
Hari sudah mulai senja ketika Lindu, Nirmala dan Mayang memasuki desa Semak. Desa Semak berada di sebuah lembah dekat sungai Besi. Sungai itu sangat lebar dan menjadi jalur keluar masuk kapal layar dari lautan ke pedalaman benua Emas.
Desa Semak termasuk desa yang luas. Hampir sebesar sebuah kota. Pada dasarnya desa Semak merupakan desa pertanian yang subur. Namun desa itu makmur bukan saja karena hasil taninya. Disebelah timur desa terdapat sebuah pelabuhan dagang. Tiap hari selalu ada kapal dagang yang singgah di pelabuhan itu. Pelabuhan itu lumayan terkenal bahkan Kaisar Semenanjung Malayana pernah singgah disana. Itulah pelabuhan Tembesi. Inilah penyokong utama kemajuan perekonomian desa Semak.
Tidak seperti biasa, senja itu desa Semak terlihat sepi. Rumah rumah penduduk sudah tertutup rapat. Warung warung makan juga sudah tidak ada yang buka. Lindu, Nirmala dan Mayang mencari penginapan yang masih buka.
Tadi waktu mereka melewati gerbang desa, penjaga yang bertugas menatap Lindu dengan tatapan curiga. Setelah melihat Nirmala dan Mayang, sikap mereka berubah menjadi lebih ramah.
Lindu berdiri didepan sebuah penginapan. Bangunan semi panggung berlantai tiga itu tampak megah menjulang. Penginapan Mayang Terurai papan nama itu terpampang didinding lantai dua. Lindu memasuki penginapan diikuti Nirmala dan Mayang.
"Selamat datang di Penginapan Mayang Terurai Tuan dan Nona." Seorang wanita muda menyambut kedatangan mereka.
"Apa ada kamar utama yang masih kosong ?" Lindu bertanya kepada wanita yang menerima mereka.
"Kami memiliki satu ruangan keluarga dengan dua kamar tidur satu ruangan serbaguna yang bisa jadi ruang tamu dan ruang makan." Wanita yang menerima mereka menjawab pertanyaan Lindu.
"Kami pesan kamar itu. Siapkan juga air panas untuk mandi" Dhamma Mayang langsung menyetujui kamar utama yang ditawarkan.
"Sekalian disiapkan makanan. Hidangkan saja semua masakan yang paling enak." ucap Nirmala.
"Biayanya dua puluh keping emas Tuan Muda, sudah berikut makan." Wanita yang menerima mereka berkata sambil menyerahkan kunci kepada seseorang pelayan.
"Kalian keatas duluan. Sebentar aku akan menyusul." kata Lindu kepada kedua istrinya. Nirmala dan Mayang mengikuti pelayan menuju kamar. Lindu membayar lima puluh keping emas. Wanita itu kaget menerima pembayaran dari Lindu.
"Tuan, ini terlalu banyak."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sekalian untuk biaya makan. Sisanya ambil saja." Lindu tersenyum melihat wanita didepannya membungkuk dalam-dalam.
"Kenapa kota ini terlihat sepi ?" Lindu bertanya sambil lalu pada wanita penerima tamu.
Wanita itu menatap Lindu dan menghela nafas.
"Sebenarnya desa Semak ini memang sangat maju, sehingga tampak seperti kota. Hanya tiga bulan terakhir ini kami lagi diteror oleh sekte Kala Hitam." Lindu agak mengerutkan keningnya mendengar penjelasan wanita penerima tamu itu. Kerutan di kening Lindu makin dalam.
"Ini semua berawal, ketika Kepala Desa menolak lamaran Patriak sekte Kala Hitam."
Tungka Bulian adalah Patriak sekte Kala Hitam. Sebuah sekte netral namun agak condong kepada golongan hitam. Pria berusia enam puluh tahun ini masih sangat gagah. Dia terlihat seperti pemuda berusia tiga puluhan tahun. Tungka Bulian dikenal sebagai seorang pendekar sakti diwilayah Teladan Kinali.
Patriak sekte Kala Hitam yang sangat disegani kawan dan ditakuti lawan dikawasan. Tidak ada satupun makhluk di wilayah Teladan Kinali yang berani memprovokasi jagoan tua itu. Sebagai pendekar tingkat suci tinggi boleh dikatakan hampir tidak ada lawannya.
Sekitar lima bulan yang lalu. Tungka Bulian bersama dua Tetua sekte dalam perjalanan menuju pelabuhan Tembesi. Ketika kuda yang dia tunggangi melewati kediaman Kepala Desa. Tungka Bulian seperti disambar petir. Ketika dia melihat seorang gadis berambut panjang dan wajah yang sangat manis memasuki gerbang rumah Kepala Desa. Dia melihat seorang pelayan wanita muda dan empat orang pengawal mengikuti gadis manis itu.
"Terus bagaimana ? Siapa gadis itu ?" Lindu bertanya lebih jauh. Rasa penasaran mulai mengusik pikiran Lindu.
"Gadis itu bernama Mayang Mangurai. Dia adalah putri kepala Desa Semak dan juga pemilik penginapan ini" wanita itu menjelaskan lebih banyak kepada Lindu. Setelah diam sejenak wanita itu menambah penjelasannya.
"Sekitar tiga bulan yang lalu, Tungka Bulian meminang nona Mayang melalui ayahnya tuan Rimba Rasam. Tuan Rimba Rasam yang juga Kepala Desa Semak tentu saja ingin menolak. Tapi dia tidak berani terang terangan. Karna Kepala Desa tau siapa Tungka Bulian sebenarnya.
Tungka Bulian merasakan niat dari Kepala Desa. Sebelum pergi meninggalkan kediaman Kepala Desa, Tungka Bulian menyatakan.
"Baiklah Rimba Rasam, aku akan datang tiga bulan lagi. Aku hanya ingin mendapatkan persetujuan. Kau tentu tidak ingin desa Semak ini berubah menjadi puing-puing."
__ADS_1
Kepala Desa tentu paham apa yang dimaksud oleh Tungka Bulian. Diam-diam Rimba Rasam mencari pendekar tingkat tinggi yang mampu mengatasi Tungka Bulian. Namun tidak mudah menemukan pendekar tingkat tinggi yang mampu mengatasi Tungka Bulian.
"Besok siang adalah batas waktu yang telah ditetapkan oleh Tungka Bulian. Rimba Rasam menyebarkan info akan ada kemungkinan buruk mungkin akan terjadi besok siang. Jadi para penduduk dia minta untuk meninggalkan desa Semak barang satu atau dua hari. Jika tidak mau pergi dari desa Semak, harus tutup pintu rumah dan jendela rapat rapat." wanita itu menjelaskan panjang lebar kepada Lindu.
"Kalau begitu, besok habis sarapan bisakah Nona mengatar aku untuk bertemu Kepala Desa ?" Mendengar permintaan Lindu, wanita itu menatap Lindu agak lama. Kemudian dia mengangguk setuju.
Rimba Rasam merasakan kegelisahan yang kian besar. Dia menatap lekat putrinya Mayang Mangurai. Gadis manis itu berusaha untuk terlihat tenang.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi besok itu ayah. Sudah cukuplah upaya yang ayah lakukan. Mudah-mudahan apa yang kita takutkan tidak akan pernah terjadi." Mayang berusaha untuk tetap tegar.
Rimba Rasam menolak Tungka Bulian bukan karena lelaki itu sudah berumur lebih dari tiga kali putrinya. Rimba Rasam tidak akan pernah lupa siapa Tungka Bulian. Patriak sekte Kala Hitam itu aslinya adalah seorang Penyamun dari Tanjung Marwo. Tepatnya Raja Penyamun Tanjung Marwo.
Rimba Rasam tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Meski sudah berlalu sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Saat itu Rimba Rasam masih berusia sepuluh tahun. Sampai mati Kepala Desa Semak ini, tidak akan pernah melupakan kejadian itu.
flash back
Siang itu tiga kereta kuda dan delapan pedati lembah rimba Marwo. Hanya sekitar dua jam lagi rombongan itu akan sampai dikota pelabuhan Tanjung Marwo. Disatu area terbuka yang cukup luas dipinggir sungai Besi, kereta paling depan berhenti. Kereta dan pedati yang lain juga ikut berhenti.
"Kita istirahat dulu disini. Paling lama tiga jam lagi kita sudah akan memasuki kota Tanjung Marwo." Datuk Rasam Gunung yang jadi kepala rombongan memberi perintah kepada semua orang.
"Kenapa kita tidak langsung saja Datuk ?" Maduni istri Datuk Rasam Gunung bertanya kepada suaminya.
"Kuda, kerbau dan sapi yang menarik kereta dan pedati kita sudah saatnya istirahat." Datuk Rasam Gunung menjawab pertanyaan Maduni istrinya sambil tersenyum.
"Ayah apakah aku boleh berenang sebentar ?" Rimba Rasam putra tunggalnya yang berumur sepuluh tahun minta izin kepada Rasam Gunung ayahnya. Datuk Rasam Gunung tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Ayo kita turun dulu, istirahat dan makan siang. Biar kuda, kerbau dan sapi juga bisa istirahat dan makan minum dulu." Datuk Rasam Gunung mengajak keluarga dan pelayan-pelayannya.
\=\=\=***\=\=\=