Raja Pedang

Raja Pedang
#53. Menyerang Markas Rawa Hitam


__ADS_3

Pagi itu semua orang yang telah didata Larasati berwajah serius. Mereka mendengar penjelasan dari Ratu Sijundai tentang rencana penerapan strategi serangan senyap ke markas Rawa Hitam. Untuk detail rencana, Ratu Sijundai meminta Lindu untuk menjelaskan.


"Jumlah kita yang berkumpul saat ini sebanyak dua belas orang. Kita akan melakukan serangan gerilia sebagai serangan awal. Target kita adalah menghapus kekuatan pasukan tempur Rawa Hitam secara maksimal. Dalam waktu singkat."


Serangan awal akan dilakukan oleh tujuh orang. Sasaran serangan awal ini adalah barak pelatihan pasukan Rawa Hitam. Pasukan awal ini terdiri atas panglima Lantera, panglima Tari, panglima Kubai dan panglima Ubai. Tiga lainnya adalah Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala merasa senang dan bersemangat ketika bisa maju untuk penyerbuan di awal. Ratu Shima menunjuk Lindu sebagai pemegang komando team serangan awal. Adapun Ratu Sijundai, Larasati, Andini serta Antaroa dan Bayu sebagai pasukan pendukung. Pasukan pendukung akan masuk medan pertempuran bila semua komandan pasukan Rawa Hitam berserta Datuk Hitam Parigi muncul.


"Ada yang masih mau ditanyakan ?"


Lindu menatap semua orang yang hadir, satu demi satu. Panglima Lantera yang bertanya.


"Kapan kita akan berangkat ? Mohon diberi kejelasan. Biar kami bisa segera menyiapkan diri."


"Kita akan berangkat dari sini bersama sama. Kalian sudah tidak diizinkan untuk meninggalkan tempat tanpa persetujuan dariku." Ratu Sijundai menjawab.


"Semua barang pribadi kalian telah dibawa kesini oleh orang yang aku tugas ku. Kostum yang akan digunakan untuk saat penyerangan nanti juga sudah disiapkan disini. Semua ini aku lakukan agar rencana kita tidak bocor keluar." Ratu Sijundai menerangkan lebih lanjut.


"Sampai saat penyerangan tiba, tidak ada satu orangpun yang boleh keluar dari ruangan ini !"


Sore itu, komandan Darulis menghadap Datuk Hitam Parigi yang sedang diskusi dengan Panglima Mangkuto dan Mambang muridnya.


"Ada apa Darulis..?" Mangkuto menatap Darulis dengan tatapan sadis. Meskipun suara Mangkuto melambai, Darulis sangat takut kepada Mangkuto. Karena meskipun secara hirarki dia hanya satu tingkat dibawah Mangkuto. Panglima setengah matang itu bertindak sadis jika dia berbuat salah.


"Maaf panglima, saya mau melapor. Raun, salah seorang team penyusup yang kita kirim telah tertangkap. Dari kemarin sampai hari ini masih ada diruang interogasi istana Bunian."


"Apa reaksi yang terlihat di istana ?" panglima Mangkuto bertanya.


"Belum ada. Sepertinya Raun masih tutup mulut. Karena dari pagi tadi hingga malam ini pihak istana Bunian masih mengadakan pertemuan." komandan Darulis mencoba menjelaskan seperti laporan yang diterimanya.

__ADS_1


"Datuk, ada baiknya serbuan ke istana Bunian dipercepat. Agar kalau terjadi kebocoran informasi. Pihak istana Bunian tidak punya cukup waktu untuk bersiap." Mangkuto memberi masukan kepada Datuk Hitam Parigi. Setelah diam sejenak untuk berfikir, Datuk Hitam Parigi kembali bertanya.


"Kapan pasukan kita bisa siap untuk bergerak ?"


"Paling lambat satu minggu lagi." Panglima Mangkuto memastikan kepada Datuk Hitam Parigi.


"Baik, kalau begitu siapkan portal khusus untuk pasukan kita agar mudah masuk dan keluar nagari Bunian."


"Oh ya, bagaimana informasi yang berhasil dikumpulkan terkait menantu Ratu Sijundai ?" Datuk Hitam Parigi minta penjelasan lebih lanjut pada Darulis dan Mangkuto.


"Mestinya besok, lima orang yang semalam dikirim sudah ada yang kembali. Sedikit banyak informasi tentang menantu Ratu Sijundai kita akan dapatkan. Namun begitu berdasarkan informasi dari tuan muda Mambang, tidak ada yang perlu kita takutkan." Mangkuto mencoba untuk memberikan keyakinan.


Dinihari, ketika semua orang berada dipuncak tidurnya. Serombongan orang keluar melesat dengan cepat dari istana Bunian. Tiga bayangan langsung terbang ke udara, melayang seperti burung besar. Sembilan bayangan lainnya melenting dari pohon ke pohon dengan sangat cepat.


Dalam waktu singkat semua bayangan berkumpul dan keluar dari portal dimensi. Bayangan itu ternyata adalah rombongan Ratu Shima yang akan Menyerang markas Rawa Hitam. Ratu Shima setuju untuk melakukan serangan mendadak diwaktu dini hari.


Lindu, Bidadari Suvarnabhumi, Nirmala bergerak cepat menuju barak pasukan Rawa Hitam. Dari arah yang berlawanan juga datang dengan cepat panglima muda Lentera bersama Tari, Kubai dan Ubai.


Datuk Hitam Parigi tersentak ketika merasakan tiga rombongan dengan energi besar bergerak cepat menuju markas Rawa Hitam. Penguasa itu mencoba kaget ketika menyadari energi besar yang bergerak dari arah depan adalah aura energi Ratu Sijundai. Datuk Hitam Parigi segera menuju langkan. Disana sudah ada panglima Mangkuto, Mambang muridnya dan dua orang komandan pasukan Rawa Hitam.


"Itu Ratu Sijundai bersama dua pengawalnya dan dua orang lainnya menuju kesini." Baru saja penguasa Rawa Hitam itu selesai bicara Ratu Shima, Larasati dan Andini serta Antaroa dan Bayu sudah berdiri dihalaman.


"Ratu Sijundai, berani sekali kau datang ketempat ku pagi buta begini." Ratu Shima yang juda sudah tau bahwa Datuk Hitam Parigi sudah menunggu kedatangannya, tertawa.


"Tidak sia-sia kau menjadi penguasa di rawa hitam ini. Pagi buta begini kau sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan ratumu."


Para pengawal yang tadinya sudah pada terkantuk-kantuk langsung bangun. Mereka berdiri melingkari Ratu Shima dan rombongannya.


"Ha haa haaa.... Ratu Sijundai, apakah kau sudah tidak bisa menahan hasrat untuk ber..." Ucap Datuk Hitam Parigi terputus ketika terdengar suara ledakan dan jerit kematian serta jeritan kesakitan dari arah barak pasukan tempur Rawa Hitam.

__ADS_1


Bumm...!! Dhuaarr.....!!!


Blarr...!!


Aaachhhh...!! Aaaachhh...!!


Datuk Hitam Parigi dan Mangkuto serta semua orang Rawa Hitam yang ada tersentak. Ratu Sijundai tersenyum lebar.


"Ratu Sijundai jelaskan apa maksudnya ini...??" Datuk Hitam Parigi membentak Ratu Shima. Yang dibentak tertawa dan bicara dengan lantang.


"Bukankah kau purnama depan akan menyerang kami dengan tiga ribu pasukan tempur khusus Rawa Hitam ? Nah kami langsung datang untuk membereskan kalian semua saat ini."


"Bunuh Ratu sialan ini dengan seluruh rombongannya...!!!" Datuk Hitam Parigi berteriak memberi perintah dan menerjang sangat cepat pada Ratu Shima.


Pertarungan besar segera terjadi. Dentuman dan teriak kesakitan terdengar berulang ulang. Para pengawal yang tadinya mengurung Ratu Sijundai beserta rombongan akhirnya menjauh. Beberapa dari pengawal itu sudah ada yang tewas dan terluka, karena imbas angin pukulan yang lolos dan efek bias ledakan energi dari benturan dua tenaga besar mengandung energi mendalam dan zhenqi.


Kita lihat area barak pasukan tempur Rawa Hitam. Lindu bersama Nirmala dan Dhamma Mayang membombardir bangunan barak dengan tembakan energi mendalam dan zhenqi dari kedua tangan mereka. Beberapa bangunan barak hancur dan menewaskan banyak penghuninya. Komandan Darulis bersama tiga komandan lainnya langsung menerjang kearah Nirmala dan Dhamma Mayang. Namun Lantera, Tari beserta Kubai dan Ubai segera menghadang mereka. Pertempuran para komandan itu berlangsung seru dan seimbang.


"Lantera... kenapa kau menyerang kami ??" Darulis berteriak kepada panglima muda Lantera.


"Hari ini adalah hari dimana wilayah rawa hitam akan dihancurkan." ucap Lantera.


Sementara itu pembantaian besar besaran terjadi pada anggota pasukan tempur Rawa Hitam.


Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi bergerak seperti mesin pembunuh. Kemanapun pedang dan kerambitnya bergerak pasti ada nyawa yang melayang. Lindu tidak banyak berbuat, dia lebih bergerak untuk menjaga dan menjadi proteksi serangan tersembunyi. Dalam waktu singkat lebih dari seribu orang pasukan tempur Rawa Hitam yang tergeletak. Hal itu mulai menurunkan semangat tempur pasukan Rawa Hitam. Itu menjadikan Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala lebih mudah dalam rangka membantai mereka.


Pertarungan antara panglima muda Lantera melawan komandan Darulis tampak seimbang. Mereka berdua sama-sama menderita luka pada tubuh mereka. Pertarungan mereka berlangsung sengit.


\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2