
Di tempat lain, Tata terpaku di depan pintu salon. Berada di depan salon ini sudah menjadi rutinitas bagi Tata. Setiap kali pulang dari kampus, Tata menyempatkan waktu untuk mengembalikan rantang yang selalu diantarkan Haikal.
Tata mengembuskan napas panjang. Ia merasa hatinya semakin tidak karuan, apalagi jika bertemu dengan lelaki yang usianya ada di bawahnya itu.
Sekuat tenaga Tata kembali menepis perasaan yang tidak-tidak itu. Jika ia tidak berhasil, dirinya sendiri yang akan merasakan sakit. Dan Tata sudah khatam betul bagaimana rasanya ia akan menderita.
Tata melepaskan beban di pikirannya. Sudah tidak mau terlalu berharap. Ia belum mengetuk pintu salon ketika seorang gadis kecil berlari menabraknya. Tata terkejut.
Melihat sekilas wajah gadis di depannya mirip dengan Haikal, Tata membulatkan mata. Ia belum pernah melihat gadis kecil ini. Apakah mungkin dia adik dari Haikal? Tapi mengapa Haikal tidak pernah bercerita padanya tentang ini?
Ah, Tata lupa. Bahkan setiap Haikal mengantar rantang makanan untuknya, lelaki itu sangat jarang berbincang dengannya. Lalu bagaimana bisa Tata berharap lelaki itu bercerita banyak padanya?
Pikiran Tata mulai berputar-putar. Belum lagi kecurigaan jika gadis kecil ini ternyata anak dari Haikal. Walau selama ini lelaki itu tidak terlihat bersama wanita, siapa yang bisa menjamin jika pria muda itu masih singel?
"Kakak siapa?" tanya gadis yang ia taksir berusia dua belas tahun itu.
"Anu, temannya Haikal." Tata menjawab singkat. Ia masih terpaku dengan pikirannya yang rumit.
"Oh, Mas Haikal punya temen cewek?" Wajah gadis itu berubah. Nampak sedang berpikir keras.
"Jangan-jangan pacarnya Mas Haikal ya?" Gadis itu berbalik badan lalu masuk ke dalam salon dengan berteriak jika ada Tata di luar.
Wajah Tata berubah, ia bisa sedikit bernapas lega karena mendengar panggilan gadis kecil tadi pada Haikal adalah 'Mas'. Berarti benar dugaannya jika Haikal memiliki adik perempuan.
Kini pikiran Tata mulai menerka-nerka mengapa ia baru melihat gadis itu. Apa mungkin gadis itu tidak tinggal bersama Haikal dan ibunya?
Tata mengucap salam. Gadis yang tadi ia temui di depan ternyata ada di ruang tengah, Tata berdiri mematung saat melihat semua orang yang berada di sana.
Ada seorang Bapak-bapak yang duduk bersama gadis kecil tadi. Lalu Haikal dan ibunya yang duduk berseberangan.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Bingung mengambil sikap, Tata malah mengulang salamnya.
Semua yang ada di sana menjawab salam itu dengan nyaring. Ibunya Haikal yang tersenyum segera berdiri dan menyongsong kedatangan Tata. Memang dialah yang selalu terlihat bahagia saat bertemu Tata.
"Siapa dia, Mi?" tanya bapak-bapak yang kini menatap Tata yang dihampiri ibunya Haikal.
"Dia pasti pacarnya Mas Haikal, Bi. Tadi Hilma tanya, katanya dia temannya Mas. Mas kan nggak boleh berteman sama lawan jenis, jadi pasti dia pacarnya Mas Haikal."
Bapak-bapak itu sepertinya orang tua dari gadis kecil bernama Hilma itu. Beliau meminta putrinya untuk berhati-hati dalam berbicara.
"Kan di pondok sudah diajari untuk menggunakan lisan untuk banyak berdzikir daripada berkata yang sia-sia, Ma." Kini Haikal yang angkat bicara.
Sekilas, Tata seperti melihat kilatan terkejut di mata lelaki itu. Tapi Tata tidak mau berpikir macam-macam. Mungkin lelaki itu memang tidak nyaman dengan ucapan Hilma. Pikir Tata menenangkan dirinya sendiri.
"Perkenalkan ini Abi ana, Mbak." Haikal menoleh ke arah Tata lalu mengenalkan pria yang bersama Hilma.
"Ana Sulaiman, anti siapanya Haikal? Calon ya?"
"Hus, Abi, jangan sembarangan kalau ngomong," tegur uminya Haikal yang kini meminta Tata tidak memikirkan kata suaminya itu.
"Lha anti wajahnya langsung semringah melihatnya, ana bisa merasakan kalau anti sebenarnya suka dengan gadis ini dan berminat menjadikannya mantu, iya kan?" desak Pak Sulaiman.
Tak menyadari jika kalimatnya itu membuat hati Tata dan juga Haikal sama-sama berdegub kencang. Kini keduanya salah tingkah dan hanya memilih diam. Walau mereka sama sekali tidak bisa menutupi perasaan mereka di hadapan kedua orang tua Haikal dan Hilma.
***
Hari berganti hari, Mega belum juga mendapatkan kemantapan untuk menjawab pinangan Gus Jaka atau lebih memilih hidup bersama Kak Dikanya yang berkata dengan jujur menginginkannya.
Dilema yang dirasakan Mega seolah menambah beban pikiran. Saat di kampus, Mega terlihat murung. Saat ditanya Fatimah, Mega masih belum mau menceritakannya. Walau nyatanya Fatimah sudah tahu perihal dilema yang dihadapi sahabatnya.
__ADS_1
Bagi Fatimah yang belum tahu jika sepupunya sudah melamar Mega, wajar kalau Mega berpikir keras untuk memilih Gus Jaka yang menawarkan kehidupan rumah tangga atau ia harus menunggu lagi jodohnya mendekat.
Bagi Fatimah, Mega hanya dilema memilih menikah atau tidak.
Dan akhirnya, siang ini Mega membuka suara pada sahabatnya itu. Mega melihat situasi dan kondisi dimana mereka hanya sedang berdua.
Tidak ada Gus Ali atau Dika. Jadi Mega merasa bisa mencurahkan isi hatinya dengan leluasa. Kehadiran Dika di sekitar mereka, sebenarnya membuat Mega bingung menentukan sikap.
Ia ingin menjaga pertemanannya agar tidak berubah. Mega tahu jikalau Dika sedang berusaha memantaskan diri. Ia terlihat serius belajar kepada Gus Ali tentang banyak hal.
"Jadi ana bingung harus bagaimana, Tim. Gus Jaka dan Ning Rere ternyata sepasang suami istri. Mereka ingin ana menjadi istri kedua dan menjalani rumah tangga yang rukun."
Mega memberi jeda dalam bercerita, ia ingin melihat respon sahabatnya. Fatimah yang mengerti diberi ruang untuk memberi saran mulai menyiapkan kata-kata yang tidak akan menyakiti sahabatnya itu.
"Menurut anti pribadi, apa anti siap menjadi istri kedua? Kalau belum mending jangan gegabah, Meg. Masih banyak kok yang mau sama anti. Jangan berpikir jika tidak menikah sekarang, anti tidak akan menikah." Fatimah menyentuh tangan sahabatnya.
"Lalu menurut anti gimana dengan Kak Dika?" tanya Mega sedikit ragu.
Merasa tidak paham dengan ucapan Mega, Fatimah meminta sahabatnya itu mengulang perkataannya.
"Iya, Tim. Kak Dika juga melamar ana."
"Heh? Kurang ajar!" Fatimah yang terkejut langsung berdiri. Membuat Mega yang tadinya mellow kini turut terkejut.
"Kenapa, Tim?"
"Dika ngelamar anti? Jadi Dika serius mau nikahin anti? Dasar cowok nggak punya adab dan tata krama!" Wajah Fatimah memerah karena marah. Ia benar-benar terkejut jika Dika, sepupunya itu serius melamar Mega.
"Ana juga nggak nyangka, Tim."
__ADS_1
"Tapi, Meg. Melamar di atas lamaran orang lain itu tidak baik. Sekarang kalau anti memilih Dika, bagaimana nanti anti ngomong sama Gus Jaka dan Ning Rere? Mereka pasti tanya kan alasan anti menolak lamaran mereka?"
Mendengar ucapan Fatimah, Mega terdiam. Memang benar apa yang dikatakan istri dari Gus Ali itu. Islam tidak ingin membuat kita sesama saudara muslim untuk berselisih hanya karena masalah jodoh, itulah mengapa ada pepatah 'melamar di atas lamaran saudaranya sendiri, seperti menghunuskan pedang ke dada saudaranya sendiri.'