
Dika hanya bisa melampiaskan kemarahannya dengan memukul dinding mobil. Ia merasa frustasi setelah mendengar kata-kata Gus Ali.
"Kenapa antum marah, Dik?" tanya Gus Ali heran dengan tingkah Dika yang aneh.
"Tapi kenapa harus jadi istri kedua, Gus?" Suara Dika parau. Hatinya terasa diremas. Sakit. Walau ia sendiri belum tahu mengapa sesakit ini mendengar Mega akan menjadi istri kedua.
"Lihat baiknya, Dik. Mega akan mendapat bimbingan dari seorang Gus Jaka. Secara keilmuan, beliau Gus yang tauhidnya sudah dalam. Bahkan dia memiliki Tahfiz." Gus Ali berusaha meredam emosi lelaki di depannya. Di mata Dika, Gus Ali menyadari jika lelaki itu memiliki alasan lain dari kemarahannya.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan, Gus? Saya takut istri Gus Jaka menyakiti Mega." Dari pengakuan Dika ini, Gus Ali semakin yakin jika tebakannya benar.
"Tidak ada, Dik. Mega berhak bahagia. Jika dia mau menjadi istri kedua Gus Jaka, maka kita hanya bisa mendoakannya." Gus Ali semakin mengompori emosi Dika.
"Tapi ana nggak rela, Gus." Dika menutup mulutnya setelah kalimat itu meluncur begitu saja.
"Apa, Dik? Apa yang antum katakan tadi?" tanya Gus Ali mengoreksi pendengarannya.
"Ti, tidak, Gus. Cuma banyak lelaki bujang, kenapa milih suami orang." Dika berkilah. Merasa salah dengan pengakuan yang menurutnya tidak perlu didengar orang lain.
"Wanita hanya memiliki hak jawab, entah dia mau atau menolak."
"Berarti laki-lakinya yang suka tebar pesona meskipun sudah punya istri. Cih. Nggak tau malu."
"Astaghfirullah, tarik ucapan antum Dik. Dosa antum mengatakan hal yang buruk mengenai orang yang tidak antum kenal, bisa saja sebesar gunung." Gus Ali mulai menasehati Dika yang keterlaluan dalam berkata.
Alih-alih menjawab, Dika hanya bisa menunduk. Jika dipikir lagi kata-katanya tadi terlalu jahat. Dika terbawa emosinya yang meledak-ledak.
"Ana pernah mendengar kisah ini dari lama Gus Jaka dan Ning Rere mendamba keturunan. Sayangnya Allah belum memberikannya. Jadi bisa saja ini salah satu bentuk ikhtiar mereka." Gus Ali melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa mungkin seorang wanitaau berbagi suami dengan wanita lain? Rasa-rasanya Mega tidak akan bahagia menjadi istri kedua." Suara Dika merendah. Ia berusaha mengendalikan emosi.
__ADS_1
"Sudah lihat sendiri kan bagaimana Ning Rere terlihat senang saat bersama Mega?"
"Tapi itu kan hanya rupa, Gus. Siapa yang bisa menjamin kalau Ning Rere tidak akan pernah cemburu?" tanya Dika lagi. Entah mengapa sekarang yang ada dipikirannya hanya Mega.
"Melihat kualitas Ning Rere dan cara Gus Jaka bersikap, ana yakin rumah tangga mereka akan baik-baik saja meski ada istri kedua, ketiga, atau bahkan keempat." Gus Ali tersenyum. Ia teringat bahwa Ning Rere sendiri adalah anak dari ibu yang hidup bahagia di bawah payung poligami.
"Mana mungkin, Gus?" tanya Dika masih tidak bisa percaya dengan penjelasan Gus Ali.
"Antum tidak akan mengerti, Dik. Banyak kok pelaku poligami yang tetap rukun. Karena mereka sudah bisa menundukkan nafsunya. Mereka menikah dan menjalani pernikahan sudah bukan memikirkan cinta saja, tapi bagaimana caranya meraih Rahman dari Allah." Gus Ali berusaha menghentikan rasa penasaran Dika.
"Maksudnya?" tanya Dika lagi membuat Gus Ali berdecak. Walau ia jelaskan sampai mulut berbusa, Dika tidak akan mudah memahaminya.
"Ingat, Rabiah Al-Adawiyah yang bisa mengalihkan nafsu duniawinya? Nah seperti itulah kehidupan indah poligami. Mereka rukun karena menjalani biduk rumah tangga hanya mengharap ridhonya Allah. Tidak ada yang lain."
Dika manggut-manggut meski pikirannya belum sampai ke sana. Yang ia sadari adalah bahwa Gus Ali pro poligami. Hal ini membuat Dika terhenyak.
"Apa Gus juga akan poligami?" tanya Dika penasaran.
Jawaban itu membuat hati Dika resah. Ia tidak ingin melihat sepupunya, Fatimah disakiti oleh suaminya. Dia masih tetap belum mengerti makna cinta yang dimaksud Gus Ali.
"Tergantung apa?"
"Segala perkara yang belum datang saatnya, tidak bisa dijelaskan, Dik. Poligami itu Sunnah, tapi masih banyak Sunnah lain yang bisa dijalankan dengan mudah. Pun harus melihat situasi dan kondisi untuk memutuskan berpoligami." Gus Ali sudah merasa cukup berbicara. Ia merasa sudah terlalu banyak menjelaskan meski ia sangsi Dika mengerti maksudnya.
Dika baru akan membuka mulutnya lagi, tapi Gus Ali segera mendahului bahwa ia ingin cepat pulang. Fatimah pasti sudah menyiapkan makan siang.
Setelah mengingat itu, Gus Ali jadi mengingat apa tujuannya ke mall. Ia segera mengajak Dika kembali ke supermarket untuk membeli beberapa barang titipan Fatimah.
Di sisi lain, Dika tidak bisa melepaskan pikirannya dari Mega. Hal yang ia sadari adalah bahwa Mega ternyata wanita yang baik. Pun ia merasa uminya cocok dengan temannya itu.
__ADS_1
Dika merasa jantungnya terus berpacu. Menemani Gus Ali ke supermarket, Dika sengaja mengedarkan pandangannya berharap bertemu Mega dan sepasang suami istri itu.
Sayangnya hingga ia menemani langkah Gus Ali kembali ke mobil, mereka tidak bertemu Mega ataupun Gus Jaka.
Hingga sampai di rumah Gus Ali, Dika tetap diam dengan segala pikirannya. Fatimah yang heran melihat sepupunya itu diam saja sejak dari Mall, coba menanyakan hal itu pada suaminya dengan isyarat. Tapi Gus Ali hanya menjawab dengan menggendikkan bahunya.
Setelah makan bersama Gus Ali dan Fatimah, Dika terdiam sesaat. Ia memikirkan hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
"Setelah menimbang dan memikirkan dengan matang, ana memutuskan akan melamar Mega." Dika mengatakannya sambil menunduk.
Fatimah dan suaminya hanya bisa saling pandang. Terutama Fatimah yang tidak tahu apa-apa. Ia sangat terkejut dengan pengakuan Dika itu. Meski di sudut hatinya ia merasa senang jika memang Mega berjodoh dengan Dika.
"Antum jangan main-main, Dik. Dengan antum melakukan itu, apa yang mau antum buktikan?" tanya Gus Ali tegas.
"Daripada Mega menikah dengan pria beristri, Gus. Mending ana juga melamar Mega, jika dibanding Gus Jaka, pasti Mega mempertimbangkan ana." Dika tidak mau kalah. Kali ini ia sangat serius.
"Memangnya antum bisa mencintai Mega?"
Deg. Dika terdiam. Mulutnya tiba-tiba kelu saat mendengar pertanyaan Gus Ali itu.
"Nah kan antum diam. Artinya antum tidak serius. Lagipula melamar di atas lamaran orang lain itu tidak baik. Seperti menusuk saudara sendiri."
"Tunggu sebentar, ana tidak paham. Apa tadi yang antum bilang, Dik? Mega akan menikahi pria beristri?" Fatimah menyela. Ia benar-benar bingung dengan persoalan di hadapannya. Ia tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu ini menyangkut sahabatnya, Mega.
"Iya, Tim. Tadi saat di Mall kami bertemu Mega bersama Gus Jaka dan istrinya. Mereka jalan bertiga. Seolah isyarat kalau Ning Rere ingin menjodohkan suaminya dengan Mega. Bukan ana suudzon, hanya saja ana tahu jika mereka sulit punya momongan. Dan Ning Rere sudah beberapa kali ingin suaminya menikah lagi," jelas Gus Ali pada istrinya.
Fatimah yang terkejut hanya bisa melongo. Ia tidak tahu harus berreaksi bagaimana. Karena memang Mega tadi berkirim pesan dengannya. Dan Mega meminta doa sedang berikhtiar menjemput jodohnya.
"Meski ana menjelaskan seribu kali, antum tidak akan pernah mengerti konsep cinta di bawah payung poligami, Dik. Antum jangan menuruti nafsu. Hanya karena kasihan dengan Mega sampai mengatakan ingin bersamanya. Apa antum tidak kasihan dengannya, jika, ...."
__ADS_1
"Ana serius, Gus. Ana mencin-tai Mega."
Hening. Gus Ali dan Fatimah saling berpandangan. Terkejut dengan pengakuan Dika. Tapi di sisi lain mereka menyayangkan Dika terlambat menyadari cintanya pada Mega. Sekarang mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk Mega. Bahkan mereka tidak boleh berharap hubungan Mega dengan Gus Jaka akan putus sebelum sampai pelaminan.