
Pria bangsawan yang masuk bersama rombongannya melewati meja Lindu. Sekilas dia melirik Seriti Merah yang dengan tenang menikmati semangkuk es bubur kacang padi campurnya. Pria bangsawan itu tersenyum kecil mengagumi kecantikan Seriti Merah. Pria bangsawan itu adalah Cingauak Bangkai yang tengah mencari jejak Lindu.
Cingauak Bangkai meninggalkan markas besar sekte Iblis Tambun Tulang setelah perintah memburu Raja Pedang turun. Ia mengajak teman mesumnya Batino Seribu Rupa dan dua orang pembantunya Boleang dan Bijo. Batino Seribu Rupa menjadi pasangan Cingauak Bangkai namun bukan anggota sekte Iblis Tambun Tulang. Meski begitu Batino Seribu Rupa menjadi satu-satunya yang bisa keluar masuk sekte Iblis Tambun Tulang seenaknya.
Meski hanya berada ditingkat raja puncak, ia memiliki ilmu Tempe Bantuak, dengan ilmu itu dia bisa merubah dirinya menjadi siapa saja. Asalkan dia pernah melihat orang yang ingin dia tiru. Selain itu dia memiliki kemampuan untuk Tangka Bala yang mampu menolak kemampuan daya serap esensi kehidupan yang dimiliki Cingauak Bangkai setiap mereka usai memuaskan keinginan purba mereka. Batino Seribu Rupa menjadi satu-satunya wanita yang disukai Cingauak Bangkai.
Boleang dan Bijo merupakan dua pelayan yang mengurus segala kebutuhan Cingauak Bangkai dan Batino Seribu Rupa. Kedua lelaki itu selalu mengikuti kemanapun tuan mereka pergi. Terkadang mereka juga dipakai Batino Seribu Rupa untuk memuaskan keinginan purbanya. Boleang dan Bijo berdua berada ditingkat emas menengah.
Setelah meninggalkan markas sekte, setelah beberapa hari mereka sampai di kota kecil Punggung Ladiang. Udara panas menyengat di Punggung Ladiang membawa mereka ke kedai minuman itu.
Cingauak Bangkai tidak tau jika pemuda yang lagi minum bersama perempuan berpakaian serba merah itu adalah target yang tengah dicarinya. Cingauak Bangkai hanya tertarik dengan Seriti Merah dan ingin mendapatkan perempuan itu. Tentu saja untuk memuaskan keinginan purbanya dan menyerap esensi kehidupan perempuan itu.
Cingauak Bangkai sudah mengetahui jika perempuan berpakaian serba merah itu berada ditingkat bumi menengah. Jika berhasil menyerap esensi kehidupan perempuan itu, maka Cingauak Bangkai merasa akan bisa melakukan terobosan untuk naik minimal satu level. Itu artinya tingkat kultivasinya menjadi langit tinggi. Cingauak Bangkai tersenyum kecil sambil menikmati minuman dingin dihadapannya.
Batino Seribu Rupa memahami senyuman kecil Cingauak Bangkai. Sekilas dia melirik kearah Lindu.
"Aku juga akan memanjakan keinginan purbaku dengan pemuda tampan itu" bisiknya dalam hati. Dia yakin meski berada ditingkat bumi awal pemuda itu mudah ditaklukkan dengan ajian Sirep Gasiang yang ia miliki.
Sirep Gasiang adalah ilmu pekasih yang sangat kuat. Siapapun orang yang terkena ajian ini, jika tidak memiliki energi jiwa yang kuat jatuh menjadi budak pemuas hasrat purba orang yang melepaskan ajian. Batino Seribu Rupa juga tersenyum dengan wajah sedikit memerah membayangkan apa yang akan dia lakukan terhadap Lindu.
Lindu bersama Nirmala dan Seriti Merah meninggalkan kota Punggung Ladiang. Butuh tiga hari perjalanan lagi untuk sampai di koto pantai Sunua. Menjelang malam mereka sampai didepan hutan Rimbo Toboh. Hutan Rimbo Toboh sangat rapat, gelap karena sinar matahari terhalang oleh daun pepohonan yang rapat. Selain itu Rimbo Toboh juga basah dan dihuni oleh banyak bintang spirit. Mulai dari hewan spirit tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Lindu menyebarkan energi spiritual nya untuk mendeteksi kondisi hutan. Ia merasakan banyak energi spirit berbagai tingkatan dalam hutan. Akan sangat berbahaya jika mereka memaksakan diri masuk dan bermalam di hutan. Lindu memutuskan untuk bermalam dipinggir hutan.
"Lindu, kita bermalam disini saja. Sebelah sana ada sungai, kita bisa mandi dan membersihkan diri bergantian."
Seriti Merah memberitahu sambil menunjuk ke satu arah. Lindu menyetujui usul Seriti Merah.
"Bibi dan Nirmala duluan mandi, aku akan menyiapkan tempat untuk istirahat nanti."
Lindu menyiapkan dedaunan dan rumput kering untuk alas tidur Seriti Merah dan Nirmala. Ketika Seriti Merah dan Nirmala kembali, mereka melihat tempat istirahat yang sudah rapi dan Lindu tengah membakar seekor rusa.
"Ayo, uda Lindu pergi mandi sana. Lala dan guru akan gantikan Uda membakar rusa itu." Nirmala dengan gembira berlari mendekati Lindu. Setelah menyerahkan bakaran ke Nirmala, Lindu pergi ke sungai kecil untuk membersihkan diri.
Lindu baru saja merendam tubuhnya di sungai yang berair bening. Air sungai yang sejuk mendatangkan rasa nyaman pada Lindu. Rasa gerah ditubuh Lindu menguap begitu saja. Lindu memejamkan matanya dan menikmati kesegaran yang menyapa dirinya. Sayup-sayup aroma wanginya daging rusa bakar tercium membangkitkan selera.
Tiba tiba energi jiwanya merasakan aura energi yang cukup familiar datang mendekat. Aura energi kegelapan yang sangat besar. Lindu ingat aura energi besar itu ia rasakan saat rombongan bangsawan yang datang ketika dia di kedai minuman di koto Punggung Ladiang.
__ADS_1
Lindu segera menyelesaikan mandinya. Setelah bersalin dengan pakaian bersih, dia melesat cepat ketempat Nirmala dan Seriti Merah. Saat sampai dia melihat pria bangsawan dan rombongan nya sedang ngobrol dengan Seriti Merah dan Nirmala.
Nirmala menarik Lindu duduk disampingnya. Cingauak Bangkai memperkenalkan diri dan rombongannya pada Lindu.
"Bertemu lagi anak muda. Kenalkan saya Patik Selo, dan ini istriku Dara Kamek." Lindu mengangguk dan melirik dua orang yang duduk dibelakang Patik Selo. Pri bangsawan itu memahami lirikan mata Lindu.
"Mereka Boleang dan Bijo, pelayan kami. Kami rencana mau ke Pariaman, menyelesaikan suatu pekerjaan." Patik Selo mengenalkan diri dan rombongannya. Batino Seribu Rupa tersenyum manis sambil melepaskan ajian Sirep Gasiang. Perempuan itu amat tertarik dengan Lindu. Wajah tampan Lindu tampak lebih segar, lebih menarik dan sangat menawan hatinya.
Lindu merasakan perubahan dilapisan udara yang tipis. Tapi pemuda tampan itu memiliki energi jiwa yang sangat kuat. Sama sekali tidak terpengaruh. Cingauak Bangkai kaget, melihat apa yang dilakukan Batino Seribu Rupa. Lebih kaget lagi melihat Lindu yang hanya ditingkat bumi awal memiliki energi jiwa yang sangat kuat. Sama sekali tidak terpengaruh.
Lindu berlagak tidak tau kalau diserang dengan serangan jiwa.
Melihat hal itu, Cingauak Bangkai juga melepas ajian Mato Asmara Iblis untuk menjerat Seriti Merah. Lindu melihat Seriti Merah sedikit terguncang ketika energi jiwa berlapis aura kegelapan yang sangat tipis menyelip disela udara menyelimuti jiwa nya. Iya merasa ketertarikan kuat terhadap Patik Selo. Diam diam Seriti Merah memperhatikan Patik Selo secara sembunyi. Ketika mata mereka bertemu wajah Seriti Merah bersemu dadu. Ia buru menundukkan wajahnya dan menyembunyikan seyum malu malu.
Nirmala agak sedikit bingung melihat sikap gurunya. Gadis cantik itu menoel Lindu sangat halus. Lindu tersenyum ringan dan mengajak semua untuk menghilangkan suasana canggung. Mereka mulai menikmati makan daging rusa bakar.
Seriti Merah memotong daging dada rusa. Ia memilih bagian daging yang paling lembut dan enak. Ketika menyerahkan potongan daging pada Patik Selo, jemari mereka bersentuhan tidak sengaja. Seriti Merah menundukkan wajahnya yang merona. Lindu tau Patik Selo sengaja menyentuh jemari Seriti Merah yang berkulit halus. Agar ajian Mato Asmara Iblis makin kuat menjerat Seriti Merah.
Terlihat Seriti Merah kian jauh jatuh dalam pengaruh ajian Mato Asmara Iblis. Batino Seribu Rupa kembali melepas ajian Sirep Gasiang dengan energi jiwa yang lebih kuat. Namun kekuatan energi jiwa Lindu yang sudah sangat tinggi sama sekali tidak bisa dipengaruhi.
"Kalian semua yang memiliki energi hitam dunia kegelapan mau apa sebenarnya ?" Lindu membentak Cingauak Bangkai dan Batino Seribu Rupa.
Merasa sudah ketahuan, Cingauak Bangkai berdiri dan menunjuk Lindu.
"Dasar bodoh. Sedikit kemampuan yang ada padamu apa kau pikir cukup untuk menghadapi kami ?"
"Dengan kemampuan tingkat bumi, hanya semut dihadapan ku." Melihat sikap Patik Selo, Lindu bersikap tenang dan melangkah mendekati Patik Selo.
"Katakan siapa kau sebenarnya. Agar kami tidak salah tangan." Patik Selo tertawa ngakak mendengar Lindu
"Ha haa haaa haaaa..... Pemuda tolol. Hanya dengan kemampuan tingkat bumi kau mau mengancam kami ? Aku jelaskan kepada mu, tidak ada satu orangpun yang hidup setelah mengetahui siapa aku."
Lindu tersenyum ringan menatap Patik Selo. "Sebut siapa dirimu" lanjut nya.
"Dengarkan baik-baik anak muda. Kami dari sekte Iblis Tambun Tulang dan aku adalah tetua ke enam Cingauak Bangkai." Patik Selo membuka penyamarannya.
__ADS_1
Seriti Merah dan Nirmala langsung menghunus pedang mereka, kemudian melenting menyerang Batino Seribu Rupa serta Boleang dan Bijo.
Batino Seribu Rupa, Boleang dan Bijo segera menghindar dari serangan Seriti Merah dan Nirmala. Tapi Bijo sedikit terlambat dan dadanya luka disabet pedang Nirmala. Meski lukanya tidak parah tapi darah mengalir cukup deras melalui luka itu.
"Kalian semua harus mati hari ini." Cingauak Bangkai segera menyerang Lindu.
"Sebutkan siapa namamu bocah tolol !" Lindu melenting menjauh menghindar dari serangan Cingauak Bangkai. Lindu mengambil Pedang Mustika Embun dari ruang hampa. "Aku dipanggil orang Raja Pedang." Lindu memperkenalkan dirinya. Cingauak Bangkai terkejut dan tertawa ngakak.
"Ha haa haaa haaaa... Ternyata tidak perlu repot-repot mencari mu bocah tolol. Sampaikan salam dari Cingauak Bangkai."
Serangkaian serangan sangat kuat dilepaskan Cingauak Bangkai. Lindu menyambut semua serangan Cingauak Bangkai.
Booomm...!!
Dhuaarr.....!!
Ledakan keras terdengar berulang ulang saat tenaga mereka yang besar bertemu. Pertarungan semakin sengit. Setelah berjalan lima puluh jurus, Lindu mulai memainkan jurus pedang langit dan bumi. Pedang Mustika Embun bergerak sangat cepat bagai gulungan badai bergerak naik dan turun. Pedang bergerak sangat cepat mengelilingi Cingauak Bangkai.
Crezz.... Jrezzz....
Crassz.....
Luka demi luka mulai memenuhi tubuh Cingauak Bangkai.
Sementara Batino Seribu Rupa tidak kalah buruk dengan Cingauak Bangkai. Seriti Merah sangat kesal menghajar habis habisan Batino Seribu Rupa. Perempuan binal itu babak belur dengan tubuh penuh luka.
Batino Seribu Rupa yang awalnya mencoba menyerang mental Seriti Merah. Namun provokasi yang bertujuan melemahkan Seriti Merah malah semakin memacu kemarahan Seriti Merah.
"Pela*** hina. Terimalah kematian mu" Seriti Merah berteriak marah.
Pada satu kesempatan, Seriti Merah berhasil menghantam lambung Batino Seribu Rupa dengan Tendangan Tornado dan perempuan binal itu terlempar sampai dua puluh tombak dan muntah darah.
Nirmala menghadapi dua orang lawan, yaitu Boleang dan Bijo. Gadis cantik itu mengalami beberapa luka di tubuhnya. Namun lawannya Boleang dan Bijo juga mendapatkan banyak luka.
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1