Raja Pedang

Raja Pedang
#88. Hutan Purba Gunung Tua


__ADS_3

Lindu tertegun, dia terpesona merasa seorang bidadari mendatangi dirinya.


"Apakah aku terlihat sangat cantik dimatamu uda Lindu ?" Bidadari Suvarnabhumi bertanya lembut dengan kerlingan mata manja dan sedikit genit. Dia kemudian duduk disebelah Lindu, dan menyandarkan kepalanya ke pundak Lindu.


Hm.... Bidadari Suvarnabhumi menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa Yayang ?" Lindu bertanya lembut ketika mendengar Mayang menghela nafas panjang. Perlahan dia melingkarkan lengannya di pundak Mayang. Gadis cantik itu merobah posisi duduknya dan meletakkan kepalanya di dada Lindu.


"Yayaang kenapa. Apa yang mengganggu pikiran kamu ?" Lindu kembali bertanya karena Mayang tidak menjawab pertanyaan nya.


Mayang mengangkat kepalanya dan menatap mata Lindu.


"Kira-kira apakah ayah akan ikut dalam penyerangan ke markas gerombolan Tengkorak Merah di Tano Niha, ga' yaa ??"


"Kenapa...? Apakah kau terganggu dengan itu ?"


"Tidak tau kenapa, aku merasa kurang enak saja."


"Jikapun ayah kaisar benar memimpin penyerangan ke Tano Niha. Banyak yang akan melindungi dirinya. Ada paman Kale Lepak Sakti guru mu, juga pasti ada Ungku Alang Bangkeh. Juga mestinya ada ratu Shima dan ayah Mangaraja Tohir." Mayang masih menampilkan wajah resah. Dia menatap Lindu dengan tatapan sendu.


Melihat tatapan istri pertama nya, Lindu merengkuh tubuh Bidadari Suvarnabhumi dan mengecup keningnya.


"Baiklah, jika ayah mertua datang. Kita akan berada dekat dengannya." Dhamma Mayang tersenyum mendengar jawaban Lindu.


"Janji ya Uda..."


"Hm..."


Siang hari ketiga.


Kereta berjalan pelan melintas jalan tapakan hutan purba gunung Tua.


"Kalau tidak ada halangan lagi malam nanti kita sudah akan meninggalkan hutan ini." Lindu berkata kepada Malin. Malin mengangguk setuju. Tadi pagi Malin sukses meningkatkan kemampuannya naik ketingkat bumi tinggi. Sekarang dia merasa lebih yakin dan mantap dengan hubungan kasihnya dengan Nuri. Hanya naik satu level lagi, tingkat kemampuan nya akan sama dengan Nuri. Setelah naik satu level lagi, aku akan menikahi Nuri, fikirnya.


"Semoga saja, karena rasanya jenuh juga melintasi hutan super tua ini berhari hari. Semoga hari ini lancar saja dan tidak ada makhluk aneh lagi yang menghalangi perjalanan kita."


"Aku pikir itu malah bagus, bisa membantu kalian untuk mengokohkan fondasi kalian sehingga lebih kokoh dan mudah untuk menerobos lagi."


"Apakah benar itu bisa mempengaruhi tingkatan kita ?" Malin bertanya dengan suara sungguh sungguh.


"Ya, terutama dalam pertarungan hidup dan mati. Karena itu aku sengaja membiarkan kalian bertarung habis-habisan selama ini.

__ADS_1


Kamu lihat sendiri, selama tiga hari kita melintas dihutan ini, kau sudah menerobos dua level. Siapa tau hari ini ada pertarungan hidup mati lagi. Sehingga fondasi mu cukup kuat untuk naik ke bumi puncak." Ucap Lindu serta tersenyum kecil. Malin juga tersenyum lebar dan mengangguk.


"Hm.... semoga adalagi makhluk aneh lagi yang datang menghalangi kita."


Baru saja Malin selesai berkata terdengar gerungan yang sangat kuat.


Grooaaarr...!!


Ggrrrhhh...!! Aaauuummm !!


Sesaat kemudian dibawah nuansa gelap hutan purba itu. Melesat tujuh bayangan besar yang berhenti didepan kereta mereka.


Tujuh ekor harimau bertubuh besar berdiri gagah berdiri berjejer. Semua menatap dengan tatapan mata tajam. Anehnya aura membunuh nyaris tidak terasa. Kuda penarik kereta juga tidak terlalu takut. Tidak tau apakah karena beberapa hari ini selalu bertemu hewan spirit buas, tapi selalu lolos. Atau karena tujuh harimau besar ini tidak memancarkan aura membunuh.


Lindu menghentikan kereta. Dia tidak jadi membuka mulut karena harimau paling besar yang berdiri paling depan berbicara dengan bahasa manusia. Lindu dan Malin membuka mulutnya terbengong bengong.


"Manusia... kami mengundang kalian untuk singgah dikampung kami." Setelah terdiam sejenak, Lindu buka suara.


"Maaf, kenapa kalian mengundang kami untuk datang ke kampung kalian."


"Sebelum aku menjawab lebih dulu kami akan menguji kemampuan kalian. Jika kalian benar mampu aku akan menjelaskan semuanya. Jika tidak kalian akan mati disini." Lindu bertukar pandang dengan Malin, mana ada aturan seperti itu didunia ini.


"Jika kalian bisa mengalahkan lima yang terbaik dari kami, maka kalian menang."


"Kalau kami tidak mau ?" Lindu bertanya dengan senyum lucu di wajahnya.


"Berarti kalian harus mati." Harimau yang paling besar menjawab Lindu. Harimau yang lainnya menggeram


Ggrrrhhh...!!


Grooaaarr...!!


"Baiklah, sebelum kita mulai bertarung. Sebutkan terlebih dahulu siapa diri atau kaum kalian sebenarnya." Lindu merasa ada sesuatu yang lain, dan dia tidak ingin salah tangan. Pasti ada suatu rahasia dibalik semua ini. Pimpinan tujuh harimau itu menatap tajam kepada Lindu. Raja Pedang membalas tatapan pimpinan harimau itu dengan tenang. Setelah beberapa saat berlalu,...


"Kami adalah suku manusia harimau. Kami adalah penguasa hutan kuno gunung Tua ini. Jika kalian menang dalam pertarungan ini, kami akan menjelaskan kenapa kami menghadang perjalanan mu dan mengundang kalian untuk mengunjungi kampung kami."


Lindu dan Malin kembali saling bertukar pandang. Lindu mengangguk kecil dan Malin langsung melenting ke area yang lebih terbuka.


"Mari kita mulai, siapa dari kalian yang maju lebih dulu ?" Malin berdiri tenang. Seekor harimau loreng namun lebih dominan warna hitam maju. Kedua makhluk berbeda ujud itu berdiri berhadapan.


Malin membuka kuda-kuda dan bersiap menyerang.

__ADS_1


Grroooaaarrr....!! Grrrmrrhh...


Harimau itu melompat dan menerkam ganas kearah Malin. Kaki depannya mengayun menimbulkan bunyi gemuruh.


Malin melenting kesamping dan melepaskan pukulan kearah kepala harimau itu. Namun pukulan itu dikibaskan begitu saja oleh harimau itu. Sementara kakinya menerjang setengah lingkaran menghantam tubuh harimau dengan telak.


Buaghhh...!!


Tubuh besar harimau itu jatuh kesamping dalam keadaan berdiri. Dia menggeram dahsyat.


Grrrmrrhh...!!


Angin energi besar bergerak menabrak Malin. Tubuh Malin bergetar dan harimau itu kembali melompat tinggi menerkam Malin. Kaki depan harimau seperti menampar kearah wajah dan dada Malin. Cakar yang tajam dan keras berkilau terkena bias cahaya matahari yang menerobos dari sela dedaunan.


Whuuuuzzzh...!!


Whuuuuzzzh...!! Grooaaarr...!!


Tubuh Malin bergerak seakan bersalto kebelakang ketika serangan harimau sampai. Tamparan itu luput dan harimau loreng itu melintas di atas tubuh Malin yang melengkung. Saat itu pula tendangan keras Malin menghantam bagian atas perut yang dekat dengan dada harimau.


Harimau itu melambung dan terlempar bergulingan. Ketika harimau loreng itu berusaha bangkit, Malin sudah berada didepannya. Sebuah pukulan tinju keras menghantam kepala harimau loreng. Harimau loreng itu terdorong sampai lima tombak meninggalkan jejak guratan dalam ditanah.


Disaat harimau loreng itu masih terdorong mundur, Malin sudah memburunya dengan tiga serangan beruntun.


Plaakk...!! Plaakk...!!


Baaamm...!!


Harimau loreng itu menerima dua tamparan keras dikepala dan satu tendangan keras di dadanya. Harimau loreng terguling dan tidak mampu lagi untuk berdiri. Malin tidak lagi menyerang. Dia menatap harimau paling besar yang bewarna putih.


"Siapa lagi yang akan maju ?" Seekor harimau berbulu hitam legam menggeram dan maju. Harimau kumbang itu berdiri gagah dengan dua kaki belakang nya. Posisinya agak condong kedepan. Dia teriak menggerung dengan suara keras...


Grroooaaarrr...!!


Itu bukan menggerung biasa tetapi merupakan serangan yang dilakukan lewat suara. Malin membuat kuda-kuda bertahan, kakinya yang depan ditekuk sedang kaki yang satu ditarik peneuh kebelakang. Tangannya bersilang didepan kepala. Malin menahan gelombang energi yang datang lewat suara. Benturan dua gelombang energi menghasilkan dentuman besar.


Dhuuuaaaarrr...!!


Tubuh harimau kumbang telah melompat tinggi melintas diatas kepala Malin. Kaki depan harimau kumbang memukul punggung Malin.


\=\=\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2