
Pada saat Badak Mantagi masih terlempar, tiga tetua klan cabang Mangaraja menerjang cepat kearah lelaki gempal itu bersamaan. Begitu Badak Mantagi mendarat dan memuntahkan seteguk darah. Tiga serangan dari Tetua klan cabang Mangaraja bersarang di muka, pundak dan dadanya. Badak Mantagi kembali terlempar bergulingan.
Iblis Cantik Tambun Tulang kaget melihat Badak Mantagi menggelinding dihajar tiga lawan bersamaan. Namun kelengahan sekejap itu berbuah pahit.
"Jangan alihkan perhatian mu bodat boru boru." seorang dari tiga tentu menyerangnya sambil berteriak.
Slash....
Aahhh....!!
Piso halasan milik tetua itu menebas pundaknya. Darah mengalir dari luka Iblis Cantik Tambun Tulang. Iblis Cantik Tambun Tulang melenguh menahan perih dipundaknya yang terluka.
Badak Mantagi kembali memuntahkan darah. Wajah nya terasa bengeb dan dadanya terasa sesak. Tetua sekte Iblis Tambun Tulang itu menyusun kuda-kuda untuk menyerang.
Pukulan gampo bumi
Aia mamancua langik
Badak Mantagi menerjang Mangaraja Hubalang tetua yang ada didekatnya. Dua serangan sangat kuat mengarah ke dada dan lambung Mangaraja Hubalang. Tak memungkinkan untuk menghindar, Mangaraja Hubalang menepis serangan kearah dada dan melapisi lambungnya dengan esensi energi mendalam.
Dess.... Krack..!!
Buaghhh....!! Ugh !
Perbedaan energi mendalam mengakibatkan Mangaraja Hubalang terpelanting cukup jauh. Lengan yang dipakai untuk menangkis serangan kearah dadanya, patah. Tendangan yang menuju lambung masuk dengan telak. Meski telah melapisi dengan esensi energi mendalam, tendangan Badak Mantagi masih berasa sangat keras menghantam lambungnya.
Mangaraja Hubalang jatuh setengah tengkurap dan memuntahkan banyak darah. Mangaraja Adongma dan dua tetua lainnya sangat marah melihat kondisi Mangaraja Hubalang.
"Hanya kematian yang pantas untuk mu bodat sialan !!"
Mangaraja Adongma berteriak marah. Ketua klan cabang Mangaraja dan dua tetua kembali menyerang
Kemarahan tapak langik
Tendangan sapu jagad
Piso halasan mancacah dolok
Tiga serangan dari arah berbeda datang dengan sangat cepat kearah Badak Mantagi. Sebuah bayangan tapak tangan bewarna merah yang dilepas Mangaraja Adongma menderu kencang. Badak Mantagi berusaha mengatasi semua serangan yang datang.
Badak basi malantak bukik
__ADS_1
Piarik mambalah badai
dan...
Trangg... Tringg... Trang...
Blaarrr....!! Dugh !!
Denting Piarik berbenturan dengan Piso halasan terdengar berulang kali. Dentuman keras juga terjadi ketika serangan tapak berbenturan dengan tinju Badak Mantagi. Biasan energi benturan mengurangi sedikit kekuatan tendangan yang masuk. Menahan tendangan dengan kekuatan badak basi, Badak Mantagi mengambil manfaat dari kekuatan dalam tendangan untuk mencelat menyambar Iblis Cantik Tambun Tulang.
"Sekarang...!!"
Iblis Cantik Tambun Tulang membiarkan tubuhnya dibawa Badak Mantagi melarikan diri. Namun dia masih sempat melepaskan ratusan jarum beracun kearah ketiga tetua klan cabang Mangaraja yang menjadi lawannya. Satu tetua klan cabang Mangaraja gagal menhalau jarum-jarum yang datang. Satu jarum beracun menancap dilengannya. Tetua itu langsung jatuh berlutut. Melihat tetua itu jatu dengan bertumpu pada lututnya Mangaraja Adongma dan tetua yang lain segera menolong itu sebelum racun menjalar ke jantung.
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang menghilang dengan sangat cepat dalam gelap malam. Kedua tetua sekte Iblis Tambun Tulang tidak mengira bertemu orang-orang sekuat klan Mangaraja di koto Lumut. Wilayah utara sungguh mengejutkan.
Menjelang matahari sampai puncak edarnya, Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang memasuki kota Babilang Kaum. Mereka langsung menuju pelabuhan untuk mencari kapal yang mau berlayar menuju desa Sitoli di Tano Niha.
Pihak pelayaran mengatakan kapal yang akan berlayar menuju desa Sitoli di Tano Niha baru akan ada tiga hari kedepan. Mau tidak mau mereka terpaksa harus menunggu.
Biaya pelayaran kamar utama yang akan diisi oleh dua orang sebesar lima puluh keping emas perorang. Untuk hewan tunggangan dikenakan biaya sepuluh keping emas perekor. Badak Mantagi membayar seratus dua puluh keping emas dan menerima dua plat kecil berlapis emas.
Setelah itu Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang mencari penginapan disekitar pelabuhan. Mereka berdua tidak keluar kamar sampai hari berlayar tiba.
Datuk Hitam Parigi dengan cermat mengamati pasukan Rawa Hitam latihan tempur. Ada sekitar lima ribu pasukan yang terdiri bangsa lelembut dan 1000 orang dari manusia. Setelah memperhatikan lebih serius, Datuk Hitam Parigi mengangguk puas melihat kekuatan pasukannya.
Meski hanya 3000 pasukan, namun kekuatan mereka sangat kuat. Hanya delapan ratus pasukan ditingkat perak, sebanyak dua ribu pasukan berada ditingkat emas, dan dua ratus sisanya ditingkat raja. Itu berarti kekuatan tempurnya setara dengan lima puluh ribu pasukan tempur biasa.
Datuk Hitam Parigi lalu duduk diatas podium, dan memanggil panglima tempur dan semua komandan pasukan. Empat lelembut dan dua manusia datang dengan cepat. Tubuh mereka semua tampak kokoh dengan wajah garang. Sesaat kemudian seorang manusia tinggi besar dengan rompi perang warna merah darah kll muncul. Dia adalah Mangkuto yang menjadi panglima dari pasukan Rawa Hitam. Mangkuto punya kemampuan ditingkat agung menengah. Dia adalah terkuat kedua di wilayah Rawa Hitam setelah Datuk Hitam Parigi.
"Apakah pasukan kalian benar sudah siap ?" Pertanyaan Datuk Hitam Parigi dijawab semua komandan pasukan dengan tegas.
"Siap Ketua !"
Mangkuto menanyakan waktu pasti penyerbuan ke istana Bunian. Lelaki tinggi besar itu ternyata suaranya sedikit melambai.
"Ketua.... kapan pastinya kita menyerbu istana Bunian ?"
Datuk Hitam Parigi melihat kearah Mangkuto. Wajahnya tenang tanpa ekspresi.
"Purnama depan." Datuk Hitam Parigi menjawab singkat dan padat. Sebetulnya Datuk Hitam Parigi sangat tidak nyaman jika mendengar suara Mangkuto yang melambai. Pada hal tampilan Mangkuto tampak seperti lelaki perkasa. Datuk Hitam Parigi tidak habis pikir dengan cara bicara Mangkuto yang melambai itu.
__ADS_1
Namun bagaimanapun juga Datuk Hitam Parigi menyadari bahwa Mangkuto adalah satu kekuatan terbesar di Rawa Hitam setelah dirinya.
Ratu Shima menatap dalam pada Nirmala. Perlahan Ratu Shima mengalihkan pandangan kepada Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi. Mereka lagi ngumpul berlima dengan Larasati ada diruang keluarga dalam istana Bunian.
Nirmala, Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi memasang wajah serius mendengarkan apa yang akan diucapkan Ratu Bunian yang cantik itu.
"Ayahmu bernama Mangaraja Tohir putriku. Ayahmu adalah Patriak dari klan Mangaraja yang sangat kuat di wilayah utara benua Emas. Dia juga menjadi pelindung kekaisaran Madania. Itulah sebabnya ayahmu jarang sekali bisa sekali datang kesini." Ratu Shima berhenti sejenak mencoba melihat reaksi dari Nirmala, Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi. Tapi dia tidak melihat reaksi apapun. Ratu Shima melanjutkan.
"Kau memiliki dua saudara laki-laki seayah, Mangara Guntur dan Mangaraja Badai. Juga seorang adik perempuan bernama Mustika Mangaraja. Mereka semua tinggal di ibukota kekaisaran Madania, tepatnya di distrik Mangaraja." Ada kilauan sejenak muncul di mata Nirmala. Jadi aku masih memiliki dua saudara laki-laki dan satu adik perempuan, pikirnya.
"Bagaimana bunda bisa bertemu dengan ayah ?" Nirmala bertanya dengan suara penuh minat, menatap Ratu Shima. Larasati melirik Nirmala dan tersenyum pada Ratu Shima. Tanpa sadar Bidadari Suvarnabhumi menganggukan kepala, gadis itu juga tertarik dan ingin tau.
"Itu terjadi lebih dari lima belas tahun yang lalu." Ratu Shima menghela nafas panjang dan tatapan matanya menerawang.
"Waktu itu penguasa Rawa Hitam, Datuk Hitam Parigi menyerang kami yang lagi menikmati pemandangan diluar nagari Bunian. Sesekali aku, Larasati dan Andini suka melihat-lihat keluar dari nagari Bunian...."
Hari itu mereka cukup jauh meninggalkan portal dimensi. Sampai di dekat sebuah rawa besar bewarna hitam, terkejut mendengar ada suara manusia menegur.
"Ratu Sijundai ternyata."
Suara itu terdengar sangat dekat. Tapi orang tidak ada terlihat. Andini langsung siaga dan bersuara.
"Siapa yang berani kurang ajar bicara tanpa menampakkan diri ?"
Tiba-tiba didepan mereka telah berdiri seorang lelaki berusia tiga puluhan. Lelaki itu sebetulnya lumayan gagah namun raut wajahnya dingin dan ada kebencian melapisi tatapannya. Tidak diketahui kebencian itu ditujukan pada siapa.
"Siapa kau, dan kenapa kau tau dengan kami ?" Andini kembali bertanya dengan suara penuh tekanan. Lelaki itu tersenyum.
"Tentu saja aku tau siapa kalian. Bau kalian berbeda dengan bau manusia yang kadang melintasi kawasan ini. Tentu kalian bangsa lelembut yang tidak di nagari Bunian.
Hanya Ratu Sijundai bersama Larasati dan panglima nagari Bunian Andini yang bebas keluar masuk nagari Bunian." Lelaki itu menunjuk bergantian kearah Larasati dan Andini. Lelaki itu melanjutkan
"Aku adalah penguasa Rawa Hitam ini. Orang-orang rimba hijau dunia persilatan memanggilku dengan Datuk Hitam Parigi. Karena kalian telah datang, maka kalian akan ku jadikan istri dan gundik ku."
"Lancang....!!"
Andini membentak dan menyerang Datuk Hitam Parigi. Namun semua serangan yang dilakukan Andini dengan mudah dimentahkan Datuk Hitam Parigi. Bahkan serangan balasan Datuk Hitam Parigi langsung menjadikan posisi Andini sangat sulit.
"Terlalu lemah... Ayo kalian maju bersamaan." Datuk Hitam Parigi berkata santai, sambil tangannya mencengkram kerah dada Andini.
Panglima nagari Bunian itu melempar diri menjauh dan bergulingan. Melihat itu, Lara segera maju membantu Andini yang mulai keteter.
__ADS_1
\=\=\=***