Raja Pedang

Raja Pedang
#91. Membuat Pil Tangka Sagalo Biso


__ADS_3

Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi, Malin, Nirmala dan Nuri kemudian mencoba memakan buah lontar muda itu.


"Waaah...!!" Nirmala berteriak setelah makan satu buah lontar. Matanya besar membulat.


"Buah apa tadi namanya ??


Rasanya enak banget...!!" Bidadari Suvarnabhumi tersenyum melihat tingkah Nirmala. Tapi buah lontar memang sangat enak. Daging buah seperti jeli, didalam daging buah ada cairan manis dengan aroma pandan yang wangi menyegarkan.


"Ayo nona Nirmala, dinikmati lagi buah khas ini." Datuk Rao Api menyodorkan piring tembikar menkilap berisi buah lontar yang sudah dikupas.


Nirmala menerima piring tembikar menkilap itu dan tersenyum lebar kepada Datuk Rao Api. Dia lalu menikmati buah lontar yang sangat enak dan memberi rasa segar dan nyaman pada tubuh.


Melihat gaya Nirmala makan dengan mata setengah terpejam. Dhamma Mayang juga mengambil satu buah lontar dari piring tembikar di depan Nirmala...


"Eh... Benar buah ini sangat enak. Memberi kesegaran dan kenyamanan bagi tubuh." Bidadari Suvarnabhumi ikut memberikan komentar.


Setengah jam kemudian.


Bala datang bersama dua temannya membawa banyak tanaman herbal spiritual yang diminta Lindu. Aroma tanaman herbal langsung memenuhi palanta rumah besar itu.


"Aku akan menyiapkan pil Tangka sagalo biso dulu. Tolong jangan ada yang gaduh. Aku akan membuat pil obatnya disini saja." Lindu bertindak cepat.


Dia mulai memilih semua tanaman herbal dan menyusun berdasarkan jenis. Ada tiga belas jenis tanaman herbal yang dibutuhkan untuk membuat pil Tangka sagalo biso. Setelah selesai memilah tanaman obat, Raja Pedang membagi menjadi dua puluh kelompok masing-masing tumpukan tiap jenis tanaman spiritual.

__ADS_1


Raja Pedang mulai membakar setiap jenis herbal sampai berupa cairan eliksir yang murni tanpa menggunakan tungku pembakaran obat. Setelah semua jenis tanaman herbal spiritual telah berbentuk eliksir, Raja Pedang mencampurkan satu demi satu eliksir hingga menyatu sempurna. Setelah semua eliksir tercampur sempurna, Raja Pedang meningkatkan suhu api yang menyala dari telapak tangannya. Perlahan paduan eliksir itu mengental. Aroma obat yang lembut dan menyegarkan mulai tercium.


Semua yang hadir menatap proses pembuatan obat sampai pil terpesona. Mereka semakin mengagumi Raja Pedang.


Tidak terbayangkan, dalam usia yang masih muda Lindu sudah menjadi seorang pendekar besar yang pilih tanding. Diluar itu dia juga ternyata juga seorang Master Alkhemis. Semua orang nyaris tidak percaya. Hanya Nilam yang tersenyum senyum bangga ketika semua orang itu menatap kagum.


Cairan eliksir semakin kental. Raja Pedang menggerak gerakan tangan kanannya dari samping. Cairan eliksir kental itu terpecah menjadi lima belas sampai tujuh belas bagian. Raja Pedang kembali menaikkan suhu api pembakaran. Perlahan cairan kental eliksir munggumpal. Aroma obat herbal semakin kuat.


Cairan eliksir telah terpisah itu terus menggumpal dan memadat. Sekitar sepuluh menit kemudian pil Tangka sagalo biso itupun jadi. Semua mata benar-benar kagum terhadap Raja Pedang. Pada proses pembuatan itu berhasil dibuat pil pil Tangka sagalo biso sebanyak lima belas butir pil. Ini sesuai dengan perhitungan Lindu. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membuat satu kali racikan. Raja Pedang menanyakan tungku pembuat pil kepada pemimpin klan manusia harimau.


"Lenggo,.. ambil tungku obat amata." Seorang gadis yang sangat cantik pergi kedalam rumah. Sesaat kemudian gadis cantik itu menyerahkan sebuah tungku tua kepada Datuk Rao Api.


"Serahkan langsung kepada Raja Pedang, Lenggo."


"Ini tungkunya Raja Pedang." Menyerahkan tungku tua sambil menunduk malu. Raja Pedang menerima tungku peracik obat itu terpesona melihatnya. Dia mengamati tungku peracik obat yang sangat kuno itu dengan serius.


"Sungguh mata Raja Pedang sangat teliti. Benar itu adalah tungku obat meratap langit milik Dewa Selaksa Obat.


Tungku itu ditemukan oleh leluhur kami lebih dari seribu tahun lalu ketika manaruko, di hutan Kubo gunung Tua ini." Datuak Rajo Api menjelaskan dan membenarkan apa diduga oleh Raja Pedang.


"Baiklah, akan akan mencoba mengobati Datuk Rao Api terlebih dahulu."


"Ah... Raja Pedang tolong obati Lenggo putriku lebih dulu." Lindu tersenyum mendengar permintaan Datuk Rao Api.

__ADS_1


"Baiklah, nona Lenggo kemarilah dan ulurkan tangan kirimu." Lindu memanggil Lenggo putri Datuk Rao Api. Rao Mudo menggeleng kepala melihat tingkah ayah dan adik nya. Lenggo malu-malu beringsut dan duduk bersimpuh di hadapan Lindu. Gadis cantik itu mengulurkan tangan kirinya. Lindu meraih tangan gadis cantik putri pemimpin klan manusia harimau.


Ketika Lindu memegang tangan kirinya, dada Lenggo bergetar hebat. Dia buru-buru menundukkan wajahnya yang berobah merah merona. Semua itu tidak luput dari penglihatan Mayang dan Nirmala. Kedua istri Raja Pedang itu saling bertukar pandangan.


Lindu mengambil tangan Lenggo lalu meremas sedikit. Wajah Lenggo semakin merah dan dia menundukkan kepalanya lebih dalam lagi. Lalu jemari tangan Raja Pedang mengurut tapak tangan Lenggo mengarah ke jari manis. Jari manis yang tadinya bewarna putih kemerahan, sekarang berubah menjadi hitam.


Lindu membeset melukai ujung jari manis Lenggo. Gadis cantik itu tersentak,..


"Aachhh..." mulutnya mengeluarkan suara *******. Darah bewarna hitam menetes kedalam sayak yang sudah disiapkan sebagai tampungan. Tangan kiri Lindu terus memegang tangan Lenggo. Tangan kanan Lindu terus memijat dan mengurut tapak tangan Lenggo. Darah hitam terus menetes. Setelah aga lama darah yang keluar mulai berganti dengan darah merah bersih.


Lindu menghentikan proses pengeluaran darah. Kemudian dia memberi satu pil Tangka sagalo biso kepada Lenggo.


Lenggo menerima pil Tangka sagalo biso dengan dua tangan. Lalu gadis cantik itu langsung menelannya. Dia langsung duduk bersila dan menyerap khasiat pil Tangka sagalo biso. Setelah lima belas menit, terlihat Lenggo menarik nafas dalam-dalam. Lenggo membuka kedua matanya perlahan. Gadis itu melihat kearah ayahnh dan tersenyum.


"Amang... sekarang rasanya sudah plong, tidak ada sesak lagi." Lenggo memberi tahu ayahnya, kalau racun dalam tubuhnya sudah hilang. Malah terasa ada peningkatan dalam jumlah lingkaran energi mendalam bertambah banyak. Dia lalu menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Terimakasih Raja Pedang atas bantuan anda menghilangkan racun dari dalam tubuhku." Lindu hanya tersenyum.


Sekarang kamu sudah tidak perlu takut lagi dengan bulan purnama. Rao Mudo dan Datuak Rimau Putiah tertawa mendengar candaan Lindu. Sedangkan Lenggo tersapu eh tersipu mendengar tawa abangnya Rao Mudo.


"Rao Mudo, Datuak Rimau Putiah dan kau Malin. Tolong bantu membuang racun dari tubuh semua orang. Kamu Lala dan Nuri, berkan pil Tangka sagalo biso ini setelah darah mereka kembali merah bersih. Kalian semua, setelah menelan pil Tangka sagalo biso ini lakukan semadi untuk meresap khasiat pil Tangka sagalo biso ini selama sepuluh sampai dua puluh menit.


Mayang bantu aku untuk menyelesaikan pekerjaan membuat pil Tangka sagalo biso."

__ADS_1


Semua kemudian mulai bekerja sesuai dengan bagian mereka. Lenggo ikut membantu membagikan pil Tangka sagalo biso kepada mereka yang sudah dikeluarkan seluruh racun dari dalam darah mereka.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2