
Andika Safi'i baru pulang dari kampus. Tidak seperti biasanya, Dika terkejut melihat mobil sang ayah ada di depan rumah. Sempat tersenyum karena di hatinya ada rindu kepada ayahnya, tapi Dika menutupi kerinduan itu.
Dika melangkah masuk ke dalam rumah. Berharap disambut pelukan hangat dari ayahnya. Ia sudah berangan-angan untuk bercerita banyak pada ayahnya.
Kalau biasanya anak laki-laki dekat dengan ibunya, maka ini terbalik. Dika lebih nyaman berkeluh kesah kepada ayahnya ketimbang ibunya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Dika menyunggingkan senyum ketika membuka pintu.
Sayangnya diluar dugaan, ayah yang sudah sedari tadi duduk di sofa putih berjalan menghampirinya dan menampar pipi kiri sang anak.
Plak! Dika terpana sesaat. Pipinya terasa terbakar hingga kebas karena tangan kekar ayahnya.
Dika tidak menyangka segala kerinduannya dibalas dengan sebuah tamparan keras. Alih-alih menjawab salam dari anaknya, Ayahnya memilih menatap tajam anaknya.
Dika yang masih shock mampu melihat jelas gurat amarah di mata ayahnya. Dika masih belum tahu apa salahnya. Tapi tetap diam mematung.
"Itulah hasil didikan antum, Bang. Antum terlalu membiarkannya sampai kelewat batas." Kini umi Nafisah datang dari ruang tengah dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Bagus. Kamu masih berani pulang setelah membuat malu keluarga," omel umi Naf. Tatapan matanya lalu luruh, merasa sedih dan kecewa dengan apa yang diperbuat anaknya.
"Tunggu, Yah. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dika setelah lama sekali diam membisu.
"Dika benar-benar nggak ngerti," lanjutnya sambil memegangi pipi kirinya yang mulai memerah.
"Jangan pura-pura Dika. Antum sudah membuat malu keluarga, apa antum memang ingin membuat umimu ini mati muda? Abah juga, kalau Abah dari dulu tegas kepada Dika, nggak akan terjadi seperti ini," omelan umi Afin kini semakin melebar. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Kalau Abah dulu nurut apa kata umi, ...."
"Sudah, Mi. Jangan bikin suasana semakin kacau," bentak Abah Fahmi yang sedari tadi belum bersuara.
Umi Naf terdiam lalu menunduk. Tak bisa menahan diri, ia berjalan cepat menuju kamarnya. Selalu begitu, suaminya yang sering membentak. Terkadang membuat umi Naf merasa frustasi. Rumah tangga yang ia impikan seperti mahligai sahabatnya, Afin dan Adi yang begitu romantis, nyatanya malah mereka sering sekali bertengkar.
Sesampai di kamar, umi Naf tidak bisa membendung tangisnya. Kadang ia nelangsa sendiri dengan kehidupan yang ia pilih. Seandainya boleh memilih pergi, umi Naf ingin sekali pergi. Tapi rasa sayangnya kepada Fahmi tak bisa ditepis.
Sekali waktu umi Naf bisa menerima takdir hidupnya. Walau di waktu lain ia merasa tidak kuat dengan kehidupan yang ia jalani. Tapi tidak ada pilihan lain selain bertahan. Karena ia tahu kalau Fahmi memang sulit untuk berubah. Dan siapa lagi yang bisa menemani lelaki tempramen itu jika bukan dirinya?
Di ruang tamu, ayah Fahmi dan Dika duduk berhadapan. Keduanya lama sekali terdiam. Ayah memilih menata ucapannya dulu ketimbang marah-marah tidak menyelesaikan masalah seperti istrinya.
__ADS_1
"Jadi seberapa lama antum mengenal gadis itu?" tanya Ayah Fahmi setelah lama membisu.
Dika tidak berani menatap mata ayahnya, ia memilih menunduk karena takut dan hormat. Sejujurnya Dika sangat menyayangi ayahnya, dan melebihi rasa sayangnya kepada sang ibu yang telah melahirkannya.
"Siapa yang Ayah maksud?" suara Dika bergetar. Tanda kalau dia begitu takut kepada sang ayah.
Tanpa menjawab pertanyaan Dika, Ayah Fahmi mengambil handphonenya dan memutar video yang ada di media sosial itu.
Dika ternganga. Ia tidak menyangka kalau kejadian salah paham itu kini menjadi berita hangat. Pantas saja ia menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada.
"Astaghfirullah." Dika beristighfar dengan lirih. Ia menunduk. Berusaha memahami mengapa ayah dan ibunya semarah itu.
Dika otomatis memikirkan nasip Mega yang pasti juga mendapat perlakuan yang sama dari orang tua Mega. Atau bahkan lebih dari ini. Tiba-tiba Dika mencemaskan keadaan Mega.
"Maaf, Ayah. Apa Dika boleh membela diri?" tanya Dika suaranya melunak. Ia tidak perlu takut karena apa yang menjadi viral bukan yang sebenarnya.
"Bicaralah."
"Jadi video disitu tidak seperti yang dipikirkan. Aku dan Mega tidak ada apa-apa. Kami hanya teman satu fakultas." Dika menelan salivanya. Apakah ia juga harus menceritakan awal mula ia dan Mega berencana menculik Fatimah?
"Jadi Mega dan Dika sama-sama memiliki tujuan membalas dendam ke salah satu dosen yang merahasiakan pernikahannya. Dika berusaha menculik istrinya dan mengancam dosen itu. Sayangnya rencana itu gagal."
Dika menghela napas. Ia harus menceritakan semua sedetailnya. Toh orang tua, seburuk apapun perilaku anak mereka, ia tetap akan menjadi anak.
Dika terus menceritakan detail kejadian itu. Bahkan bagaimana bisa seorang melabrak hanya karena mendengar kalimat 'aku akan bertanggungjawab'.
Sedangkan Fahmi, diam-diam teringat dirinya sendiri. Ia yang dulu juga melakukan hal picik untuk mendapatkan cinta istrinya. Mata Fahmi berkaca-kaca. Ia seakan melihat dirinya sendiri di masa lalu yang tidak terima dengan pernikahan Adi dan Afin padahal Adi sudah memiliki hubungan dengan adiknya, Sofia.
"Jadi begitu ceritanya, Yah. Dika mohon maaf banget bikin malu keluarga. Tapi Dika berani bersumpah demi Allah, Yah. Dika nggak pernah berzina. Walau Dika anak yang bandel, Dika nggak mungkin melakukan hal yang seperti itu." Dika menutup ceritanya dengan terus menunduk.
Fahmi meraih pundak anaknya. Mengelusnya agar anaknya itu kuat menghadapi cobaan ini. Semoga saja Dika bisa melewati ujian kehidupan agar menemukan arti dari kebenaran yang sejati.
"Ceritakan ini pada ibumu, dia pasti sangat sedih," ujar Fahmi kepada anaknya. Ia menyusut air mata dengan punggung tangannya.
"Dika nggak berani, Yah. Dika takut kalau diomeli umi." Dika masih menunduk.
Mendengar kejujuran anaknya itu, Fahmi semakin terdiam. Merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
__ADS_1
"Ya sudah biar Abah yang ngomong ke umimu. Kasian umi, pasti sangat sedih."
"Bah, kalau umi sekali lagi pengen Dika mondok, Dika akan bersedia. Anggap saja ini cara Dika menebus salah Dika." Dika berusaha tegar. Tiba-tiba ia merasa telah menjadi anak yang sangat buruk karena membuat ibunya sangat sedih.
Jika Dika kembali mengingat ibunya, maka Dika akan menemukan umi Naf selalu mengomel demi kebaikannya. Selalu mengingatkan Dika untuk menjadi anak yang baik.
"Yah, apa boleh Dika menemui Mega? Dia pasti tertekan." Dika meminta izin kepada sang Ayah.
Setelah ayahnya mengangguk, Dika mencium tangan ayahnya lalu beranjak pergi. Sedangkan Fahmi berdiri dan berjalan menuju kamar.
Melihat istrinya menangis dengan menghadap ke tembok, Fahmi menyentuh bahu umi Naf. Hatinya seperti disayat-sayat saat mendengar tangis wanita yang selama belasan tahun bertahan dengannya ini.
"Umi?" panggilnya, sengaja mengganti sebutan Ibu dengan Umi sesuai keinginan sang istri sejak lama. Fahmi belajar dari Dika yang akhirnya luluh mau dipondokkan karena merasa bersalah.
Mendengar panggilan itu, umi Naf segera duduk di ranjangnya. Tak lupa ia menghapus air mata yang sempat menggenang. Ia tidak boleh menampakkan kesedihannya di depan sang suami yang pulang dari bekerja.
Fahmi segera menghambur ke pelukan istrinya. Di sana ia tidak bisa menahan tangisnya. Ia menangis hingga pundaknya terguncang hebat.
"Abah kok nangis?" Umi Naf berusaha biasa. Padahal ia sendiri ikut sedih melihat suaminya bersedih.
"Ternyata berat ya, Mi. Jadi orang tua itu. Apalagi saat dicoba dengan kelakuan anak yang ternyata adalah cermin dari orang tuanya." Dengan susah payah Fahmi mengatakan itu.
"Apa? Abah juga menghamili anak orang?" Umi Naf yang menangkap kalimat suaminya dengan salah segera melepas pelukan suaminya. Ia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Tidak, Mi. Abah nggak berani berzina. Mending menghamili umi daripada menghamili anak orang. Eh tapi umi kan juga anak orang?"
"Abaaaahhhhhh." Umi Naf memukul dada suaminya dengan manja. Candaan suaminya membuat suasana yang awalnya menyedihkan berubah menjadi lucu.
"Sabar, Mi. Video yang viral itu hanya salah paham. Mereka tidak ngapa-ngapain. Meski Dika kelihatan bandel, ia tahu kalau hukuman orang berzina itu dirajam hingga mati."
Umi Naf mendengarkan cerita suaminya. Setelah itu ia melepaskan kesedihannya. Mungkin ujian ini cara Allah menempa dirinya. Dan ia yakin akan ada hikmah dari ujian ini.
"Insyaallah umi ikhlas dengan ujian ini. Setidaknya Dika mau dipondokkan setelah ini." Senyuman terlihat samar di wajah umi Naf. Sebagai ibu ia sedikit sedih akan berpisah dengan Dika, jika ia jadi mondok.
"Tapi, Mi. Abah kok ngira perempuan yang melabrak Dika dan Mega ini Sofia ya, Mi?" Fahmi menunjukkan video itu tepat di saat perempuan menghampiri meja Dika dan Mega. Wajahnya yang dari samping terlihat kurang jelas.
"Apa, Bah? Sofia?" Umi Naf segera mengambil handphone itu dan melihat dengan cermat video itu sekali lagi.
__ADS_1