Raja Pedang

Raja Pedang
#100. Bertemu Sabai


__ADS_3

Malin dan Nuri duduk sedikit gelisah didepan Jendral Nala Punta. Saat ini Jendral Nala Punta yang merupakan salah satu panglima perang kekaisaran Suvarnabhumi, menjadi pemimpin tertinggi dikawasan posko pendekar kota Babilang Kaum. Disebelah Jendral Nala Punta, duduk Mangaraja Adongma dan Datuak Batungkek Ameh serta Alang Bangkeh dan Patriak klan Caniago si Pedang Kilat.


"Apa kalian bilang. Nirmala sudah tewas ??!!!" Pedang Kilat dan Datuak Batungkek Ameh bahkan Jendral Nala Punta nyaris berteriak. Mereka semua kenal dan pernah berinteraksi dengan Nirmala. Gadis cantik, ceria dan ramah. Mereka yang hadir terdiam dalam hening yang dalam.


Mangaraja Adongma meski belum pernah bertemu dengan Nirmala. Dia juga cukup sering mendengar nama Nirmala disebut. Dia tau Nirmala adalah tuan putri yang merupakan anak dari Patriak klan Mangaraja Tohir dan Ratu Shima.


Nuri dan Malin kemudian menceritakan detail kejadian kematian Nirmala kepada semua yang hadir. Pedang Kilat ingat putranya Binu. Putra tunggalnya yang bikin masalah dengan Nirmala dan Raja Pedang. Kemudian jatuh cinta yang sebenarnya kepada Nirmala. Sehingga sampai sekarang masih tetap melajang dan tidak tertarik lagi bermain dengan gadis lain. Bagaimana sikap Binu nantinya kalau tau pujaan hatinya telah tiada ? Padahal dia begitu berharap bisa bertemu Nirmala dikota Babilang Kaum ini. Pikiran Pedang Kilat melayang memikirkan semua itu.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan. Pedang Kilat dan Datuak Batungkek Ameh melesat keluar.


Tindakan kedua panatua itu diikuti oleh Malin, Nuri dan lainnya. Begitu mereka tiba ditempat kejadian tampak Datuk Rao Api dan Lenggo beserta warga klan Manusia Harimau bersitegang dengan petugas penerima tamu.


"Kami tetap belum bisa mengizinkan kalian untuk masuk. Karena nama klan kalian tidak ada dalam daftar laskar gabungan." Pemuda yang bertugas menerima tamu tetap bersikeras. Wajahnya sudah terlihat kesal. Datuk Rao Api tampak lebih kesal lagi. Dia sudah bilang kepada Raja Pedang bahwa klan Manusia Harimau akan ikut bergabung dalam laskar gabungan di Babilang Kaum. Sekarang ketika mereka sampai di posko laskar gabungan, malahan tidak diterima. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah dikenal menyapa dirinya.


"Datuk Rao Api..." Malin menyapa pimpinan klan Manusia Harimau.


"Lengo..." gadis cantik yang berdiri disebelah Datuk Rao Api menoleh dan tersenyum lebar.


"Kak Nuri..." gadis cantik itu langsung mengejar Nuri dan memeluknya. Lenggo memeluk erat tubuh Nuri, dan gadis cantik berambut pendek itu balas melakukan hal yang sama. Nuri sangat memahami gejolak dalam hati gadis manusia harimau itu.


"Jendral..." Malin menatap pada Jendral Nala Punta.


"Jendral Nala, tadi kami mau melaporkan bahwa klan Manusia Harimau dibawah pimpinan Datuk Rao Api juga akan ikut bergabung dengan laskar gabungan untuk penyerbuan ke markas Tengkorak Merah di Tano Niha."


Jendral Nala Punta senang mendengar penjelasan Malin.

__ADS_1


"Selamat datang Datuk Rao Api dan rombongan klan Manusia Harimau. Selamat bergabung dengan Laskar Gabungan Pendekar benua Emas." Jendral Nala Punta menjura dan menangkupkan dua tangannya didepan dada. Tindakan itu diikuti oleh Datuak Batungkek Ameh, Pedang Sakti, Binu, Wisesa dan yang lainnya. Datuk Rao Api, Lenggo dan semua anggota klan Manusia Harimau balas menjura dan member penghormatan.


Setelah mereka saling berkenalan dan berkukar sapa secara singkat. Jendral Nala Punta mempersilahkan Datuk Rao Api beserta seluruh rombongan untuk beristirahat lebih dahulu.


"Malin, Nuri kalian antarkan dulu Datuk Rao Api beserta seluruh rombongan ke unit bungalow. Aaah... sebaiknya kalian berdua juga ikut mengantar. Malin dan Nuri juga mestinya belum kenal kawasan posko Laskar Gabungan ini." Jendral Nala Punta menunjuk Wisesa dan Binu.


Malin dan Nuri menjura dan mengajak Datuk Rao Api beserta rombongan untuk beristirahat diikuti oleh Binu dan Wisesa. Mereka bersama menuju bungalow untuk klan Manusia Harimau.


"Kak Nuri, aku tidak melihat Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi ?" Lenggo bertanya kepada Nuri. Pertanyaan itu mewakili keinginan Datuk Rao Api, Datuak Rimau Putiah dan Doa Mudo dan kebanyakan warga klan Manusia Harimau.


"Patriak... kira-kira bantuan dari markas utama Tengkorak Merah kapan akan datang ? Bantuan dari markas Semenanjung Malayana juga belum datang.


Menurut perhitungan, dalam dua sampai tiga minggu kedepan gabungan para pendekar akan datang menyerbu kita." Tetua Kondiak Iblis bertanya dengan suara gelisah.


"Apakah kau takut menerima serangan yang diatur oleh kekaisaran Suvarnabhumi ini Kondiak ?!!" Setan Merah setengah membentak bertanya kepada Kondiak Iblis.


"Mestinya dalam satu minggu kedepan, semua sekutu sudah akan datang berkumpul. Minggu berikutnya bantuan dari Tengkorak Merah Semenanjung Malayana dan Tionggoan juga akan tiba. Sebagai penanggung jawab akomodasi mereka semua. Apakah kau sudah siap Kondiak Iblis ??"


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi mendarat di hutan sebelum gerbang kota Babilang Kaum. Mereka kemudian berlari cepat. Sesaat kemudian mereka sudah melambat dan melangkah biasa menuju gerbang kota Babilang Kaum.


"Uda Lindu...!!" tiba-tiba terdengar suara renyah gadis remaja yang cantik. Bidadari Suvarnabhumi berbalik dan berteriak kaget.


"Sabai...??!!!" Lindu juga berbalik dan kaget melihat Sabai. Dia melihat pria setengah baya disamping Sabai yang tersenyum lebar.


"Salam tetua Hampu" Lindu menjura dan menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Tetua Hampu menjura membalas penghormatan Lindu.

__ADS_1


Sabai berlari dan memeluk Bidadari Suvarnabhumi.


"Kak tangah Mayang apa khabar, Aduuuuh kak Mayang kok sekarang jauh lebih cantik ?" Mayang tersenyum sambil merangkul Sabai.


"Kamu juga sangat cantik dan sudah gede banget...?!?"


Mereka kemudian jalan bersama memasuki kota Babilang Kaum. Karena hari sudah sore, Lindu mengajak mereka mencari penginapan untuk menginap.


Setelah mendapatkan tiga kamar mereka memasuki rumah makan dilantai bawah. Dhamma Mayang memesan kopi pahit untuk Lindu dan tetua Hampu. Sedangkan untuk Sabai dan dirinya dia memesan teh Telang yang menenangkan.


"Uda Lindu, kok Sabai gak lihat kak tangah Nirmala ?" Dhamma Mayang melihat Lindu dan mengusap lembut lengannya. Lindu kemudian menceritakan semua kejadian bagaimana Nirmala terbunuh. Dhamma Mayang menambah penjelasan bahwa Ang Coa Mosin juga telah dibunuh oleh Lindu.


"Kami juga akan pergi untuk menghancurkan markas utama Tengkorak Merah di benua Tionggoan." Dhamma Mayang mengakhiri ceritanya. Sabai menggenggam tinjunya kuat-kuat. Sampai buku-buku tangannya memutih. Gadis remaja yang cantik itu mengatupkan bibirnya dengan wajah keras membesi.


"Tengkorak Merah... kami akan menghapus keberadaan sekte kalian dari dunia ini." suara Sabai tergetar karena amarah yang membakar dadanya.


Dia ingat, keluarganya dan klan mereka juga habis dibunuh oleh sekte Iblis Tambun Tulang dan sekte Tengkorak Merah.


Tetua Hampu menarik nafas panjang. Wajahnya beriak oleh kemarahan.


Lindu mengeluarkan pusaka Pedang Bintang dari gelang penyimpanan milik Nirmala yang kini dipakainya ditangan kirinya. Dia menimang nimang Pedang Bintang, lalu melihat kepada Dhamma Mayang.


Gadis cantik menawan itu mengangguk dengan wajah agak muram.


\=\=\=\=\=***

__ADS_1


#kak tangah \= kakak ipar


__ADS_2