Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Hijrah Hati


__ADS_3

Seminggu setelah lamaran terjadi, Fatimah mendapat ajakan dari Mega untuk segera hijrah ke Surabaya. Meski masih sebulan lagi mulai kegiatan perkuliahan, tapi mereka berharap bisa menyiapkan diri dengan lebih maksimal. Apalagi Madrasah dan kuliah sangat berbeda.


Umi Afin dan ustaz Adi sebenarnya tak ingin melepaskan Fatimah ke Surabaya. Terlebih setelah lamaran terjadi, ia takut kalau menimbulkan fitnah.


"Umi nggak setuju kalau anti ke Surabaya sekarang, Tim," protes umi Afin berada di kamar Fatimah yang terlihat sedang menata buku dan bajunya ke dalam tas.


"Kalau Abah sama umi nggak ngijinin apa kamu tetap pergi?" Umi Afin menyentuh pundak Fatimah.


Alih-alih menjawab, Fatimah malah berusaha melihat ke arah lain. Agar tidak menatap uminya. Sebenarnya dia ingin ke Surabaya ia ingin melupakan hatinya. Siapa tahu nanti di Surabaya Fatimah mendapatkan hiburan, agar hatinya yang kini meradang bisa setidaknya sedikit membaik.


"Lalu bagaimana cara umi dan abah biar Fatimah diijinkan pergi?" tanya Fatimah suaranya melemah.


Umi Afin terus berusaha mencegah kepergian putrinya. Sedangkan Fatimah malah ingin memenangkan ijin dari kedua orang tuanya.


"Kalau anti nekad berangkat ke Surabaya, lebih baik tanya dulu sama calon suamimu, atau calon mertuamu juga." Suara dingin dan tegas itu sudah pasti suara ustaz Adi.


Antara kecewa dan marah, ustaz Adi melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa ngototnya sang anak untuk pergi. Meski ustaz Adi berprasangka jika Fatimah sebenarnya sudah rindu dengan Gus Ali yang juga ada di kota itu.


Siapa tahu Gus Ali yang menyuruh Fatimah segera berangkat di sana. Tidak dipungkiri ustaz Adi sedikit tenang jika memikirkan Fatimah di Surabaya dengan Gus Ali.


"Baik, Bah. Sekarang juga Fatimah ke pondok," ujar Fatimah berpikir akan menemui Haikal untuk meminta ijin pergi ke Surabaya.


"Ke pondok? Apa anti yakin calon suamimu mengijinkan?" tanya umi Afin ragu. Berat hatinya melepas putri satu-satunya itu. Tapi ia juga tidak mampu berbuat apapun. Ustaz Adi, suaminya, telah memperingatkan jika kelak ia harus melepas putrinya untuk mengikuti sang suami. Sebagaimana dulu kedua orang tua umi Afin melepasnya ke Yaman.


Jika mengingat kenangan itu, maka yang pertama diingat umi Afin adalah saat ia kehilangan Syams karena mementingkan egonya untuk mengejar pendidikan di Yaman. Dan saat Abah dari umi Afin, atau kakek dari Fatimah jatuh sakit dan sekali lagi umi Afin berada jauh dari mereka.


Diam-diam keringat dingin muncul di kening umi Afin. Membuat sang suami yang juga masih berada di kamar anaknya menangkap perubahan itu.


Ustaz Adi langsung meraih tangan istrinya. Umi Afin terkejut tapi langsung berusaha menguasai diri. Perjalanan yang panjang menyadarkan hati umi Afin. Bahwa hidup, mati, jodoh, dan rezeki semata hanya dari Allah. Saat ia harus berpisah dengan anaknya, ia hanya bisa melanjutkan doa. Semoga anaknya selalu dalam penjagaan Sang Khalik. Dan untuk dirinya dan suami semoga masih diberi waktu.


"Mbok dipikir sekali lagi, nduk," bujuk umi Afin untuk terakhir kalinya. Hatinya mulai berusaha menerima kenyataan kalau Fatimah akan pergi. Rumah ini akan sangat sepi tanpa kehadiran Fatimah.


Umi Afin akan merasakan bagaimana kedua orang tuanya dulu dicekam rindu. Dan hidup dengan doa yang tak putus untuk anaknya.


"Sudahlah, Mi. Biar saja, yang penting kita mendoakan," ucap ustaz Adi menenangkan istrinya.


"Umi, Abah, Fatim berangkat ke pondok dulu, ya untuk minta ijin sama calon suami Fatimah," pamitnya setelah bersiap untuk ke ndalem.


"Iya." Sepasang suami istri itu hanya bisa menatap nanar putri mereka yang akan meninggalkan mereka. Iya, keduanya punya firasat kalau Pak Kyai akan mengijinkan Fatimah pergi.


Sesampai di ndalem, Fatimah berusaha mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Haikal yang masih ia yakini sebagai calon suami yang seminggu lalu melamarnya. Sempat bertanya ke beberapa Mbak snatri, dan Fatimah disarankan ke ndalem, karena Haikal sering terlihat bersama Pak Kyai.


Mau tak mau Fatimah menuju ke ndalem. Walau sebenarnya ia bingung bagaimana mengatakan maksudnya kepada Haikal. Laki-laki itu mungkin sikapnya akan berubah setelah lamaran terjadi. Dan Fatimah membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana jika sekarang Haikal lebih 'berani' padanya?


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh," balas seorang perempuan dari dalam ndalem.


Mengetahui yang datang adalah Fatimah, Ning Faza segera tersenyum. Walau ia sedikit terkejut calon istri Gus Ali tidak pendiam seperti bayangannya.


"Ngapunten, Ning. Menopo Haikal wonten?" tanya Fatimah sedikit membungkuk di depan kakak Gus Ali itu.


"Lho, ono perlu opo kok mau ketemu Haikal?" tanya Ning Faza sedikit heran, tapi ia berusaha berprasangka baik. Mungkin Fatimah dan Haikal ada urusan di sekolah yang belum selesai.


"Niku, ajenge nyuwun ijin badhe Ten Surabaya."


"Nyusul Gus Ali Tah? Wah, ternyata Haikal nyusul Gus Ali. Aku tas weroh," balas Ning Faza lagi. Ia berusaha hangat pada calon adik iparnya itu.


Fatimah terheran-heran mendengar kata-kata Ning Faza. Seperti ada yang miskomunikasi antara yang ia katakan dengan yang dikatakan Ning Faza. Tapi apalah daya Fatimah yang tak ingin membahas lebih jauh.


"Nggih, Ning."


"Ojo panggil Ning, panggil Mbak ae wes. Wong calon adikku, kok."


Fatimah berpikir secara cepat. Mungkin karena telah lama mengabdi, Haikal sampai dianggap sebagai adik dari Ning Faza. Jadi sah-sah saja kalau Ning Faza menganggap dirinya calon adiknya. Fatimah hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


Tak sengaja matanya menatap sebuah foto keluarga. Melihat gambar Gus Ali ada di sana, hati Fatimah kembali terasa sakit. Tapi ia tak mungkin menampakkan sakit hatinya itu di hadapan kakak dari Gus Ali.


Fatimah terdiam. Ia tidak menemukan topik pembicaraan lagi, sedangkan ia juga bingung untuk berpamitan.


"Pak Kyai pripun kabaripun, Ning, eh Mbak?"


"Alhamdulillah, semakin sehat, Tim. Apalagi habis lamaran kemarin, semakin pulih."


Fatimah tidak menemukan kata-kata lain selain ber-oh saja. Merasa sudah cukup jelas bahwa Ning Faza mewakili Pak Kyai sekaligus Haikal tentang permintaan ijinnya, Fatimah pamitan.


"Ning, eh Mbak. Saya mau pamit dulu, nggih. Nyuwun pangestunipun." Fatimah mencium punggung tangan Ning Faza selaiknya yang ia lakukan pada Ning yang lainnya.


Baru sampai di depan rumah, ustaz Adi dan umi Afin sudah menanti. Wajah mereka nampak gelisah. Mungkin ini menyangkut permintaan Fatimah yang bagi mereka sedikit keterlaluan.


Padahal menurut rencana Pak Kyai tempo hari, setelah lamaran dan sebelum masuk jadwal kuliah, Fatimah dan Gus Ali akan dinikahkan. Biar sama-sama menenangkan dua pihak keluarga.


"Gimana, Tim?"


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Mi, Bah." Fatimah mencium tangan kedua orang tuanya.


Baru setelah salam dijawab, Fatimah mengatakan apa yang dikatakan Ning Faza padanya. Tak ditambah ataupun dikurangi.


Umi Afin akhirnya dengan terpaksa melepas kepergian Fatimah ke Surabaya. Esok adalah hari yang panjang bagi Fatimah. Ia dan Mega akan berangkat ke Surabaya dan memulai petualangan baru sebagai mahasiswi.


Dalam hati kecil Fatimah, ia berharap tak lagi bertemu dengan Gus Ali. Bisa-bisa ia mati berdiri jika bertemu Gus-nya itu. Bukan karena rindu, melainkan karena menggunungnya rasa marah dan kecewa. Hati Fatimah terlanjur sakit dengan menghilangnya Gus Ali yang secara tiba-tiba.


***


Fatimah memeluk kedua orang tuanya sangat erat. Tidak mungkin hatinya tak berduka karena harus jauh dari kedua orang yang sangat ia sayangi itu. Fatimah meneteskan air mata, tapi segera ia hapus dengan punggung tangan. Perpisahan ini hanya sementara dan demi kebaikan bersama. Fatimah tidak mungkin akan menjadi anak kecil yang bahagia di bawah perlindungan orang tuanya saja.


Fatimah sudah berusia delapan belas tahun, dan sebentar lagi ia akan menikah. Jika teringat itu Fatimah kembali menghela napas. Membuat sadar hatinya bahwa pernikahan itu dikehendaki Allah. Dan dia akan berusaha sekuatnya untuk berbakti kepada suaminya. Selama tak melanggar syariat.


Lagi pula Fatimah selalu ingat peribahasa yang ia temukan saat berselancar di dunia maya. Kata-kata itu cukup sederhana. Tapi berarti banyak bagi Fatimah.


Tulisan itu telah ia tulis di buku hariannya. Buku yang tak pernah ia isi kecuali di saat ia merasa galau dan tak bisa bercerita pada siapa-siapa. Fatimah merasa, kelak ia akan menulis disana bagaimana hatinya yang ia paksa untuk mencintai laki-laki yang dikirim Allah di hidupnya.


Sebelumnya, Fatimah pernah menulis tentang seseorang di buku itu. Lembar demi lembar berisi cerita yang ia dapat dari seseorang yang sangat dikagumi Fatimah. Siapa lagi kalau bukan Gus Ali. Tapi sayangnya, sejak kekecewaan merasuki hati Fatimah, ia telah merobek halaman demi halaman yang ia tulis tentang Gus Ali. Semua ia robek dan dibakar.


Baginya, buku yang rusak itu laksana hatinya yang terluka. Tapi Fatimah hanya menyimpannya sendiri. Tak pernah ia bagi dengan siapapun.


Apalagi Mega, gadis yang pernah sangat menyukai Gus Ali. Fatimah memang dekat dengan Mega, tapi ia tak sembarangan menceritakan apa yang ada di hatinya. Terutama jika hal itu bisa menimbulkan gunjingan atau bahan ghibah.


"Fat, anti sudah dapat kos-kosan?" tanya Mega sembari turun dari bus bersama Fatimah di sampingnya.


"Ya kan kata anti sudah ada kos-kosan dekat kampus," balas Fatimah sedikit tersulut emosi. Ia sedang lelah setelah perjalanan jauh. Pun hatinya masih belum pulih, Mega malah memancingnya.


"Hehe, iya iya. Beres, nanti kita kosannya sebelahan, kok." Mega juga tahu kalau Fatimah sedang gampang tersulut emosi.


Sebenarnya Mega ingin menebak perubahan sikap sahabatnya itu sejak kepergian Gus Ali, tapi ia benar-benar tidak berani mengatakannya. Selain itu ia juga sudah terlanjur malu karena pernah berkata pada Fatimah kalau ia akan cemburu kalau Gus Ali menikahi Fatimah.


Saat Mega mendengar Fatimah sudah dilamar, dan Fatimah sendiri memberitahu jika calon suaminya adalah Haikal. Dalam benak Mega ia merasa sangat bersalah. Meski ia sempat tergila-gila kepada Gus Ali, tapi ia bisa melihat nyala perasaan Fatimah kepada Gus Ali saat masih di Madrasah. Dan saat Gus Ali pergi tanpa pamit, nyala itu redup dan semakin kecil.


"Anti mikir apa, Meg? Kok diem gitu?" tanya Fatimah, ia merasakan kalau Mega sempat menatapnya lama.


"Enggak, kok. Cuma kalau diingat kan Gus Ali juga di Surabaya ya, siapa tahu nanti kita bisa ketemu beliau," kata Mega dengan wajah takut salah bicara.


"Surabaya kan nggak sesempit itu, Meg. Aku sih berharapnya kita nggak usah ketemu dia lagi." Wajah Fatimah mulai berubah ketika membahas Gus Ali. Mega menyadari betul itu.


"Hush. Masak gitu doanya? Gimanapun juga beliau salah satu ustaz kita di Madrasah, Tim. Kita harusnya mendoakan yang baik-baik dong." Mega terheran heran dengan perubahan Fatimah.


"Hem. Iya deh. Semoga Gus Ali sehat, baik-baik saja. Semoga ilmunya barokah, bisa berguna untuk banyak orang." Fatimah menengadahkan tangan ke udara.


"Nah gitu, dong." Mega merangkul sahabatnya itu. Mereka lalu melintas di depan salah satu konter hape yang terlihat megah.


"Eh, sebentar. Aku hubungi rumah dulu ya. Bilang kalau kita sudah sampai." Fatimah mengambil handphonenya di tas dan menghubungi rumah.

__ADS_1


Sayangnya tak ada nada tersambung. Fatimah langsung mengecek handphone-nya. Mengecek pulsa dan kuotanya masih ada. Tapi saat melihat masa berlaku kartunya, Fatimah hampir terbelalak. Jadi kartu simnya ternyata telah hangus.


Secara kebetulan mata Fatimah mengedar dan melihat konter megah. Segera ia mengajak Mega ke sana untuk membeli kartu perdana.


"Huft. Untung dekat konter ya, Tim," ujar Mega turut lega melihat sahabatnya itu sudah mengabari orang di rumah kalau mereka sudah sampai di Surabaya.


"Iya, Meg. Allah memang Maha Baik. Dan pertolongan Allah selalu dekat." Fatimah lalu kembali memasukkan handphone ke tas. Ia teringat berita tentang maraknya penjambretan di kota-kota besar.


"Yuk kita segera ke kosan, biar bisa istirahat," ajak Mega dan Fatimah mengiyakannya.


Keduanya fokus mengamati kendaraan yang lalu lalang karena mereka akan menyeberang jalan besar. Mereka tak menyadari kalau di sisi kanan mereka ada seorang laki-laki yang sibuk membaca buku tebalnya berjalan ke arah konter.


Sesampai di konter, pegawai yang mengenali Gus Ali sebagai salah satu customer yang servis handphone segera menyambutnya.


"Jadi gimana, Mas? Apa hape saya masih bisa nyala?" tanya Gus Ali dengan mimik wajah serius.


"Alhamdulillah, masih bisa Pak."


"Saya masih muda, Mas. Kok dipanggil Pak?" Gus Ali mencebikkan bibir. Sedangkan pegawai itu malah tertawa.


"Lha saya kan salah satu mahasiswa bapak, masak saya memanggil salah satu dosen saya dengan sebutan lain?" balas pegawai dengan name tag Akrom itu.


"Oalah, maba ya?" tanya Gus Ali lagi. Ia kagum dengan semangat mahasiswanya yang juga bekerja part time itu.


"Iya, Pak. Insyaallah."


"Masih Maba, kok tahu kalau saya dosen?" Kening Gus Ali berkerut heran.


"Soalnya Bu Tata yang memberitahu."


Gus Ali terdiam, ia teringat beberapa hari lalu Tata memaksanya untuk membelikan handphone baru untuknya. Tapi Gus Ali menolak secara halus pemberian itu. Dan akhirnya Tata menyerah dan meminta Gus Ali membawa handphone itu ke konter ini untuk diperbaiki.


"Ini, Pak."


Gus Ali meraih handphonenya yang kini menyala lagi. Segera ia mengecek pesan-pesan yang masuk. Dan saat ia melihat daftar panggilan masuk tak terjawab, badan Gus Ali menggigil melihat nama Fatimah ada di sana. Tanpa ba-bi-bu lagi, Gus Ali memanggil nomor Fatimah. Bahkan Gus Ali harus minta maaf pada calon istrinya itu karena tak bisa hadir di hari lamaran.


'Nomor yang anda tuju tidak terdaftar.' Gus Ali bingung. Nomor Fatimah tidak bisa dihubungi. Ia kini benar-benar tidak tahu bagaimana pelaksanaan lamaran tempo hari.


"Oh iya, berapa ongkosnya?" tanya Gus Ali hampir melupakan hal itu.


"Sudah dibayar Bu Tata, Pak."


Gus Ali berdecak. Sebenarnya Tata tidak boleh terlalu baik padanya. Harusnya Tata tahu batasan antara mereka. Bukankah mereka telah berbicara dari hati ke hati? Dan Tata berjanji akan menjadi teman sewajarnya untuk Gus Ali.


"Berapa?"


"Empat ratus ribu, ganti layar sama beberapa komponen di dalam."


"Ya sudah, terimakasih."


Sebelum beranjak dari tempat itu, Gus Ali kembali mencoba menghubungi nomor Fatimah. Tapi tetap saja tidak tersambung. Pikiran Gus Ali mulai menerka macam-macam. Atau jangan-jangan Fatimah menolak lamarannya? Gus Ali harus mencaritahu dari Haikal atau kakaknya, Ning Faza yang pasti turut dalam rombongan ke rumah Fatimah.


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏

__ADS_1


__ADS_2