Raja Pedang

Raja Pedang
#110. Keberangkatan Laskar Gabungan


__ADS_3

Pagi hari di pelabuhan kota Babilang Kaum.


Matahari bersinar tidak seperti biasa. Meski tidak ada gugusan awan yang menutupi langit pagi. Bias sinar mentari terasa berbeda, tidak terasa hangat agak sedikit redup.


Ini adalah hari ketiga, dan juga hari terakhir pemberangkatan Laskar Gabungan Menuju Tano Niha.


Alang Bangkeh dan Alang Babega berdiri dekat lunas di haluan kapal. Angin laut terasa dingin dikulit.


"Istrimu Seriti Merah kenapa kau izinkan ikut Alang ?"


"Kematian Nirmala. Itulah yang menyebabkan aku tidak bisa melarangnya ikut jo manih." Alang Babega diam menunduk menghela nafas panjang setelah menjawab pertanyaan Alang Bangkeh.


"Yaa... pasti kepergian Nirmala sangat menyakitkan baginya. Bagaimanapun gadis itu sudah seperti putrinya sendiri. Dia yang merawat Nirmala sejak bayi sampai menikah.


Hmm... Dimana Seriti Merah sekarang ?"


"Mestinya ada di kabin. Tadi katanya mau siulian untuk memantapkan fondasinya."


"Salam Patriak Alang Bangkeh dan Tetua Agung Alang Babega." suara berat Datuk Rao Api menyapa Alang Bangkeh dan Alang Babega.


"Aah... Salam untuk anda juga Datuk Rao Api. Terimakasih sudah mau repot membantu mengurus penguburan cucu mantuku Nirmala." Palimo Alang Bangkeh membalas salam Datuk Rao Api dengan ramah.


Mereka kemudian terlibat obrolan tentang kesiapan untuk menghadapi sekte Tengkorak Merah. Obrolan semakin seru dan meluas ketika Tetua klan Manusia Harimau, Datuak Rimau Putiah dan beberapa orang Pendekar pengelana.


"Sebetulnya orang terkuat di sekte Tengkorak Merah ialah Ang Coa Mosin. Orang Tionggoan itu sudah berada ditingkat agung. Namun dia sudah dibunuh oleh Raja Pedang." Palimo Alang Bangkeh diam sejenak. Dia melihat berkeliling kepada orang-orang yang lagi menunggu kelanjutan bicara nya.


"Sulit membayangkan berapa tinggi kekuatan dari sekte Tengkorak Merah. Menurut informasi dari sumber yang bisa dipercaya, mereka berpusat di benua Tionggoan. Tepatnya di kekaisaran Atap Dunia.


Jika seorang perwakilan mereka sudah ada ditingkat agung. Kira-kira seperti apa kekuatan yang datang untuk mendukung sekte Tengkorak Merah dinegri ini."


"Jangan terlalu pesimis Patriak Alang Bangkeh. Kami punya keyakinan penuh kita bisa mengalahkan mereka.


Langkah yang digagas oleh kaisar Suvarnabhumi Dharma Andaleh ini bisa berhasil.

__ADS_1


Karena sebetulnya kekuatan mereka di benua Emas ini sudah kita gerogoti. Apalagi dengan adanya Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi serta para Patriak berbagai sekte dan klan." seorang Pendekar Pengelana menanggapi Alang Bangkeh. Orang-orang setuju dan membenarkan ucapan Pendekar Pengelana itu.


Belasan kapal yang berlayar membawa Laskar Gabungan, terus melaju membelah gelombang laut. Langit terlihat lebih terang dengan beberapa gumpal awan.


"Raja Pedang, sore ini kapal yang membawa Laskar Gabungan akan mulai merapat. Aku rasa kita harus memecah kelompok lagi. Tapi kali ini menjadi tiga kelompok." ucap Pendekar Kerambit Maut Wisesa. Saat itu mereka sedang berkumpul di markas sementara di koto Hilinaghe. Semua orang melihat kepada Wisesa penuh tanya. Raja Pedang menatap Wisesa.


"Bagaimana cara kau mau membaginya sobat ?" Wisesa tersenyum kecil mendengar pertanyaan Raja Pedang.


"Empat, dua, empat" jawab Wisesa. Lalu wajahnya menjadi lebih serius.


"Kau berdua dengan Bidadari Suvarnabhumi, sedangkan kami yang berdelapan dipecah jadi dua kelompok.


"Aku bersama Binu, Sabai dan Lenggo. Sisa yang empat lagi, Nuri, Malin, Rao Mudo dan Marda satu kelompok."


"Maaf kanda Wisesa. Kenapa kita dibagi begini ?" Marda bertanya dengan sedikit bingung.


"Karena kapal-kapal yang membawa Laskar Gabungan akan merapat melalui tiga pelabuhan alam. Tapi dengan posisi markas kita hanya dua pelabuhan yang bisa kita awasi. Karena pelabuhan ketiga lumayan jauh dan merupakan pelabuhan paling berbahaya. Pelabuhan Luwahaziwara yang tidak terlalu jauh dari lembah Tengkorak. Hanya sekitar sehari perjalanan.


Luaha akan diawasi oleh kelompok Nuri, yang terdekat dengan Hilinaghe oleh kelompok ku bersama Binu, Sabai dan Lenggo. Sedangkan pelabuhan Luwahaziwara diawasi oleh Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi."


"Pengawasan apa yang akan kita lakukan Wisesa ?" Nuri mempertanyakan tugas yang sebenarnya kepada Wisesa. Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi dan Sabai serta Lenggo terlihat santai saja.


"Tentu saja menyisir wilayah pelabuhan dan menangkap serta menghabisi semua telik sandi sekte Tengkorak Merah yang kita temukan.


Ooh... bukan hanya telik sandi. Tetapi semua anggota sekte Tengkorak Merah yang kita temukan. Namun yang perlu diperhatikan, tindakan itu harus kita lakukan secara cepat dan sempurna. Artinya tidak ada yang tau." Pendekar Kerambit Maut menjelaskan dengan detail. Semua rencana untuk mengatasi agar informasi tentang Laskar Gabungan yang sudah masuk Tano Niha tetap menjadi suatu kerancuan. Diluar itu tentu saja semaksimal mungkin kita mengurangi kekuatan sekte Tengkorak Merah.


Setelah mengatur segala sesuatunya. Kelompok sepuluh itu meninggalkan markas mereka dengan cara tersembunyi.


Nuri, Malin, Rao Mudo dan Marda meninggalkan markas dengan berkuda. Mereka segera memacu kuda mereka setelah keluar dari koto Hilinaghe.


"Binu kau bersama Lenggo berjalan santai seperti pelancong yang lagi menikmati suasana sekitar pelabuhan. Aku dan Sabai akan melakukan hal yang sama dari arah yang lain."


"Baik pendekar Kerambit Maut. Ayo Lenggo, kita jalan" Binu dan Lenggo berjalan santai keluar dari markas menuju pantai Hilinaghe yang dekat dengan pelabuhan.

__ADS_1


Pelabuhan Luwahaziwara dan pelabuhan Luaha serta pelabuhan dekat koto Hilinaghe terlihat rame. Tidak seperti biasanya, belasan bahkan puluhan kapal datang merapat.


Di pelabuhan Luaha terlihat kapal mulai merapat di dermaga. Para penumpang turun satu persatu. Seorang pria berpakaian abu-abu mengamati semua aktifitas di dermaga dari balkon sebuah rumah makan yang ada di pelabuhan. Dia duduk sambil menikmati segelas kopi dengan sepiring talas rebus. Terlihat sangat santai tapi matanya awas menatap detil kejadian di pelabuhan.


Sepasang pria dan wanita menghampiri para penumpang yang baru turun dari kapal.


"Apakah anda membutuhkan penginapan Tuan ?" yang wanita mendekati Halimun yang berjalan santai bersama Dewi Rambut Emas.


"Tidak, terimakasih." Tetua termuda dari sekte Tapak Dewa, Halmun si pendekar Kabut Maut menggeleng. Wanita itu tersenyum manis sambil melihat kearah penumpang lain yang turun. Lalu kembali melihat kearah Halimun dan Dewi Rambut Emas.


"Tuan, Nyonya... ataukah sekedar istirahat makan dan minum saja di rumah makan dan penginapan kami ?" wanita itu kembali memberi pilihan kepada Pendekar Kabut Maut dan Dewi Rambut Emas.


Namun dia segera berpindah kepada penumpang lain, setelah pendekar Kabut Maut dan Dewi Rambut Emas tetap menolak. Pria dan wanita itu masih terus menawarkan jasa penginapan kepada para penumpang.


Mereka baru terhenti ketika melihat ratusan orang turun menunggang kuda dari bagian belakang kapal. Mereka mengamati dengan serius para penumpang yang turun sambil menunggang kuda.


Semua penunggang kuda itu memiliki penampilan yang sama. Dengan pakaian serba hitam dengan list emas pada ujung lengan. Mereka terlihat sangat gagah perkasa.


Pria dan wanita itu bertukar pandang dan mengangguk. Lalu mereka berbalik dengan cepat meninggalkan pelabuhan. Keduanya melangkah lebar melewati lorong-lorong bangunan kumuh dekat pelabuhan.


Setelah sampai ditempat yang sepi, keduanya bertemu.


"Budui... sepertinya kelompok berkuda itu adalah pasukan khusus dari kekaisaran Suvarnabhumi." Morita, wanita yang tadi menawarkan jasa penginapan berkata kepada pria yang juga menawarkan jasa penginapan dan rumah makan di pelabuhan.


"Aku juga berfikir begitu Mori. Orang-orang yang kamu temui tadi juga mestinya bagian dari Laskar Gabungan yang akan menyerang sekte.


Kita tunggu Dupak dulu atau langsung melapor ke markas ?"


"Aku pikir langsung saja. Dupak mestinya masih lama, karena dia mengamati dari rumah makan. Mungkin dia masih berusaha mencuri dengar pembicaraan dari penumpang yang singgah di rumah makan." Morita lalu mengajak Budui menuju markas mereka di kota Luaha. Namun begitu mereka mau pergi terdengar suara...


"Tunggu dulu saudara...!" tiba-tiba dua orang pemuda gagah sudah berdiri didepan mereka berdua.


\=\=\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2