Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Rindu yang Merayu


__ADS_3

Gus Ali segera berusaha menguasai diri. Mendengar rintihan Fatimah tentang kerinduan akan momongan sempat membuat hati Gus Ali mencelus jua. Ia juga merasakannya. Tapi hari ini ia tidak boleh lemah.


"Anak itu hak dari Allah, Tim. Jangankan anak, tentang apa yang terjadi lima menit ke depan saja kita tidak tahu. Jadi bagaimana bisa kita menuntut sesuatu?" tanya Gus Ali sambil tangannya mengelus puncak kepala istrinya.


"Apa kita periksa saja, Mas?" Mata Fatimah terlihat antusias.


"Apa tidak terlalu terburu-buru, Tim? Kita menikah belum ada satu tahun lho."


Fatimah menggigit bibirnya yang mungil. Ia sedih karena melihat tidak ada keinginan Gus Ali untuk berikhtiar.


"Apa Mas nggak pengen punya anak?" tanya Fatimah emosional.


"Ya kepengen, Tim."


"Kalau gitu kita harus ikhtiar lebih keras lagi."


"Kata siapa kita tidak berikhtiar, Tim? Bukankah setelah ikhtiar dan berdoa itu kita harus tawakal?"


Fatimah terdiam. Segala yang berat mengisi kepalanya semakin membuatnya pusing. Terlebih kata-kata sang suami yang sepertinya tidak sejalan dengannya.


Daripada mengatakan hal yang tidak baik, Fatimah memilih bangkit dan pergi dari hadapan suaminya tanpa kata. Sepertinya ia masih perlu waktu untuk menyendiri lagi.


Sebenarnya ada yang ditakutkan Fatimah selain perihal anak. Yaitu bagaimana jika sang suami memilih jalan lain untuk mendapatkan keturunan? Bisa saja Gus Ali memilih berpoligami dengan wanita yang lebih subur darinya.


Fatimah menangis di belakang pintu. Emosinya tidak lagi bisa ia kuasai. Ia takut jika dirinyalah yang sebenarnya bermasalah dan Gus Ali terlihat tidak peduli dengan Fatimah.


Di sisi lain, setelah kepergian Fatimah, Gus Ali menyelami pikirannya sendiri. Ia ingat pernah berkomentar tentang jalan yang dipilih Gus Jaka dan Ning Rere.


Sejenak, Gus Ali terdiam. Mungkin ini teguran atas apa yang ada di pikirannya kala itu. Dan hal sekecil itu bisa menjadi kotoran dalam hatinya.


Gus Ali beristighfar kepada Allah. Meminta ampunan. Ia mungkin telah lancang memikirkan nasip dan jalan orang lain yang sebenarnya tidak berhak ia komentari.


Seharusnya Gus Ali hanya fokus pada dirinya. Tidak perlu mengomentari tentang orang lain kecuali hanya mengambil hikmah dari apa yang dialami orang lain. Agar kelak bisa berguna untuk hidupnya saat dihadapkan pada masalah yang sama.


***


Di tempat lain, Mega sedang membaca Alquran, hari ini hatinya terasa menghangat. Ia merasa menjadi makhluk yang paling disayang Allah. Ia akan menikah dan ia berdoa semoga pernikahan ini membawa banyak perubahan baik padanya dan pada keluarganya kelak.


Tak lama, sang mama dan papa menelepon. Mega menutup Al-Qur'annya lalu segera mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Ma."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Meg, beneran jadi lamaran Minggu ini?" tanya sang ibu dengan suara keheranan.


"Iya, Ma. Mungkin besok Mega pulang."


"Oh, gitu ya. Sepertinya kamu dan Dika sudah mantap menikah ya?"


"Iya dong, Ma. Kalau sudah lamaran berarti Kak Dika serius, kan? Atau mama ada unek-unek lain?"


"Enggak kok, Meg. Cuma mama agak mellow aja ingat putri mama sudah akan menikah."

__ADS_1


"Kan mama yang pengen Mega cepat menikah."


Deg. Tidak ada balasan dari seberang. Mega merasa telah salah dalam berkata. Mungkin kalimat tadi menyinggung hati ibunya.


"Ma? Maafkan Mega, maksud Mega, ...."


"Enggak sayang, kamu memang benar kok. Mama dan papa yang salah. Kami yang maksa Mega untuk cepat cari jodoh."


"Enggak, Ma. Mega nggak bermaksud menyalahkan mama dan papa. Mega minta maaf kalau tadi salah ngomong."


"Kami sebagai orang tua memang tidak sempurna, Meg. Maafkan mama dan papa ya." Suara mamanya bergetar dan terputus-putus. Sepertinya mama Mega berkata sambil menangis.


Tak terasa air mata Mega juga turut luruh. Kata-kata tulus sang mama sudah pasti menyentuh hatinya yang terdalam. Wanita yang telah melahirkannya dan mendidiknya dengan ilmu seadanya, Mega jadi sangat merindukan sang ibu.


"Mega besok kami jemput ya?"


"Ba, Baik, Ma."


Setelah itu perbincangan diakhiri dengan Mega meminta doa kepada kedua orang tuanya. Sambungan telepon terputus dan Mega mengusap air mata yang menggenang di ujung mata.


Dengan kejadian ini, Mega seolah diperingatkan jika kelak sudah menikah dan memiliki anak, ia sebagai ibu harus memiliki ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Untuk membesarkan anak tidak hanya dengan kasih sayang atau materi, tapi juga memberi pendidikan agamis.


Tak lama handphonenya kembali berdering. Kini nama Dika yang muncul. Pipi Mega menghangat. Dengan tersipu, Mega mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Mega."


"Ada anti di hatiku."


Mega semakin merasakan malu walau Dika tidak ada di depan matanya. Dika kini pandai merayunya. Dan Mega tidak bisa melarangnya. Jangan dikira Mega tidak berusaha menghentikan kebiasaan buruk calon suaminya itu, kemarin saat membeli seserahan lamaran, Mega mengatakan ketidaksukaannya terhadap gombalan Dika.


Tapi apa yang terjadi? Dika malah ngambek dan tidak mau menjawab sama sekali. Merasa gagal, Mega akhirnya memilih memakluminya.


Bukankah sepasang suami istri hanya dua manusia yang memiliki kurang dan lebih? Dan Mega akan berusaha sekuat tenaga untuk melengkapi kekurangan sang calon belahan jiwa.


"Kok diem?"


Akhirnya Dika merasa didiamkan. Dika memang bersifat seperti itu. Ia tidak suka diabaikan. Tapi ia sendiri suka mengabaikan orang ketika ia merasa tidak suka.


"Lha harus jawab apa, Kak?"


"Makasih Kak Dika ganteng, gitu?"


Mega akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Ia sampai harus menutup mulutnya. Dika memang sosok yang narsis. Dan Mega baru menyadarinya sekarang.


"Iya, iya."


"Kok iya iya? Ayo coba bilang gimana?"


"Harus banget ya, Kak?"

__ADS_1


"Wajib ghoiru muakkad kalau mau jadi istri yang sholeha."


"Yaudah, makasih kak Dika yang ganteng."


"Hahaha. Becanda sayang."


"Mega juga bercanda, kok. Eh, panggil apa tadi?"


"Apa?"


"Tadi bilang apa setelah bercanda?"


"Bercanda?"


"Oh, itu yang setelahnya."


Mega gemas sendiri dengan orang yang diseberang. Ia jadi tidak sabar untuk menemani langkah sang pujaan hati dalam beribadah sepanjang hidup. Mega mulai ketularan Dika untuk menggombal deh.


"Apa sih?"


"Tadi kan Kakak bilang 'bercanda sayang'."


"Ciye, sayang. Ah, anti tuh bikin pengen cepet nikah aja deh, Meg."


"Ih, apaan sih kak."


"Anti tuh, masih mau lamaran aja udah bilang sayang."


"Kan Kakak duluan yang bilang."


"Bilang apa?"


"Bilang sayang tadi."


"Iya, ana juga sayang anti, kok."


"Udah ah, ada yang penting? Kalau enggak Mega matiin."


"Jangan dimatiin dong, nanti ana gimana tanpamu?"


"Ih, Kak Dika udah deh."


"Ini umi mau ngomong sama anti."


Mata Mega melebar. Jangan-jangan sejak tadi Tante Nafisah mendengar percakapan antara dirinya dengan Dika?


"Iya, umi dari awal telepon tadi di sini dengerin percakapan antara anaknya dan calon mantunya."


Dika seolah tahu apa yang dipikirkan Mega. Mendengar kalimat Dika barusan, Mega langsung menepuk dahinya. Ia sangat malu jika Tante Nafisah mendengar semua percakapan antara dirinya dengan Dika.


Ini namanya calon suami ngerjain calon istrinya. Merusak imej sang calon di hadapan calon mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2