
Malam berlalu dengan cepat bagi mereka yang bisa tidur nyenyak. Tapi berasa sangat panjang oleh Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Berada di kamar berbeda dan bungalow berbeda, mereka berdua merasa sulit untuk memejamkan mata. Sensasi terbang dari lereng kupu-kupu menuju gerbang dinding cula menjerit tak bisa dilupakan. Bayangan terbang melayang diatas permukaan laut dan diatas hamparan sawah terus membumbung, naik menuju gerbang cula menjerit masih menari di pelupuk mata. Hangatnya pelukan erat Lindu di pinggang masih terus terasa. Tanpa sadar jemari mereka meraba bekas pelukan Lindu. Wajah kedua gadis cantik itu merona merah. Ada rasa malu, rasa senang dan rasa bahagia didalam hati.
Hari masih pagi, namun medan nan bapaneh yang ada di halaman tengah sekte Alang Barat sudah dipenuhi oleh murid-murid yang ingin menonton kompetisi murid berbakat. Kompetisi ini memang masih bersifat tertutup dan tidak terbuka untuk umum menonton.
Sebuah panggung persegi besar berdiri kokoh ditengah medan nan bapaneh. Panggung itu dilindungi oleh sebuah formasi yang dinding pelindung agar efek benturan energi atau aura tekanan energi yang meleset dari target tidak sampai mengenai penonton.
Sebelah kanan panggung ada podium yang ditempati oleh Patriak sekte Alang Barat serta Patriak, Matriak dan para Tetua dari sekte peserta turnamen. Tampak penguasa kota Pariaman Tuanku Bandaro Sati dan panglima Dubalang Silangkaneh ikut menonton kompetisi murid jenius.
Seorang pemuda tampan dengan rambut diikat ekor kuda duduk di sebelah Patriak Alang Bangkeh. Banyak murid wanita dan peserta wanita menatap dengan mata berbinar kearah pemuda itu. Mereka berfikir siapa pemuda tampan itu. Kenapa bisa berada di podium orang-orang penting ??
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum manis menatap pemuda tampan dengan rambut panjang ekor kuda itu. Ketika tatapan mereka bertemu, pemuda tampan itu mengangguk dan balas tersenyum.
Hal itu membuat beberapa murid pria yang melihat menjadi iri. Mereka melihat kearah Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Lalu melihat sinis kearah pemuda tampan itu.
Siapakah dia ?? Pemuda tampan itu tak lain adalah Lindu, cucu Patriak sekte Alang Barat. Rimba hijau dunia persilatan menamainya Raja Pedang.
Tempat duduk peserta kompetisi berhadapan dengan panggung podium. Ada sekitar tujuh puluh lima orang peserta dan dua puluh diantaranya adalah peserta wanita. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi menjadi pusat perhatian hampir semua murid lelaki dan penonton.
Para penonton berada di dua sisi lain dari panggung kompetisi.
Matahari sudah mulai naik. Alang Barat berdiri untuk memberikan sedikit kata sambutan dan membuka acara kompetisi.
"Saudara saudari semua, selamat datang di acara kompetisi murid berbakat ini.
Hari adalah hari yang sangat berarti bagi kami sekte Alang Barat. Selain sebagai kali pertama diadakannya kompetisi murid berbakat yang diikuti oleh tujuh sekte dari benua Emas dan semenanjung Malayana. Hari ini kami juga menyampaikan kabar gembira. Cucu kami satu satunya putra dari Dewi Selendang Maut dan Pendekar Golok Bercagak telah kembali setelah menghilang lebih dari sepuluh tahun. Seriti Merah tetua sekte Angso Duo membawa pulang cucuku. Dia adalah Lindu Alam, mungkin hanya sebagian kecil dari kalian yang tau nama itu. Tapi orang di dunia hijau rimba persilatan menyebutnya mengenalnya dengan nama Raja Pedang."
Lindu berdiri ketika namanya disebutkan oleh Alang Bangkeh. Pemuda itu merangkap kedua tangannya dan menjura pada semua yang hadir. Semua orang membalas sikap Lindu dengan niat yang berbeda. Banyak yang memandang dengan tatapan kagum, namun tidak sedikit yang menatap Lindu dengan mata setengah percaya. Satu hal yang sama dirasakan semua orang, tidak ada aura energi merembes dari tubuhnya. Sehingga tidak ada yang tau setinggi apa tingkatan Lindu. malah ada yang berfikir Alang Bangkeh terlalu berlebihan memuji cucunya.
Hang Latino tetua dari sekte Patuih Tongga berdiri.
"Sangat senang bertemu dengan mu Raja Pedang. Diusia yang masih sangat muda macam kau telah berjaya di hijau dunie rimbe persilatan. Izinkan daku nak dapat bimbingan satu due gerak dari kau. Biarlah laga antare murid pintarne nak menunggu sakejap." ucapnya dalam dialek semenanjung Malayana.
Hang Latino menatap Raja Pedang dengan tatapan merendahkan. Sebagai pendekar yang berada ditingkat suci menengah, dia sangat yakin bisa mempermalukan Raja Pedang. Lindu tersenyum ringan, senyuman yang unik dan khas muncul di wajahnya.
Tentu saja para penonton dan peserta kompetisi juga ikut teriak agar Lindu menerima tantangan dari Hang Latino.
Akhirnya dengan berat hati Raja Pedang menerima tantangan Hang Latino.
"Baiklah senior, mohon bimbingan dari anda."
__ADS_1
Mendengar Lindu menerima tantangan darinya, Hang Latino melenting tinggi dan bersalto seperti gasing. Lalu meluncur turun menapak dengan mantap diatas panggung.
Bum...
Panggung dan area peserta dan penonton bergetar hebat. Formasi penahan benturan retak dan pecah. Semua orang terbelalak dan kagum. Seberapa kuat tetua dari sekte Patuih Tongga itu. Hanya imbas energinya saja dinding formasi pelindung pecah berantakan.
Hang Tole langsung melesat kepanggung. Sebagai seorang ahli formasi dia langsung memasang formasi pelindung baru dengan menggunakan formasi tingkat tinggi. Sehingga serangan melesat dari seorang tingkat suci sekalipun tidak bisa merusak formasi pelindung. Setelah memasang formasi pelindung baru, Hang Tole kembali ketempat duduknya.
Raja Pedang melompat biasa saja keatas panggung. Penonton tidak ada yang memberi tepukan seperti saat Hang Latino naik dipanggung. Pemuda tampan itu berdiri dengan relaks, sekitar tiga tombak didepan pendekar dari semenanjung Malayana.
Hang Latino menjura pada Lindu dan mengirimkan aura penindasan yang sangat kuat. Sehingga dinding formasi pelindung bergetar. Seorang pendekar tingkat langit puncak tidak akan mampu berdiri kena serangan aura penindasan itu. Tapi Lindu terlihat biasa saja.
"Silahkan senior..." Lindu tersenyum menatap Hang Latino.
Pendekar dari semenanjung Malayana itu kaget karena serangan aura yang dia lepas seperti tidak dirasakan Raja Pedang. Dia juga jadi jengkel karena Lindu menyuruhnya maju.
Bagaimana pun Hang Latino adalah seorang lelaki tengah baya, jauh lebih tua dari Raja Pedang. Selain itu, dia berada di tingkatan yang sudah sangat tinggi. Sangat wajar jika dia beranggapan Lindu melecehkan dirinya sebagai seorang senior.
"Baiklah, terima serangan ini Raja Pedang !!" Hang Latino bergerak menyerang dengan sangat cepat.
Meski amat sangat cepat di mata orang-orang. Bagi Lindu itu terlihat biasa saja. Raja Pedang menghindar dengan jurus sebelas langkah ajaib. Hang Latino terus menyerang bertubi-tubi namun tidak ada yang bisa menyentuh Raja Pedang. Lima puluh jurus berlalu begitu saja. Para Patriak dan Tetua sekte yang hadir kagum gerakan yang ditampilkan Raja Pedang.
Hang Latino melenting mundur untuk menats posisi menyerang yang baru.
Hang Latino melepaskan serangan baru menggunakan energi zhenqi. Namun serangan itu kembali dihindari dengan manis oleh Lindu.
Bomm....!!
Bomm.....!!
Bayangan naga itu menabrak dinding formasi pelindung. Dinding formasi pelindung bergetar hebat. Penonton merinding mendengar bunyi benturan yang sangat keras. Hang Latino kembali menyerang.
Tinju petir menghujani buana
Ratusan petir bewarna biru melesat bagaikan hujan mengejar Lindu. Jurus sebelas langkah ajaib tidak akan mungkin dipakai untuk menghindari serbuan hujan petir. Lindu melenting sangat tinggi sehingga semua petir melesat dibawah tubuhnya. Kembali benturan keras beruntun terdengar.
Dar....! Jdeerr...! Bam...!
Sedikit retakan halus muncul di dinding formasi pelindung.
__ADS_1
Hang Latino semakin marah, dia membentak Lindu.
"Apakah kau hanya bisa menghindar saja Raja Pedang ?!!" Lindu tersenyum menanggapi ucapan Hang Latino.
"Baiklah... aku menyerangmu sekarang" ucap Lindu. Lindu tersenyum menunjuk Hang Latino. Pemuda itu berbisik dalam hati
Pukulan tanpa ujud
Tidak ada gelombang energi yang muncul. Tiba-tiba terdengar ledakan dan teriakan kesakitan dari Hang Latino
Buummm....!!
Aaachhhh....!!
Tubuh Hang Latino terlempar bergulingan. Kemudian pendekar dari semenanjung Malayana memuntahkan lumayan banyak darah segar dari mulutnya. Dia bertumpu dengan lututnya.
"Pukulan tanpa ujud.....!!" teriakan terdengar dari mulut Hang Telo, Patriak sekte Tapak Dewa Kale Lepak Sakti dan Patriak Marunggai Ameh Pandeka Sati Batuah. Ketiga pendekar sakti itu berdiri dari duduknya berbarengan. Tiga pendekar pilih tanding itu, sedikit tau dengan jurus yang sangat legendaris itu. Mereka sangat terkejut dan sangat senang bisa melihat langsung jurus pukulan tanpa ujud. Sebuah jurus luar biasa tidak berbentuk dan berwujud. Tidak terdeteksi sama sekali. Tentu tidaklah mungkin untuk dihindari ataupun ditangkis. Karena tak gelombang terasa melewati udara. Ketiga pendekar sakti itu memiliki pemikiran yang sama, harus bisa membangun hubungan baik dengan Raja Pedang. Kale Lepak Sakti diam-diam merasa bersyukur karena Raja Pedang sudah menjalin hubungan dengan Bidadari Suvarnabhumi murid inti sekte Tapak Dewa.
Para penonton dan peserta kompetisi tidak ada yang mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya mendengar Lindu berkata baiklah serta melihat Lindu menunjuk dan Hang Latino terlempar bergulingan. Tapi teriakan dari podium kehormatan mereka sedikit bisa mengerti. Rasa dingin tiba-tiba menjalari punggung mereka yang tadi melihat sinis kearah Lindu.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala bertepuk tangan sangat kencang. Sesaat kemudian gemuruh tepukan terdengar dari penonton.
Hang Latino bukanlah orang bodoh dan tidak tahu diri walaupun dia seorang yang tinggi hati. Meski merasa malu, dia tau Raja Pedang tidak benar benar serius menyerang. Ini memberikan bukti kepadanya Raja Pedang bukanlah sekedar nama kosong belaka.
Hang Latino segera bangkit merangkap kedua tangannya dan menjura pada Lindu.
"Terimakasih Raja Pedang atas kemurahan hati mu" dan dia kembali ke kursinya.
Penonton bersorak sorai, kini mereka tau betapa hebatnya Raja Pedang.
Lindu balas menjura dan juga kembali ketempat duduknya. Kale Lepak Sakti langsung menyambut Lindu dan mengatur waktu untuk bisa bicara sore hari dengan Lindu. Pemuda tampan itu mengangguk menerima undangan Kale Lepak Sakti.
Beberapa waktu kemudian kompetisi antara murid berbakat dimulai. Setelah masing-masing peserta mengambil nomor undian. Peserta nomor satu akan berhadapan dengan nomor tiga enam. Begitu seterusnya sampai nomor urut tiga lima berhadapan dengan nomor tujuh puluh.
Kompetisi kemampuan yang pertama adalah antara Wisesa dari sekte Secabik Kafan melawan Banto Muaro seorang murid pria dari sekte Buayo Lalok.
Pertarungan antara Wisesa dengan Banto Muaro tidak berlangsung lama. Wisesa memenangkan pertarungan karena memang tingkatan Wisesa dua level diatas Banto Muaro.
Pertarungan kedua terjadi antara Bidadari Suvarnabhumi dari sekte Tapak Dewa berhadapan dengan Suriyan dari sekte Patuih Tongga. Meskipun pertarungan itu di menangkan oleh Bidadari Suvarnabhumi yang tingkatan satu level diatas Suriyan. Tidaklah mudah bagi Bidadari Suvarnabhumi untuk meraih kemenangan.
__ADS_1
Pertarungan sangat alot terjadi antara Suriyan dan Bidadari Suvarnabhumi. Jurus tinju petir yang dilepas Suriyan sempat melukai lengan Bidadari Suvarnabhumi. Namun setelah mengeluarkan ilmu pedang Tarian Bidadari, Suriyan mulai tertekan. Sampai akhirnya Suriyan bisa dikalahkan oleh Bidadari Suvarnabhumi.
\=\=\=***\=\=\=