Raja Pedang

Raja Pedang
#58. Restu Kaisar Dharma Andaleh


__ADS_3

Kaisar mendorong sedikit Dhamma Mayang merenggang pelukan dan menatap putri kesayangan yang sudah setahun lebih tidak ada kabarnya.


"Kau sudah ditingkat suci menengah sekarang ?" Kaisar menatap putrinya tidak percaya. Kaisar Dharma Andaleh ingat benar, hampir satu setengah tahun lalu. Waktu itu Dhamma Mayang minta izin untuk mengikuti kegiatan pelatihan bersama. Putrinya baru berada ditingkat raja awal. Sekarang, hanya dalam waktu satu tahun lebih sedikit sudah hampir sama dengan dirinya. Bagaimana mungkin, hanya dalam waktu singkat begitu bisa naik dua tingkatan besar. Ini melewati jenius utama.


Dhamma Mayang tersenyum dan melirik Lindu.


"Uda Lindu yang membimbing kami, sehingga putri cantik ayah ini dan Nirmala berada ditingkat suci menengah sekarang." Dhamma Mayang menjawab ringan. Kaisar Dharma Andaleh menatap Lindu dan Nirmala bergantian.


"Salam sejahtera yang mulia Kaisar." Lindu mengucapkan salam kepada Kaisar dengan membungkuk dalam. Mereka belum berani menyebut ayah pada penguasa wilayah selatan benua Emas itu Kaisar Dharma Andaleh mengangguk dan tersenyum sedikit.


"Ayo kita ke ruang keluarga dulu." ajak Kaisar.


Ratu Ayu Puspita bersama putri Dhamma Nitata sudah ada diruang keluarga ketika mereka masuk. Ratu Ayu Puspita membuka lebar kedua tangannya. Dia menatap putri Dhamma Mayang dengan mata berkaca.


"Bunda..." Dhamma Mayang memeluk Ratu Ayu Puspita. Dhamma Nitata juga ikut memeluk kakaknya Dhamma Mayang. Gadis imut itu berbisik kepada Dhamma Mayang.


"Kakak... apakah pemuda tampan itu calon kakak ipar ?"


Dhamma Mayang tersenyum menanggapi pertanyaan dari adiknya.


Keesokan harinya.


Lindu bersama Dhamma Mayang dan Nirmala duduk dihadapan Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Ayu Puspita. Ikut hadir diruangan itu Pendeta Agung Dyiaksa Dharma Pecala dan siapa lagi kalau bukan Kale Lepak Sakti yang datang menjelang pagi.


Setelah berbasa-basi sedikit, Lindu memulai pembicaraan serius kepada Kaisar Dharma Andaleh.


"Yang Mulia Kaisar..." hening sejenak, Lindu menghela nafas perlahan.

__ADS_1


"Saya datang menghadap kepada Yang Mulia Kaisar dan Ratu. Niat saya bersama Yayang untuk memohonkan restu atas ikatan perjodohan kami." Lindu sengaja memberi sedikit penekanan pada kata yayang, untuk melihat reaksi Kaisar dan Ratu. Tujuannya berhasil karena melihat sekilas, alis mata kiri Kaisar terangkat sekilas. Wajah Ratu Ayu Puspita terukir senyuman yang menggambarkan penerimaan.


"Perjodohan ini atas persetujuan para Patriak dan Tetua sekte yang hadir pada penutupan kegiatan pelatihan bersama. Saya sendiri, bersama Yayang dan Lala sudah sepakat dan setuju dengan ikatan perjodohan ini. Namun bagaimanapun Yayang adalah putri Yang Mulia Kaisar dan Ratu Ayu. Maka saya wajib datang untuk minta izin dan restu dari Yang Mulia Kaisar dan Ratu Ayu."


Lindu menutup permohonan restu dengan menghormat pada Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Ayu Puspita.


Ada hening yang cukup panjang diruangan itu. Kaisar, Ratu Ayu dan pendeta agung Dyiaksa Dharma Pecala saling berpandangan. Ada sesuatu yang terasa mengganjal hati. Kaisar Dharma Andaleh menghela nafas sedikit berat dan bicara. Suaranya berat tapi jernih.


"Pada dasarnya kami tidak masalah. Namun kami perlu mendapatkan beberapa kejelasan dari kau Lindu dan dari kau Mayang." Kaisar kembali menghela nafas pelan tapi panjang. Lindu dan Dhamma Mayang tetap diam menunggu dengan tenang.


"Jelaskan pada kami siapa Nirmala yang akan berbagi perhatian dengan putri kami. Lalu bagaimana kau akan menjaga hati mereka dan keselamatan mereka jika nanti sudah menjadi istrimu. Dan kalian berdua, apakah kalian mau begitu saja berbagi cinta kasih yang kalian miliki ?" Kaisar menutup dengan bertanya kepada Dhamma Mayang dan Nirmala. Seulas senyuman terukir di wajah Kale Lepak Sakti. Patriak sekte Tapak Dewa itu memahami jika Kaisar sudah setuju. Dhamma Mayang dan Nirmala menjawab pertanyaan Kaisar.


"Kami berdua sudah bicara membahas masalah ini. Setelah bicara berdua dipinggir pantai Gandoriah, kami sepakat untuk berbagi masa depan bersama. Saat masih belum ada hubungan spesial antara kami berdua dengan Uda Lindu. Apalah lagi ikatan perjodohan." Dhamma Mayang dan Nirmala menjawab dengan suara mantap. Lindu menatap kedua gadis cantik itu dengan penuh kasih dan rasa terima kasih. Lalu menatap Nirmala agak lama, sampai Nirmala menganggukan kepalanya. Lindu menatap Kaisar Dharma Pecala, Ratu Ayu Puspita dan semua yang hadir. Lalu kembali menatap Kaisar dan berkata.


"Nirmala adalah tuan putri dari kerajaan nagari Bunian. Ibundanya adalah Ratu Shima yang agung, sedangkan ayahandanya adalah Patriak klan terkuat di kekaisaran utara Mangara Tohir." Kale Lepak Sakti dan Kaisar Dharma Andaleh terkejut bukan kepalang.


"Maaf, apakah Kaisar dan Patriak mengenal ayah ku ?" Nirmala bertanya pada Kaisar Dharma Andaleh dan Kale Lepak Sakti. Kaisar dan Patriak sekte Tapak Dewa mengangguk dan tertawa bersama.


"Ya... kami mengenal baik ayah mu Nirmala. Kami malah sempat bentrok dan bertarung mati-matian di semenanjung Malayana. Dia pendekar hebat. Kami harus maju bersama untuk bisa mengimbangi kemampuan Mangaraja Tohir. Dari bentrokan itulah kemudian menjadi teman baik. Kami sempat melanglang buana bertiga sampai ke Campa.


Hm... jadi sekarang si Tohir, eh Mangaraja Tohir menjadi Patriak klan Mangaraja." Kale Lepak Sakti menatap Kaisar Dharma Andaleh yang keceplosan dan tersenyum.


"Ternyata pertemanan kita dilanjutkan oleh putri mu dan putri Nirmala." Kale Lepak Sakti bergumam kepada Kaisar. Penguasa wilayah selatan benua Emas itu mengangguk.


"Untuk perhatian dan kasih sayang, saya akan berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi Yayang dan Lala. Untuk keselamatan berbuat semaksimal mungkin agar mereka berdua aman bersama ku." ucap Lindu. Mendengar itu Dhamma Mayang menambahkan.


"Ayah dan ibu tidak perlu khawatir. Untuk saat ini, hanya pendekar tingkat agung puncak yang bisa seimbang jika bertarung dengan Uda Lindu."

__ADS_1


Kaisar Dharma Andaleh, Kale Lepak Sakti dan Pendeta Agung Dyiaksa Dharma Pecala terdiam mendengar ucapan Dhamma Mayang.


"Itu berarti mantuku adalah orang terkuat di benua Emas ini ?" Kaisar Dharma Andaleh berkata setengah gumaman.


"Ayahanda Kaisar terlalu memuji. Masih ada, mungkin banyak pendekar yang lebih daripada diriku." Lindu menjawab dengan suara pelan tertahan.


Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Ayu Puspita sudah bisa menerima kondisi ketiga orang muda didepan mereka.


"Kapan kalian berencana untuk menikah ?" Ratu Ayu Puspita bertanya pada Lindu.


Lindu melihat kepada Nirmala dan Dhamma Nitata bergantian. Lindu kemudian menjawab.


"Mungkin dua atau tiga tahun kedepan Bunda Ratu." Lindu menjawab agak ragu.


"Kenapa begitu lama..??" Ratu Ayu Puspita tampak kurang setuju dengan apa yang disampaikan Lindu.


"Yaa... kerjaan baik, seharusnya tidak boleh ditunda tunda. Lebih bagi kalian menyelesaikan ikatan perjodohan itu dengan menikah secepatnya." Pendeta agung Dyiaksa Dharma Pecala memberi tanggapan.


Mereka melanjutkan obrolan ringan bersama. Tentang apa yang dilakukan Lindu bersama Dhamma Mayang dan Nirmala dalam perjalanan mereka menuju kekaisaran Suvarnabhumi.


Akhirnya diputuskan juga bahwa mereka akan menikah usai pertemuan besar sekte golongan putih di sekte Tapak Dewa.


Putusan itu dibuat karena orang tua Nirmala beserta gurunya akan hadir di pertemuan besar. Untuk menghadirkan Mangaraja Tohir dan Ratu Shima menjadi urusan Kale Lepak Sakti. Hal itu mengakibatkan Patriak sekte Tapak Dewa buru-buru kembali ke sekte nya.


Pangeran Tualang Buwana dan Putri Dhamma Nitata adalah orang yang paling merasa senang.


\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2