Raja Pedang

Raja Pedang
#81. Kemarahan Siampa Hitam


__ADS_3

Alang Bangkeh duduk bersila diatas tikar pandan. Lindu dan Mayang duduk berjejer disebelah kanannya. Sebelah kirinya, duduk Alang Babega bersama Seriti Merah dan Nirmala.


"Waaah... sepertinya Ungku baru menerobos lagi ini. Selamat ya Ungku, sekte Alang Barat akan semakin kuat dan besar." Lindu memuji kakeknya Alang Bangkeh yang kini sudah berada ditingkat suci.


"Kalian lah yang menjadi pendekar utama saat ini untuk benua Emas. Ungku tidak bisa membayangkan ada tiga monster dalam keluarga ini. Surga sungguh memberi banyak kebaikan untuk sekte Alang Barat, Angso Duo dan Tapak Dewa." Alang Bangkeh memuji cucu dan kedua cucu mantunya.


"Ungku, sebetulnya kami mau minta restu. Siang ini kami bersama paman Alang Babega akan pergi ke hutan Malalak. Menurut informasi, sekte sesat Limo Badak kini jadi penyamun disana."


"Hanya kalian berempat ? Apakah tidak sebaiknya kamu membawa Limin untuk menambah wawasannya, Alang Babega ? Juga sebaiknya kalian berangkat kesana besok pagi saja."


"Baik Patriak, aku sangat setuju jika Lindu mengizinkan Limin ikut." Alang Babega menanggapi dan membenarkan Patriak sekte Alang Barat. Mereka semua menatap Lindu.


"Aku tidak keberatan, jika Limin mau ikut." Lindu setuju dengan dengan usulan Alang Bangkeh.


"Patriak, sepertinya kita tidak bisa berdiam diri terus. Sekte sesat Dubilih Enggano yang selama ini tidak pernah aktif. Sekarang sudah aktif menyerang sekte golongan putih. Bahkan baru-baru ini mereka telah menghancurkan sekte besar golongan putih, sekte Buayo Lalok." Datuak Batungkek Ameh bicara agak sedikit keras kepada Patriak sekte Secabik Kafan Pendekar Tombak Maut. Patriak sekte Secabik Kafan berdiam diri sejenak.


"Panggil semua Tetua, sudah waktunya kita membahas langkah selanjutnya."


"Wisesa...! Beritahu semua Tetua untuk berkumpul diruang Patriak sekarang." Datuak Batungkek Ameh merespon perintah Patriak Pendekar Tombak Maut. Pria berambut kelabu itu memberi perintah kepada Wisesa muridnya.

__ADS_1


"Baik guru !" Wisesa segera menghilang. Tidak berapa lama semua Tetua sekte Secabik Kafan memasuki ruangan Patriak Pendekar Tombak Maut satu demi satu. Tetua Kundi dan tetua Upik Intani masuk beriringan.


"Salam sejahtera Patriak dan Tetua Datuak Batungkek Ameh." tetua Kundi di rimba hijau dunia persilatan lebih dikenal sebagai Kelewang Perak.


Tetua sekte Secabik Kafan ada enam orang Tetua, ditambah satu orang tetua agung yaitu Datuak Batungkek Ameh. Mereka semua duduk melingkar diatas tikar pandan.


"Aku sengaja mengumpulkan Tetua semua hari ini. Dewasa ini kita semua melihat kondisi rimba hijau dunia persilatan sangat kacau. Imbasnya amat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.


Mereka dari kelompok sesat dan golongan hitam menyerang, menekan dan menghancurkan sekte dan klan putih. Begitu juga dengan sekte dan klan golongan putih." Patriak sekte Secabik Kafan si Tombak Maut diam sejenak. Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan.


"Baru-baru ini, sekte Buayo Lalok sebagai satu sekte besar golongan putih telah dihancurkan oleh sekte sesat Dubilih Enggano. Selama ini sekte Dubilih Enggano tidak pernah menyerang sekte atau klan manapun. Kecuali sekte mereka diganggu lebih dulu. Tapi mungkin sekte ini sudah bergabung dengan Tengkorak Merah, mereka menjadi lebih agresif. Penyerbuan ke sekte Buayo Lalok kemaren, mereka dibantu oleh Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak. Mereka berdua adalah orang Tengkorak Merah." Kembali Patriak sekte Secabik Kafan berhenti dan menghela nafas. Semua Tetua diam menunggu kelanjutan Tombak Maut.


"Ang Coa Mosin menurut info yang aku terima, kekuatan nya berada ditingkat agung menengah. Sedangkan Iblis Binal Lembah Tengkorak ada ditingkat suci menengah atau tinggi.


"Maaf sebelumnya Patriak. Jika seorang tetua Tengkorak Merah berada ditingkat agung tinggi, bagaimana dengan kekuatan Patriak mereka ? Bagaimana mungkin kita bisa menghadapi mereka ?" Semua pertanyaan Kundi si Kelewang Perak menjadikan ruangan itu jadi gaduh. Tetua Upik Intani si Padusi Pedang Kembar ikut mengangkat tangannya. Semua orang melihat kepada Padusi Pedang Kembar.


"Aku baru balek dari Bungo. Ada informasi bahwa sekte Iblis Tambun Tulang sudah dihancurkan oleh Raja Pedang dan Sepasang Bidadari. Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak juga menderita luka parah, ketika bertarung melawan Raja Pedang dan Sepasang Bidadari. Mereka bentrok di lembah hutan Bulian, Ang Coa Mosin melarikan diri dengan menggendong Iblis Binal Lembah Tengkorak.


Aku terfikir, kita membuat satu kelompok khusus yang terdiri dari murid-murid jenius. Mereka akan menjadi Sembilan Harimau Secabik Kafan. Kelompok ini harus segera dibentuk, diberi latihan khusus. Seperti Delapan Benteng Caniago, mereka akan menjadi kekuatan menakjubkan nantinya.

__ADS_1


Bedanya pelatihan Sembilan Harimau ini adalah didalam pertarungan hidup mati. Mereka akan kita kirim untuk menumpas sekte-sekte sesat kecil dan menengah." Para Tetua mengangguk setuju dengan usulan Padusi Pedang Kembar.


"Pertemuan terakhir di istana Suvarnabhumi belum lama ini, juga membahas masalah ini. Telah diputuskan kita harus menyerang markas besar gerombolan Tengkorak Merah di Tano Niha. Kaisar Dharma Andaleh meminta agar kita bersama-sama ambil bagian untuk menghancurkan pusat kejahatan di benua Emas ini." Tetua Sri Langkisau memberi masukan.


Sri Langkisau sebetulnya adalah seorang bangsawan Suvarnabhumi. Namun tidak pernah tertarik dengan urusan pemerintahan. Semenjak muda dia sudah bergabung dengan sekte Secabik Kafan. Sekarang dia menjadi Tetua kedua di sekte Secabik Kafan. Lelaki gagah dan bersahaja itu menggunakan kipas dan suling sebagai senjatanya. Rimba hijau dunia persilatan lebih mengenal Sri Langkisau dengan nama Kipas Dewa dan Irama Kematian.


Datuak Batungkek Ameh yang dari awal hanya diam, mulai bereaksi.


"Aku fikir sudah waktunya kita lebih menjurus, usulan Padusi Pedang Kembar menurut ku sangat baik. Terus apa yang akan kita lakukan terhadap rencana kaisar Dharma Andaleh ?"


"Baiklah, kalau begitu aku minta anda Upik dan saudara Kundi untuk segera membentuk Sembilan Harimau Secabik Kafan. Aku minta kau ikut dalam hal ini Datuak." ucap Patriak sekte Secabik Kafan.


"Aku juga minta kepada mu Langkisau, lakukan kontak lebih lanjut dengan kaisar Dharma Andaleh. Agar kita benar-benar siap ketika waktunya tiba." Tombak Maut, Patriak sekte Secabik Kafan mengakhiri pertemuan itu.


Siampa Hitam berdiri didepan sekte Iblis Tambun Tulang dengan muka pucat. Begitu juga dengan dua puluh anggota sekte yang datang bersama Siampa Hitam. Tetua kedua sekte Iblis Tambun Tulang tidak pernah menyangka bahwa balik dari Tano Niha akan menemukan sektenya sudah hancur luluh lantak.


Aaaaahh.... Bangsat mana yang melakukan ini...!!


Siampa Hitam berteriak sangat keras. Suaranya yang dilampiri tenaga mendalam besar, terasa menggetarkan Bukit Tambun Tulang.

__ADS_1


Setelah menarik nafas dalam-dalam berulang kali, Siampa Hitam berbalik menghadap anak buahnya. "Kita akan membalas semua ini !!"


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2