
Pertarungan antara panglima muda Lantera dari istana Bunian melawan komandan pasukan penyusup Darulis dari markas Rawa Hitam berlangsung alot dan tampak seimbang. Mereka berdua sama-sama menderita luka pada tubuh mereka.
Darulis kembali menyerang Lantera dengan cepat. Golok hitamnya melesat membelah arah dada dan paha Lantera. Panglima muda Lantera dengan tenang menyambut serangan Darulis.
Trangg...!! Trengg...!!
Sementara itu Kubai dan Ubai agak sedikit keteteran menghadapi lawan mereka. Beberapa kali serangan lawan bersarang di tubuh mereka. Menciptakan beberapa luka luar dan luka dalam. Lawan kembali menyerang dengan cepat dan kuat kearah Kubai.
"Lala, Yayang... kalian tukar tempat dengan Kubai, Ubai dan Tari...!!!" Teriakan Lindu terdengar keras.
Bidadari Suvarnabhumi yang tidak jauh dari Kubai langsung menahan serangan lawan.
Trangg...!! Dess...!!
Lawannya terdorong mundur tiga tombak.
"Gantian panglima Kubai" ucap Bidadari Suvarnabhumi menggantikan posisi Kubai.
Tari dan Ubai juga melenting cepat menjauh meninggalkan lawan mereka. Nirmala bergabung dengan Bidadari Suvarnabhumi menghadapi tiga komandan pasukan Rawa Hitam. Kedua gadis cantik itu membuat posisi beradu punggung untuk menghadapi ketiga lawannya. Pertarungan kembali berjalan dengan lebih sengit.
"Panglima Lantera, biar aku gantikan posisi mu. Kau bantu panglima Tari, Kubai dan Ubai" Lindu langsung berdiri antara Lantera dan Darulis.
"Baik. Terimakasih Raja Pedang" Lantera berbalik dan mulai membantai pasukan tempur Rawa Hitam.
Daruli berhadapan dengan Lindu dan membentak dengan keras.
"Siapa kau !!"
"Kau tak pantas untuk mengetahui siapa aku" jawab Lindu. Pemuda itu berkata pelan.
"Kamu mau mati dengan cara apa ?"
Darulis kaget dan menjadi sangat marah. Dia langsung menyerang Lindu dengan sangat cepat.
"Matilah bocah sombong !!" Bayangan pedang bercuit membelah udara tipis. Lindu tersenyum ringan, senyum khas dan unik yang selalu muncul ketika dia bertarung dan berniat untuk membunuh lawannya.
Darulis merasa senang dan yakin pedangnya akan menebas lawan jadi dua bagian. Tapi dia harus kecewa karena sesaat lagi serangan sampai, Lindu tiba-tiba hilang.
Dugh...!!
Satu tendangan tidak terlalu kuat menghatam pundaknya. Tidak membuatnya jatuh terlempar, tapi sangat mengejutkan hatinya. Bagaimana cara pemuda itu bergerak begitu cepat ? Pikirnya.
"Sekali lagi aku bertanya padamu. Kematian seperti apa yang kau mau ?" Lindu bertanya dengan suara datar dan senyum ringan tersungging dibibirnya.
Darulis merasa sangat marah tapi ada sedikit rasa takut di sudut hatinya. Namun rasa takut itu tertutup oleh amarah yang besar. Komandan pasukan penyusup itu melompat tinggi, lalu menukik membuat serangkaian serangan mematikan. Lindu tersenyum ringan, telunjuknya terangkat. Terdengar bisikan halus dari bibirnya.
__ADS_1
Pukulan tanpa ujud
dan tubuh Darulis yang masih melayang di udara dengan posisi sedikit menukik, tersentak dan terlempar ke belakang dengan kencang.
Bamm...!! Krak...!!
Tidak ada teriakan, hanya sedikit lenguhan. Tubuh Darulis terbanting dengan dada remuk. Mati !!"
Ketiga komandan pasukan Rawa Hitam tertegun melihat Darulis mati dengan dada remuk. Sementara pemuda yang dia serang hanya berdiri santai ditempatnya. Sama sekali tidak bergerak dan tidak ada deru udara yang terbelah oleh angin pukulan. Hanya ada bunyi ledakan dan tulang belulang patah. Lalu Darulis terbanting dan mati begitu saja.
"Jangan alihkan perhatian mu" seorang komandan pasukan Rawa Hitam tersentak mendengar suara Bidadari Suvarnabhumi.
Slash...!! Dess...!!
Dadanya terluka lebar karena tebasan pedang dan dia terpelanting ketika tendangan Bidadari Suvarnabhumi bersarang diperutnya. Mengikuti dorongan kekuatan tendangan, dia melayang lebih jauh. Komandan itu berbalik dan melarikan diri. Suaranya masih terdengar ketika dia sudah jauh.
"Aku akan minta bantuan Datuk atau panglima Mangkuto"
Namun ketika melihat Datuk Hitam Parigi bersama Mangkuto dan yang lainnya lagi bertempur hebat. Komandan pasukan Rawa Hitam itu benar-benar pergi jauh melarikan diri meninggalkan markas Rawa Hitam.
Lawan Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi mulai merasa jerih. Mereka saling bertukar pandang dan mengangguk.
"Jangan pernah berfikir untuk bisa melarikan diri dari sini." terdengar suara Nirmala.
Kedua komandan itu kembali menyusun kuda-kuda untuk menyerang.
Ratu Shima berhadap dengan Datuk Hitam Parigi. Larasati berhadapan dengan panglima Mangkuto. Mereka mendapat lawan seimbang.
Datuk Hitam Parigi sangat terkejut dalam hati ketika tau tingkat kemampuan Ratu Sijundai naik jauh. Padahal 15 tahun lalu ketika dia berada ditingkat langit puncak, dia bisa mengalahkan Ratu Shima dengan dua pengawalnya. Kalaulah dulu dia tidak terluka parah. Tentu hal ini tidak akan pernah terjadi.
Saat ini kondisi Datuk Hitam Parigi dan Ratu Sijundai mulai terlihat sedikit membaik. Secara perlahan dia mulai bisa menekan Ratu Sijundai. Mereka sudah bertarung lebih dari tiga jam. Daya tahan Ratu Sijundai mulai menurun karna energinya banyak terkuras.
Hal yang sama juga terjadi pada Larasati yang berhadapan dengan panglima Mangkuto. Mereka berdua mulai mendapat tekanan lebih dari lawan lawan mereka.
Andini yang paling buruk keadaannya. Berhadapan dengan Mambang harusnya panglima cantik itu bisa menang. Namun beberapa kali dia tergagap ketika beradu pandang dengan Mambang.
Mata ular memperlihatkan kekuatan magisnya. Andini selalu tergagap dan merinding tiap melihat mata Mambang. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan Mambang. Berkali-kali serangan dari Mambang bersarang di badan Andini. Berulang kali pula Mambang menyetuh bagian sensitif tubuh Andini.
Hal itu benar-benar membuat Andini marah dan dilecehkan. Andini merasa frustasi dan ingin ******* Mambang menjadi bubur daging. Terlebih ketika dia mendengar ucapan dari Mambang.
"Menyerahlah Nona. Sayang jika wajah cantik dan tubuh molekmu ini rusak. Lebih baik kau menjadi milikku."
Sementara itu.
"Ratu Sijundai, menyerahlah..." suara Datuk Hitam Parigi terdengar ketika pukulannya bersarang di perut Ratu Sijundai.
__ADS_1
Bugh...! Auch...!
Ratu Sijundai terlempar lima tombak dan memuntahkan seteguk darah.
"Ratu...!" Larasati berteriak melihat Ratu Shima terlempar. Ia melompat mau mendekati Ratu Shima. Mangkuto langsung memanfaatkan momen itu dengan sangat baik.
"Berani mengalihkan fokusmu, mati !" terdengar suara yang melambai dari Mangkuto.
Slash....!!
Bugh...!! Aah...!!
Pinggang Larasati tertebas pedang dan tendangan Mangkuto dengan telak menghantam punggung atas. Larasati jatuh bergulingan ke dekat Ratu Shima. Ratu Shima melihat tubuh Larasati berguling kearah dirinya.
Mangkuto dan Datuk Hitam Parigi menatap tajam kepada Ratu Sijundai dan Larasati. Baru saja mau mendekati Ratu Sijundai dan Larasati, terdengar suara datar tanpa ekspresi.
"Kalian berdua bersiaplah untuk menemui kematian" seorang pemuda sudah berdiri didepan Ratu Shima dan Larasati. Sebilah pedang hitam yang memancarkan aura kematian, tergenggam ditangannya. Pemuda itu Lindu, dia berdiri menghadap Datuk Hitam Parigi dan Mangkuto.
"Siapa kau bocah tengik !!" teriak Datuk Hitam Parigi sangat keras. Lindu membuat senyum ringan unik dan khas dibibirnya.
"Aku adalah Raja Pedang. Hari ini aku datang karena tugas sebagai El maut bagi kalian berdua." Lindu berkata dengan suara datar tanpa emosi. Dia mulai menyalurkan zhenqi ke pedang penakluk iblis. Pedang hitam ditangannya bersinar. Bias cahaya merah keemasan membungkus sejata pusaka nirwana itu.
Mantiko dan Datuk Hitam Parigi melakukan serangkaian serangan mematikan kearah Lindu. Mantiko menyerang melalui udara. Tubuhnya bergerak sangat cepat seperti bayangan menusuk kearah ubun-ubun Lindu. Sedangkan kakinya menendang tajam menusuk kearah dada.
Tanpa membuang waktu lagi Lindu menyerang Mantiko dengan pukulan tanpa ujud dan mengejar Datuk Hitam Parigi dengan pedang nya.
Pukulan tanpa ujud
Menusuk langit membelah bumi
Tanpa ada perubahan hawa dan deru angin terbelah tiba-tiba Mangkuto terbanting bersamaan dengan bunyi dentuman keras.
Bamm...!! Aach...!!
Mangkuto memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Dia tidak tau apa yang terjadi. Panglima perang Rawa Hitam itu taunya mulai menukik saat tubuhnya menabrak sesuatu yang tidak kelihatan.
Pada waktu bersamaan Lindu bergerak menyerang Datuk Hitam Parigi yang baru menyerang setengah jalan.
Pedang Penakluk Iblis berderu mendengung. Bayangan pedang sudah mau menusuk kening Datuk Hitam Parigi. Penguasa Rawa Hitam itu melengos sedikit dan tusukan pedang lolos menabrak dinding bangunan di belakang Datuk Hitam Parigi. Dinding bangunan itu boleh besar sampai ke dinding dibaliknya.
Serangan belum usai, masih ada bayangan pedang menebas menyilang.
Traaanggg...!!! Tazj...!
Benturan keras terjadi antara Pedang Penakluk Iblis dengan pedang pusaka milik Datuk Hitam Parigi. Bagian ujung pedang Datuk Hitam Parigi petus.
__ADS_1
\=\=\=***