Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Dilema Mega 3


__ADS_3

"Jadi gimana, Tim? Apa yang harus anti lakukan?" tanya Mega lagi.


"Bentar, Meg. Itu ada Dika sama Gus Ali, ana mau marahin Dika." Fatimah bangkit dari duduknya, tapi Mega langsung menarik kembali sahabatnya itu.


"Please Tim, jangan bilang ke Kak Dika tentang ini. Ana nggak pengen ngeganggu konsentrasi dia belajar sama suami anti," bisik Mega karena dua lelaki itu sudah berada dekat dengan mereka.


"Em, nggak akan berpengaruh kok, Meg. Ana harus beri pelajaran ke Dika." Fatimah merasa tidak bisa menahan diri. Tapi kembali lagi Mega menarik tangan sahabatnya itu.


"Fatimah, please deh. Kalau nggak gitu jangan marahin Dika di depan ana. Please."


Melihat sahabatnya itu pias, Fatimah segera mengurungkan niatnya. Saat Gus Ali dan Dika sudah ada di dekat mereka, Fatimah hanya bisa manyun.


"Kenapa anti, Tim? Bibirnya kayak lohan gitu," ledek Dika tidak memahami kalau ia akan mendapat kemarahan wanita itu.


"Diem deh. Lagi pengen makan orang nih." Fatimah menjawab sekenanya, lalu menggerakkan isyarat untuk meremas Dika.


"Dih Kanibalisme. Serem deh."


"Udah, udah, ini sesama saudara kenapa tengkar mulu sih?" tanya Gus Ali heran. Kepalanya juga sedikit pusing memikirkan sudah sebulan ia tetap belum mendapatkan pekerjaan.


Gus Ali merasa menjadi suami yang kurang baik karenanya. Ia harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan pekerjaan. Ia tidak mungkin hanya akan luntang-lantung di kampus menemani istrinya.


Melihat raut wajah lelah Gus Ali, Fatimah dan Dika saling berpandangan. Keduanya tidak mengerti beban berat di pikiran Gus Ali. Tapi mereka heran bahwa sosok Gus Ali ternyata bisa berkata penuh emosi seperti itu.


Fatimah yang merasa ada sesuatu yang dipikirkan suaminya itu menelan saliva. Ia ingin menanyakannya, tapi tidak mungkin disini, di hadapan Mega dan Dika. Itu tidak etis. Dan kewajiban seorang istri adalah menjaga kehormatan suaminya.


"Em, ana walan ya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Mega akhirnya memilih kabur. Ia seolah takut jika Fatimah akan menegur Dika di depannya.


"Wa waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh." Fatimah, Dika dan Gus Ali menjawab salam itu.

__ADS_1


Dika tentu saja hanya bisa memandang kepergian Mega dengan tatapan nanar. Akhir akhir ini ia merasa akan kalah. Bisa jadi Mega memang bukan jodohnya.


Bukan tanpa alasan ia merasa demikian. Ia telah melakukan riyadhoh, ia juga rajin mendirikan sholat malam untuk merayu Allah agar melunakkan hati Mega.


Sayangnya ia tidak pernah berhasil menemukan petunjuk jika Mega akan memilihnya. Terkadang Dika juga sadar dengan siapa ia bersaing. Mungkin Gus Jaka lebih dalam tirakatnya untuk memikat Mega.


Mengingat pikirannya yang mulai melenceng, Dika terlihat beristighfar berkali-kali. Ia tidak boleh berpikiran buruk kepada Gus Jaka. Gus Jaka orang baik, tapi pikirannya lah yang buruk.


"Hih!" Setelah Mega jauh dan lenyap dari pandangan, Fatimah melampiaskan kemarahannya kepada sang sepupu. Kamus bahasa Arab Munawwir di tangannya ia pukulkan kepada Dika.


"Astaghfirullah! Fatimah, anti apa-apaan sih?" Dika mengaduh karena lengannya terasa hampir patah. Bagaimana tidak patah? Kamus Munawwir itu lebih dari seribu halaman.


"Fatimah, anti keterlaluan! Apa begitu adabnya seorang pelajar terhadap buku sumber ilmu?" Gus Ali sedikit terpancing emosi. Ia tidak menyangka kalau istrinya bisa melakukan hal yang tidak baik seperti itu.


Mendengar teguran keras dari Gus Ali, Fatimah menunduk. Jika suaminya itu sangat marah, berarti apa yang dia lakukan sangat buruk.


"Maafkan ana, Mas." Fatimah menunduk dalam. Ia merasa sangat berdosa.


"Maaf, Mas. Ana tidak bisa menahan diri. Ternyata Dika telah melamar Mega di atas lamaran Gus Jaka." Suara Fatimah sedikit memelan. Tapi bisa didengar dengan jelas.


Dika membisu, sedangkan Gus Ali langsung menatap sepupu dari istrinya itu.


"Jadi antum nekad ngelamar Mega?" Kini kilatan kecewa terlihat jelas di mata Gus Ali.


"Iya, Mas. Makanya Mega dilema banget, ia bingung mau pilih Gus Jaka tidak enak sama Dika, mau pilih Dika ia tidak punya alasan kuat untuk menolak Gus Jaka," jelas Fatimah membeberkan alasan Mega terus murung dan terlihat bingung.


"Kasihan Mega, Tim." Akhirnya Gus Ali mengomentari singkat.


"Tapi nggak apa-apa, mungkin ini cara Allah agar Mega mendekat dan meminta petunjukNya," lanjutnya.

__ADS_1


Dika terlihat tidak berani angkat bicara. Ia baru merasa tindakannya salah setelah Fatimah menjelaskan kebingungan yang dihadapi Mega saat ini.


Iya benar, Dikalah penyebabnya. Dia yang menambah masalah untuk Mega. Jika ia ingat kembali ke belakang, maka Dika sudah beberapa kali membuat Mega dalam masalah kecil dan besar.


Baru kali ini Dika sadar tentang semua perlakuannya kepada Mega. Dan kini ia ingin menjadikan Mega istrinya? Apakah ini berarti Mega akan selalu dihadapkan masalah saat bersamanya?


Seketika Dika jadi ingin mundur. Ia merasa akan membuat hidup Mega lebih rumit setelah menikah dengannya. Entah mengapa Dika mulai ragu dengan perasaannya. Mungkinkah rasa kasihnya pada Mega kemarin hanya fatamorgana perasaannya? Atau hanya nafsu?


"Eh, kok diem aja sih? Baru kerasa ya kalau salah?" Fatimah menegur Dika yang terus menutup rapat mulutnya.


Bahkan lelaki itu tidak menjawab apapun. Ia malah memilih berpamitan untuk pulang karena tiba-tiba tidak enak badan.


Setelah kepergian Dika, Gus Ali dan Fatimah berjalan bersama menuju parkiran. Di saat hanya ada mereka berdua, barulah Fatimah berani angkat bicara untuk menanyakan apa hal yang dipikirkan suaminya itu hingga wajahnya kusut.


"Mas mikir belum becus jadi suami, Tim. Anti lihat kan? Mas hanya luntang-lantung dan tidak bekerja. Sedangkan kehormatan seorang lelaki itu di saat ia bekerja keras."


Gus Ali menatap langit dengan nanar. Ia tidak boleh lebih nelangsa lagi. Ini nafsu yang harus ia lawan. Boleh saja ia sedih, tapi ia tidak boleh terlalu terbawa perasaan.


"Em, Bulek Sofia kan mengajar di madrasah, Mas. Coba kita tanya saja jika ada lowongan ustaz di sana."


"Makasih, Tim. Anti tidak memperpanjang masalah dan langsung memikirkan solusinya."


"Ya kan kita harus saling melengkapi, Mas. Kalau Mas ada masalah, berarti kita hadapi masalah itu bersama."


Gus Ali tersenyum kepada istrinya. Merasa bersyukur dengan kecakapan Fatimah membersamainya walau dari tingkat yang paling bawah. Keduanya memutuskan untuk sowan ke rumah Bulek Sofia setelah ini.


***


Di tempat lain, Mega baru sampai di depan kamar kostnya saat sebuah mobil terparkir di sana. Merasa tidak mengenali mobil ini, Mega menghampiri.

__ADS_1


Saat Mega sudah berada di depannya, Mega bisa melihat siluet pemiliknya. Mega terkejut, namun kemudian senyumnya bermekaran. Si pemilik mobil langsung turun dari mobilnya dan menyongsong Mega dengan pelukan hangat tanda rindunya.


__ADS_2