
Mendengar perintah Raja Pedang keempat manusia harimau pun berbaris untuk di obati satu demi satu. Mereka semua sangat berterima kasih setelah dibebaskan dari pengaruh racun darah iblis.
"Sampai sekarang kami tidak tau nama kalian. Dia adalah saudara Malin, dan aku dipanggil orang-orang dengan nama Raja Pedang." Lindu kemudian memanggil Mayang, Nirmala dan Nuri. Dia mengenalkan kedua istrinya dan Nuri. Para manusia harimau itu menjura kepada Mayang, Nirmala dan Nuri.
"Mohon maaf tuan penolong Raja Pedang, saking senangnya kami belum memperkenalkan diri kepada tuan.
Saya bernama Datuak Rimau Putiah, dipercaya oleh pimpinan kami Datuk Rao Api mengontrol pencarian tuan Raja Pedang untuk meminta bantuan. Nah mereka adalah..." Masing-masing manusia harimau itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Cimpago Merah"
"Saya Ratih" gadis cantik hitam manis itu, yang tadinya adalah harimau kumbang mengenalkan diri. Dia melirik sekilas kearah Malin dan menundukkan wajahnya yang sedikit memerah karena malu.
"Saya mohon maaf pada saudara Malin, atas tindakan saya tadi." Mendengar ucapan gadis cantik hitam manis itu Malin tersenyum dan mengangguk.
"Jangan terlalu dipikirkan nona Ratih." jawabannya.
"Saya Rao Mudo" seorang pemuda yang satu lengannya buntung memperkenalkan diri. Rao Mudo adalah putra dari Datuk Rao Api, pemimpin tertinggi klan Manusia Harimau.
"Saya Sariak Ragi tuan dan nona semua. Mohon maaf atas sikap kami sebelumnya." Seorang pria tiga puluhan bertangan buntung juga memperkenalkan dirinya.
"Hm... baiklah. Untuk kau Rao Mudo dan Sariak Ragi. Kalian telan pil ini untuk mengobati tangan kalian. Kalian harus bisa menahan rasa sakitnya. Setelah itu baru kita berangkat menuju kampung klan manusia harimau kalian." Lindu menyerahkan pil penumbuh yang langsung di telan oleh Rao Mudo dan Sariak Ragi.
Hampir satu jam Rao Mudo dan Sariak Ragi menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah dan mendengus menahan sakit. Namun kemudian semua manusia harimau itu terbelalak tidak percaya melihat tangan buntung Rao Mudo dan Sariak Ragi tumbuh kembali seperti semula. Rao Mudo dan Sariak Ragi langsung bersujud dihadapan Lindu.
"Terimakasih kasih tuan Raja Pedang. Anda adalah dewa penolong kami." Suara Rao Mudo dan Sariak Ragi bergetar karena haru yang sangat menyesakkan dada. Mereka berdua tidak pernah berfikir bahwa tangan mereka berdua akan normal kembali setelah dibabat putus oleh Raja Pedang. Ratih memegang tangan Rao Mudo yang baru tumbuh. Dia membolak-balikkan tangan Rao Mudo karena nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lalu dia berlutut di depan Raja Pedang.
"Raja Pedang terimakasih, aku dan kami semua tidak tau bagaimana harus membalas semua ini. Dimata kami tuan bukan lagi manusia, tetapi seorang dewa yang menyaru kedunia ini." Ratih berucap dengan air mata bergulir di pipinya. Dia merasa sangat senang dan bahagia melihat Rao Mudo kembali utuh.
"Datuak Rimau Putiah, ayo kita berangkat menuju kampung klan kalian." Datuak Rimau Putiah mengangguk. Dia dan empat manusia harimau lain berubah wujud menjadi manusia harimau. Lindu, Malin dan lainnya mengikuti para manusia harimau dari belakang.
__ADS_1
Setelah menembus ketengah hutan kuno gunung Tua kearah pusat hutan. Lindu dan Malin melihat area luas yang dipagar keliling dengan kayu gelondongan. Tinggi pagar yang menyerupai benteng itu sekitar tiga atau empat meter.
Datuak Rimau dan yang lainnya kembali berubah wujud menjadi manusia.
"Datuak Rimau sudah kembali...!!" Teriakan keras terdengar bersahut-sahutan dan pintu gerbang pagar benteng itu terbuka.
Datuak Rimau Putiah, Rao Mudo, Ratih dan Sariak Ragi serta Cimpago Merah melangkah dengan gagah memasuki gerbang. Sebuah kereta besar mengikuti dari belakang.
Warga klan manusia harimau semua keluar rumah. Mereka malambai lambai menyambut kedatangan Datuak Rimau Putiah dan rombongan. Wajah wajah mereka tampak ceria. Anak anak kecil berlari lari mengikuti dan mengiringi kereta. Mereka menyerukan nyanyian gembira.
"Tuan penolong telah datang...
Tuan penolong telah datang..."
Suasana menjadi semarak di perkampungan klan manusia harimau.
Sesampai didepan sebuah rumah besar Datuak Rimau Putiah berhenti diikuti semua orang termasuk kereta Lindu. Seorang pria setengah baya berdiri dipendopo rumah.
Dia langsung turun melihat Datuak Rimau Putiah, dan berdiri disamping kereta.
"Selamat datang Tuan Penolong, dan terimakasih sudah berkenan singgah di kampung kami yang sangat tersembunyi ini." Datuk Rao Api membungkuk menyambut kedatangan Lindu.
Lindu turun dari kereta diikuti oleh Malin, Nuri, Mayang dan Nirmala.
"Terimakasih Datuk Rao Api, saya Raja Pedang dan ini istri saya Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Ini sahabat saya Malin dan Nuri." Raja Pedang menyambut ramah Datuk Rao Api. Mereka kemudian duduk dipermadani pandan tebal dipalanta rumah yang luas.
"Mohon maaf sebelumnya Raja Pedang karena cara kami sangat tidak sopan meminta bantuan kepada anda."
"Jangan terlalu dipikirkan Datuk Rao. Tadi Datuak Rimau Putiah sudah menjelaskan masalah yang dihadapi klan manusia harimau.
__ADS_1
Berapa banyak jumlah anggota klan manusia harimau dan berapa orang yang telah menelan pil racun darah ?" Raja Pedang bicara langsung ke inti masalah.
"Semua anggota kami tua, muda, besar dan kecil hampir enam ratus orang. Kami yang dipaksa menelan pil racun ada dua ratus orang.
Semua adalah para pendekar utama keatas, yang menjadi tulang punggung kekuatan klan manusia harimau."
Mendengar penjelasan Datuk Rao Api, Raja Pedang terdiam dan menggeleng kecil. Dalam cincin semesta miliknya, paling banyak hanya ada dua puluh butir pil Tangka sagalo biso.
"Datuk Rao Api, karena jumlah yang telah menelan pil racun darah lumayan banyak. Aku tidak mempunyai cukup pil Tangka sagalo biso, aku akan membuat pil Tangka sagalo biso. Tapi saat ini kita butuh beberapa tanaman herbal spiritual."
"Raja Pedang, apakah anda juga seorang Alkhemis ?" Datuk Rao Api melihat Raja Pedang dengan tatapan penuh kagum.
"Aku kebetulan bisa meracik beberapa jenis pil." Raja Pedang tersenyum kecil. Datuk Rao Api dan semua Tetua klan manusia harimau menatap kagum dan semakin hormat kepada Raja Pedang.
"Raja Pedang, kebetulan kami juga memiliki kebun tanaman spiritual tingkat tinggi. Tolong berikan daftar tanaman yang anda butuhkan." Datuk Rao Api meminta daftar tanaman spiritual yang dibutuhkan dari Raja Pedang.
Setelah menerima daftar tanaman spiritual yang dibutuhkan. Datuk Rao Api minta tetua Masiak yang bertanggung jawab dengan kebun herbal spiritual untuk menyediakan semua yang dibutuhkan.
Tetua Masiak membaca daftar tanaman yang diminta Raja Pedang. Pria yang semua rambutnya sudah memutih itu mengangguk angguk. Setelah itu dia memanggil seseorang.
"Bala, siapkan semua tanaman spiritual ini dan segera bawa kesini."
"Baik tetua" seorang lelaki tiga puluhan menerima daftar dari tetua Masiak dan segera menghilang.
Sambil menunggu Bala kembali membawa tanaman herbal spiritual. Beberapa orang gadis menghidangkan buah lontar yang telah dikupas.
"Silahkan dicicipi Raja Pedang dan kawan-kawan semua. Ini adalah buah lontar muda, khas tanaman ditempat kami"
Datuk Rao Api memberi contoh cara memakannya. Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi, Malin, Nirmala dan Nuri kemudian mencoba memakan buah lontar muda itu.
__ADS_1
"Waaah...!!"
\=\=\=\=\=***