Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Setelah Resepsi


__ADS_3

Setelah resepsi usai, Gus Ali dan Fatimah masih menetap di Ngantang. Bertujuan jika masih ada tamu yang ingin mendatangi mereka.


Seperti pagi ini, Gus Ali sedang bermanja merebahkan kepala di pangkuan Fatimah. Ia mendongakkan kepala untuk melihat wajah wanita yang telah dinikahinya itu.


"Jangan menatap ana begitu, Mas. Ana malu," ujar Fatimah merasa sudah cukup Gus Ali terus menatapnya.


"Justru malunya wanita itulah yang spesial, Tim," balas Gus Ali menyentuh dagu istrinya. Lalu berusaha bangkit dan duduk di dekat Fatimah.


"Malu kok spesial, Mas?" tanya Fatimah masih belum mengerti.


"Iya, Tim. Karena malu itu yang menunjukkan kadar iman seorang perempuan." Gus Ali menyentuh hidung mancung Fatimah.


"Jadi, apakah malu itu menandakan iman?"


"Tentu saja, Tim. Maksudnya malu berbuat maksiat kepada Allah ya."


Fatimah mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba wajah Mega yang kini bercadar terlintas di hadapannya. Ia jadi ingin menanyakan perihal cadar.


"Apakah anti tahu kalau pada akhir zaman, wanita banyak yang tidak punya malu? Banyak sekali hadist yang mengupas tentang hal ini." Gus Ali terlihat berpikir, ia memancing keingintahuan Fatimah.


"Apakah Allah menyukai wanita bercadar, Mas?"


Gus Ali tersenyum. Ternyata istrinya itu mulai antusias membahas hal lain. Gus Ali menyangka ini adalah pertanda kecerdasan perempuan yang haus ilmu.


"Innamal a'malu binniyat, Tim. Kalau bercadar dengan niat menjaga dirinya dari maksiat, tentu Allah mengangkat derajatnya. Tapi kalau pamrih mengharapkan yang lain, tentu saja Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati hambaNya."


Fatimah menganggukkan kepalanya. Tak perlu dibahas lebih lanjut, karena ia sudah bisa menguliti kalimat suaminya itu untuk mendapatkan makna sebenarnya.


"Oh iya, Mas. Apakah Mas ingat kata Bulek Sofia kemarin?"


"Apa, Tim? Mas nggak terlalu mendengarkan karena ya anti tahu lah banyak yang berbicara saat itu."


"Keluarga besar anti itu ternyata besar juga ya. Ha ha ha." Gus Ali berusaha tertawa meski sedikit memaksakan.


"Tentang cemburu, Mas. Bulek Sofia berpesan pada ana untuk menjaga diri dari satu sifat itu. Pencemburu," ujar Fatimah.

__ADS_1


"Mana bisa? Cemburu kan sudah sifatnya wanita?"


Fatimah terdiam. Dalam hati ia membenarkan perkataan suaminya. Ia sendiri kalau ingat ada banyak kaum hawa yang menyimpan perasaan kepada Gus Ali, juga terbakar cemburu.


"Em, mau dengar kisah tentang cemburunya Ummul mukminin Aisyah?"


Fatimah segera mengangguk. Kisah rumah tangga Rosulullah selalu menarik untuknya. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Dan untuk mereka teladani di sepanjang menjalani biduk rumah tangga.


"Mau, Mas. Ceritakanlah."


"Riwayat yang mengisahkan cemburunya Ummu Aisyah jumlahnya ada lima riwayat, Tim. Empat kalinya ditegur oleh Rosulullah, dan satu kali dibiarkan."


"Berarti cemburu itu sebenarnya penyakit ya Mas?" tanya Fatimah.


Gus Ali tersenyum. Belum juga ia menceritakan keempat kondisi saat Ummu Aisyah cemburu, istrinya itu langsung menangkap maksud dari kata-katanya.


"Iya, Tim. Yang pertama, Ummu Aisyah cemburu kepada wanita dengan suara mirip Ummu Khadijah. Setelah mengetahui kalau tamu yang baru saja keluar dari rumahnya adalah adik serta sahabat Ummu Khadijah, Aisyah langsung cemburu. Hingga mengatakan hal tidak baik tentang Ummu Khadijah." Gus Ali menjeda ceritanya. Membiarkan Fatimah berpikir.


"Kok bisa Ummu Aisyah cemburu kepada Ummu Khadijah? Padahal Ummu Khadijah kan memang istri pertama Rosulullah?" tanya Fatimah. Membuat senyum Gus Ali mengembang. Fatimah memang wanita yang cerdas dan tidak perlu banyak berkisah, ia telah mengetahui maksud dari kisah itu.


Fatimah menunduk, ia tahu yang dimaksud suaminya. Mungkin seperti kisah masa lalu Gus Ali dengan Tata. Fatimah tidak berhak mencemburuinya terus menerus. Bukankah yang menjadi istri Gus Ali adalah dirinya? Jadi Fatimah harus lebih sabar lagi mengenai itu.


"Yang kedua, Ummu Aisyah cemburu kepada Ummu Shafiyyah. Sampai mengatakan hal yang tidak baik juga, tapi sekali lagi Rosulullah menegurnya. Rosulullah mengingatkan jika Aisyah telah melakukan dosa besar dengan mengatakan hal buruk tentang Ummu Shafiyyah."


"Yang ketiga, Ummu Aisyah pernah cemburu kepada malam nisfu syaban."


"Bagaimana Mas? Kok bisa cemburu dengan malam nisfu syaban?" Fatimah terlihat sangat antusias karena hal ini baru ia dengar.


"Iya, jadi waktu itu memang gilirannya Rosulullah tidur di tempat ummu Aisyah, tapi saat terbangun tengah malam Ummu Aisyah tidak mendapati Rosulullah. Dengan kecemburuan yang menggelegak, beliau mendatangi semua istri-istri nabi. Tapi tidak bertemu nabi."


"Setelah mengetahui bahwa nabi berada di masjid, Aisyah langsung duduk di sampingnya. Begitu Rosulullah selesai sholat malam, ia melihat Aisyah dan menegurnya. 'Bahkan kau cemburu dengan malam nisfu syaban?' Dan akhirnya Ummu Aisyah kembali meminta maaf." Gus Ali kembali melirik wajah istrinya.


"Lalu yang dua riwayat lagi, Mas?"


"Sabar, Tim. Bolehkah Mas minta secangkir kopi dulu untuk membasahi tenggorokan Mas?" ujar Gus Ali merasa haus.

__ADS_1


"Naam, Mas. Setelah itu lanjutkan ceritanya ya."


Fatinah buru-buru ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Saat di dapur, tidak sengaja ia mendengar kedua orang tuanya yang sedang berbicara santai di ruang tengah.


"Umi masak cemburu lagi sama Sofia?" tanya ustaz Adi kepada istrinya yang mengerucutkan bibirnya.


"Ummu Aisyah saja cemburu kepada Shafiyyah, bagaimana umi yang manusia biasa?" baals umi Afin menoleh ke arah lain.


Fatimah merasa perlu meluruskan tentang kecemburuan uminya pada Bulek Sofia. Bukankah Fatimah telah mengetahui tentang riwayat itu?


"Umi, Ummu Aisyah memang pernah cemburu kepada Ummu Shafiyyah, tapi apa umi tahu bagaimana Rosulullah menegurnya?" kata Fatimah halus. Berhati-hati berbicara dengan wanita yang sedang terbujuk rayu setan.


"Gimana Tim?"


"Ummu Aisyah mengatakan kalau Ummu Shafiyyah pendek dan kerdil. Lalu Rosulullah menegurnya. Kata-katanya itu sudah seperti lautan. Yang artinya dosa besar menghina orang lain. Apalagi masih saudaranya."


"Tuh, dengerin kata Fatimah." Ustaz Adi menimpali.


Ia berpikir kalau dirinya yang mengatakan tidak akan ada efeknya. Tapi kalau putri mereka yang mengatakan, pasti umi Afin mendengarkan.


"Astaghfirullah. Jadi poin riwayat tentang kecemburuan Ummu Aisyah itu untuk tidak untuk dijadikan alasan ya?"


Fatimah dan ustaz Adi mengangguk. Setelah itu terlihat umi Afin terus beristighfar. Noda yang ada di hatinya kini terasa memudar setelah menerima klarifikasi dari Fatimah.


"Jangan cemburuan ya, mi." Ustaz Adi mendekati istrinya.


"Tapi cemburu kan tanda cinta?"


"Cemburunya wanita biasanya bisa membawa kekufuran, Mi. Karena wanita selalu menggunakan perasaannya."


Fatimah mendengar bagaimana Abahnya menenangkan sang ibu. Tak lama berselang, ceret siul berbunyi, menandakan kalau air yang dimasak Fatimah sudah mendidih.


"Anti mau bikin kopi, Tim?" tanya Abahnya. Fatimah mengangguk.


"Abah sekalian ya."

__ADS_1


__ADS_2