Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Jarak di antara kening dan sajadah


__ADS_3

Hari terus bergulir, Fatimah dengan usaha kerasnya mampu melalui ujian kelulusan dengan baik. Meski hari-harinya terasa hampa karena tiada lagi yang mengiriminya pesan. Meski terkadang Fatimah sebal dengan Gus Ali, kini terasa amat berharga kenangan itu.


"Anti ngelamun lagi, Tim?" tanya Zahra yang duduk di sampingnya.


"Eh, enggak kok." Fatimah mengelak. Padahal kedua temannya itu sudah memperhatikan sejak hari pertama kepergian Gus Ali. Fatimah memang telah berubah. Dia kini menjadi anak yang lebih pendiam dan sering terlihat melamun.


"Kalo emang enggak ngelamun, coba kita lagi ngomongin apa?" tantang Salsa geram. Sudah tertangkap basah ngelamun kok ya masih mau ngeles.


Fatimah tidak bisa menjawab. Hanya bisa tergagap. Ia memang tidak bisa membohongi teman yang selama tiga tahun bersamanya. Kalau Mega, dia masih bisa mengelak. Tapi Zahra dan Salsa tahu betul bagaimana watak Fatimah.


"Kan, kan. Nggak bisa jawab. Lagi ada masalah ya?" tanya Zahra menatap dalam sahabatnya. Berharap masalah yang dihadapi Fatimah akan sedikit berkurang jika ia membagi dengannya.


"Enggak, kok."


"Kok enggak sih? Mata kamu itu nggak bisa bohong. Cerita aja sama kita, siapa tahu kita bisa bantu," timpal Zahra. Meyakinkan sahabatnya itu untuk bercerita. Mereka sudah tiga tahun bersama, apakah Fatimah masih belum mempercayai sahabatnya? Zahra jadi berpikir jauh sekali.


"Beneran, deh. Nggak ada apa-apa, kok." Fatimah canggung tapi berusaha tersenyum.


"Atau, anti cuma mau cerita sama Mega?" tebak Salsa membuat Fatimah merasa tidak enak pada kedua sahabatnya itu. Belakangan ini memang Mega sering mepet ke Fatimah. Mega terlihat selalu berusaha mendekati Fatimah.


"Iya, nih. Ana juga merasa Fatimah sama Mega ada yang disembunyikan dari kita," lanjut Salsa membuat Fatimah semakin merasa bersalah.


Memang benar Mega mengetahui satu rahasianya. Rahasia tentang lamaran yang seminggu lagi akan terlaksana. Dan Fatimah belum bisa mengatakan itu pada Salsa dan Zahra. Bukan karena apa, tapi lebih karena dirinya yang belum siap.


"Enggak kok, jangan suudzon gitu. Ingat, semakin banyak sahabat, semakin banyak yang mendoakan. Mega nggak cuma deketin aku, kok. Dia juga berusaha mendekat sama kalian."


Zahra dan Salsa mencoba mencerna perkataan Fatimah. Ada benarnya juga tentang Mega yang terlihat ingin bersahabat dengan mereka bertiga.


'Bolehkan ana bersahabat dengan kalian? Kalian ingetin Mega kalau salah langkah. Tolong nasehatin Mega ya.'


Teringat kata-kata Mega itu, Zahra dan Salsa sadar telah berburuk sangka pada temannya sendiri. Apalagi dengan mengatakan prasangka buruk itu kepada orang lain, mereka merasa memakan daging saudaranya sendiri. Lekas-lekas keduanya beristighfar. Memohon ampun kepada Allah.


"Jadi tadi ngomongin apa sih?" tanya Fatimah setelah kedua sahabatnya beristighfar berkali-kali.


"Ngomongin kuliah, Tim. Jadi aku sama Zahra mau kuliah di Ma'had Aly dekat sini aja," jawab Salsa dan dianggukan oleh Zahra.


"Kalau kamu gimana? Kuliah kan? Nggak nikah, kan?"


Wajah Fatimah langsung berubah begitu mendengar kata nikah. Tak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan itu dalam mimpi sekalipun.


Belum lagi menjawab, Fatimah dikejutkan dengan masuknya Haikal ke dalam kelas. Haikal membagikan lembaran kepada semua teman sekelasnya. Termasuk Fatimah.


"Ini apaan, Kal?" tanya Zahra sembari menerima lembaran itu.


Mereka tak menyadari kalau tubuh Fatimah menegang sesaat melihat Haikal yang sangat dekat dengannya. Laki-laki itu begitu santai. Fatimah jadi penasaran bagaimana bisa Haikal menyimpan rapat perasaannya saat di dekat Fatimah. Padahal Haikal kan calon suaminya. Pikir Fatimah.


"Kuisioner dari BK, jadi diisi kalian habis lulus mau lanjut kuliah atau gimana," jelas Haikal menunjukkan yang mana saja yang diisi.


"Kalau antum sendiri, Kal. Kuliah apa enggak?" tanya Salsa iseng. Haikal termasuk anak yang paling pendiam di kelas.


"Kuliah, dong."


"Jadi kita kuliah sambil, ... nikah?" gumam Fatimah tidak terlalu jelas.


"Ngomong apa, Tim?" tanya Haikal kemudian.


"Eh enggak, kok." Fatimah mencoba tersenyum meski salah tingkah.


"Ada pertanyaan?" tanya Haikal kepada tiga teman sekelasnya itu. Ketiganya menggeleng lalu Haikal melangkah pergi.


Saat Haikal berjalan menjauh, Fatimah sempat mencuri pandang pada teman sekaligus calon suaminya itu.


"Semoga kalau sudah nikah dia nggak kayak gitu."


"Siapa yang nikah, Tim?" tanya Zahra sekilas mendengar kata nikah.


"Nikah apa? Orang aku ngomong kuliah, mungkin anti salah dengar." Fatimah memfokuskan matanya membaca lembaran yang dibagikan Haikal tadi.


"Kalau Haikal kuliah, berarti aku juga mau kuliah dong," bisik Fatimah dalam hati. Ia jadi teringat kisah uminya yang hamil di pertengahan kuliah jadi mood swing dan akhirnya pulang ke Indonesia sebelum menyelesaikan pendidikannya. Fatimah merasa sayang dengan kesempatan itu. Sedangkan Fatimah kini tidak bisa melanglang buana keluar negeri seperti orang tuanya karena ia sendiri belum mandiri.


Tidak seperti kisah uminya yang mondok dengan tekun hingga lupa pulang. Fatimah hanya mondok di rumahnya sendiri. Diajar Abah dan uminya sendiri. Jadi sudah pasti ia belum bisa mandiri jika tinggal sendiri di tempat yang jauh.


"Yaudah, yuk kita isi. Anti mau kuliah dimana, Tim? Atau di Ma'had Aly sama kita, biar bareng-bareng terus," ucap Zahra dengan senyum berbinar. Barangkali persahabatan mereka bertiga akan membawa kebaikan.


"Kemarin browsing-browsing sih, pengen ke Surabaya. Di Universitas Islam, pengen mendalami tarbiyah," jawab Fatimah membuat kedua sahabatnya saling memandang dengan wajah sedih. Ternyata mereka harus berpisah.


"Yaudah, kita saling doain ya, Tim. Jangan sampai jarak bikin kita semakin menjauh."


Ketiga gadis itu tiba-tiba merasa haru. Mereka berpelukan menyadari perpisahan akan terjadi.


"Tenang aja, jarak kita hanya antara kening dan sajadah. Meski secara fisik kita jauhan, tapi kita akan selalu saling mendoakan."


Entah siapa yang memulai, ketiga gadis itu tiba-tiba meneteskan air mata dan mengeratkan pelukan mereka. Tanpa terasa ada orang lain yang turut sedih melihat adegan itu.


**


Sementara itu, di Surabaya Gus Ali menyibukkan diri dengan belajar tekun untuk materi kuliah yang akan ia ajarkan. Sejarah pendidikan islami adalah mata kuliah penting dari fakultas Tarbiyah.


Beratus-ratus buku ia baca untuk menambah khasanah pengetahuan. Selain itu dengan cara seperti ini ia akan melupakan segala pemikiran tentang Fatimah.


Walau saat di kontrakan yang sepi ia kembali terbayang gadis yang ia tinggalkan bersama hatinya itu. Baginya, usaha di sini adalah demi kemaslahatan umat dan kemajuan peradaban Islam. Ia akan terus belajar.


Drrrrttt. Dering panjang menandakan ada panggilan masuk. Gus Ali lalu meraih handphonenya dan menjawab panggilan dari Haikal itu. Meski Gus Ali berusaha keras tidak menghubungi Fatimah demi kelancaran ujian Fatimah, Gus Ali tetap mengetahui segala berita tentang Fatimah dari Haikal. Teman sekelas Fatimah. Selain itu Gus Ali juga seminggu sekali menghubungi ustaz Adi. Menanyakan kabar keluarganya, yang berarti secara tidak langsung juga menanyakan kabar Fatimah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Gus."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Kal. Ada kabar apa?" tanya Gus Ali to the point.

__ADS_1


"Anu, Gus. Fatimah mau kuliah. Ini tadi saya bagikan kuisioner dari BK dan jawabannya Fatimah ingin kuliah."


"Oke, Kal. Matursuwun yo informasi ne."


Gus Ali diam sesaat begitu melihat panggilan lain yang masuk di telepon genggamnya.


"Kal, iki Abah telepon. Maaf ya panggilanmu tak akhiri."


"Nggeh, Gus mboten nopo-nopo. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Setelah panggilan terputus, Gus Ali segera menerima panggilan dari Pak Kyai.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Bah. Pripun kabare Abah? Sampun sehat, Bah? Sampun dhahar nopo dereng?" Gus Ali berkaca-kaca saat ini juga. Ketika berjauhan begini hatinya sangat rapuh. Rasa putus asa dan ingin pulang begitu besar. Tapi Gus Ali terus berusaha melawannya.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Lek takok siji-siji, Li." Pak Kyai terdiam sesaat. Mata tuanya tiba-tiba sendu. Tenggorokan Pak Kyai terasa tercekat.


"Sehat, Li. Kowe yo jogo kesehatan Yo."


"Nggeh, Bah."


"Iki Mbakmu wes belonjo gawe lamaran Minggu ngarep. Opo cek difoto sopo ngerti Ono sing ga sreg."


"Mboten pun, Bah. Kulo perkados kalihan Mbak."


"Yowes, ngono ae yo. Tak pateni telpon e."


"Lho, Bah. Kok sebentar banget?"


"Eman pulsane, Li."


"Oalah, Kulo isikan nggeh."


"Ga usah. Lek kangen Abah Yo dikirimi alfatihah, ra usah manja."


Gus Ali terdiam. Dadanya bagai dihantam gada. Ada sesuatu yang ia sadari. Tapi tak mau ia ungkapkan. Tak ingin ia katakan karena Gus Ali benar-benar belum siap jika itu terjadi.


"Nggeh, Bah. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Setelah mengucap salam, telepon terputus. Gus Ali berusaha menahan tangisnya tapi tak bisa. Air matanya menetes. Menggambarkan betapa rapuhnya hati saat ini. Tapi dengan tekanan ini ia akan belajar sabar.


"Nih." Seseorang menyodorkan tisu. Gus Ali mendongak melihat siapa yang kini ada di depannya.


"Makasih, nona Tsabita." Gus Ali meraih tisu itu tanpa menyentuh tangan Tata. Bagaimanapun juga ia harus menjaga diri dari godaan syetan.


Meski jauh dari Fatimah, Gus Ali sadar betul bahwa Allah selalu ada dimanapun ia berada. Sekali saja ia salah melangkah, semua akan hancur.


Tsabita atau yang akrab dipanggil Tata melihat kesedihan dalam di mata temannya. Untungnya perpustakaan ini tidak sepi. Gus Ali akan mengusirnya jika Tata menemuinya di tempat yang sepi.


Tata jadi teringat saat itu, hampir sama keadaannya dengan saat ini. Hanya saja saat itu Tata belum banyak mengerti tentang Gus Ali. Dia datang dan menemui Gus Ali di perpustakaan yang sepi. Secara mengejutkan ia malah diusir pergi.


"Kangen calon bini," jawab Gus Ali singkat.


Bukan tanpa alasan Gus Ali menjawab serampangan begitu. Ia hanya menegaskan kalau dirinya sudah memiliki pasangan. Dan secara tersirat, ingin Tata menjaga jarak darinya.


"Iya, iya, tahu. Antum akan menikahi cinta masa kecilmu dulu itu, kan? Hem, dari antum aku percaya kalau cinta sejati itu ada." Tata berusaha tersenyum meski wajahnya malah terlihat aneh. Berusaha tersenyum tapi gurat kecewa dan terkejutnya masih sangat terlihat.


"Nah gitu, anti tahu." Gus Ali berusaha cuek. Berusaha menciptakan tembok di antara dirinya dan wanita-wanita di sekitarnya. Gus Ali akan setia. Jika dia berkata akan mencintai Fatimah, hanya gadis itu yang akan ia jaga cintanya.


"Eh, Li. Please bantuin ana, dong." Gadis berhidung mancung di depannya itu menangkupkan kedua belah tangan.


"Apa?"


"Hari ini umi ulang tahun."


"Lalu?"


"Antum kan bisa gitaran, bantuin surprise-in dong."


"Nggak bisa, Ta. Ana masih sibuk."


"Sibuk dari HongKong? Nggak ngapa-ngapain gini."


Gus Ali melihat kekecewaan di mata temannya itu. Ia jadi tidak enak hati padanya. Toh yang ia lakukan sekarang hanya membaca buku. Bisa dilakukan lain waktunya senggang.


"Lagu India mau?" tanya Gus Ali merasa tidak mungkin menolak keinginan Tata. Apalagi umi dan abinya Tata adalah orang baik. Abinya Tata yang notabene dosen juga di sini sering mengajak Gus Ali mengikuti seminar yang dihadiri orang-orang penting. Mengingat kebaikan abinya Tata itu Gus Ali merasa tidak enak menolak permintaan Tata.


"Mr. Ali Khan is cameback!" pekik Tata langsung membuat seluruh orang di dalam perpustakaan menoleh padanya.


"Ta, jaga imejku sebagai dosen, dong."


"Ups, maaf Li. Terlalu seneng. Thanks ya Li."


"Jadi kapan acaranya? Besok siang di restoran depan campus. Kan umi ada di sana mantau kinerja."


"Oke."


Setelah berterimakasih lagi kepada Gus Ali, Tata beranjak dari tempatnya. Gus Ali terdiam sesaat. Ia niatkan ini untuk menyenangkan uminya Tata. Tidak lebih. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi dan mencemari niatnya.


****


Siang begitu terik. Langit kota Surabaya begitu cerah dan ceria. Hari ini jadwal menyerahkan berkas yang diperlukan untuk mendaftar ke universitas. Fatimah dan Mega baru saja dari universitas Islam. Keduanya terlihat lelah karena setelah menempuh perjalanan dari Ngantang ke Surabaya, mereka harus mengantri untuk menyerahkan berkas.


"Udah, kan Tim?" tanya Mega.


"Makan di restoran itu yuk?" ajak Mega menunjuk sebuah bangunan yang megah. Fatimah sedikit ciut melihat kemewahan dari restoran itu. Jangan-jangan harga makanannya mahal. Pikirnya.

__ADS_1


"Tapi kayaknya itu restoran mahal deh, Meg?" balas Fatimah ragu. Bukannya ia tak mampu membayar, tapi ia ingin berhemat.


"Masuk aja dulu, nanti kita pilih makanan yang harganya bersahabat. Udah laper nih."


Tak tega melihat wajah Mega yang memang sedikit pucat, Fatimah menuruti temannya itu. Keduanya masuk dan terkejut melihat segala perkakas yang mewah dan berkelas.


Keduanya duduk dengan ragu. Fatimah dan Mega segera dihampiri waiters dan diberi buku menu. Mata Fatimah dan Mega hampir terloncat melihat harga dari makanan yang dijual di sini.


Rata-rata harganya di atas dua ratus ribu untuk satu porsi makanan. Fatimah menelan saliva. Mereka terlanjur duduk di sini. Tak lama kemudian, dari terlihat seorang ibu-ibu datang bersama dua pelayan dan melewati tempat duduk mereka.


Setelah wanita itu masuk ke ruang tengah yang dibatasi tembok kaca bermotif, terdengarlah suara meriah. Fatimah dan Mega ikut menoleh. Bertanya apa yang sebenarnya terjadi di restoran ini.


"Ada apa sih, rame banget?" tanya Mega memutar duduknya, ia mencoba melihat di dalam tapi tidak terlihat karena terhalang kaca bermotif.


"Nggak tau, Meg."


Tak lama kemudian terdengar petikan gitar dan suara yang merdu. Fatimah dan Mega tidak bisa melihat siapa yang menyanyi, tapi suaranya sangat bagus.


Main Kabhi Batlata Nahin


(Aku tidak pernah bilang padamu)


Par Andhere Se Darta Hoon Main Maa


(Seberapa takut aku akan kegelapan, Ma..)


Yun To Main,Dikhlata Nahin


(Aku tidak pernah bilang padamu)


Teri Parwaah Karta Hoon Main Maa


(Seberapa aku sayang padamu, Ma..)


Tujhe Sab Hain Pata, Hain Na Maa


(Tapi kamu tahu kan Ma..?)


Tujhe Sab Hain Pata,,Meri Maa


(Kamu pasti tahu semuanya, ... Mamaku)


Di dalam ruangan yang telah dihias bagus itu, Gus Ali duduk dengan memangku gitarnya. Tangannya memetik senar dengan penuh penghayatan. Gus Ali sendiri tenggelam dalam lagu yang ia nyanyikan.


Bheed Mein Yun Na Chodo Mujhe


(Jangan tinggalkan aku sendirian dalam keramaian)


Ghar Laut Ke Bhi Aa Naa Paoon Maa


(Aku kehilangan Jalan pulangku)


Bhej Na Itna Door Mujkko Tu


(Jangan buang aku ke tempat yang jauh)


Yaad Bhi Tujhko Aa Naa Paoon Maa


(Dimana kamu tidak akan mengingatku)


Kya Itna Bura Hoon Main Maa


(Sebegitu burukkah aku, Ma..)


Kya Itna Bura Meri Maa


(Sebegitu burukkah aku,, mamaku?)


Jab Bhi Kabhi Papa Mujhe


(ketika suatu saat papa ku)


Jo Zor Se Jhoola Jhulate Hain Maa


(Melempar aku terlalu tinggi di udara)


Meri Nazar Dhoondhe Tujhe


(Mataku mencarimu)


Sochu Yahi Tu Aa Ke Thaamegi Maa


(Berharap kau akan menagkapku dan menyelamatkanku, Ma..)


Tak sadar Gus Ali meneteskan air mata. Ia sangat rindu kepada uminya yang telah tiada. Pun ia rindu kepada Abahnya yang berada jauh darinya kini.


Tak mengerti dengan hatinya, Fatimah turut merasakan nyawa dari lagu itu. Air matanya tidak bisa ditahan. Ia menangis sesenggukan bahkan meski tidak mengerti arti lagu itu.


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.

__ADS_1


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏


__ADS_2