
"Apa maksudmu dengan mengampuni mereka Marda ?" Nuri akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaran dalam hatinya. Dia menatap Marda dengan alis mata yang hampir bertemu kedua ujungnya.
Marda menghembuskan nafas panjang. "Yaa.... Jangan bunuh mereka, kasihan. Kita potong saja lidah mereka, lalu hilangkan fungsi pendengaran mereka. Sehingga mereka tetap hidup, tapi tidak akan bisa membuka rahasia lagi." Marda menjelaskan dengan santai tanpa ekspresi.
Nuri, Rao Mudo dan Malin saling bertukar pandang. Bulu roma mereka berdiri karena ngeri membayangkan siksaan yang diusulkan Marda. Tiga orang anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah itu pucat pasi. Apa yang diusulkan Marda jauh lebih buruk dari pada kematian. Mereka bertiga akan berubah menjadi manusia idiot. Sudah dipastikan setelah lolos dari kematian ditangan empat pendekar muda itu. Mereka pasti akan mati dan disiksa lebih dulu oleh sekte Tengkorak Merah.
Tiga anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah itu saling bertukar pandang. Mereka tanpa komando memaki maki Marda dalam hati.
Dari bertukar pandang itu mereka menyadari lebih baik mati. Dari pada hidup dalam keadaan cacat dan terhina seperti apa yang dikatakan Marda.
Tiga orang anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah meraih kembali sejak mereka. Jari-jari tangan mereka memutih karena menggenggam senjata mereka dengan sangat kuat.
Mereka menatap Nuri, Malin dan Rao Mudo. Terakhir tatapan mereka berhenti pada Marda. Tatapan itu dipenuhi kebencian yang pekat dan kemarahan. Marda balas menatap mereka dengan cuek dan tidak peduli.
Heaaa....!!!
Jleebb...!! Slaash...!! Jleebb..!!
Tiga orang anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah melakukan bunuh diri. Yang dua orang menusuk jantung mereka sendiri dan yang satu menggorok batang lehernya.
Nuri, Malin dan Rao Mudo tertegun melihat semua itu. Marda tetap santai tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Mardaaa..." Nuri meneriakan nama Marda. Marda melihat Nuri dengan tatapan penuh tanya.
"Yaa... ada apa Nuri ?"
"Ayo jelaskan semua ini..."
"Aku hanya nakut nakutin mereka saja kok..." Marda menjawab pertanyaan Nuri dengan wajah lucu tanpa rasa bersalah.
Ditengah hutan lelembut di kedalaman Tano Niha. Pasukan gabungan dari tiga kekaisaran dan Pendekar dari berbagai sekte dan klan telah berkumpul. Kaisar Dharma Andaleh berorasi dengan penuh semangat.
"Saudara saudara ku dari tiga kekaisaran benua Emas. Sahabat semua dari berbagai sekte dan klan serta semua pendekar. Hari ini kita akan melakukan penyerangan terhadap gerombolan Tengkorak Merah.
Satu hal yang perlu diingat oleh kita semua. Kita berjuang bersama untuk menghapus keberadaan gerombolan Tengkorak Merah yang selama ini telah mengganggu kedamaian di benua Emas. Jadi jangan pernah berfikir untuk memberi ampunan.
Baiklah, hari ini kita mulaikan perang melawan kemungkaran. Lakukan seperti yang telah direncanakan !!" Kaisar Dharma Andaleh mengakhiri orasinya. Semua pasukan dan pendekar yang ada berteriak mengacungkan tinju mereka dengan penuh semangat.
Hari itu, sejarah baru ditulis di benua Emas. Tidak pernah bisa dibayangkan, semua kelompok golongan putih. Baik itu sekte besar sampai kecil, Klan klan besar dan kecil serta tiga kekaisaran bersatu untuk menghancurkan sekte Tengkorak Merah.
Setelah segala sesuatu diatur. Semua orang yang hadir memecah diri dalam tiga kelompok besar. Kemudian semua mulai bergerak menuju posisi masing-masing.
"Sepertinya kita harus segera kembali ke koto Hilinaghe. Atau kita langsung saja menuju Lembah Tengkorak dekat koto Hilifalao ?" Dhamma Mayang bertanya kepada Lindu.
__ADS_1
"Mungkin kita pergi Hilifalao lebih dulu. Jika ternyata nanti ada perkembangan lain, kita langsung menuju Lembah Tengkorak." Sepasang suami istri perkasa itu kemudian menghilang begitu saja.
Markas besar sekte Tengkorak Merah.
Patriak sekte Tengkorak Merah Setan Merah duduk diatas kursi kebesarannya didepan sebuah meja besar. Semua Pimpinan sekte dan klan sekutu serta yang sudah tunduk kepada sekte Tengkorak Merah duduk mengelilingi meja besar itu.
"Berdasarkan informasi telik sandi kita. Pasukan gabungan yang dipimpin oleh kaisar Dharma Andaleh dari Kekaisaran Suvarnabhumi sudah berada di Tano Niha. Mungkin dalam waktu dekat ini, sekitar satu atau dua Minggu dari sekarang."
"Patriak,..." Dubilih Galo, Patriak dari sekte Dubilih Enggano mengangkat tangan. Setan Merah memberi kesempatan kepada Dubilih Galo.
"Aku pikir kita harus mendapat kepastian, kapan mereka datang menyerang. Jika prediksi waktu kita salah, bisa berakibat sangat fatal." Semua yang hadir setuju dengan pernyataan Dubilih Galo.
"Tidak usah terlalu risau. Hari ini utusan Tengkorak Merah tuan Tun Dayak dari Semenanjung Malayana, bersama dengan utusan dari Tionggoan tuan Mo Sin Xianseng dan Gu Xiang sedang dijemput oleh Kuto Arik." Setan Merah menjelaskan dengan bangga. Kemudian dia melanjutkan...
"Adanya bantuan dari Semenanjung Malayana, Tionggoan dan lainnya. Raja Pedang tidak akan bisa berbuat apa-apa pada kita. Tano Niha akan menjadi kubur bagi Raja Pedang dan yang lainnya."
Setan Merah bersama semua pimpinan setiap rombongan lanjut berdiskusi untuk mengatur strategi. Suara bergalau saling debat dan dukung terdengar.
Sedang mereka tenggelam dalam diskusi untuk menyusun strategi. Tetua yang bertanggung jawab memimpin divisi telik sandi muncul. Setelah mendapat izin, dia berbisik ke telinga Setan Merah.
Sesaat kemudian wajah Setan Merah berubah. Sebentar merah, sebentar pucat. Dia menatap mengawang kepada semua orang yang duduk melingkari meja besar pertemuan.
__ADS_1
Dubilih Galo dan Sagalo Lincia menatap Setan Merah dengan tatapan penuh tanya.
\=\=\=\=\=***