
Lindu menatap Ratu Shima dan tersenyum mengangguk kan kepala.
"Apa yang harus aku lakukan bunda Ratu ?"
Lindu bertanya dengan tenang pada Ratu Shima. Ratu Nagari Bunian itu melihat sekilas Larasati dan Andini sebelum kembali menatap Lindu.
"Larasati dan Andini akan bertarung dengan mu. Kau harus bisa bertahan paling tidak selama dua ratus jurus jika tidak mampu mengalahkan mereka berdua. Perlu kau ketahui, Larasati saat ini berada ditingkat agung tinggi, sedangkan Andini berada ditingkat agung menengah. Apakah kau berani menghadapi mereka ?" Walau Lindu berusaha menutupi kekuatan dirinya yang sebenarnya, tapi Ratu Shima bisa mengetahuinya.
Ratu Shima tau jika Lindu saat ini berada ditingkat agung menengah. Jauh didalam hatinya dia mengagumi Lindu yang sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi diusianya yang masih muda. Dia hanya ingin mengetahui sampai dimana kesungguhan hati Lindu. Namun Ratu Shima tidak tau, bahkan tidak ada yang tau jika Lindu mampu mengalahkan lawan dengan kemampuan dua level diatas tingkatannya.
Lindu hanya tersenyum simpul dan mengangguk dengan mantap.
"Kapan dan dimana kita lakukan ?" Lindu bertanya dengan santai. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi saling bertukar pandangan, lalu mereka menatap Ratu Shima dan Lindu dengan perasaan was-was.
Lindu mengerti kenapa kedua gadis itu menatap was-was. Lindu tersenyum dan mengedipkan matanya agar Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tetap tenang. Larasati mendusin dalam hati.
"Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi kami berdua. Menghadapi Andini saja paling banter mereka seimbang."
"Ayo kita keruangan latihan sekarang" Ratu Shima menjawab Lindu sambil berdiri dan berjalan menuju ke ruang latihan.
Ruangan latihan di istana Bunian sangat besar dan megah. Berbagai jenis senjata tersusun rapi dalam rak senjata yang disisi sudah ruangan. Ratu Shima membuat formasi pelindung agar pertarungan itu tidak merusak apapun. Diam-diam Ratu Shima memberikan kode pada Larasati dan Andini agar tidak terlalu keras kepada Lindu.
Lindu berdiri di tengah ruang latihan berhadapan dengan Larasati dan Andini.
"Mohon petunjuk mu bibi Larasati dan panglima Andini" Lindu segera melayang di udara.
Lindu seakan berdiri diatas tanah. Kakinya terbentang selebar bahu. Larasati dan Andini mengikuti Lindu berdiri di udara dikiri dan kanannya Lindu. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala terkagum-kagum melihat mereka.
Pertarungan segera terjadi di udara. Dentuman demi dentuman keras terdengar berulang kali, akibat benturan tenaga yang sangat besar.
Baammm...!!
Dhuaarr....!!
Pertarungan antara Lindu melawan Larasati dan Andini berlangsung dengan sengit. Waktu terus berlalu. Tidak terasa seratus jurus telah terlewati.
Mereka sudah saling terkena pukulan beberapa kali. Namun hanya luka luar yang ringan.
Pada serangan jurus yang ke seratus tiga puluh enam. Andini menyerang dengan sangat cepat kearah Lindu. Larasati juga bersiap untuk menyerang begitu Lindu menghindar.
Tinggal sejengkal serangan Andini mencapai sasaran, Lindu tiba-tiba menghilang. Dia muncul dibelakang Andini dan menendang punggung Andini. Melihat itu Larasati bergerak sangat cepat menyerang Lindu. Namun hal itu sudah dalam perhitungan Lindu. Pemuda itu tetap menyerang Andini dan tangan menunjuk Larasati.
__ADS_1
Pukulan Tanpa Ujud bisiknya pelan.
Bugh...!!
Dhuaaacckh...!!
Aachh...!!
Tendangan Lindu telak bersarang di punggung Andini dan panglima nagari Bunian itu jatuh ke tanah dan memuntahkan seteguk darah. Tidak berbeda dengan Andini, Larasati yang lagi menyerang Lindu, tiba-tiba dadanya dihantam pukulan tanpa ujud, dia langsung jatuh terbanting ke tanah dan memuntahkan dua tangkup darah.
"Cukup...!!" Ratu Shima berteriak menghentikan pertandingan. Ratu Nagari Bunian itu tersenyum lebar menatap Lindu.
"Luar biasa, meski berada ditingkat yang lebih rendah dari Larasati, kau bisa mengalahkan mereka dalam waktu bersamaan. Selamat mantuku" Saat ibundanya bicara, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi berlari kearah Lindu dan memeluknya erat.
"Uda tidak apa-apa ?" ucap mereka bersamaan. Lindu tersenyum dan mengusap kepala mereka.
"Aku tidak apa-apa." Lindu melangkah mendekati Andini dan Larasati. Dia menjura dan berkata...
"Terimakasih bibi Lara dan panglima Andini yang sudah mau mengalah" Ucapan Lindu ditanggapi dengan senyuman kagum dari Larasati.
"Awalnya aku memang agak menahan diri. Tapi setelah melewati jurus keseratus aku bersungguh-sungguh untuk mengalahkan mu. Tapi ternyata kau juga menahan diri cukup lama sebelum mengalahkan kami." Larasati dan Andini balas menjura pada Lindu.
"Lindu..." Larasati menatap Lindu sungguh sungguh.
"Dewa Tanpa Bayangan adalah guruku. Apakah bibi Larasati mengenal guru ku ?" Lindu menjelaskan dan balik bertanya. Ada riak kerinduan sekilas melintas diwajah cantik Larasati.
"Bagaimana Khabar gurumu sekarang ?" Larasati bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Lindu. Tapi Lindu tidak mempermasalahkan hal itu. Dia tetap menjawab pertanyaan Larasati.
"Guru masih sangat sehat. Beliau masih terlihat seperti berusia tiga puluh tahun, muda, tampan dan gagah." Larasati termangu mendengar jawaban Lindu. Lindu sengaja menambahkan kata muda, tampan dan gagah untuk melihat reaksi Larasati. Dalam hati dia mereka-reka berapa ratus tahun umur Larasati.
"Ayo kita kembali. Ada hal penting yang harus kalian ketahui." Ratu Shima kembali menuju ruang santai keluarga.
---***
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang menjelang siang memasuki koto Lumut. Sebuah koto kecil berjarak satu hari perjalanan berkuda ke kota Babilang Kaum. Kota Babilang Kaum adalah kota pelabuhan besar. Dari kota itu, mereka akan menumpang kapal layar menuju Tano Niha.
Koto Lumut adalah sebuah daerah pertanian amat subur dengan hasil pertanian yang melimpah. Banyak pedagang dari koto dan kota lain yang datang kesana. Penguasa koto Lumut berasal dari klan Mangaraja. Klan Mangaraja merupakan klan terkuat dan sangat berkuasa di wilayah kekaisaran Madania. Distrik Mangaraja yang menjadi pusat klan hampir menyamai istana kekaisaran megahnya.
Kaisar Ronggur Balu yang saat ini menjadi kaisar di kekaisaran Madania sangat menghormati ketua klan Mangaraja. Kaisar Ronggur Balu menjadikan Mangaraja Tohir pemimpin tertinggi klan Mangaraja, sebagai pelindung kekaisaran. Itulah sebabnya koto Lumut selalu aman tentram meski banyak orang asing dan pendekar keluar masuk koto.
Melihat penduduk koto Lumut yang makmur, Iblis Cantik Tambun Tulang berbisik pada Badak Mantagi.
__ADS_1
"Sepertinya tempat ini bagus untuk mengisi kembali bekal bekal kita yang sudah berkurang banyak, Mantagi. Sekalian melemaskan otot-otot yang mulai kaku."
Badak Mantagi mengedarkan pandangannya sesaat lalu mengangguk.
"Boleh juga Bano. Ayo kita cari rumah makan dulu. Setelah itu kita keliling memindai sasaran untuk nanti malam."
Malam belum terlalu larut, tapi koto Lumut sangat gelap. Mendung tebal yang bergayut dilangit menjadikan malam semakin pekat. Sehingga orang-orang lebih suka tinggal dirumah.
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang melangkah ringan mendekati area bangunan rumah bolon paling besar milik penguasa koto. Mereka sudah melihat-lihat sambil lalu tadi siang. Walaupun ada cukup banyak pengawal, namun hanya ditingkat perak. Ada beberapa ditingkat emas, mungkin kepala regu satuan keamanan. Tentu saja mereka hanya semut dimata Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang.
Kondisi gelap gulita sangat menguntungkan Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang. Bagaikan dua bayangan kelelawar yang saling berkejaran, keduanya melompat naik ke ginjang rumah bolon yang paling besar. Mereka mengawasi area sekitar yang tampak sepi.
Mangaraja Adongma yang berada di ruangan Sondang sisolhot bersama beberapa tetua klan tersentak. Lelaki gagah dengan kumis melintang itu, merasakan pergesekan udara yang tidak wajar. Dia melirik kearah ginjang dan memberi kode kepada semua tetua. Mereka semua bergerak cepat tanpa suara keluar dari rumah bolon.
Badak Mantagi yang sedang mengendap-endap bersama Iblis Cantik Tambun Tulang tiba-tiba berbalik...
Blaarrr...!!
Dentuman keras terdengar ketika dua tenaga besar bertemu. Badak Mantagi melenting ke tanah setelah menahan serangan Mangaraja Adongma. Iblis Cantik Tambun Tulang ikut turun disamping Badak Mantagi.
Dua tetua sekte Iblis Tambun Tulang itu berdiri berhadapan dengan Mangaraja Adongma dikelilingi oleh para tetua klan cabang Mangaraja dan para pengawal. Badak Mantagi segera mengedarkan aura esensi untuk mengetahui tingkatan lawan-lawannya. Dia merasakan tingkatan lelaki gagah dengan kumis melintang hampir sama dengan tingkatnya. Enam tetua yang mengelilingi dia dan Iblis Cantik Tambun Tulang berada ditingkat langit menengah sampai puncak.
"Tidak mudah mengalahkan mereka" pikir Badak Mantagi. Dia memberi kode kepada Iblis Cantik Tambun Tulang untuk mencari celah melarikan diri.
"Apa kau pikir bisa melarikan diri bodat ?" suara berat dan kasar khas wilayah utara terdengar.
"Sebutkan siapa kalian...??" suara berat Mangaraja Adongma kembali terdengar. Badak Mantagi menjawab pertanyaan Mangaraja Adongma dengan sebuah serangan ganas mematikan.
Gampo bumi
Badak Mantagi menerjang sangat cepat kearah dada Mangaraja Adongma. Lelaki berkumis melintang itu membuka telapak tangannya menyambut kedatangan serangan Badak Mantagi.
Tapak langit
Berdiri sekokoh gunung
Mangaraja Adongma menarik kaki kanannya kebelakang. Kaki kirinya ditekuk dan tapak tangan membentang menyambut pukulan Badak Mantagi.
Blaaarrr.....!!!
Ledakan teramat keras berdentum dan energi membias menyebar ke segala arah. Badak Mantagi terlempar sepuluh tombak. Tetua pertama sekte Iblis Tambun Tulang itu memuntahkan seteguk darah. Mangaraja Adongma mesih berdiri ditempatnya, tubuhnya terayun kedepan belakang seperti kain jemuran ditiup angin. Penguasa koto Lumut ini, juga memuntahkan darah.
__ADS_1
Pada saat tubuh Badak Mantagi masih terlempar, tiga tetua klan menerjang kearah lelaki gempal itu bersamaan.
\=\=\=***