidak bisa diterima oleh orang tua Fatimah.
Setelah berbincang sedikit, Haikal mengambil kembali amplop itu dan memohon undur diri. Fatimah yang masih bersembunyi di balik tembok, segera pergi dari sana. Pura-pura tidak menguping.
"Umi, Abah? ngapain Haikal ke sini?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Fatimah, kedua orang tuanya malah saling pandang dan tenggelam dalam pikirannya. Merasa tidak dihiraukan, Fatimah berlalu ke kamarnya dengan wajah kesal. Tapi setidaknya ia sudah tahu kalau calon suaminya adalah seorang Haikal.
'Baiklah, sekarang tugas Fatimah adalah membuat hatinya jatuh cinta kepada sosok Haikal. Tidak sulit, karena memang Haikal memiliki banyak kelebihan. Mulai dari pandai, jiwa kepemimpinannya, tawadu, dan semoga sholeh.'
Fatimah merebahkan dirinya. Ia ingin istirahat sebentar sebelum nanti kembali belajar dengan keras untuk ujian kelulusan besok.
Sedangkan kedua orang tua Fatimah masih berdiskusi. Mereka menyayangkan tindakan terburu-buru Gus Ali. Hal yang dilakukan Haikal tadi termasuk salah bagi mereka.
"Kalau kita menerima uang itu, maka sama saja kita menerima uang yang belum halal," kata ustaz Adi dengan wajah muram.
"Iya, Bah. Mungkin Gus Ali maksudnya baik, hanya saja tidak berdiskusi dulu dengan Pak Kyai," balas umi Afin menenangkan suaminya.
"Abah jangan berubah pikiran ya, kita sudah terlanjur menerima perjodohan itu. Kalau sampai perjodohan itu gagal, kita juga yang sungkan dengan Pak Kyai."
Ustaz Adi mengangguk pertanda mengerti dengan ucapan istrinya. Dalam hati ustaz Adi membayangkan posisi Gus Ali yang esok harus berangkat ke Surabaya. Pasti karena itu Gus yang masih berusia dua puluh satu tahun itu gegabah mengambil tindakan. Pikir ustaz Adi.
***
Di ndalem, Haikal datang tepat saat Pak Kyai Huda duduk di ruang tamu. Lelaki tua itu terkejut sekaligus penasaran melihat gurat takut di wajah Haikal.
"Kok endi, Kal?" tanya Pak Kyai.
Lelaki bersarung biru motif Kalimantan itu tergagap menjawabnya. Ia tahu kalau keputusan Gus-nya salah, tapi ia terpaksa menurutinya.
"Dugi griyanipun ustaz Adi, Yi."
Pak Kyai terlonjak. Apalagi melihat amplop di tangan Haikal. Ia menduga ada hal salah yang dilakukan Haikal, tentunya atas perintah Gus Ali, anaknya.
"Rene disek. Lahpo?"
Berjalan dengan cepat menuju kamar Gus Ali. Dimana pria itu sedang menata koper untuk pergi ke Surabaya. Haikal ingin memperingati Gus-nya, tapi ia tidak bisa apa-apa. Haikal hanya berjalan di belakang Pak Kyai.
"Ali?"
"Nggeh, Bah?" Gus Ali membalikkan badannya. Melihat Haikal berjarak dua langkah di belakang Pak Kyai dan amplop di tangan Abahnya, Gus Ali tahu Abahnya itu marah.
"Opo-opoan iki?" Pak Kyai meletakkan amplop berisi uang lima juta itu di meja belajar Gus Ali.
"Gak mikir lek iki podo ae ngrendahne calonmu?" tanya Pak Kyai dengan suara menggelegar.
"Ngapunten Abah. Saya pikir ini benar," sesal Gus Ali.
Sepanjang dua jam, Pak Kyai terus memarahi dan menasehati Gus Ali. Meski lelah, Gus Ali tetap mendengarkannya. Bagaimanapun juga esok ia harus berpisah dari Abahnya. Bisa jadi ini menjadi jalannya untuk berbakti sebelum pindah ke Surabaya.
"Nggeh, Bah. Ali salah."
Merasa lelah sekaligus emosional menasehati Gus Ali, Pak Kyai merasakan dadanya sedikit sesak. Tapi mencoba terlihat baik-baik saja. Hanya Haikal yang melihat wajah Pak Kyai yang memucat. Karena Gus Ali sibuk dengan kopernya.
"Pak Kyai mboten nopo-nopo?" tanya Haikal mendekat pada Pak Kyai Huda.
Pak Kyai menggeleng, tapi dadanya semakin terasa sesak. Akhirnya Pak Kyai meminta dituntun keluar dari kamar Gus Ali.
Sesampainya di ruang tengah, Pak Kyai meminta dipanggilkan Gus Badar yang juga seorang dokter, tapi tidak usah memberitahu Gus Ali.
Di sisi lain Gus Ali merasa gelisah. Ia semakin berat meninggalkan rumah untuk ke Surabaya. Entah mengapa hatinya tidak tenang. Gus Ali tidak mengerti dengan perasaannya. Bukan tentang Fatimah. Ini bukan tentang gadis itu atau cintanya, tapi sesuatu lain yang tidak bisa ia temukan sumber kegelisahan itu.
"Gus Ali," panggil Haikal di dekat kamarnya. Padahal Pak Kyai Huda sudah mengatakan jangan katakan pada Gus Ali, tapi Haikal tidak mungkin menyembunyikan keadaan Pak Kyai pada putranya itu.
"Ada apa, Kal?"
"Pak Kyai, Gus. Pak Kyai."
Mendengar nama itu, Gus Ali langsung berdiri dan berlari mencari keberadaan Abahnya. Sesampai di kamar Pak Kyai, Gus Ali melihat Pak Kyai sedang tertidur. Wajahnya seperti menahan sakit, tapi Gus Ali tidak terlalu menyadari itu.
__ADS_1
Baru setelah setengah jam Gus Badar datang membawa peralatan kedokterannya. Melihat ini Gus Ali langsung sadar bahwa sejak tadi Abahnya sedang tidak enak badan.
Menunggu Gus Badar memeriksa Pak Kyai, Gus Ali bolak-balik melihat pintu yang tertutup. Ia mulai mengerti apa yang ingin disampaikan Haikal padanya tadi. Ada penyesalan yang menguat dalam hatinya. Merasa tidak becus menjadi anak.
Tiba-tiba saja Gus Ali ingin mundur dari tanggungjawabnya mengajar di Surabaya. Ia ingin terus berada di sisi Abahnya. Ia tidak mau Abahnya itu kenapa-napa.
Sedangkan Mbak Faza yang turut suaminya datang ke ndalem setelah ditelepon Haikal hanya menatap iba kepada adiknya. Bagaimanapun juga laki-laki yang masih muda itu pasti merasa bersalah sekaligus sedih.
"Wes, Li. Semoga Abah nggak apa-apa." Ning Faza coba menenangkan adiknya itu.
"Tapi, Mbak. Aku yang salah sudah nggak perhatian sama Abah." Mata Gus Ali terlihat menahan tangis.
"Istighfar, Li. Ini sudah sunatullah. Semakin bertambah usia, semakin apes."
"Mbak, harusnya aku tidak egois. Aku akan membatalkan pindahtugas ke Surabaya." Gus Ali emosional, ia meraih handphonenya."
"Jangan, Li. Abah nggak apa-apa, cuma kecapekan saja." Gus Badar yang baru keluar dari kamar Pak Kyai.
Raut wajah Gus Ali sedikit mengendur. Sedikit lega karena bukan sakit yang serius. Gus Ali ingin segera menemui Abahnya, tapi Gus Badar segera mencegahnya dengan dalih Pak Kyai masih beristirahat.
Gus Ali kembali ke posisinya duduk. Wajah frustasinya masih kentara. Membuat Gus Badar dan Ning Faza memilih diam ketimbang bersuara.
Barulah setelah Gus Ali undur diri ke kamarnya, Gus Badar membuka percakapan. Hal-hal yang tidak diungkapkan ketika ada Gus Ali, dikatakannya pada sang istri.
"Abah memiliki bibit serangan jantung. Sebaiknya anti menginap di sini. Atau kita tinggal di sini saja. Abah tidak mau Ali mengetahuinya karena Ali harus pindahtugas ke Surabaya."
Ning Faza terkejut. Kepalanya langsung terasa pening. Tapi berusaha sekuat mungkin menerima penjelasan Gus Badar. Soal tinggal di pondok, iya merasa tidak keberatan.
"Abah sudah sepuh, kita tinggal di sini saja," ajak Gus Badar. Langsung diiyakan saja oleh Ning Faza.
"Kata Abah tadi, Ali besok akan berangkat ke Surabaya. Terus bulan depan Ali lamaran. Jadi Abah terlalu banyak pikiran. Lebih baik kita di sini, jadi wakilnya Abah untuk menyiapkan ini itu." Meski seorang dokter yang sibuk, Gus Badar mau mengerti keadaan keluarga istrinya.
Diam-diam Ning Faza bersyukur. Sekali lagi ia mengangguk. Meyakinkan suaminya bahwa dia sangat setuju.
"Maturnuwun, Gus." Ning Faza mengatupkan tangannya. Ia sangat bersyukur dengan pengertian Gus Badar.
"Ora usah, Ning. Ini juga kewajibanku sebagai anak. Sekarang yakinkan Ali untuk tetap berangkat ke Surabaya."
Ning Faza berdiri dan menuju kamar adiknya. Ia sempat mendengar sesenggukan dari dalam kamar. Sepertinya kejadian hari ini sangat mengejutkan bagi dirinya.
"Gus Ali?"
"Mbak Fa, Monggo masuk."
Melihat koper yang sudah tertata rapi, Ning Faza tahu kalau Gus Ali sudah tinggal berangkat. Tapi melihat wajah kusut Gus Ali, Ning Faza meragukan tekad itu.
"Besok tetap berangkat, ya?"
Gus Ali menggeleng. Ia bahkan belum melihat bagaimana keadaan Abahnya.
"Enggak, Mbak. Aku ingin di rumah saja. Aku batalkan saja ke Surabayanya."
"Jangan, Gus. Kamu kok tetep kayak anak kecil sih?" Ning Faza sedikit meninggikan suaranya.
"Lha gimana, Mbak? Abah sedang kurang sehat, gimana bisa aku pergi?" Wajah Gus Ali semakin frustasi. Tiba-tiba saja ia dicekam kenangan. Saat dulu melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya tiada dengan senyum yang mengembang.
Tiba-tiba Gus Ali merasa sangat takut kehilangan Abahnya. Takut jika ia tak lagi punya waktu untuk berbakti pada ayah yang selama ini begitu keras itu. Hati Gus Ali yang melemah juga turut menyesali setiap perbuatan yang membuat Abahnya itu marah. Ia berjanji tidak akan mengulangi itu. Ia akan berusaha menjadi anak yang berbakti.
"Eleng ya Gus, dengan kamu mengurung diri di zona nyaman, otak dan hati kamu akan tumpul. Jadi keluarlah dan belajar lagi." Ning Faza kembali berkata dengan suara lembut. Adiknya memang keras kepala, tapi sesungguhnya hati Gus Ali sangat rapuh. Karena itu pula Pak Kyai mau menjodohkan Gus Ali dengan Fatimah. Pribadi Fatimah yang mandiri dan mendapat pendidikan dari kedua orang tuanya diharap mampu mengimbangi sifat kekanak-kanakan Gus Ali yang dibungkus dengan sifat pendiam itu.
"Tapi, Mbak. Aku nggak mau jauh dari Abah." Mata Gus Ali semakin berkaca-kaca. Ia benar-benar takut dengan takdir hari esok.
"Istighfar, Li. Kata-katamu itu tidak mencerminkan kegusanmu sama sekali."
"Eleng, dunia iku fana. Abah akan lega kalau kamu jadi anak yang bertanggungjawab dengan keputusanmu."
Gus Ali tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Pikirannya sedikit kacau karena kejadian ini. Dan Gus Ali masih diambang bimbang.
"Manut ya, Li. Abah pengen kamu ke Surabaya, biar belajar lagi. Ingat, jarak itu bisa menambah kecintaan, bukan berarti membuat jauh."
Gus Ali mengangguk. Membenarkan setiap kata kakak perempuannya itu.
"Lagipula, dengan kamu jadi dosen di Surabaya, kamu bisa nabung lebih banyak buat pernikahanmu."
__ADS_1
"Enggeh, Mbak. Nyuwun pangestune."
Keduanya tersenyum. Sembari kembali bercerita banyak tentang kehidupan masa kecil mereka. Dalam kesederhanaan itu ada cinta dan ilmu kehidupan yang nyata. Dimana Gus Ali kadang abai dengan pengetahuan yang tersirat.