
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
***
"Kok Gus Ali?" terang Fatimah dengan matanya yang terbelalak. Padahal sejak awal suaminya itu membaca surah Ar-Rahman, ia tak perhatian. Ia juga sempat meneteskan air mata karena pembacaan Tartil Gus Ali yang terasa sampai di hati.
Alih-alih berkomentar, para hadirin tidak memperhatikan. Gus Ali malah meletakkan tangannya di ujung kepala Fatimah sembari melafalkan doa barokah yang afdhol dibaca setelah akad.
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Fatimah masih terus menatap Gus Ali. Menyadari ia adalah pusat perhatian malam ini, Fatimah akhirnya menunduk. Menyambut tangan Gus Ali. Dan membiarkan laki-laki itu mengecup keningnya.
Dalam hati, Fatimah merasa emosional. Sejak tadi ia merasa dipermainkan oleh takdir. Perasaannya campur aduk membuat wajah cantik Fatimah yang berbalut kebaya sederhana terlihat sedikit murung.
"Ana uhibuki Fillah." Gus Ali berbisik sembari menatap mata istrinya yang terlihat masih shock.
Keduanya saling bersitatap. Membuat para hadirin gemas. Dua raga kini telah bersatu dalam napas ibadah. Semoga diberkahi keluarga yang sakinnah, mawaddah, dan tentunya warohmah.
Tiba saatnya Pak Kyai menyentuh pundak Gus Ali. Sudah datang saatnya. Tapi malah Gus Ali kelimpungan. Ia memikirkan segala kemungkinan buruk saat ia melakukan kewajibannya.
Hanya isyarat, Pak Kyai meminta pasangan pengantin untuk menjalankan tradisi yang sejak lama dilakukan secara turun-temurun. Bukan untuk maksud apapun. Kecuali mengharap ridho Allah bahwa kedua pasangan sudah saling mengetahui kekurangan serta kelebihan masing-masing.
Pikiran Gus Ali melayang, teringat ngajinya tentang bagaimana adab-adab dalam menjalankan ibadah sesuai tuntunan kitab kuning.
Sedetik kemudian Gus Ali mengembuskan napas dalam. Ia tak boleh banyak berharap. Apalagi melihat ekspresi wajah Fatimah yang kurang bahagia. Mungkin masih terkejut.
Diraihnya tangan Fatimah dan dibimbingnya ke dalam kamar pengantin. Degub jantung keduanya seperti genderang perang. Gus Ali bingung memikirkan bagaimana cara merayu istrinya. Sedangkan Fatimah masih meraba-raba apa yang akan dilakukan mereka setelah ini.
Ceklek. Pintu kamar ditutup. Fatimah duduk di atas dipan. Ia menyembunyikan raut wajah bingungnya dengan cara menunduk sempurna. Membuat Gus Ali yang duduk di sebelahnya juga bingung.
Sedangkan di luar, Pak Kyai berbincang dengan besannya. Mata tua Pak Kyai terlihat sendu. Walau senyumnya selalu mengembang. Hal ini membuat ustaz Adi merasa iba. Membesarkan anak tanpa seorang istri adalah hal yang baginya sulit. Tapi lelaki di sampingnya ini mampu--dimampukan oleh Allah.
Ustaz Adi jadi bermuhasabah tentng dirinya dan bagaimana ia menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, ayah, dan suami.
"Pak Kyai, ana berterimakasih karena telah menerima anak kami dengan segala kekurangannya," ujar ustaz Adi membuka percakapan.
"Iya, ustaz. Bagi saya, Fatimah adalah sosok istri yang insyaallah menjadi pendamping Ali dalam susah maupun senang." Senyum Pak Kyai yang tak pudar itu lamat-lamat berubah sedikit haru. Tak ingin terbawa dengan perasaannya, Pak Kyai mencari topik pembicaraan lain.
"Jangan salah paham, ustaz. Tradisi ini memang harus dijalankan. Saya pribadi mohon maaf jika tradisi dari keluarga kami menyinggung ustaz maupun istri," lanjut Pak Kyai Huda.
"Tidak Pak Kyai, bagi kami ini suatu pembuktian. Apakah kami bisa menjaga anak perawan kami atau tidak. Tentunya jika kami ternyata tidak mampu menjaga anak kami, maka keputusan ada pada Gus Ali." Ustaz Adi berusaha tersenyum meski sulit. Tidak bisa dipungkiri, ia pun tegang menanti Fatimah dan Gus Ali menjalankan tradisi.
"Insyaallah, Ali sudah paham dengan tradisi ini. Ali menunda-nunda menikahi Fatimah sebenarnya karena ketakutannya pada tradisi ini. Makanya harus dipaksa," balas Pak Kyai sembari sesekali melirik pintu kamar yang masih tertutup.
Sedangkan ustaz Adi terkejut dengan ungkapan besannya. Dalam hati ustaz Adi berbisik bahwa ia pun akan ketakutan jika harus menjalani tradisi seperti ini.
Umi Afin yang berada di ruang tengah bersama Ning Faza, Bu Yanti, dan beberapa akhwat juga tak kalah tegang. Berkali-kali ia nampak meremas jemarinya.
"Yang menjalani tradisi Fatimah, kok ibu yang tegang?" bisik Bu Yanti dengan senyum mengejek.
"Ya saya sudah pasti ikut tegang, Bu. Ini kan menentukan keberhasilan kami menjaga anak perempuan kami," balas umi Afin dengan nada sewot.
Umi Afin dan Bu Yanti dulunya adalah tetangga yang baik. Tapi tabiat Bu Yanti yang suka bergosip dan bermulut pedas, membuat umi Afin sedikit menjauh.
Sebagai perempuan biasa, ia juga sering terbawa emosi saat berbicara dengan perias pengantin itu. Seperti saat ini.
"Emang kalau menjaga gimana, Bu? Masak kemanapun anaknya pergi mau diikuti?"
Umi Afin terlihat menahan kesal. Ucapan Bu Yanti tidak lagi ditanggapinya. Mengingat besan umi Afin bukan orang sembarangan, umi Afin bergeser agak menjauh dari Bu Yanti.
Kembali ke suasana di dalam kamar pengantin, Fatimah dan Gus Ali tak bisa membuka percakapan. Keduanya hanya diam saja. Lama-lama Fatimah sebal. Ia sudah tidak tahan dengan segala tetebengek yang dipasang di kepalanya.
"Gus, kenapa Gus Ali yang jadi suami saya?" tanya Fatimah mencoba meredam rasa kesal dalam dirinya.
"Lha emang anti pikir siapa? Bukankah waktu lamaran disebut nama saya?" balas Gus Ali menoleh pada Fatimah.
"Bukannya Haikal?" tanya Fatimah mengutarakan apa yang ada di kepalanya sejak lama.
Kening Gus Ali berkerut. Bagaimana bisa Fatimah mengira Haikal yang akan menikahinya? Diam-diam Gus Ali sedikit cemburu kepada santrinya itu.
"Kok Haikal?"
"Lha Haikal berani bertamu ke sini. Gus Ali kan nggak pernah bilang kalau Gus yang melamar saya?" nada suara Fatimah meninggi karena kesal. Tapi ia segera sadar kalau di depan kamarnya banyak orang.
__ADS_1
"Ya maaf, Tim. Terus terang saya belum berani menikah karena takut sama tradisi ini." Gus Ali mengalihkan pandangannya. Berusaha menghindari tatapan mata Fatimah.
"Tradisi apa? Dikurung di kamar gini?" tanya Fatimah tidak mengerti.
Gus Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung bagaimana menjelaskan pada Fatimah kalau mereka dikurung di kamar sekarang tujuannya untuk membuktikan kalau Fatimah masih suci atau tidak.
"Sebenarnya, kita dikurung di sini ada tujuannya." Gus Ali memutar otak untuk menjelaskan. Istrinya itu siswa pandai. Bahkan lulus dengan predikat lulusan terbaik. Harusnya mudah baginya mengerti isyarat Gus Ali.
"Apa, Gus? Biar kita saling berbicara seperti ini?" tanya Fatimah menatap suaminya yang kelimpungan.
"Lihat ini." Gus Ali membuka genggaman tangannya. Fatimah melongo melihat sebuah sapu tangan putih di sana.
"Itu buat apa?" tanya Fatimah dengan wajah polos. Hal ini membuat Gus Ali semakin gemas kepada istrinya.
"Ini buat membuktikan bahwa kamu pandai menjaga diri atau tidak."
Mulai mengerti kemana arah pembicaraan Gus Ali, Fatimah menggeser duduknya. Ia juga menutupi badannya dengan kedua tangan.
"Jangan, Gus. Saya belum siap."
Gus Ali baru saja akan menyentuh pundak istrinya, tapi kata-kata Fatimah itu membuat mood nya langsung berantakan.
"Jadi gimana? Apa kita keluar saja?" tanya Gus Ali meminta pendapat istrinya. Istrinya adalah hal paling penting dalam tradisi ini.
"Tapi nanti kalau kita keluar gimana?"
"Ya pastinya ditanyain."
"Jadi gimana?"
"Ya ayo lakukan."
"Jangan, Gus. Fatimah belum siap."
Gus Ali mendengus. Ia memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Berbohong sebenarnya bukan hal yang ia inginkan. Tapi ia juga tak mungkin memaksa Fatimah yang terlihat sangat ketakutan.
"Baiklah, kita akan melakukannya kalau anti sudah siap." Gus Ali membalikkan badannya dengan wajah yang berubah lesu.
Tak bisa dipungkiri jika ia sejak tadi telah menanti. Tapi rupanya penantiannya hanya akan jadi penantian tak berujung.
Fatimah menarik laci dan menyerahkan Bros ke tangan Gus Ali. Dengan sekali hentakan Gus Ali mengoyak tangannya dan ketika darah keluar, ia segera mengusapkan sapu tangan.
Fatimah yang melihat dengan matanya sendiri merasa sangat bersalah. Tapi di sisi lain ia tidak siap. Bahkan meski telah mendapat kebahagiaan karena ia dapat bertemu dan bersatu dengan laki-laki yang ia cintai.
Ceklek. Pintu terbuka. Hanya Gus Ali yang keluar dari kamar. Fatimah dipintanya istirahat di kamar. Agar berkesan mereka telah melakukan tradisi.
Melihat noda darah di sapu tangan yang di genggaman Gus Ali, para hadirin tersenyum lega. Terutama pastinya ustaz Adi dan umi Afin.
Mereka bersyukur di dalam hati. Bersyukur karena mampu menjaga kehormatan anak perempuannya.
"Alhamdulillah." Tak terasa air mata menetes di ujung mata umi Afin. Ia terharu dan sedih karena putri kecilnya kini telah menjadi seorang istri.
Setelah menyaksikan sendiri sapu tangan yang terdapat noda darah, Pak Kyai dan rombongan yang terdiri dari sepuluh orang itu berpamitan kepada ustaz Adi dan umi Afin.
"Terimakasih Pak Kyai."
"Tidak, ustaz. Saya yang berterimakasih. Semoga Ali jadi mantu yang baik."
"Amiin pak Kyai, pangestunipun."
Saat berpamitan dengan Gus Ali, Pak Kyai tak bisa menahan air matanya. Melihat putranya itu tersenyum manis, semakin membuat batin Pak Kyai terharu. Putra kecil yang dulu menangisi kepergian uminya, kini telah menjadi seorang suami.
"Jaga Fatimah baik-baik, Nak."
"Nggih, Bah. Ali minta doanya."
Pak Kyai memeluk putranya itu sangat erat. Seolah ini yang terakhir kalinya ia memeluk putra bungsunya itu. Bahkan Ning Faza dan Gus Badar yang juga ada di sana juga ikut menangis.
Setelah suasana sepi, barulah Gus Ali memohon ijin kepada ustaz Adi dan umi Afin untuk menemui Fatimah.
"Abah, umi, saya mau, ...."
"Ya sudah silakan dilanjut, Gus. Umi dan abah nggak akan gangguin, kok." Ustaz Adi terkikik lalu berjalan meninggalkan Gus Ali yang terdiam.
"Padahal belum ngapa-ngapain."
Gus Ali bergerak ke kamar Fatimah. Ia ingin segera menemui istrinya itu. Terkadang ia juga masih tak menyangka kalau pernikahan yang selalu ia impikan terjadi dengan sangat cepat dan kilat.
__ADS_1
Melihat Fatimah memejamkan mata di atas tempat tidurnya, Gus Ali menutup pintu secara perlahan. Tak ingin membangunkan Fatimah.
Dengan pelan Gus Ali mendekat ke tempat tidur Fatimah. Jari telunjuk yang tadi ia lukai dengan Bros kini terasa sedikit nyeri. Tapi itu tak sebanding dengan ketenangan Fatimah saat tidur.
Gus Ali memberanikan diri menyentuh puncak kepala istrinya. Sayangnya, baru saja ia menyentuh kulit Fatimah, suara ketukan pintu mengejutkannya. Bahkan Fatimah juga ikut terbangun.
"Ning, saya Bu Yanti. Mau ambil kebaya dan perhiasan."
Gus Ali dan Fatimah saling berpandangan. Fatimah baru ingat jika ia tidur masih menggunakan perhiasan dan kebaya.
"Iya, Bu. Sebentar," jawab Fatimah.
Ia buru-buru berdiri akan melepaskan dandanannya saat tiba-tiba Gus Ali menarik bahunya.
"Sayang dong kalo nggak diabadikan."
Cekrek. Gus Ali melihat hasil foto di handphonenya. Fatimah yang tidak siap terlihat mencebikkan bibir. Membuat wajah gemas.
"Jangan manyun dong, cantik," goda Gus Ali lalu mengambil foto lagi untuk kesekian kalinya.
"Udah dong Gus, bantu saya beberes." Fatimah memutar bola matanya jengah.
"Iya, sini saya bantuin. Saya copotin kebayanya." Gus Ali bergerak mendekat. Tapi Fatimah malah mundur dua langkah.
"Nggak, maksud saya bantu lepas jilbabnya aja." Fatimah segera meralat ucapannya.
Gus Ali hanya tersenyum kecil dan melaksanakan perintah dari istrinya. Pelan-pelan Gus Ali membantu Fatimah melepas tiara di kepala istrinya.
"Anti cantik, saya nggak akan bosan kalau anti dandan seperti ini setiap hari," rayu Gus Ali.
"Apa dompet Gus kuat mbiayai salon setiap hari?" balas Fatimah ketus.
"Ya sudah kalau gitu anti natural aja sudah cantik kok." Gus Ali menggelengkan kepalanya, tak tahu kalau Fatimah bisa sejudes itu. Semoga saja hanya karena sedang lelah.
"Nah kan, sekarang bilang natural aja. Gus itu memang plin-plan ya."
"Sudah jadi suami jangan panggil Gus, dong," pinta Gus Ali lalu mengecup kening istrinya. Sejenak mencium wangi rambut Fatimah membuatnya mabuk kepayang. Rona bahagia tidak bisa ia sembunyikan.
"Panggil apa? Kang?"
"Emang Kang santri?"
"Lha terus apa, Gus?"
"Gimana kalau Mas aja?"
"Nggak mau, Mas kan ke sini nggak bawa emas," canda Fatimah.
"Lha ditelepon bilangnya mahar Arrahman saja? Malah untung saya tambahi seperangkat alat sholat. Itu inisiatif saya sendiri, lhoh." Melihat muka jengkel Gus Ali, Fatimah tidak bisa menahan ketawanya.
"Becanda Mas Ali-ku sayang."
"Yaudah besok ke toko emas, anti mau beli emas berapa gram saya beliin."
Fatimah segera menyandarkan kepalanya di bahu Gus Ali.
"Hanya bercanda, jangan diambil hati."
Tok tok tok. Ketukan pintu kini kembali terdengar. Dilanjutkan dengan suara cempreng Bu Yanti yang kembali menanyakan kebaya dan perhiasan salonnya.
"Duh, ibu ibu itu ganggu aja."
"Bantuin makanya."
"Anti kok jadi galak?"
"Maaf, maaf."
"Anti mau dengar cerita bagaimana wanita akan mendapat syurga setelah menikah?"
Fatimah mengangguk. Inilah yang sangat ia rindukan dari sosok Gus Ali. Sembari membantu Fatimah melepaskan perhiasan di kepalanya, Gus Ali memulai ceritanya.
"Jaman dahulu ada seorang wanita yang menghadap Rasulullah. Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?"
Mendengar itu, Rasul pun bersabda, "Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya."
Mendengar kisah kecil itu hati Fatimah bergetar. Mulai detik ini ia akan berusaha menaati suaminya, apapun yang terjadi.
__ADS_1