
Satu persatu semua orang turun dari kereta dan pedati. Semua berkumpul duduk melingkar. Dua orang perawat binatang ternak memberi makan dan minum untuk kuda, kerbau dan sapi.
"Ayo keluarkan bekal kita. Kita makan siang dulu bersama." Datuk Rasam Gunung ayahnya Rimba Rasam mengajak semua anggota rombongan untuk makan siang. Semua anggota rombongan makan dengan nikmat. Suasana terasa sangat menyenangkan. Angin lembut bertiup membawa kantuk bagi rombongan Datuk Rasam Gunung. Rimba Rasam sedang asik berenang di sungai Besi.
Rombongan yang sedang bersantai itu, tiba-tiba terkejut ketika muncul banyak orang bersikap garang mengepung. Kelompok itu dipimpin oleh seorang pemuda gagah berusia tiga puluhan tahun. Wajah pemuda itu cukup baik dan sama sekali tidak seperti orang jahat. Namun ternyata mereka adalah ketua dari kelompok penyamun sadis. Kelompok penyamun yang sudah sangat terkenal yaitu Penyamun Tanjung Marwo.
Rimba Rasam mengamati dan mendengar semua dari balik semak didalam sungai Besi. Rimba Rasam ingin keluar dari sungai dan memeluk ibunya. Namun seperti ada bisikan lain, yang membuat dirinya berdiam begitu saja di tempatnya sekarang. Ia harus bisa bertahan dan tidak boleh ketahuan. Rimba Rasam, anak lanang berusia sepuluh tahun itu menggigil menahan takut dan amarah. Namun dia tidak berani keluar dari sungai Besi.
Hampir selama dua jam terjadi pertempuran sengit. Akan tetapi rombongan Datuk Rasam Gunung bukanlah lawan kelompok Penyamun Tanjung Marwo. Meski Datuk Rasam Gunung adalah seorang pendekar tingkat bumi awal. Lawannya juga berada ditingkat yang sama. Namun dengan dibantu dua anak buahnya yang sudah ditingkat raja menengah. Datuk Rasam Gunung makin lama makin terdesak hebat.
Akhirnya semua seluruh anggota rombongan Datuk Rasam Gunung mati terbunuh. Rimba Rasam hampir tidak mampu menahan diri untuk tidak keluar dari tempat dia sembunyi. Namun dia masih bisa terus bertahan. Kalau dia keluar, bisa dipastikan dia juga akan terbunuh. Selama nyawa masih ada dibadan, kesempatan untuk melakukan pembalasan akan tetap ada.
Setelah kelompok Penyamun Tanjung Marwo pergi dengan semua hasil rampasannya. Pelan-pelan Rimba Rasam merangkak keluar dari sungai. Dia memeluk jasat ayah dan ibunya. Tidak ada tangisan, tidak ada air mata. Hanya ada kubangan dendam teramat pekat dihati pemuda kecil itu.
Rimba Rasam menyimpan wajah pemuda yang menjadi pemimpin kelompok itu. Penyamun yang membunuh orang tua dan semua anggota rombongan mereka, suatu hari nanti akan membayar berikut bunganya. Rimba Rasam bertekad untuk bisa berguru kepada orang sakti. Dia yakin surga akan memberi kesempatan untuk menagih semua hutang-hutang dengan seluruh bunganya.
flash back end
Malam merangkak semakin jauh. Rimba Rasam tidak bisa tenang memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dia tidak mengira Tungka Bulian adalah orang yang dia cari selama ini. Selama puluhan tahun dia menyimpan semua dendam ini dengan rapi. Dia tidak ingin merusak putri kesayangannya dengan urusan dendam ini.
Rimba Rasam memang berhasil mendapat guru pendekar sakti. Bahkan Rimba Rasam sendiri juga termasuk seorang sakti ditingkat langit puncak. Tapi Tungka Bulian saat ini berada ditingkat suci tinggi. Bagaimanapun caranya dia tidak akan pernah mampu untuk berhadapan dengan Tungka Bulian.
Sampai pagi datang Rimba Rasam tetap terjaga dan tidak bisa memejamkan matanya.
Kepala Desa Semak itu juga tidak ingin anak gadisnya tau keadaan ini untuk saat ini. Walaupun agak pusing karena tidak tidur, Rimba Rasam selalu yakin dengan keajaiban surga.
__ADS_1
Keajaiban surga benar-benar datang. Kepala Desa Semak sedang sarapan bersama putrinya Mayang Mangurai. Seorang pengawal masuk melapor setelah memberikan sembah.
"Maaf Tuan Kepala Desa, nona Elok dari penginapan datang bersama tiga orang pendekar."
"Antarkan mereka langsung kesini" Rimba Rasam dengan cepat memberi perintah. Pengawal itu buru-buru keluar.
Sesaat kemudian dia kembali bersama nona Elok beserta Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala.
Rimba Rasam sedikit merasa ragu melihat kearah Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi serta Nirmala ketika memasuki ruangan. Namun Kepala Desa Semak tertegun karena tidak bisa membaca tingkatan tiga pendekar muda didepannya. Dia buru-buru berdiri dan memperkenalkan dirinya dan putrinya.
"Selamat datang tuan dan nona pendekar. Saya Rimba Rasam dan ini putriku Mayang Mangurai. Bolehkah kami mengenal tuan dan nona pendekar ?" Rimba Rasam dan Mayang Mangurai menjura memberi hormat. Mayang Mangurai menatap agak lama kepada Lindu yang tampan. Dhamma Mayang dan Nirmala tersenyum kecil melihatnya.
Lindu bersama kedua istrinya balas menjura.
"Banyak orang memanggil kami dengan nama Raja Pedang dan mereka adalah istriku dikenal sebagai Sepasang Bidadari.
"Mari Raja Pedang dan Sepasang Bidadari bergabung sarapan bersama kami." Rimba Rasam dengan ramah mempersilahkan Lindu serta Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala.
Rimba Rasam menjelaskan pada Raja Pedang tentang siapa Tungka Bulian yang mengaku Patriak sekte Kala Hitam. Rimba Rasam juga menjelaskan kebohongan sekte Kala Hitam yang mengaku dari golongan netral.
"Baiklah, bisakah kita yang mendatangi markas sekte Kala Hitam ? atau memang kita harus menunggu Tungka Bulian yang datang ke sini ?"
"Sebaiknya kita tunggu kedatangan mereka. Karena menurut informasi yang kami dapatkan, butuh waktu setengah hari menuju markas mereka. Itupun kita harus dengan kecepatan tinggi kuda yang bagus." Rimba Rasam menjelaskan kepada Raja Pedang dan Sepasang Bidadari.
"Menurut perhitungan sekitar dua jam lagi mereka akan sampai disini." suara tenang dan lembut dari Mayang Mangurai terdengar jelas.
__ADS_1
Sambil menunggu datangnya Tungka Bulian mereka menata cara untuk menerima rombongan Tungka Bulian. Komandan keamanan desa Semak ikut diskusi bersama Raja Pedang dan Rimba Rasam.
Mayang Mangurai berbincang cukup akrab dengan Nirmala dan Dhamma Mayang.
"Aku tidak menyangka kehidupan ayah begitu menyakitkan. Puluhan tahun membawa beban dendam di dalam hatinya. Selama ini tidak pernah kelihatan kalau ayahku berusaha mencari pembunuh orang tuanya. Kakek dan nenekku." Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi hanya melihat kearah Mayang Mangurai tanpa bersuara.
"Aku juga tidak menyangka, Tungka Bulian seorang Patriak sekte Kala Hitam dari golongan netral adalah seorang penjahat besar. Aneh sekali, ayah sudah menjadi kepala desa Semak selama dua puluh tahun. Tidak sekali jua mereka bertemu." Mayang Mangurai melanjutkan celoteh nya.
Tiba-tiba seorang pengawal masuk tergopoh-gopoh.
"Tuan, Tungka Bulian telah datang bersama rombongan besar." pengawal itu melapor kepada Kepala Desa.
Rimba Rasam berdiri perlahan sambil menarik nafas panjang diikuti Komandan pengawal. Lindu bersama Nirmala dan Dhamma Mayang serta Mayang Mangurai mengikuti Kepala Desa keluar.
"Tuan Kepala Desa, terimalah rasa hormat ku." Tungka Bulian menjura dalam kepada Rimba Rasam. Semua anggota rombongan yang ikut turut menjura dalam.
Rimba Rasam menatap diam kearah Tungka Bulian beserta seluruh rombongannya. Ada kilatan niat melintas dimata Rimba Rasam. Itulah kilatan dendam yang teramat dalam. Namun meskipun hanya sekilas, Tungka Bulian bisa melihat dan memahami nya. Patriak sekte Kala Hitam itu mengernyitkan keningnya. Dia berlagak tidak tau, dan bertanya.
"Apakah kepala desa tidak merasa perlu mengundang kami masuk ?" Tungka Bulian bertanya sopan. Dia menatap dalam kepada Rimba Rasam.
Rimba Rasam juga menatap dalam kearah Tungka Bulian dan menghela nafas panjang sebelum bicara.
"Tungka Bulian..." Rimba Rasam kembali menghela nafas panjang. Tungka Bulian dan rombongan diam menunggu.
"Patriak sekte Kala Hitam dan juga Raja Penyamun Tanjung Marwo.... "
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=