
"Apa yang kau lakukan, apa yang masukan ke mulut ku ?" tawanan itu bertanya dengan gusar pada Lindu. Lindu diam dan tersenyum kecil. Sepuluh menit kemudian...
"Sudah waktunya..." Lindu memberi tau Andini. Andini sedikit bingung melihat Lindu. Dia melihat Lindu dengan tatapan penuh tanya.
"Panglima bisa bertanya pada tawanan ini sekarang." Lindu berkata dan senyuman kecil terlihat diwajahnya. Pemuda itu mundur dan berdiri tenang disamping Dhamma Mayang.
Andini mulai bertanya kepada tawanan tersebut. Tawanan itu menjawab apapun yang ditanyakan Andini.
"Sekarang jelaskan kapan Datuk Hitam Parigi menyerbu kerajaan Bunian dan berapa besar pasukannya ?!" Ratu Shima bertanya setelah mendengar tanya jawab Andini dengan tawanan tersebut. Tawanan itu tampak berjuang untuk menahan diri agar tidak menjawab pertanyaan Ratu Shima. Tapi pil kejujuran yang dicekoki Lindu sangat kuat. Tawanan itu mampu menolak pengaruh pil kejujuran yang dicekokin Lindu. Dengan wajah yang berantakan dan mata merah mendelik karena marah, tawanan itu tetap menjawab dan menjelaskan dengan rinci apa yang ditanyakan Ratu Shima.
Setelah mendengar jawaban lengkap dari tawanan, Ratu Shima meninggalkan ruangan interogasi. Penguasa itu mengingatkan agar tawanan itu jangan dipukulin lagi. Tapi dia berbisik pada Andini agar memberi racun pelemah otot untuk tawanan tersebut.
Ratu Shima duduk anggun di singgasana kebesarannya yang terbuat dari kayu jati berlapis emas dan bertahtakan batu permata. Dihadapannya duduk tertib semua petinggi kerajaan Bunian. Setelah mengenalkan putri kandungnya Nirmala serta putrinya yang lain yaitu Dhamma Mayang. Ratu Shima mengenalkan Raja Pedang menantunya.
Ratu Shima menjelaskan pada semua yang hadir, bahwa purnama depan penguasa Rawa Hitam akan menyerang kerajaan Bunian. Jumlah pasukan mereka tidak banyak. Hanya tiga ribu orang, namun jumlah itu kekuatannya setara dengan tiga puluh ribu pasukan terlatih.
Wajah-wajah yang tadinya santai dan gembira, berobah menjadi serius. Sebagian dari mereka merasa kaget bukan kepalang. Kenapa tiba-tiba penguasa Rawa Hitam yang selama ini tidak ada gesekan, menyerang nagari Bunian ?
Bayu seorang panglima muda pasukan nagari Bunian bertanya dengan nada ragu.
"Maaf Yang Mulia Ratu, bagaimana bisa dengan jumlah pasukan yang hanya berjumlah tiga ribu, memiliki kemampuan melebihi tiga puluh ribu pasukan terlatih ?"
Komandan yang lain juga memberi tanggapan.
"Tidak ada yang perlu kita takutkan. Kita memiliki lima puluh ribu pasukan dan masih di ada lima belas ribu pasukan cadangan."
"Meski pasukan kita banyak, apakah kita akan membiarkan puluhan ribu pasukan kita untuk mati. Setelah menang, seberapa besar berkurangnya kekuatan kita setelah itu ?" Ratu Sijundai melanjutkan setelah menarik nafas.
"Tiga ribu pasukan tempur Rawa Hitam terdiri dari personal kuat. Mereka terdiri atas:
- 800 pendekar tingkat perak
- 2000 pendekar tingkat emas
- 200 pendekar tingkat raja
- 4 komandan tingkat langit
__ADS_1
- 2 komandan tingkat suci
- seorang panglima tingkat agung
Belum termasuk Datuk Hitam Parigi dan Mambang muridnya. Apa kalian pikir pasukan kita meski berjumlah lima puluh ribu orang akan mampu menghadapi mereka?"
Ratu Sijundai balik bertanya pada semua yang hadir. Semua yang hadir jadi diam. Tidak ada suara. Mereka semua menyadari bahwa kemampuan prajurit nagari Bunian rata-rata berada ditingkat perunggu. Tingkat perak dan emas adalah para komandan regu.
Keheningan menyelimuti ruangan besar itu. Terdengar helaan nafas berat dari beberapa panglima kerajaan Bunian.
"Baiklah... Kalian pikirkan apa rencana yang akan kita buat untuk menghadapi serbuan dari penguasa Rawa Hitam. Besok kalian kembali kesini dengan ide-ide yang bagus dan benar." Pertemuan itu dibubarkan Ratu Sijundai.
Ratu Shima kembali keruang kerja pribadi diikuti Larasati dan Andini. Lindu, Nirmala dan Dhamma Mayang turut ngintil.
Sesampai diruang kerja pribadinya, Ratu Shima menatap Lindu.
"Bagaimana rencana mu tadi Lindu."
Semua mata melihat pada Lindu, mendengar Ratu Shima bertanya pada pemuda itu. Setelah menghela nafas, Lindu menjelaskan rencana yang ada di kepalanya.
"Pertahanan yang paling baik adalah menyerang." Lindu membuka penuturannya dengan satu kalimat filosofi bela diri. Dia melanjutkan.
Dengan kekuatan yang mereka miliki saat ini, seperti apa yang Bunda Ratu jelaskan dalam rapat. Cukup sepuluh orang kita bisa menghapus penghuni Rawa Hitam."
Lindu dengan gaya yakin menyampaikan pemikiran yang ada dalam kepalanya. Semua orang menatap pemuda itu dengan penuh tanda tanya.
"Coba jelaskan lebih detail ide mu itu." Ratu Shima minta Lindu untuk menjelaskan idenya untuk menjadi suatu serangan yang benar-benar mematikan.
"Begini.... Seperti kata Bunda. Kekuatan pasukan Rawa Hitam terdiri terdiri atas pendekar tingkat perak, emas dan raja. Menurut hematku, lima orang dengan kekuatan dan kemampuan pendekar tingkat suci bisa menindas dan melenyapkan mereka dalam waktu kurang dari satu jam.
Untuk komandan pasukannya yang enam orang berada ditingkat langit dan suci mestinya dengan seorang tingkat suci puncak dan tiga orang tingkat suci awal sampai menengah juga bisa menghabisi mereka dalam waktu kurang dari satu jam."
Penjelasan Lindu merobah cara pandang semua orang yang ada dalam ruangan itu. Lindu melanjutkan...
"Sekarang yang paling penting kita mendata kekuatan utama yang ada pada kita. Setelah itu baru bisa menyusun strategi penyerangan." Lindu menatap Ratu Shima, Larasati dan Andini bergantian. Ratu Shima juga menatap Larasati dan Andini bergantian.
"Ayo kita buat peta kekuatan kita sekarang." Larasati mulai membuat peta kekuatan pihak nagari Bunian.
__ADS_1
- Ratu Shima kekuatan agung tinggi.
- Larasati kekuatan agung tinggi.
- Andini kekuatan agung awal.
- Panglima Lantera, panglima Antaroa dan Panglima Bayu, kekuatan suci menengah.
- Panglima Tari kekuatan langit tinggi
- Panglima Kubai dan panglima Ubai kekuatan langit awal.
"Ini peta kekuatan utama nagari Bunian." Larasati memperlihatkan data yang telah dia susun.
"Berdasarkan data ini, dengan tambahan kami bertiga sudah cukup untuk menghancurkan kekuatan Rawa Hitam." Lindu menanggapi dengan tegas setelah mempelajari data Larasati.
Ratu Shima dan Larasati menatap Lindu dengan seksama.
"Seberapa besar keyakinan mu Raja Pedang ?" Larasati balik bertanya dengan suara penuh tekanan.
"Sembilan puluh sembilan persen." jawab Lindu dengan sangat yakin. Nirmala dan Dhamma Mayang menatap Lindu dengan penuh semangat. Kesempatan untuk mengasah keahlian dalam pertarungan hidup dan mati. Adalah suatu hal yang sangat menyenangkan dan cepat membuat terobosan menurut pikiran kedua gadis cantik itu.
"Baiklah... jika begitu, hari ini cukup sampai disini. Besok matangkan rencana bersama semua orang yang telah didata oleh Larasati." Ratu Shima mengakhiri pertemuan itu.
Sementara itu di markas Rawa Hitam. Datuk Hitam Parigi tengah menyusun strategi penyerbuan ke istana Bunian.
Berkumpul dalam ruangan itu Mambang, murid tunggal Datuk Hitam Parigi. Matanya yang bolong telah digantikan dengan mata ular Sanca yang sudah diawetkan. Tidak berfungsi untuk melihat, tapi bisa mengganggu konsentrasi lawan. Tentu saja ada disitu panglima Mangkuto yang diam-diam sangat menyukai Datuk Hitam Parigi. Serta semua komandan pasukan Rawa Hitam.
"Purnama depan tinggal tiga minggu lagi. Kapan anggota pasukan penyusup memberi laporan pada kita ?" Datuk Hitam Parigi bertanya kepada Darulis komandan dari pasukan penyusup.
"Laporan terakhir yang kami terima adalah tadi pagi. Dari dua puluh pasukan penyusup yang dikirim. Sepuluh orang telah bergabung menjadi pengawal istana Bunian sepuluh orang dan lima orang menjadi pelayan dilingkungan istana Bunian. Sedangkan lima orang lagi masih berkeliaran di sekitaran istana Bunian." Darulis menjawab pertanyaan Datuk Hitam Parigi. Penguasa Rawa Hitam itu mengangguk puas.
"Saat ini suasana istana Bunian lagi diliputi suasana bahagia. Putri tunggal Ratu Sijundai, Nirmala datang ke istana bersama calon suaminya. Namun kami belum mendapatkan informasi terkait dengan calon suami Nirmala." Darulis melanjutkan laporannya.
"Itu pasti pemuda yang mengaku sebagai Raja Pedang. Sepertinya kekuatan nya setara dengan Mangkuto." Mambang menanggapi laporan dari Darulis. Mendengar itu, Datuk Hitam Parigi memberi perintah tegas pada Darulis terkait Raja Pedang.
"Darulis... cari informasi lengkap terkait dengan Raja Pedang. Cari informasi itu di nagari Bunian dan benua Emas. Itu akan sangat penting bagi kita untuk menyusun strategi penyerbuan ke istana Bunian."
__ADS_1
Pagi itu ketika matahari nagari Bunian setinggi penggalan. Ruang pertemuan khusus istana Bunian penuh. Semua orang yang telah didata Larasati hadir dengan seragam resmi. Lengkap dengan persenjataan mereka. Pertemuan itu adalah untuk menyusun strategi penyerangan yang akan dilakukan ke markas Rawa Hitam.
\=\=\=***