Raja Pedang

Raja Pedang
#121. Pertempuran Besar


__ADS_3

Nuri, Malin, Rao Mudo dan Marda melesat cepat melintasi hutan menuju jalan utama dari koto Hilifalao. Dari Hilifalao butuh waktu satu setengah hari menuju Lembah Tengkorak.


Empat pendekar muda itu melesat melalui rimbunan pohon hutan dipinggir jalan utama.


"Nuri... Sepertinya rombongan pasukan gabungan." Nuri melihat kearah Rao Mudo. Rao Mudo menunjuk kearah jalan utama. Tampak jejak ribuan tapak kaki kuda dan manusia. Nuri dan rekan rekannya melesat turut dan memeriksa jejak jejak yang ada.


"Sepertinya mereka belum lama melewati jalanan ini. Kalau kita berlari lebih cepat, sekitar sepenanakan nasi kita sudah akan menyusul mereka." Semua melihat pada Rao Mudo. Melihat sikap Rao Mudo. Semua menatap Nuri, menunggu keputusan.


"Ayooo... kita susul mereka." Nuri segera melesat mengejar pasukan gabungan yang sudah berada cukup jauh didepan mereka. Malin, Rao Mudo dan Marda juga langsung melesat menyusul Nuri yang sudah pergi lebih dulu.


Kale Lepaksati menunggangi kudanya disebelah kanan kaisar Dharma Andaleh. Disebelah kiri kaisar ada Pendekar Alang Babega. Dibelakang mereka menyusul tetua Halimun, tetua Rambut Emas, tetua Alang Bangkeh bersama istrinya Seriti Merah dan tetua sekte Marunggai Ameh yang mengaku sebagai murid Raja Pedang. Dia adalah Raja Kemistri, si raja obat yang sangat terkenal. Ada dua orang Panglima yang ikut dirombongan itu. Dibelakang mereka berbaris rapi diatas kuda kuda yang gagah para pendekar dan pasukan khusus kekaisaran Suvarnabhumi.


Melihat debu tebal mengepul diudara. Nuri, Malin dan Rao Mudo beserta Marda mempercepat lari mereka. Setelah melewati rombongan mereka berempat berdiri berjejer ditengah jalan.


Melihat rombongan kaisar Dharma Andaleh sudah mendekat. Empat pendekar muda itu memberikan sembah dengan satu kaki ditekuk dan satu lutut menumpu di tanah.


"Salam yang mulia kaisar Dharma Andaleh dan Patriak semua." suara empat pendekar muda itu terdengar lantang. Kaisar Dharma Andaleh mengangkat tangan tinggi tinggi dan menghentikan kuda tunggangannya.

__ADS_1


"Terimakasih... eh... bukakah engkau Nuri ?" Kaisar Dharma Andaleh menujuk kepada Nuri.


"Benar yang mulia. Kami berempat adalah kelompok yang pertama kali berangkat bersama Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi dan yang lainnya."


"Kenapa kalian menghentikan kami disini ? Bagaimana dengan Mayang ?" Patriak sekte Tapak Dewa Kale Lepaksati dan Patriak sekte Alang Barat menatap Nuri dan rekan rekannya dengan alis terangkat.


"Kami akan bergabung dengan pasukan ini dan kami butuh enam orang relawan untuk maju lebih dahulu bersama kami." Nuri kembali menjawab.


"Kenapa begitu ?" Kaisar Dharma Andaleh bertanya dan mengerutkan keningnya.


"Enam orang relawan akan berupaya membersihkan jalan ini dari berbagai jebakan. Karena jarak kita dari sini ke Lembah Tengkorak tidak jauh lagi.


"Tetua Kuok Hitam, pasukan gabungan sudah semakin dekat dengan markas kita." Seorang lelaki anggota telik sandi memberikan laporan.


Tetua Kuok Hitam segera melaporkan kepada Patriak sekte Tengkorak Merah.


"Segera kumpulkan semua Patriak dan Tetua semua sekte. Kita harus mulai mengatur dan menempatkan kekuatan sesuai putusan kemaren ini." Setan Merah segera memberi perintah.

__ADS_1


Sesaat kemudian...


"Patriak Setan Merah. Apakah strategi yang sudah kita buat putusan kemaren ini langsung kita terapkan ?" Hantu Borneo tetua agung sektu Hantu Hutan Iblis mengajukan pertanyaan.


"Yaa... strategi yang telah kita putuskan bersama akan kita terapkan mulai sore ini.


Berdasarkan laporan dari team telik sandi kita. Mestinya besok siang mereka sudah sampai disini. Apakah mereka akan langsung menyerang atau menunda sampai lusa. Itu ada diluar prediksi ku. Sebagai antisipasi strategi itu langsung kita terapkan.


Palimo...!!" Setan Merah memanggil tetua tiga sekte gerombolan Tengkorak Merah yang bertanggung jawab masalah keamanan sekte.


"Ya siap Patriak. Saya akan siapkan kekuatan tempur kita, dan menempatkan mereka di tiga lokasi. Kelompok ke empat akan menjaga lapisan dalam.


Mohon kepada semua Patriak dan Tetua sekte dan klan pendukung menempati posisinya masing-masing." Tetua Palimo langsung membungkuk memberikan penghormatan dan meninggalkan ruang pertemuan.


Tidak lama kemudian semua meninggalkan ruang pertemuan. Semua mengatur team mereka sesuai dengan kesepakatan kemaren. Patriak klan Tanjung dan Patriak klan Koto berjalan bersisian.


"Bagaimana menurut anda saudara Muhib Koto ?" Patriak klan Tanjung, Tuanku Barulak bertanya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Kita lihat perkembangan situasi dulu Tuanku Barulak. Aku harap kita tetap berpegang pada kesepakatan yang sudah kita buat berdua.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2