Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Kemarahan Orang Tua Mega


__ADS_3

Setelah acara makan siang itu, mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Mega memberanikan diri untuk pulang ke kosannya. Semoga saja video klarifikasinya telah menyebar secepat video pertama menyebar.


Meski masih memendam rasa takut, Mega memilih diam saja. Tangannya terus gemetar ketika mobil yang ditumpanginya meluncur menuju kost-an.


Fatimah yang menyadari kekhawatiran Mega meraih tangan sahabatnya itu. Ia berusaha menghibur sahabatnya itu.


"Insyaallah, kamu kuat melewati ini semua, Meg." Fatimah menepuk tangan Mega yang gemetar. Mega menatap sahabatnya itu. Lalu melepaskan beban di pikirannya dengan sebuah embusan napas. Meski berat, ia tetap harus melanjutkan hidupnya.


Di saat yang sama sebuah panggilan telepon masuk ke handphone di dalam tas jinjingnya dan matanya kembali melebar melihat nama mamanya tertera di sana.


"Ada apa, Meg?" tanya Fatimah melihat raut wajah cemas Mega. Ia tahu sahabatnya tidak sedang baik-baik saja.


"Mama telepon, ana harus jawab gimana?"


"Kamu angkat saja dulu, beliau malah curiga kalau nggak diangkat," saran Dika yang sejak tadi fokus menyetir. Dika merasa turut andil dalam masalah ini.


"Halo, Ma." Mega menjawab telepon itu. Tanpa menunggu waktu lama, air matanya menetes ke pipi. Fatimah yang menyadari sahabatnya sedang dimarahi hanya berusaha menenangkan dengan tepukan halus di pundak Mega.


"Tidak, Ma. Semua tidak benar. Besok Mega balik ke Ngantang, akan Mega jelaskan semuanya," ujar Mega berusaha meminta kesempatan untuk berbicara. Sejak tadi ia mengangkat telepon, mamanya langsung menyerbu dengan kemarahan.


"Iya, Ma. Mega tahu Mega salah."


Mega menghela napas. Ia sempat menatap Dika yang duduk di depannya beberapa saat, lalu kembali menunduk. Ia tidak berani banyak berharap jika Dika mau membantunya menjelaskan kepada orang tuanya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Mega menutup telepon lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia kembali menangis karena mendapatkan kemarahan orang tuanya.


"Tenang, Meg. Sabar, insyaallah ada jalan keluarnya." Fatimah kembali mengusap pundak sahabatnya.


"Besok kita temui kedua orang tua kamu," ujar Dika seketika membuat tubuh Mega menegang sesaat. Ia merasa takut kalau Dika menemui kedua orang tuanya. Jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi.


Mega tahu bagaimana ayahnya yang telah memiliki tabiat buruk papanya. Apalagi jika ini mengenai kehormatan Mega. Meski hanya salah paham, ia merasa takut menghadapi hari esok.


"Iya, Dik. Antum harus bertanggungjawab." Gus Ali menimpali, tapi kalimat itu membuat Dika malah menatap tidak suka.


"Pak, saya tahu Bapak adalah suami sepupu saya, tapi tolong jangan ikut campur," kata Dika sengit. Ia tidak peduli dengan adab kepada yang lebih tua.


"Tolong jangan salah paham, maksud saya tanggungjawab menjelaskan. Bukan yang lainnya." Gus Ali berusaha meralat ucapannya. Mungkin Dika masih memendam sedikit kesal padanya karena alasan Tata. Ah iya, Gus Ali jadi ingin sekalian menanyakan keseriusan Dika pada Tata.


"Tunggu, antum pikir saya terlalu ikut campur? Sedangkan antum sendiri sudah tahu saya sudah menikah, tapi masih melibatkan saya dengan urusan cinta antum kepada Tata?" Gus Ali mendadak tidak ingin kalah dari Dika. Mahasiswa sekaligus masih saudara dekat dari istrinya itu sangat keras kepala. Seperti biasanya.


"Kok Bapak nyangkut pautkan sama Tata sih?" sebal Dika, tidak bisa lagi menahan emosinya. Bahkan mobilnya sempat goyang sedikit karena fokus Dika terganggu.


"Nah itu, antum marah kalau dikait-kaitkan?"


"Sudah, jangan ribut. Kenapa harus meributkan hal yang tidak penting sih?" Fatimah berusaha menengahi.

__ADS_1


"Sorry, Tim. Masalah Tata buatku sangat penting!" Dika mendengus kesal. Mengapa ia harus bersaudara dengan suami istri yang menyebalkan itu?


Di saat yang sama tak sengaja Dika menatap spion, wajah datar Mega sempat berubah ketika nama Tata disebut. Dika sempat curiga, tapi tidak peduli setelahnya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang berarti perlu dirisaukannya.


"Rupanya antum benar jatuh cinta dengan Tata? Baguslah, antum bisa segera melamarnya," ucap Gus Ali sambil tersenyum. Ia berpikir jika Tata menemukan jodohnya, maka rumah tangganya juga akan aman. Toh ia akan turut berbahagia jika Tata menikah.


Meski dalam hati kecil Gus Ali sangsi jika Dika akan mendapatkan jalan yang mulus untuk meminang Tata. Sahabatnya itu keras kepala, mungkin sama dengan Dika. Tidak bisa dibayangkan jika nanti keduanya mendapatkan masalah dalam rumah tangga. Tidak ada yang mengalah. Gus Ali beristighfar, ia telah berprasangka buruk pada nasib orang lain yang belum tentu terjadi.


"Kenapa Mas masih peduli banget dengan Bu Tata?" tanya Fatimah dengan wajah masamnya, tentu saja ia cemburu saat suaminya memikirkan wanita lain.


"Jangan salah paham, Tim. Mas tidak ada perasaan apapun kepada Tata, tolong jangan cemburu." Gus Ali panik melihat istri kesayangannya itu cemburu. Belum juga merasakan indahnya duduk berdua di pelaminan, istrinya sudah cemburu. Berarti Gus Ali memang harus sangat hati-hati membahas wanita lain di depan istrinya.


Hening. Tidak ada suara lagi. Mega turun di depan kost nya. Ia berusaha tidak peduli meski banyak pasang mata yang menatapnya. Fatimah sempat menanyakan keadaan Mega, atau menyarankan Mega menginap di tempat lain dulu. Tapi Mega menenangkan sahabatnya itu.


"Apapun yang terjadi, ana punya Allah, Tim."


Fatimah lega mendapat jawaban itu dari mulut Mega. Ia merasakan perubahan yang berarti pada diri Mega setelah masalah ini.


Dika sebenarnya kagum dengan jawaban Mega saat itu. Tapi ia gengsi untuk memperlihatkannya. Apalagi ia sekarang dalam tahap berjuang untuk mendapatkan cintanya, yaitu Tata. Ia harus mencari cara untuk mendapatkan hati perempuan yang selalu memandangnya dengan tatapan jengkel itu.


Setelah mengantar Mega ke kost-an, Gus Ali dan Fatimah bergegas kembali ke rumah mereka. Keduanya menaiki sepeda yang tadi dititipkan di dekat kost-an Mega.


Sebelum pulang, tak lupa Gus Ali dan Fatimah menyampaikan rasa terimakasih mereka kepada Dika atas tumpangannya. Hal itu tidak pernah diduga oleh Dika. Diam-diam ia kagum dengan pasangan yang esok akan menggelar resepsi itu. Mungkin benar kalimat yang sering ia dengar. Bahwa orang baik akan mendapat jodoh orang baik. Lalu bagaimana dirinya? Pantaskah ia bersanding dengan Tata yang baik? Pantaskah Dika menjadi bagian keluarga besar Tata yang terkenal dengan nama baiknya, sedangkan ia hanya laki-laki yang tidak kunjung lulus dari kuliah.

__ADS_1


Diam-diam Dika merasa ragu akan jalan yang akan ia tempuh. Lalu jika perasaannya pada Tata tidak akan terbalas, mampukah Dika menghadapi itu semua?


Dika melajukan mobilnya menuju rumahnya. Mungkin ia perlu sedikit bertukar pikiran dengan ayahnya mengenai hal ini. Meski Dika bandel, ia tidak akan mempermainkan hati perempuan. Ia ingin segera menikahi wanita yang selalu ada dalam mimpinya.


__ADS_2