
Seusai Subuh itu, sikap Mas Adi terasa lain. Mungkin memang dia baik di depanku. Bahkan dia lelaki yang shaleh dan tahu bagaimana memperlakukan seorang istri. Tapi sering kali aku menemukan wajah basahnya yang terlihat menanggung beban.
Hingga di suatu sore, Mas Adi mengajakku berdiskusi. Ya, memang belum ada cinta di antara kami.
Yang ada hanya sebuah keterikatan untuk beribadah, meski Mas Adi belum pernah memintaku melaksanakan kewajiban sebagai istri. Seperti yang pernah dikatakannya dulu, dia tidak akan memaksa.
"Dik, bisakah kita berdiskusi sebentar?" Aku memandang wajahnya yang teduh. Tapi menanggung sesuatu yang seolah sulit kuterjemahkan.
"Ada apa, Mas? Sepertinya, ada yang mengganggu pikiranmu," aku berkata hati-hati. Takut menyinggung hatinya.
"Semalam, aku dihubungi pihak Al-Amin." Mas Adi memberi jeda. Raut wajahnya terlihat bingung menata kalimat yang akan ia ungkapkan.
Tanpa komando, tanganku meraih bahu bidangnya dengan halus. Aku ingin memberi kesan menenangkannya, walau sebenarnya aku pun belum tahu apa yang membuatnya segelisah ini.
"Mas harus kembali ke Yaman," ungkapnya sambil melekatkan pandangannya. Dia memang berwajah mirip dengan Syams, sangat mirip.
Tapi, sikap dan caranya memperlakukanku berbeda dengan Syams. Mendiang Syams selalu berhasil membuatku tersipu dengan kata-kata atau tindakannya yang manis dan romantis.
Sedangkan Mas Adi, dia memang memperlakukanku dengan baik. Ah, sudahlah. Apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh menghakimi Mas Adi dengan semauku. Mas Adi ya Mas Adi, sedangkan Syams ya memang Syams.
Mereka memang kembar identik, tapi memiliki sifat dan sikap masing-masing.
"Apa, .... Kau mau ikut?" Tanyanya pelan. Aku memandangnya, menelisik. Sebuah senyuman kutautkan di bibir.
"Aku ini istrimu, Mas. Aku akan ikut kemana pun engkau pergi. Lagipula, aku harus kembali menuntut ilmu di sana." Aku mengatakannya dengan enteng. Tapi, ekspresi wajah Mas Adi kembali mendung.
"Sebenarnya, ...." Mas Adi menunduk.
Menyembunyikan risaunya yang semakin pekat. Laki-laki di depanku ini memainkan gawainya sebentar sebelum mendekatkan benda itu padaku. Aku mengalihkan pandangan ke arah layar telepon pintarnya.
Aku terkejut mendapati kalimat demi kalimat yang membeberkan fakta bahwa aku tidak bisa lagi menuntut ilmu di Al-Amin.
Tulisan berbahasa Arab itu jelas menyatakan jikalau beasiswaku dicabut dan surat penyabutannya sudah dikirim ke Indonesia.
Mataku terasa panas. Butiran-butiran air bening mengalir tiada ampun. Dadaku terasa sesak, seperti dihimpit beban berat.
"Dik, jangan bersedih. Aku telah berusaha menghubungi pihak Al-Amin. Tapi mereka tidak mau mengerti, seharusnya dua bulan lalu kau kembali ke Yaman." Mas Adi berusaha menenangkanku.
__ADS_1
Tapi aku tidak bisa tenang. Dengan hal ini, dukaku semakin terasa menyesakkan.
Harapan Syams untukku, harapan abi dan umi agar aku menjadi pembawa pengetahuan hancur begitu saja. Isakanku masih juga belum reda.
"Maafkan aku, Syams. Aku telah mengecewakanmu." Lirihku dalam hati.
Aku menunduk, masih terasa aliran air mata di wajah.
"Atau, kau kuliah mandiri saja, dik." Ungkapan Mas Adi menyita perhatianku. Aku menoleh ke arahnya.
Aku menggeleng pelan, tabunganku belum cukup untuk modal kuliah secara mandiri di sana. Jika meminta uang untuk dari abi dan umi, aku akan menyusahkan mereka. Dengan terbata aku mengungkapkan ketidakmampuanku secara finansial. Karena ini pula, pikuranku terseret kembali ke masa lalu. Saat Syams tidak pernah perhitungan untuk mengeluarkan uang demi aku.
Astagfirullahaladzim. Aku kembali beristigfar. Ini salah, aku tidak boleh membandingkan suamiku yang sekarang dengan orang lain. Walau itu mantan suamiku.
Aku mengalihkan pandangan dengan lekas. Tidak ingin membuat hatiku merutuki apa yang sudah terjadi.
"Aku punya tabungan untuk kuliahmu, dik." Mas Adi tersenyum sambil meraih kedua tanganku.
"Tapi, Mas. Biayanya terlalu mahal. Mungkin Mas Adi lebih membutuhkannya." Tolakku secara halus.
Di luar dugaanku, laki-laki itu menggeleng. Dengan tetap tersenyum beliau mengatakan jika rezeki suami akan lebih barokah jika digunakan untuk kebaikan istrinya. Bahkan mungkin akan beranak pinak lebih banyak. Aku memandangnya ragu.
"Dik, bisakah kau rapikan keperluan kita untuk ke Yaman besok?" Laki-laki yang menghentikan langkahnya di ambang pintu itu menoleh padaku yang masih termenung di atas dipan.
"Baik, Mas." Balasku. Setelah laki-laki itu berlalu, aku segera menyiapkan tas berisi pakaian dan beberapa keperluan untuk dibawa ke Yaman.
*****
Pukul 13.00 waktu setempat, aku dan Mas Adi telah berada di bandar udara Sanaa, Yaman. Menjejakkan kaki di sini, membuat dadaku terasa kembali bergemuruh. Beberapa bulan yang lalu, aku berada di sini bersama Syams yang ternyata saat itu telah berjuang melawan rasa sakitnya.
Mataku terasa berkabut saat menatap salah satu kursi di ruang tunggu bandara. Dahulu, aku menatap lekat laki-laki yang tertidur pulas di sampingku. Laki-laki yang ternyata ditakdirkan Allah menemaniku hanya sebentar.
"Dik." Panggilan Mas Adi menyadarkanku. Aku menyembunyikan pandangan ku yang berkabut.
Setelah turun di bandar udara internasional di Yaman itu, kami berdua gegas berjalan ke luar dan mencari angkutan yang akan membawa kami menuju rumah.
"Dik, sebenarnya. Akulah Adi teman masa kecilmu dulu." Aku menoleh ke arah Mas Adi yang menatapku lekat.
__ADS_1
Aku meragukan kalimatnya, Syams lah Adiku di masa kecil. Dia sudah mengatakannya dulu. Lalu kenapa Mas Adi membohongiku sekarang?
"Jangan bercanda, Mas." Sahutku mengeraskan rahang. Entah mengapa, aku merasa tersinggung dengan ucapannya itu. Dari kalimatnya tadi seolah menuduh Syams lah yang telah berbohong.
"Aku serius, dik." Mas Adi memandangku dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang sulit kugambarkan.
"Lalu, maksud Mas Syams yang membohongiku?" Aku tidak terima jika ada yang menuduh Syams macam-macam. Mas Adi menunduk.
Aku harap dia akan meralat ucapannya. Untuk apa membohongiku? Aku sudah tahu jika Syamsul Hadi di masa kecilku dulu adalah Syams.
Tak terasa, angkutan yang kami tumpangi berhenti di depan rumah. Rumah yang penuh kenanganku bersama Syams. Kenangan betapa manisnya ia memperlakukanku dan pertama kalinya aku menemukannya kesakitan dengan wajah pucat.
Aku menelan ludah. Sesulit ini melupakan kenangan masa lalu.
"Dik, tunggu. Dengarkan penjelasanku." Laki-laki itu menginterupsi aku yang baru saja melangkah turun dari mobil.
"Maaf, Mas. Aku sangat menghormatimu. Tapi bukan berarti aku tidak akan mengingatkanmu saat ucapan dan sikapmu salah." Aku melepas tangannya yang meraih pergelangan tanganku.
Tanpa memedulikannya, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Ada amarah yang meletup di dadaku saat ini. Aku marah, mengapa Mas Adi, kakak dari Syams malah berucap yang seolah-olah Syams telah membohongiku.
Aku tahu, panggilannya memang Mas Adi, tapi bukan berarti aku bodoh dan bisa dibohongi kalau Syamsul Hadi adalah Adi. Sedangkan aku tahu benar bahwa Syamslah yang menjadi teman kecilku, bahkan dia masih ingat banyak padaku.
Tiga syarat untuk menjadi suamiku, hapalan surat kesukaanku. Bahkan saat kami akan berpisah duku. Syamslah Adi. Aku menghardik kecerobohan Mas Adi.
Aku terus bergerak menuju kamar. Meletakkan koper lalu merebahkan tubuhku. Mas Adi, laki-laki itu menyusulku beberapa menit kemudian. Kualihkan wajah darinya. Aku masih tak percaya kalau Mas Adi tega menuduh Syams membohongiku.
"Apa kau masih kesal pada Mas?" Entah sejak kapan Mas Adi sudah ada di sampingku.
Perjalanan tadi memang lumayan membuat lelah. Tidak heran jika sesampai di sini aku dan Mas Adi merebahkan tubuh untuk beristirahat sejenak. Aku masih belum menjawab pertanyaan Mas Adi. Malah aku memilih memejamkan mataku dan tertidur.
****
Suara adzan Ashar membangunkanku. Aku bangkit, kurentangkan beberapa bagian tubuhku untuk menghilangkan rasa pegal.
Kulirik tubuh Mas Adi tidak ada di sampingku. Mungkin dia sedang mandi, karena saat itu terdengar suara shower dari kamar mandi. Aku menunggunya muncul dari balik pintu, agar aku juga bisa segera menyegarkan tubuhku sebelum melaksanakan sholat Ashar.
Kulirik jam dinding yang terpasang di dinding kamar. Sudah 30 menitan berlalu, dan Mas Adi belum juga menyudahi kegiatannya di kamar mandi. Tiba-tiba aku melangkah mendekat ke pintu. Kucoba memutar gagangnya, lagi-lagi tidak dikunci. Jangan jangan, ....
__ADS_1
Aku membawa tubuhku masuk ke dalam kamar mandi. Mas Adi terlihat buruk. Matanya sembab karena menangis, lagi. Aku menangkap nestapa yang amat pekat melingkupinya saat ini.