
Pedang pusaka tetua Hampu bergerak sangat cepat kearah lawannya. Melihat serangan itu, lawan Hampu melenting dan bergulingan cukup jauh untuk menghindar. Kesempatan itu digunakan Hampu untuk menghilang dari lawannya. Hampu melesat ke arah kamar nona muda Sabai. Sesaat kemudian dia sudah berdiri didepan Sabai. Gadis kecil itu melihat kepada Hampu dengan mata berlapis kaca.
"Sabai... Patriak menyuruh kita segera pergi" Hampu berkata agak sedikit tergesa. Gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti Hampu.
Kaca yang melapisi matanya pulang retak. Dua anak sungai kecil mulai mengaliri pipinya. Hampu menggendong Sabai, mengikatkan gadis kecil itu dipunggungnya. Setelah itu Hampu melesat dengan cepat meninggalkan sekte Awan Bararak. Tetua itu melarikan diri melalui jalur rahasia dibelakang kamar Tuanku Labai Karat. Tujuannya adalah pantai Sunua, sekte Alang Barat.
Sudah tiga bulan sejak hari pernikahan Lindu dengan Nirmala dan Dhamma Mayang usai. Selama tiga bulan mereka menetap di dua istana. Istana Suvarnabhumi dan istana Silap Mato alias istana Bunian. Lindu berhasil menguasai ilmu baru formasi portal dimensi.
Membuat portal dimensi bisa dibuat dengan memadukan kemampuan formasi dan membuat roune. Karena Lindu sudah mengusai formasi sampai tingkat master puncak tidak sulit baginya belajar membuat roune. Lindu sudah berhasil membuat portal dimensi menghubungkan istana Suvarnabhumi dengan istana Silap Mato, sehingga dia bisa mengunjungi kedua istana itu kapan saja.
Hari ini Lindu mengajak kedua istrinya menuju Talago Dewi. Dia ingin menyambangi Dewa Tanpa Bayangan. Mereka sengaja lewat darat. Tujuan mereka adalah menghapus semua sekte golongan hitam dan semua markas cabang gerombolan Tengkorak Merah yang mereka temui sepanjang perjalanan. Ini akan menjadi tindakan nyata dari hasil pertemuan besar golongan putih beberapa bulan lalu. Sekte golongan hitam yang tadinya mulai bertingkah sejak pertemuan di Tano Niha menyembunyikan diri, mereka takut bertemu Raja Pedang dan Sepasang Bidadari.
Hari itu belum terlalu siang, ketika Raja Pedang dan Sepasang Bidadari memasuki kota kecil Banyu Lincia. Mereka bertiga memasuki sebuah rumah makan yang paling besar dan rame. Raja Pedang melangkah tenang menuju sebuah meja kosong agak di sebelah belakang dekat jendela. Orang orang dalam rumah makan melihat kearah Lindu, Nirmala dan Dhamma Mayang. Semua terpesona melihat kecantikan Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Pengunjung wanita pun begitu terpesona melihat ketampanan Lindu.
Saat mereka menunggu menu yang mereka pesan diantar. Suasana dalam rumah makan tiba-tiba menjadi hening. Seorang pemuda tampan berdiri didepan pintu dengan sombong. Dengan gaya yang arogan dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tatapan matanya terhenti pada Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Meski dilihat dari belakang, pesona kecantikan sempurna tetap terpancar dari kedua gadis itu.
Pemuda itu adalah Cakra, putra tunggal penguasa kota kecil Banyu Lincia. Cakra adalah murid dari Gordo, seorang pendekar sesat yang menjadi ketua markas cabang gerombolan Tengkorak Merah di hutan Kepayang. Hutan Kepayang berada arah timur kota kecil Banyu Lincia. Gordo juga menjadi pelindung penguasa kota kecil Banyu Lincia.
Cakra melangkah dengan gaya arogan menuju ke meja yang ditempati Lindu bersama Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala.
"Dua gadis yang sangat cantik... Ayo gabung bersama di mejaku." Dhamma Mayang dan Nirmala melihat sejenak kepada Cakra. Kedua wanita cantik menawan itu kembali melengos.
"Ha haa haaa..." Cakra tertawa ngakak melihat kearah kedua gadis cantik itu.
__ADS_1
"Ayo Nona Nona cantik, ayo bergabung dengan ku diruang khusus. Kalian bisa makan sepuasnya sambil menikmati hiburan." Dhamma Mayang dan Nirmala mulai melihat Cakra dengan kilau dingin dimatanya. Namun Cakra tidak melihat perubahan itu. Pemuda putra penguasa kota itu masih saja petantang petenteng.
"Ayolah Nona..." Cakra sambil tersenyum tangannya dengan gratil berusaha meraih lengan Nirmala. Gadis cantik dengan lesung pipi itu menyambut tangan Cakra.
Pemuda tampan itu mengulas senyum kemenangan melihat Nirmala menyambut tangan nya. Senyum dibibir Cakra makin lebar ketika kulit halus tangan Nirmala terasa lembut menggenggam tangannya. Hanya sesaat Cakra merasa tenaga besar mulai menjepit tangannya. Cakra berusaha melepas tangannya dari genggaman Nirmala. Semakin kuat dia berusaha semakin kuat tangan mungil Nirmala menggenggam tangannya.
Empat orang pengawal yang sebelumnya hanya diam. Kini bergerak cepat menyerang Nirmala. Para pengunjung rumah makan buru-buru pergi meninggalkan rumah makan. Rumah makan yang tadinya ramai pengunjung sekarang jadi sepi. Tinggal Cakra bersama pengawalnya dan Lindu bersama Dhamma Mayang dan Nirmala.
Empat pengawal menyerang Nirmala dengan lumayan cepat. Melihat itu Cakra juga menyerang Nirmala dengan tangannya yang bebas. Angin tajam berkesiut nyaring dibelah oleh esensi energi bumi awal. Serangan dalam jarak yang sangat dekat. Sangat cepat bagi mereka yang berbeda ditingkat bumi awal kebawah. Namun sangat lambat bagi Nirmala.
Bamm...!!
Dhuaarr...!!
Dhuaaacckh...!!
Krakkk...!! Tezz...!! Aaa....!!
Ke empat pengawal itu terpental jauh bergulingan. Semua memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sedikit berbeda dengan apa yang dialami oleh Cakra. Putra penguasa kota kecil Banyu Lincia itu terpental dan menjerit pilu. Lengan kirinya tertinggal digenggaman Nirmala. Gadis cantik dengan lesung pipi itu membuang begitu saja lengan Cakra yang tertinggal ditangannya.
Nirmala membiarkan Cakra dan mengawalinya pergi meninggalkan rumah makan. Mereka berjalan terseok-seok sambil memapah Cakra.
__ADS_1
Tuanku Labai Karat semakin terdesak hebat menghadapi Cingauak Bangkai dan Pati Marpuang. Kondisi Labai Karat tampak sangat buruk kondisinya. Banyak luka lebam dan sayatan pedang ditubuhnya. Seluruh bajunya yang biasa putih, sekarang berubah warna jadi merah.
Patriak sekte Awan Bararak itu melirik kearah tertempuran para Tetua dan murid-murid. Ternyata semua sudah tergeletak tidak bernyawa lagi. Labai Karat merasa sangat berduka. Hatinya bagai disayat sayat melihat mayat semua anggota sekte. Mereka bukan sekedar Tetua dan murid-murid sekte. Bagi Labai Karat mereka adalah keluarga. Yaa... Labai Karat selalu berkeyakinan bahwa mereka tergabung di sekte Awan Bararak adalah keluarga yang berkumpul kembali.
Labai Karat menghela nafas dalam-dalam. Patriak sekte Awan Bararak merasa bahwa sektenya akan segera berakhir. Dia mengempos esensi energi mendalam dan zhenqi miliknya. Labai Karat mencelat menerjang kearah Cingauak Bangkai.
Kilek patuih mahapuih gunung
Labai Karat melayang dengan sangat cepat. Tangan kirinya terkepal dan tangan kanannya membentuk cakar. Kedua lengan Labai Karat tampak disebungi cahaya berkilau seperti perak. Cingauak Bangkai merasa tidak lagi mungkin untuk menghindar. Tetua termuda sekte Iblis Tambun Tulang itu memapak serangan Labai Karat.
Pati Marpuang melihat Labai Karat menyerang Cingauak Bangkai dengan serangan yang sangat ganas. Tetua dari Tengkorak Merah itu segera membuat serangan untuk mengalihkan perhatian Labai Karat. Patriak sekte Awan Bararak yang sedang menyerang Cingauak Bangkai merasa angin tajam datang mengarah kepalanya. Tau ada serangan berbahaya Labai Karat meningkatkan kekuatan serangannya.
Blaarrr...!!
Dhuaaacckh...!! Aaaghh...!!
Kedua kaki Cingauak Bangkai terbenam sampai lutut kedalam tanah. Lalu terlempar kebelakang. Cingauak Bangkai berteriak kesakitan. Dia memuntahkan banyak darah ketika jatuh tergeletak di tanah. Tangan kanannya hangus sampai ke siku.
Cingauak Bangkai pingsan. Dia mengalami luka dalam yang sangat parah. Tetua sekte Iblis Tambun Tulang ini cedera parah karena tekanan esensi energi sangat besar dari serangan Labai Karat. Serangan pertama yang menyasar ke ubun-ubun ditahan dengan menyilangkan tangan. Akibatnya kaki Cingauak Bangkai amblas ke dalam tanah. Serangan kedua yang datang sepersekian detik setelah serangan pertama ditepis namun tidak sempurna. Sehingga sedikit serangan itu masih mengenai dadanya. Itulah sebabnya lengan Cingauak Bangkai hangus dan dia mengalami luka dalam yang sangat perah.
Bagaimana dengan Tuanku Labai Karat ?
Begitu benturan terjadi tubuhnya terlempar tinggi keatas. Kondisi itu menolong Labai Karat dari terkena pukulan telak.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=