
Binu melihat pada Lindu dan Nirmala penuh dendam. Binu membayangkan sebentar lagi akan menyiksa Lindu. Ia akan menyiksa pemuda sialan itu sampai merasakan penyesalan telah berurusan dengan tuan muda klan Caniago.
Matanya kemudian menatap mesum Nirmala. Binu berfikir akan segera menikmati gadis yang sangat cantik itu. Ia tak peduli meski gadis cantik itu masih belum cukup umur.
Pedang Kilat melihat Nirmala sejenak, melihat kecantikan gadis itu, terbersit dibenaknya kalau anaknya mestinya yang mulai membikin masalah. Tapi bagaimanapun juga, tetap masalah kehormatan dan wibawa klan Caniago harus dijaga.
Pedang Kilat mengalihkan pandangannya, menatap tajam pada Lindu. Ia tidak bisa membaca tingkat kultivasi dari pemuda itu.
Pedang Kilat orang yang sangat jujur, meskinya klannya termasuk golongan netral. Pedang Kilat merupakan seorang pendekar yang sabar dan bijaksana. Dia sangat dihormati oleh banyak Patriak sekte besar. Penguasa kota juga sangat menghormati dirinya.
Dia tau sikap anak tunggalnya yang tinggi hati. Ia terlalu memanjakan putranya yang telah ditinggal mati ibunya sejak bayi. Binu juga sangat disayangi bibinya Dewi Kematian yang juga adalah kakak kandung ibunya. Bibinya cenderung menutup mata dengan kelakuan Binu. Dia selalu membela Binu meski tau ponakannya itu bersalah. Ini menjadikan Binu tumbuh menjadi pemuda arogan dan sombong.
Pedang Kilat tentu menyadari semua. Satu yang tidak bisa diatasinya adalah kelakuan Binu. Putra nya sangat angkuh dan benar sendiri.
"Anak muda,..." Pedang Kilat bicara pada Lindu. Suaranya berat, dalam namun enak didengar.
"Bisa kau jelaskan, kenapa kau melukai anggota klan kami sampai cacat dan bahkan membunuh juga ?"
Lindu menatap Pedang Kilat dengan tenang. Ia mengagumi sikap Patriak klan Caniago itu. Sangat jarang sekali seorang Patrik klan besar bersikap begitu.
"Mereka melecehkan, dan hendak membunuh adik ku" jawab Lindu. Pedang Kilat balik menatap Nirmala begitu mendengar jawaban Lindu. Melihat tingkat kultivasi Nirmala, Pedang Kilat tersenyum kecil.
"Bagaimana putraku dan rekan rekannya akan membunuh adikmu. Tingkat kultivasi gadis itu jauh diatas putraku."
Pedang Kilat menunjuk Binu. Lindu tidak dapat menjawab. Tidak mungkin mengatakan Nirmala baru saja menerobos dua level. Pasti akan muncul masalah baru yang lebih rumit. Nirmala yang duduk disamping Lindu, merasa kesal mendengar semuanya.
"Jadi apa mau kalian ?"
Dewi Kematian langsung menyambar dengan suara tajam menanggapi Nirmala.
"Tentu saja nyawa harus dibayar dengan nyawa bocah."
"Apakah kalian berfikir dengan datang bersama aku menjadi takut ?" Lindu mulai terganggu dengan sikap Dewi Kematian. Lindu menarik tangan Nirmala dan melayang keluar melalui jendela dan berkata.
"Mari kita selesaikan urusan ini diluar"
Sesaat kemudian mereka sudah berdiri berhadapan. Lindu masih menggenggam pergelangan tangan Nirmala.
"Apakah kalian akan maju satu persatu, atau sekalian maju bersama?"
"Bocah sombong, cukup kau hadapi aku saja. Jika kau bisa mengalahkan aku Dewi Kematian, maka urusan ini selesai sampai disini."
Tentu saja Dewi Kematian berani begitu. Dewi Kematian paling tinggi tingkatannya di klan Caniago. Pedang Kilat juga menyadarinya.
"Lala, kau minggirlah dahulu" Lindu mendorong Nirmala untuk mundur. Gadis cantik itu menatap Lindu, memberikan senyuman paling indah yang ia miliki dan beringsut mundur mengikuti perintah pemuda tampan itu. Gadis cantik itu yakin seyakin-yakinnya Lindu pasti bisa mengalahkan Dewi Kematian. Lindu kembali menatap Dewi Kematian dan tersenyum ringan.
"Majulah Dewi Kematian" katanya. Dewi Kematian merasa makin marah dengan sikap Lindu.
"Sebutkan siapa namamu bocah."
"Nama ku Lindu."
__ADS_1
Tidak ada reaksi apapun pada Dewi Kematian ataupun Pedang Kilat dan anggota rombongan klan Caniago ketika Lindu menyebutkan namanya. Binu tersenyum senang, pemuda itu merasa dendam nya akan segera terbalaskan.
Semua pengunjung restoran menonton kejadian ini. Sebagian mereka berdiri menonton dari jendela restoran. Sebagian lagi keluar dari restoran, berbaur dengan warga yang ikut menonton.
Diantara warga yang banyak berkumpul untuk menonton, agak jauh dibelakang ada seorang berlengan buntung ikut menonton.
Lelaki berlengan buntung itu Kudu. Ia bersama dengan Duo Baruak dan dan beberapa anggota sekte Iblis Tambun Tulang masuk kota siang tadi. Duo Baruak dan anggota rombongan langsung menuju markas rahasia sekte Iblis Tambun Tulang yang terletak disebelah Utara kota. Kudu memisahkan diri mencari Lindu.
Kudu menuju Aia Badarun, tapi tidak menemukan Lindu. Setelah mencari ke banyak tempat di kota, agak lewat waktu Kudu kembali ke Aia Badarun. Melihat banyak sekali orang berkumpul di depan Aia Badarun, ia pun berbaur sama kerumunan itu. Tentu saja dia melihat Lindu yang akan bertarung dengan Dewi Kematian. Melihat itu Kudu diam diam ikut menonton.
"Aku Lindu, silahkan Dewi Kematian." Pemuda tampan itu menyebutkan namanya. Wajah Dewi Kematian menjadi merah pekat. Perkataan Lindu adalah penghinaan bersar baginya. Seorang pemuda tidak dikenal menyuruh dia, seorang yang sangat ditakuti di dunia persilatan sampai dua kali disuruh menyerang duluan.
Dewi Kematian menyerang Lindu dengan sangat cepat. Tidak tanggung-tanggung, Dewi Kematian menyerang Lindu dengan satu jurus maut tapak pemusnah gunung. Kemarahan yang membakar hati menjadikan Dewi Kematian lupa kalau yang diserangnya hanya seorang pemuda remaja. Semua yang melihat berfikir Lindu akan menjadi kabut darah, kecuali Nirmala.
Baamm...!!
Terdengar dentuman keras ketika Lindu memapak serangan Dewi Kematian. Benturan keras terjadi seperti Lindu, Dewi Kematian juga terdorong dua tombak kebelakang. Penonton dan Dewi Kematian kaget luar biasa. Tidak ada yang mengira Lindu mampu menghadapi serangan itu. Lindu tersenyum kecil. Tidak ada yang menyadari, Lindu menekan energinya tinkat menyamai Dewi Kematian. Lindu berusaha memberi muka Dewi Kematian.
Lima belas menit berlalu. Mereka sudah bertarung ratusan jurus secara berimbang. Semua serangan Dewi Kematian dimentahkan Lindu. Lindu sesekali balas menyerang Dewi Kematian.
Dewi Kematian melompat mundur tiga tombak. Sekejap tangannya sudah menggenggam sebuah pedang. Pedang Kematian sebuah pedang pusaka tingkat nirwana. Pedang Kematian tampak sangat kuat dan memancarkan niat membunuh yang kuat. Lindu mengerutkan keningnya.
"Apakah kau berniat membunuhku Dewi Kematian"
"Dari awal sudah kubilang nyawa harus dibayar dengan nyawa." balas Dewi Kematian. Lindu mengambil Pedang Mustika Embun dari ruang hampa. Semua tersentak kaget. Darimana pedang itu datangnya.
"Siapa pemuda ini sebenarnya" Dewi Kematian bertanya tanya dalam hati.
Dewi Kematian menyiapkan serangan kuat. Dalam hati kecilnya muncul rasa kagum terhadap Lindu.
Gelombang Kematian Dewi Kematian menyerang Lindu dengan serangan yang sangat kuat. Pedang Kematian berobah jadi cahaya menyilaukan.
Trangg....
Trangg....
Tringg.....
Terjadi benturan pedang berulang kali. Sepuluh menit berlalu dengan cepat. Ratusan benturan pedang telah terjadi.
"Sekarang giliran ku"
Lindu bergerak melakukan serangkaian serangan pedang. Dewi Kematian tidak mampu melihat bayangan Lindu.
Jrezz ...!!
Jrezzz...!!
Crassz...!!!
Aaachhhh...!!!
__ADS_1
Dewi Kematian terlempar kebelakang dengan beberapa luka ditubuhnya. Begitu mau bergerak lagi, pedang milik Lindu sudah menempel dilehernya. Terdengar suara Lindu berbisik...
"Apakah ini sudah cukup ?"
Dewi Kematian tertegun, tidak pernah membayangkan akan dikalahkan oleh seorang yang sangat muda. Dewi Kematian mundur dan mengakui kekalahannya.
Delapan Benteng Caniago maju mengelilingi Lindu.
"Kami juga minta sedikit pelajaran darimu anak muda"
Delapan Benteng Caniago menghunus pedang mereka. Mereka membentuk lingkaran delapan unsur. Meski tingkat setiap anggota delapan benteng Caniago berada hanya tingkat bumi awal paling tinggi, mereka dengan mudah akan mengalahkan pendekar tingkat langit tengah, bahkan tingkat langit puncak meski mereka juga akan mengalami banyak luka.
"Baiklah, aku akan melakukan serangkaian serangan. Kalian tahan serangan ini."
Lindu bergerak sangat cepat, lebih cepat dari pada kilat. Hanya terdengar bunyi benturan pedang dan daging sobek disayat pedang.
Trangg.... Trangg.....
Crezz... Bug... Cress.....
Delapan Benteng Caniago terhempas bergulingan dengan tubuh luka luka dan semua pedang mereka patah.
Lindu berdiri didepan mereka sambil tersenyum kecil. Pedang Mustika Embun sudah tidak ada ditangannya. Lindu memberikan penghormatan kepada Patriak klan Caniago.
"Patriak, kita cukupkan sampai disini."
Binu datang bersujud di depan Lindu. Pemuda itu melakukan dengan sepenuh hati.
"Maafkan aku Tuan Muda. Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri kedepannya."
Lindu merasakan ketulusan dalam suara Binu. Dia melihat kearah Nirmala. Gadis cantik itu mengangguk mengerti arti tatapan Lindu. Lindu menatap Binu sejenak, lalu memberikan satu pil pada Binu yang masih berlutut.
"Tidak usah Tuan Muda, maaf dari mu sudah berlebihan bagi ku."
"Ambil dan telan pil ini. Kecuali kamu merasa puas hanya punya satu tangan."
Binu dan semua orang yang mendengar kaget. Pil yang diberikan Lindu adalah pil penumbuh organ. Pil langka yang sangat mahal. Binu menerima pil itu dan mengunyah nya.
Satu jam lamanya Binu mengerang menahan sakit. Semua orang melihatnya. Terbentuk benjolan pada bagian tengah tangan yang sudah putus. Perlahan benjolan itu tumbuh membentuk tangan baru. Semua takjub. Pedang Kilat maju membungkuk sangat dalam, ia sangat berterima kasih pada Lindu
"Terimakasih Raja Pedang. Kami dari klan Caniago akan membalas kebaikan ini bila ada kesempatan."
Pedang Kilat memanggil Lindu dengan Raja Pedang. Dia sadar, tadi Lindu mengalah banyak waktu bertarung dengan Dewi Kematian. Dewi Kematian juga sangat menyadari hal itu.
Semua anggota klan Caniago membungkuk memberi hormat pada Lindu.
"Semoga kita jumpa lagi di suasana yang lebih baik Raja Pedang."
Pedang Kilat, Dewi Kematian dan semua anggota klan Caniago mengucapkan salam perpisahan pada Lindu.
Itu menjadi awal dikenalnya nama Raja Pedang di benua emas.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=