Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Mempelai Datang


__ADS_3

Gus Ali dan Fatimah memilih menginap di rumah keluarga Fatimah sebelum acara itu digelar. Bukan tanpa alasan, melainkan untuk kenyamanan mereka beristirahat. Jika mereka berada di pondok yang notabene tempat resepsi itu digelar, mereka mungkin tidak punya kesempatan untuk beristirahat.


Semalaman keduanya tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Tadi setelah sholat subuh, seorang kadhamah datang dan meminta mereka ke ndalem.


Untungnya masih pagi, jadi belum banyak orang lalu lalang di sana kecuali para santri yang turut membantu untuk acara hari ini.


Gus Ali bersemangat sekali untuk segera sampai di ndalem. Ia melangkah tergesa masuk ke rumahnya. Langsung menuju kamar Abahnya, ia tahu sejak pernikahan dulu kesehatan Abahnya mulai menurun. Bahkan yang mengatur semua untuk acara ini sudah dilimpahkan pada Ning Faza dan suaminya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Abah." Gus Ali nyelonong masuk ke kamar Abahnya yang tidak pernah dikunci.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Nyelonong kayak sapi," ledek Abahnya yang duduk dengan kitab di tangannya.


"Ali kangen sama Abah," katanya singkat lalu memeluk ayahandanya.


"Fatimah mana?"


"Di depan, Bah. Yang anaknya Abah kan Ali, kok malah nanya Fatimah?" Gus Ali mencebikkan bibir pura-pura marah.


"Mantunya Abah kan berarti anaknya Abah juga," goda Pak Kyai Huda. Malah sengaja membuat anaknya kesal.


"Yang kangen Abah kan Ali." Gus Ali masih cemberut membuat Abahnya semakin terpingkal.


Tak lama kemudian, Gus Ali membantu Abahnya bangun dan memilih duduk di ruang tengah. Hari ini kan hari yang bahagia, Pak Kyai tidak ingin melewatkan hari ini.


"Sudah, Abah di sini saja. Antum cepat ganti baju sana. Masak nanti ada tamu, antum tetep pakai baju gini?"


"Abah ngusir saya?"


"Iya."


"Oalah." Gus Ali berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. Sesampai di kamar, ia tertegun melihat Fatimah yang sudah didandani dengan sangat cantik. Gus Ali sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Mas? Mas kenapa?" Fatimah yang membalikkan tubuhnya langsung menanyakan kondisi sang suami.


"Mas sawanan, Tim. Habis liat bidadari," ujar Gus Ali membuat wajah Fatimah merona.


"Jangan menggoda ana." Fatimah menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.

__ADS_1


"Kalau tidak percaya tanya saja sama Bu Tuti, iya kan Bu?" Gus Ali akhirnya harus melibatkan orang lain untuk memuji istrinya. Bu Tuti adalah uminya Haikal. Mereka memutuskan memakai jasa dari salon milik ibu Haikal di Surabaya.


"Benar, Ning. Ning memang sangat cantik dan baik hati. Semoga nanti mantu saya juga seperti Ning," ujar Bu Tuti dengan tulus.


"Hem, jangan Bu. Berat. Haikal mungkin tidak sanggup, biar saya saja," balas Gus Ali membuat Bu Tuti dan Fatimah tergelak.


"Gus Ali, Ning Fatimah, dipanggil Abah. Ada tamu," kata Haikal di depan pintu kamar Gus Ali.


"Iya, Kal." Gus Ali membalas lalu segera meraih kemeja, jas, dan sarung yang disiapkan di atas ranjangnya. Bu Tuti merasa cukup mendandani mantennya, ia bergegas undur diri. Membiarkan Gus Ali berduaan dengan Fatimah.


"Mas mau ganti baju di sini?" Mata Fatimah terbelalak. Ia tak berani keluar sendirian, jadi ia menunggu Gus Ali siap. Tapi tidak pernah terbayang kalau suaminya itu akan ganti pakaian di hadapannya.


"Iyalah, Tim. Kenapa?" tanya Gus Ali. Melihat ketakutan Fatimah, membuat Gus Ali semakin bersemangat menggoda istrinya.


"Ya jangan di depan saya, Mas." Fatimah terlihat panik.


"Halah, biasanya anti juga santai lihat saya ganti baju," ledek Gus Ali.


"Mas!" Fatimah menutup matanya saat Gus Ali melepas lilitan sarungnya.


Fatimah membalikkan badannya, membuat hiasan di kepalanya ikut bergoyang karena bergerak. Gus Ali sambil membenahi letak sarungnya, sambil memperhatikan istrinya.


Dalam hati, Gus Ali bersyukur ditakdirkan menyanding Fatimah. Perempuan yang sejak kecil mencuri hatinya. Bibir Gus Ali terus bertasbih memuji kebesaran Allah.


"Ana sudah ganti pakaian, Tim. Anti bisa berbalik."


Fatimah menurut kata suaminya. Melihat Gus Ali memakai kemeja, jas, dan kopyah, hati Fatimah merasa menghangat. Keduanya saling menatap. Binar kebahagiaan tidak dapat disembunyikan.


"Ayo istriku," ajak Gus Ali memberikan tangannya kepada Fatimah.


"Tunggu, Mas." Fatimah bergerak pelan ke kotak make-up. Ia mengambil celak kesayangannya dan mengoleskan benda itu ke mata suaminya.


"Nah, gini kan ganteng," komentar Fatimah menatap suaminya lagi dengan sangat dekat.


"Oh, kalau nggak pake celak nggak ngganteng?" tanya Gus Ali pura-pura merajuk. Fatimah malah ingin tertawa melihatnya.


"Siapapun tahu bagaimana ngganteng nya panjenengan, Mas. Bahkan Bu Tata saja sampai kepincut. Tidak hanya itu, Mega juga sempat meminangmu, kan?" Fatimah menggoda suaminya, walau hatinya sendiri mendadak perih jika mengingat perempuan yang pernah menyatakan perasaan sukanya pada Gus Ali.

__ADS_1


"Sudah tahu mengingat masa lalu itu sakit, kok ya masih anti lakukan, Tim?" Gus Ali meraih kedua belah tangan istrinya.


"Nggak peduli secantik apapun wanita yang menggoda Mas, di hati dan jiwa Mas hanya menerima anti sebagai belahan jiwa, Mas. Calon ibu dari anak-anak Mas." Gus Ali merasa punya kewajiban untuk membesarkan hati istrinya saat Fatimah merasa tidak percaya diri.


Fatimah tersenyum, tidak bisa menutupi kebahagiaannya mendengar ucapan itu. Walau ia juga tahu kalimat itu sering menjadi andalan para laki-laki dalam merayu.


"Antum pandai merayu, Mas."


"Hanya untukmu."


"Halah, gombal."


"Tidak, Tim. Ngomong-ngomong jangan memandang Mas begitu, nanti anti semakin cinta."


Fatimah menarik tangan suaminya dan menciumnya. Dalam hati ia terus berdoa dan bertasbih. Semoga rumah tangga mereka selalu bahagia dan mendapat keberkahan.


"Tim."


"Iya, Mas?"


"Tahan dulu cinta anti pada suami yang tampan ini. Kasihan tamu-tamu yang menunggu."


Fatimah melepaskan tangan suaminya karena malu. Keduanya lalu merapihkan diri. Baru setelah itu keluar dari kamar dengan saling bergandengan.


"Li, ganti baju aja lama banget," sebal Ning Faza yang menepuk pundak adiknya.


"Biyoh, masyaallah adiknya Mbak cantik banget. Masih tetep manglingi. Jangan-jangan belum diapa-apain?" lanjut Ning Faza menyentuh pipi Fatimah lalu menatap sinis kepada Gus Ali.


"Mana mungkin nggak ana apa-apain, Mbak. Liat aja, wajahnya bikin pengen ngapa-ngapain," aku Gus Ali membuat Ning Faza menjitaknya.


"Udah, sana temuin tamu-tamu yang menunggu."


Keduanya lalu berjalan ke pelaminan. Suara rebana membuat suasana semakin meriah. Kedua orang tua Fatimah ternyata sudah duduk di pelaminan. Sedangkan Pak Kyai Huda memilih duduk bersama para sahabatnya yang juga menjadi pengasuh pesantren.


Malah Ning Faza dan Gus Badar yang menggantikan posisi orang tua pengantin lelaki. Meski Gus Ali sempat mempertanyakan hal itu, tidak mungkin baginya mempermasalahkan hal itu.


Gus Ali dan Fatimah mengikuti acara dengan khidmat. Saat nasehat pernikahan dan kultum disampaikan oleh sahabat karib Pak Kyai Huda.

__ADS_1


__ADS_2