
Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa berdiri gagah di pelataran markas cabang gerombolan Tengkorak Merah. Kedua tangan Wisesa tergenggam senjata pusaka belati Tumbak Lada.
Tumbak Lada ada belati unik berbentuk cakar macan. Berukuran kecil sekitar satu jengkal saja. Namun demikian mata dan ujung ini sangat tajam. Tumbak Lada adalah senjata ini sangat mematikan. Digunakan dalam pertarungan jarak dekat. Sangat sulit untuk mengantisipasi serangan pendekar yang menggunakan tumbak lada sebagai senjata.
Setan Tengkorak beserta tiga pentolan utama gerombolan Tengkorak Merah melihat banyak anggota gerombolan yang tergeletak tak bernyawa dekat Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa. Pimpinan cabang gerombolan Tengkorak Merah itu tergetar hatinya ketika melihat Datuak Batungkek Ameh. Siapa yang tidak kenal Datuak Batungkek Ameh diwilayah tengah benua Emas ?
"Oooo... Datuak Batungkek Ameh rupanya. Mau apa kau datang ketempat kami ?"
Datuak Batungkek Ameh menatap tajam pada Setan Tengkorak.
"Aaa... kami kebetulan lewat. Mendengar berita buruk tindakan gerombolan Tengkorak Merah. Jadinya kami berkunjung sekalian ke markas kalian ini." Datuak Batungkek Ameh menjawab pertanyaan Setan Tengkorak dengan santai.
"Kalau cuma berkunjung kenapa kau membunuh banyak orang kami ?!" Setan Tengkorak bertanya dengan nada agak tinggi. Bagaimana juga, saat ini mereka berada di markas tempat kekuasaannya. Lelaki setengah baya itu dengan pemuda disebelahnya, telah membunuh banyak anggota gerombolan Tengkorak Merah.
"Itu karena mereka bersikap sangat kasar dan kurang ajar." Datuak Batungkek Ameh menjawab dan melanjutkan dengan pertanyaan retoris.. "Atau mungkin apa mereka tau kalau kami datang untuk menghancurkan sarang gerombolan penyamun sialan ini ?"
Wajah Setan Tengkorak dan rekan rekannya menjadi merah padam saking marahnya.
"Tua bangka setan...!!"
"Ha haa haaa haaaa... Aku Datuak Batungkek Ameh udah tua memang. Tapi bukan setan. Bukannya setan itu nama mu ?" Datuak Batungkek Ameh menanggapi Setan Tengkorak dengan tatapan mengejek. Setan Tengkorak merah menghitam wajahnya oleh amarah.
"Bunuh dua monyet busuk itu !!"
Setan Tengkorak beserta tiga pentolan dan ratusan anggota gerombolan Tengkorak Merah menyerbu Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa.
Hyiiaa....!!
Ciaaaaatt.....!!!
Bunuuuuhh....!!!
Berbagai teriakan keluar dari mulut gerombolan Tengkorak Merah. Serangkaian serangan datang bagai air bah.
Wisesa melenting menyambut kedatangan musuh. Pemuda itu bergerak sangat cepat diantara anggota gerombolan Tengkorak Merah. Sepasang Tumbak Lada ditangannya berdegung seperti dengungan tawon. Tangan Wisesa bergerak sedikit naik turun. Menggunakan jurus Sentuhan Kematian. Delapan anggota gerombolan Tengkorak Merah terjengkang dengan leher luka menganga.
Pemuda tampan itu terus bergerak dengan jurus Sentuhan Kematian. Tampak bukan lagi pertarungan tapi lebih seperti pembantaian. Dalam waktu singkat hampir seratus anggota gerombolan Tengkorak Merah tergeletak dengan nyawa terpisah dengan tubuh. Lebih ganas lagi, lawan lawannya yang tewas keadaannya hampir sama. Luka lebar menganga dilehernya.
Beda dengan Wisesa, ratusan serangan yang datang kearah Datuak Batungkek Ameh disambut ayunan melintang tongkatnya.
Tongkat menjemput nyawa
__ADS_1
Cahaya tipiiis dan sangat tajam bewarna hitam keemasan menyambar dengan cepat. Terdengar suitan nyaring dan puluhan anggota gerombolan Tengkorak Merah beterbangan dengan tulang patah patah.
Dhuaarr...!!
Tak...!! Krack....!!
Aaaachhh.....!!!
Ledakan bercampur dengan bunyi tulang belulang yang patah serta jerit kematian dan kesakitan bercampur. Melihat anggota gerombolan Tengkorak Merah terbabat seperti rerumputan, Setan Tengkorak dan tiga rekannya menerjang Datuak Batungkek Ameh.
Jari peremuk tulang !
Golok membelah gunung !
Tendangan sapu jagad !
Awan hitam menutup dunia !
Empat serangan mematikan berebut mendatangi Datuak Batungkek Ameh. Udara menguak membelah dilintasi angin serangan berisi kekuatan bumi menengah sampai puncak.
Bumm...!!
Track !!
Trangg...!!!
Tabrakan energi besar terdengar sangat keras. Gelombang energi sangat kuat menyebar melempar mayat-mayat yang bergelimpangan. Datuak Batungkek Ameh terdorong mundur tiga tombak. Setan Tengkorak dan tiga temannya terlempar tujuh sampai sepuluh tombak.
Mereka kembali mengurung Datuak Batungkek Ameh. Pertarungan semakin seru berlangsung antara Datuak Batungkek Ameh melawan Setan Tengkorak dan rekan rekannya. Meski berada ditingkat langit, menghadapi empat orang lawan dengan kemampuan bertarung sudah tinggi tidaklah mudah. Pertarungan mereka tampak cukup berimbang. Datuak Batungkek Ameh juga mampu bertahan menghadapi tekanan dari ke empat lawan lawannya.
Wisesa yang menghadapi ratusan lawan mulai letih. Sudah ratusan anggota gerombolan Tengkorak Merah yang dibunuhnya. Tapi anggota gerombolan Tengkorak Merah yang tersisa tidak menyerah. Mereka terus menyerang Wisesa meski jumlah mereka terus berkurang.
Walaupun Wisesa jauh lebih kuat dari lawan lawannya. Serangan yang datang dari lawan lawannya tidak pernah putus. Pelan pelan pemuda itu mulai kelelahan. Gerakan Wisesa terasa berat dan mulai melambat. Kecepatan dan kelincahan Wisesa terus menurun. Sampai pada suatu saat, Wisesa mulai terdesak. Ketika datang banyak serangan lagi Wisesa gagal mengantisipasi semua serangan yang datang.
Slash...!
Crezz....!!
Sebuah sebetan pedang menciptakan luka dilambung Wisesa. Meski lukanya tidak dalam, tapi darah mengucur cukup deras dari luka itu. Sebelum Wisesa sempat membebat lukanya. Serangkaian serangan datang lagi bertubi tubi. Wisesa melenting dan bergulingan menangkis dan menghindari serangan.
Sebenarnya lawan lawan Wisesa tinggal tiga puluhan orang. Namun kelelahan benar-benar membuat Wisesa terdesak hebat.
__ADS_1
Craasssh...!
Satu serangan lagi tak cukup bersih dihindari. Luka baru terukir di pundak Wisesa. Darah merah mengalir membasahi lengan dan bagian dada Wisesa. Pemuda itu terlempar bergulingan. Dia langsung berdiri lagi meski nafasnya sudah tersengal.
Melihat kondisi Wisesa yang makin sulit, Datuak Batungkek Ameh menerjang lawan lawannya dengan serangkaian serangan jurus andalannya.
Tongkat mengoyak langit !
Tongkat emas melebur dunia !
Dua serangan tingkat langit puncak menerjang amat sangat kuat kearah Setan Tengkorak dan tiga temannya. Setan Tengkorak mencoba menahan serangan itu dengan segenap energi bumi puncak yang ia miliki. Sementara serangan kedua ditahan oleh dua rekan Setan Tengkorak.
Baamm...!!
Buummm...!!
Ledakan sangat keras terjadi akibat benturan tenaga tingkat langit puncak dengan kekuatan tinkat bumi. Lengan Setan Tengkorak hancur dan serangan terus menghantam dadanya dengan telak. Tubuh Setan Tengkorak terlempar sangat jauh dengan dada remuk. Nyawa ketua cabang gerombolan Tengkorak Merah itu langsung cigin ke akhirat.
Serangan yang ditahan oleh dua rekan Setan Tengkorak tidak berbeda jauh hasilnya. Kedua rekan Setan Tengkorak terlempar dengan tubuh hampir terbelah. Mati !
Anggota gerombolan Tengkorak Merah yang tengah mengurung Wisesa terhenti menyerang Wisesa. Mereka menatap pucat kearah Datuak Batungkek Ameh. Tetapi pendekar setengah baya yang sangat marah melihat murid kesayangannya terluka sudah melepas serangan kuat kepada mereka.
Tongkat emas melebur dunia !
Semua sisa anggota gerombolan Tengkorak Merah beterbangan dan terhempas diatas tanah tanpa bentuk. Serangan sangat dahsyat itu membantai mereka semua.
Rekan Setan Tengkorak sangat ketakutan melihat semua itu. Dia sadar sedari tadi Datuak Batungkek Ameh bertarung dengan mereka tidak serius. Begitu lelaki setengah baya itu serius, kurang dari dua menit Setan Tengkorak bersama dua rekannya dan semua sisa anggota gerombolan Tengkorak Merah tewas semuanya. Ia ingin melarikan diri, tapi tubuhnya seperti dipaku tak bisa digerakkan.
Datuak Batungkek Ameh mendekati lelaki itu. Saking takutnya cairan kuning yang bau membasahi celananya.
"Aku tidak berniat membunuhmu. Tapi juga tidak mau melepasmu, karena pasti akan berbuat kejahatan lagi."
Datuak Batungkek Ameh menunjuk bagian bawah pusar lelaki itu. Sejumput angin tajam menghantam dantien lelaki itu.
Bugh... Blusssh....!
Lelaki itu terduduk dan muntah seteguydarah. Dantiennya hancur dan semua energi yang dikumpulkan berpuluh-puluh tahun hilang sudah tidak bersisa. Dia menagis dan bersyukur dalam hati.
Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa mengumpulkan semua harta yang ada di markas cabang Tengkorak Merah. Lebih dari sejuta koin emas dan perhiasan serta berbagai sumber daya dan senjata pusaka. Wisesa membebaskan semua tawanan. Datuak Batungkek Ameh menyimpan semua sumber daya dan senjata pusaka serta sebagian koin emas. Sisa koin emas dan perhiasan dibagi bagikan untuk semua tawanan yang dibebaskan.
Malam itu Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa bermalam di markas Tengkorak Merah. Keesokan harinya markas Tengkorak Merah dihancurkan dan dibakar sampai ludes.
__ADS_1
\=\=\=\*\*\*\=\=\=