
Dua tebesan besar menuju kearah Raja Pedang.
Lindu melesat menerjang Harimau Kumbang. Tindakan itu menjadikan Lindu lolos dari serangan Pati Marpuang.
Harimau Kumbang yang sedang mengamati jurus yang dimainkan oleh Raja Pedang. Kaget ketika Raja Pedang tiba-tiba meninggalkan Pati Marpuang dan menyerang dirinya.
Pedang Mustika Embun membuat siluet tajam menyilang. Bayangan pedang menerjang Harimau Kumbang diikuti ratusan tusukan. Pati Marpuang langsung memburu Raja Pedang yang tengah menekan Harimau Kumbang. Nirmala menyabetkan pedang Bintang dua kali. Dua bias angin tajam mencuit nyaring menuju leher dan dada Pati Marpuang. Tak mau menahan serangan Nirmala, Pati Marpuang berjumpalitan tiga tombak kebelakang. Bias pedang Bintang menghantam tanah. Terbentuk lobang dalam memanjang ditanah. Pecahkan tanah berhamburan ke udara.
Harimau Kumbang mencoba menahan serangan Raja Pedang. Namun melepaskan serangan dengan niat pedang tidak mudah dihadapi.
Trangg...!! Slash...!! Uch...!
Meski berhasil menahan satu tebasan, tebasan yang lain merobek dada Harimau Kumbang. Patriak sekte Iblis Tambun Tulang tidak membayangkan dia akan menjadi mainan Raja Pedang.
Harimau Kumbang memang sudah mendapat informasi sebelumnya dari Iblis Cantik Tambun Tulang. Bahwa Raja Pedang mungkin berbeda ditingkat suci puncak. Maka dari itu selama ini dia selalu berusaha meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dan kini dia berada ditingkat agung awal. Harimau Kumbang berfikir sudah bisa mengatasi Raja Pedang, paling tidak bisa mengimbangi. Numun pikiran itu salah besar. Raja Pedang juga sudah berkembang jauh melebihi Harimau Kumbang.
Harimau Kumbang membuka keputusan ekstrim.
"Pati Marpuang, mari kita satukan kekuatan untuk membunuh Raja Pedang." Harimau Kumbang mengirim transmisi suara kedalam kepala Pati Marpuang. Lelaki dari Tano Niha itu mengerling dan mengangguk.
Harimau Kumbang dan Pati Marpuang menerjang bersamaan kearah Lindu. Raja Pedang tersenyum ringan, dia mengayun pedang Mustika Embun memutar berkeliling dua kali dengan niat pedang setinggi ulu hati. Harimau Kumbang dan Pati Marpuang melenting setinggi dua meter dan menukik kearah Lindu.
Nirmala tidak tinggal diam. Wanita cantik menawan itu meluncur cepat. Pedang Bintang menebas kearah punggung Patriak sekte dan Pati Marpuang.
Dua tebesan melingkar Lindu meluncur menghantam anggota sekte Iblis Tambun Tulang. Semua terjengkang dengan tubuh terpotong dua. Bukan hanya itu, beberapa bangunan ikut roboh.
Harimau Kumbang berbalik di udara menahan serangan Nirmala.
__ADS_1
Trangg....!!
Buaghhh...!! Huukkk...!
Harimau Kumbang kumbang berhasil menahan pedang Bintang. Namun pukulan tanpa ujud menghantam punggungnya dengan telak.
Tubuh Harimau Kumbang kembali melambung keudara. Patriak sekte Iblis Tambun Tulang memuntahkan darah dalam keadaan terlempar di udara.
Pada saat keseimbangannya kacau, Nirmala sudah ada disampingnya. Pedang Bintang terayun bagai kilat menyobek pinggang Harimau Kumbang.
"Patriak...!!" Badak Mantagi terkejut melihat Harimau Kumbang jatuh terhempas dan berguling kedekatnya. Susah payah Harimau Kumbang berusaha bangkit. Dia memberi perintah kepada Badak Mantagi untuk segera melarikan diri. Harimau Kumbang berbalik menyerang Bidadari Suvarnabhumi. Wanita jelita putri kekaisaran Suvarnabhumi meliuk gemulai bergerak seperti bidadari yang sedang menari.
Tarian bidadari. Bidadari memetik bunga.
Sinar biru terang membias melewati tubuh Harimau Kumbang. Patriak sekte Iblis Tambun Tulang itu terpotong dua. Pedang Mutiara Biru mengakhiri perjalanan karir Harimau Kumbang. Sementara itu Badak Mantagi sudah menghilang jauh meninggalkan markas sekte Iblis Tambun Tulang.
Pati Marpuang mulai putus asa. Dia sudah mengeluarkan semua kemampuannya. Tapi tidak ada hasil apapun. Dia merasa bertemu tembok baja yang tebal tinggi.
Raja Pedang menukar Pedang Mustika Embun dengan Pedang Pembasmi Iblis. Raja Pedang menyambut serangan Pati Marpuang yang menderu dan mencicit nyaring.
Membasmi iblis menegakkan surga
Pedang Pembasmi Iblis bergerak lurus membelah. Angin sangat tipis berkesuit sangat cepat menuju Pati Marpuang.
Dhuuuaaaarrr...!!!
Ledakan sangat keras terdengar sampai ke koto Panjang. Warga koto Panjang berlarian takut ada galodo.
__ADS_1
Pati Marpuang terlempar bagaikan layangan putus. Tetua dari Tengkorak Merah itu mati dengan tubuh hampir terbelah dua. Sementara Raja Pedang kakinya terbenam sampai lutut dan tubuhnya bergoyang goyang. Lindu memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Dia segera bersila dan menelan dua butir pil tanchi.
Nirmala dan Mayang turun ke dekat Lindu. Mereka melihat sekeliling sekte. Hampir semua bangunan rubuh luluh lantak. Hanya bangunan utama yang masih tersisa sebagian kecil.
Setelah satu jam, Lindu pelan membuka matanya. Pemuda tampan itu menghela nafas dalam-dalam.
"Gimana dengan kondisi mu uda Lindu ?" Dhamma Mayang berbisik lembut ditelinga suaminya. Lindu tersenyum melihat pada Mayang.
"Sudah tidak apa-apa Yayang. Apakah Kalo Mantiko masih hidup ?" Lindu menatap Mayang dan Nirmala bergantian.
"Yaa... Dia masih hidup. Ayo kesana." ajak Nirmala.
"Raja Pedang... bunuhlah aku. Aku mohon kepada kalian. Tolong bunuh aku." Lindu menatap dalam kepada Kalo Mantiko. Dimatanya melintas bayangan abak dan amak nya yang mati dibunuh Kalo Mantiko.
"Tentu kau sudah tidak ingat kepada ku Kalo Mantiko." Kalo Mantiko terheran-heran ketika mendengar perkataan Lindu. Dia menatap lekat kepada Lindu dan bertanya.
"Apakah kita saling kenal ? Apakah ada hutang darah atau nyawa diantara kita ?" Kalo Mantiko menatap penuh semangat kepada Lindu.
"Apa kau masih ingat kejadian lebih dari lima belas tahun lalu di lembah Anai ?" Kalo Mantiko menatap Lindu lebih lama. Jidatnya berkerut mencoba mengingat kejadian lima belas tahun lalu. Sejurus kemudian matanya terbelalak melihat Lindu.
"Apakah kau... kau bocah yang diselamatkan oleh Dewa Tanpa Bayangan ?" Kalo Mantiko menatap Lindu tidak percaya. Ia ingat tatapan membunuh bocah kecil itu kepadanya. Sehingga dia berniat dan berusaha untuk membunuhnya. Tapi surga punya rencana sendiri. Sekarang bocah itu menjadi pemuda sangat sakti. Dia berdiri diam menatap nya. Tapi dia senang, karena dia akan segera mati.
Pemuda ini pasti akan membalas dendam dan membunuhnya. Terserah meski dengan cara apapun yang penting mati, pikir Kalo Mantiko. Dia tiba-tiba merasa lebih tenang, sampai kembali mendengar suara Lindu.
"Aku tidak akan pernah kerena dendam membunuhmu. Apa yang telah kau perbuat pada kedua orang tuaku, sudah ada ketentuannya di langit. Walau sangat menyakitkan, aku tidak lagi menyimpan dendam. Apa yang terjadi saat ini, juga telah dituliskan surga." Kalo Mantiko tertegun mendengar apa yang dikatakan Lindu. Dia tidak menyangka ada pemikiran seperti itu. Nirmala dan Mayang juga menatap penuh rasa takjub. Kedua wanita itu tidak bisa berkata apapun.
"Raja Pedang..." terdengar Kalo Mantiko memanggil. Lindu menatap Kalo Mantiko dan tetap diam.
__ADS_1
"Tolong bunuh aku. Aku tidak mungkin bisa hidup seperti ini. Bunuhlah aku, demi ayah dan ibu mu." Kalo Mantiko memohon kematian segera diberikan kepadanya.
\=\=\=***\=\=\=