
Begitu berada diluar goa rembulan ganda, Tuangku Nan Sati berkelebat dan menghilang. Patriak sekte Alang Barat ini terlalu asik bersama cucunya. Dia baru teringat ada pertemuan dengan para tetua dari sekte sekte yang diundang untuk kegiatan latihan bersama.
Markas besar sekte Iblis Tambun Tulang.
Harimau Kumbang duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya kusut dan amarah terlihat jelas. Energi yang sangat besar merembes keluar dari tubuhnya. Dikiri kanannya duduk dengan tenang Badak Mantagi, Siampa Hitam, Kalo Mantiko. Persis dihadapannya duduk Cingauak Bangkai dan Batino Seribu Rupa. Cingauak Bangkai masih belum sembuh sempurna dari luka dalam yang dideritanya.
Harimau Kumbang masih setengah percaya dengan apa yang dilaporkan oleh Cingauak Bangkai.
"Kalau diperhatikan, usia Raja Pedang baru sekitar enam belas sampai tujuh belas tahun. Namun ilmunya sangat tinggi. Aku dan Batino Seribu Rupa tidak mampu mengimbanginya." Cingauak Bangkai melirik sekilas kearah Batino Seribu Rupa. Kemudian tetua termuda sekte Iblis Tambun Tulang itu melanjutkan.
"Mungkin jika Patriak dan semua Tetua termasuk aku, maju secara bersamaan. Kita baru bisa mengimbangi kemampuan Raja Pedang."
Harimau Kumbang tanpa sadar meremas tatakan tangan kursi kebesarannya. Tatakan tangan dari kursi granit hitam itu hancur menjadi debu.
"Bagaimana mungkin seorang pemuda belasan tahun mampu mengimbangi mereka yang maju bersamaan." pikirnya.
Harimau Kumbang mengetahui dengan pasti, butuh waktu yang sangat lama untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan seorang pendekar. Untuk mencapai tingkatan dia sekarang ini, yaitu tingkat suci menengah akhir yang sedikit lagi ke suci tinggi, memakan waktu sampai seratus tahun lebih.
Meskipun penampakan Harimau Kumbang seperti pria tiga puluh tahun, usia pria itu sudah lebih dari seratus tahun. Memang ketika energi zhenqi terbentuk dalam tubuh. Perlahan orang akan kembali menjadi muda. Biasanya kondisi mereka kembali pada kondisi mereka waktu berusia dua puluh tiga tahun sampai tiga puluh tahun. Itulah sebabnya setiap orang menerobos mengeluarkan cairan hitam lengket dan bau dari tubuhnya. Cairan hitam lengket itu adalah kotoran dan racun yang menumpuk dalam tubuh.
Iblis Cantik Tambun Tulang tiba-tiba masuk dengan nafas terputus-putus dan tubuh penuh luka. Perempuan itu sepertinya habis berlari cepat menempuh jarak yang sangat jauh. Dia tidak memperdulikan pakaiannya yang sobek dibeberapa bagian dan memperlihatkan bagian sensitif tubuhnya yang penuh.
"Patriak... Ki.. kita harus minta bantuan kepada gerombolan Tengkorak Merah. Raja Pedang terlalu kuat untuk kita hadapi. Kelabang Iblis sudah tewas ditangan pemuda itu." Iblis Cantik Tambun Tulang berkata dengan suara yang masih tersengal-sengal. Harimau Kumbang tidak menjawab. Lelaki itu menatap nanar penuh keinginan purbanya pada Iblis Cantik Tambun Tulang. Lelaki berlebat menyambar tubuh Iblis Cantik Tambun Tulang membawanya keruangan pribadinya. Lelaki setengah iblis dengan selera aneh itu merasakan desakan keinginan purbanya melihat penampilan acak kadut Iblis Cantik Tambun Tulang.
Setelah menuntaskan keinginan purbanya, Harimau Kumbang memberikan pil penyembuhan kelas atas pada Iblis Cantik Tambun Tulang. Ia menyuruh Iblis Cantik Tambun Tulang berganti pakaian dan kembali ketempat pertemuan.
Badak Mantagi, Siampa Hitam, Kalo Mantiko duduk diam melihat Harimau Kumbang kembali bersama Iblis Cantik Tambun Tulang dengan kondisi tubuh yang lebih baik. Cingauak Bangkai dan Batino Seribu Rupa saling menatap dengan tatapan dipenuhi keinginan purba mereka.
Pertemuan itu dilanjutkan dengan mengatur cara untuk menghilangkan Raja Pedang dunia ini.
---***
__ADS_1
Aula utama sekte Alang Barat telah dihadiri oleh para Patriak dan Tetua dari tujuh sekte. Mereka adalah Dewi Bulan, Matriak sekte Angso Duo dan tetua Seriti Merah serta tetua Seruni. Datuak Batungkek Ameh bersama tetua Kundi dan tetua Padusi Pedang Kembar mewakili sekte Secabik Kafan.
Hadir juga Patriak sekte Tapak Dewa Palimo Salam bersama tetua Dewi Rambut Emas dan tetua Halimun si Pendekar Kabut Maut. Patriak Palimo Salam baru tiba kemarin sore. Beliau hanya datang untuk menyaksikan kompetisi persahabatan antar murid jenius sekte. Setelah kompetisi Palimo Salam yang lebih dikenal dengan Kale lepak sakti. Dengan kedua tangannya, Kale Lepak Sakti mampu meratakan satu gunung dengan satu dorongan tangannya.
Sekte Buayo Lalok diwakili oleh Tetua Buayo Ekor Sembilan dan tetua Langkisau. Patriak dekte Marunggai Ameh ikut hadir. Tujuan utamanya adalah menemui Raja Pedang. Patriak Marunggai Ameh, Pandeka Sati Batuah didampingi oleh Raja Alkhemis dan tetua Merapih Angin.
Dari sekte Patuih Tongga dari semenanjung Malayana diwakili oleh Tetua Hang Telo dan Tetua Hang Latino. Mereka adalah dua pendekar tangguh di semenanjung Malayana.
Semua orang yang hadir di aula sekte Alang Barat itu adalah nama-nama yang sangat disegani dan ditakuti di rimba persilatan benua Emas. Mereka semua adalah pendekar tingkat langit dan suci.
Tuangku Nan Sati datang setelah semua orang berkumpul. Lelaki tua Patriak sekte Alang Barat itu tampak lebih muda daripada biasanya. Dia buru-buru menjura dan mohon maaf kepada semua.
"Selamat datang di sekte Alang Barat sahabat ku semua. Aku mohon maaf karena sedikit terlambat."
Semua Patriak dan Tetua yang balas menjura pada Alang Bangkeh. Pandeka Sati Batuah menanggapi pertanyaan Alang Bangkeh,
"Apakah karena cucumu sudah kembali dunsanak Alang Bangkeh ? Kenapa tidak kau ajak Raja Pedang itu hadir disini ?" Hampir semua orang yang hadir terkejut mendengar ucapan Pandeka Sati Batuah.
Nama Raja Pedang memang lagi menjadi buah bibir rimba persilatan. Setelah mengalahkan Delapan Benteng Caniago dalam satu serangan. Raja Pedang juga telah memunuh Patriak sekte Selaksa Racun, sekte Kerambit Sakti dan juga Kelabang Iblis dan beberapa pentolan sekte Iblis Tambun Tulang.
"Mohon maaf sahabat ku semua. Lindu cucuku sedang mengunjungi pusara kedua orang tuanya. Besok aku akan memperkenalkan cucuku pada kalian semua." ucap Alang Bangkeh menjura mohon maaf pada semua yang hadir.
Dewi Rambut Emas berbisik pada Patriak Kale Lepak Sakti bahwa muridnya Bidadari Suvarnabhumi ikut bersama Raja Pedang mengunjungi pusara orang tua dari Raja Pedang. Dewi Rambut Emas juga mengatakan bahwa sikap muridnya sangat ramah dan perhatian terhadap Raja Pedang. Kale Lepak Sakti tersenyum sambil membesarkan kedua bola matanya.
Seriti Merah juga membisikan hal yang sama kepada Dewi Bulan. Seriti Merah juga menambahkan bahwa dia telah meminta dibuatkan ikat tanda untuk Nirmala muridnya dengan Lindu. Dewi Bulan sampai terlonjak mendengar bisikan dari Seriti Merah.
Sebelumnya Seriti Merah hanya bercerita jika mereka kenal baik dengan Raja Pedang. Bahwa Raja Pedang banyak membantu Seriti Merah dan muridnya Nirmala. Bahkan membantu sampai Seriti Merah dan Nirmala bisa menerobos satu tingkatan besar. Dewi Bulan berbisik balik kepada Seriti Merah untuk mengatur waktu bicara dengan Lindu.
Pertemuan terus berlanjut membahas aturan kompetisi kemampuan murid-murid berbakat. Mereka juga harus menetapkan wasit dan juga membuat batasan dalam pertarungan pertarungan.
---***
__ADS_1
Sore di lereng kupu-kupu, Lindu memberikan buah pir dewa kepada Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi . Buah pir itu bewarna hijau cerah keemasan. Ukurannya lebih besar sedikit dari kepalan tangan pria dewasa. Pir Dewa adalah buah dari tanaman spiritual mengandung esensi energi murni yang besar.
Mereka bertiga duduk di bangku yang agak panjang menikmati pir dewa sambil memandang keindahan alam. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala kaget merasakan betapa kerasnya kulit buah pir dewa.
"Gunakan sedikit energi mendalam kalian untuk mengunyah buah pir dewa."
Mereka juga ngobrol banyak hal bertiga. Sesekali terdengar suara tawa renyah mereka.
Senja datang perlahan. Semburat merah jingga menyebar di kaki langit. Cahaya jingga juga menyelimuti hamparan sawah yang luas. Tiga sosok anak manusia itu begitu terpesona melihat keindahan mistis yang ada depan mata.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala merebahkan kepala mereka ke pundak Lindu. Angin senja memainkan anak rambut kedua gadis cantik itu kewajah Lindu. Wangi aroma tubuh kedua gadis cantik jelita itu memenuhi rongga dada Lindu.
Malam mulai turun. Lindu mengajak kedua gadis cantik itu kembali. Meski sedikit enggan keduanya tetap setuju untuk kembali ke sekte.
"Apakah kalian mau ku bawa terbang keatas ?" Lindu bertanya sambil lalu pada keduanya. Nirmala dan Mayang menatap Lindu lekat.
"Uda bisa terbang...?" pertanyaan sarkastik keluar dari mulut mereka.
"Janji... ini rahasia kita bertiga ya ?!" jawab Lindu. Kedua gadis itu mengangguk bareng.
Sebagai seorang yang sudah mencapai tingkat suci puncak, tentu saja Lindu bisa terbang diudara. Untuk bisa terbang dibutuhkan zhenqi yang besar. Seorang pendekar baru bisa terbang dengan sangat baik saat mencapai kemampuan di tingkat agung.
Perlahan lengan Lindu melingkari pinggang ramping Nirmala dan Mayang.
"Letakkan satu lengan kalian di pundak ku" Lindu memberi instruksi.
Kedua gadis cantik jelita itu melakukan apa yang disuruh Lindu. Pipi mereka memerah oleh rasa jengah dan bahagia. Perlahan Lindu naik dan terbang melayang menuju gerbang cula menjerit.
Awalnya Nirmala dan Mayang menjerit kecil. Sesaat kemudian mereka menikmati sensasi melayang di udara. Lindu tidak langsung membawa mereka kembali keatas. Pemuda itu tersenyum kecil melihat air muka dua wanita cantik disampingnya. Lindu membawa mereka melayang diatas permukaan laut dan hamparan sawah. Setelah merasa cukup, baru Lindu terbang menuju gerbang dinding cula menjerit.
Sejurus kemudian Lindu turun didepan pintu karang dinding cula menjerit. Nirmala dan Mayang menatap Lindu dengan mata terbelalak penuh kekaguman dan rasa cinta. Lindu tergetar menerima tatapan kedua gadis cantik jelita itu.
__ADS_1
"Ajarkan kami untuk bisa terbang Uda..." kedua gadis itu bicara serentak.
\=\=\=***\=\=\=