Raja Pedang

Raja Pedang
#84. Kerambit Maut


__ADS_3

"Mungkin kami tidak akan sampai ke Madani, pusat kekaisaran Madania. Kami nanti akan memisahkan diri menuju kota Babilang Kaum. Bergabung dengan pendekar yang mungkin sudah berada disana." Malin menjelaskan rencananya. Dia dan Nuri akan menuju kota Babilang Kaum bergabung dengan pendekar yang akan ikut penyerangan ke Tano Niha.


"Baiklah kalau begitu. Malam ini kita nginap di sini, dan besok kita lanjutkan perjalanan." Lindu mengajak mereka cari penginapan.


Malam itu, Dhamma Mayang tidur bersama sahabatnya Nuri. Sahabatnya bercerita segala sesuatu yang terjadi di rimba hijau dunia persilatan. Tentang situasi disekte Tapak Dewa yang sudah aktif untuk menyerang sekte sesat golongan hitam. Begitu juga dengan sekte Secabik Kafan dari Lahat. Bahkan Wisesa telah menorehkan namanya di rimba hijau dunia persilatan. Wisesa lebih dikenal dengan gelar Kerambit Maut karena sepak terjangnya sungguh luar biasa.


"Kami sempat bertemu di Selayo. Lalu bersama-sama menumpas sekte Palajang, satu sekte sesat menengah, yang ada di bukit Singkarak dekat sebuah danau yang sangat luas."


"Bagaimana kejadiannya, bisa begitu Nuri ?" Mayang minta Nuri untuk menceritakannya. Nuri kemudian menceritakan semua kejadiannya dari awal.


Siang itu matahari bersinar sangat terik. Dua orang muda mudi memasuki warung yang menjadi tempat persinggahan di punggung bukit Selayo. Dari pakaian yang mereka kenakan orang-orang langsung bisa tau, muda mudi itu berasal dari sekte Tapak Dewa. Mereka adalah murid-murid sekte Tapak Dewa Nuri dan Malin. Gadis itu sudah berada ditingkat raja puncak sedang yang pemuda berada ditingkat raja menengah. Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Begitu memasuki warung, Malin mengedarkan pandangannya. Disebuah meja dipojok dalam, Malin melihat seseorang pemuda lagi asik menikmati makanan nya. Disamping pemuda itu ada sebuah caping. Malin tersenyum lebar menuju pemuda itu.


Pemuda itu tidak menyadari kehadiran Malin. Ketika dia mau mengambil sepotong ayam bakar, Malin duluan menarik piring berisi ayam bakar itu sehingga tangan pemuda itu meraih tempat kosong. Dia tersentak kaget dan buru-buru mengangkat wajahnya.


"Ha... haa... haaa... Asik bener kau makannya Wisesa..."


Ternyata pemuda itu adalah Wisesa murid kesayangan Datuak Batungkek Ameh dari perguruan sekte Secabik Kafan. Begitu melihat siapa yang berdiri didepan nya Wisesa langsung ikut tertawa ngakak.


"Eh ayo duduk, silahkan pesan makanan kalian." Wisesa lalu melanjutkan makannya. Usai Wisesa makan, pesanan Malin dan Nuri baru datang. Wisesa memesan segelas kopi dengan gulo anau.


Suasana cukup ramai dalam rumah makan mendadak jadi sepi. Wisesa, Nuri dan Malin mengedarkan pandangan mereka keseluruh ruangan. Mereka melihat satu demi satu pengunjung keluar meninggalkan rumah makan.

__ADS_1


Ketika pandangan mereka mangarah kepintu rumah makan. Terlihat Lima orang baru saja masuk. Mereka berpakaian hijau lumut dengan garis kuning pada bagian krah dan ujung lengan. Sikap mereka sangat arogan dan sombong. Seorang lelaki bertubuh sedang namun memancarkan aura yang kuat berdiri paling depan. Dikiri kanannya berdiri bagai penjaga seorang yang berbadan besar berkulit agak hitam. Juga seorang wanita dengan tubuh montok yang membuat setiap pria akan berfantasi. Wajahnya cukup manis namun sikapnya agak genit.


Setelah berdiri sejenak di depan pintu dan mengedarkan pandangannya. Kelima orang lelaki dan wanita itu bergerak melangkah menuju meja paling besar dan duduk dengan pongahnya. Mereka adalah dari sekte Palajang yang sangat menakutkan. Mereka selalu tampil rapi, bersih dan elegan. Namun semua itu hanya cara untuk mengelabui orang. Mereka adalah salah satu sekte aliran sesat yang sadis dan sangat ganas dalam bertindak.


Pria yang bersikap sebagai pemimpin rombongan itu adalah Kacak Mudow. Dia seorang pendekar sesat yang berada ditingkat bumi awal. Sedangkan pria hitam besar itu bernama Kabau Hitam seorang ahli tenaga luar yang setara dengan jagoan tingkat raja puncak. Tubuhnya keras bagaikan besi dan pukulan tinjunya bisa merobah batu sebesar meja menjadi krikil.


Perempuan montok itu adalah Dewi Kecubung Maut seorang ahli racun. Dewi Kecubung Maut berada ditingkat raja menengah.


Sekt Palajang menguasai wilayah disekitaran danau Singkarak sampai ke daerah Selayo. Sekte Palajang sangat ditakuti baik oleh masyarakat maupun penguasa wilayah. Bahkan upeti keamanan bukan ditarik bukan hanya dari pedagang. melainkan juga dari warga dan pemerintah dusun. Penguasa wilayah malah sudah membuka misi untuk menumpas sekte Palajang. Namun tidak ada pendekar yang mampu menumpas sekte Palajang. Hal itu menjadikan mereka semakin arogan dan angkuh.


Sekarang dua orang anggota sekte Palajang mendatangi mejanya Wisesa, Nuri dan Malin berada. Salah seorang dari mereka berkata dengan gaya arogan.


"Hoi... upiak Kamek, ayo bergabung dengan kami di meja besar itu." Nuri dan Malin melihat dengan tatapan sangar kepada anggota sekte Palajang. Malin terlihat sangat marah karena Nuri kekasihnya dilecehkan meskipun hanya secara verbal.


"Monyet...!! Nih makan !!" Malin melempar tulang paha ayam.


Clup...!!


Tulang paha ayam itu langsung melesat dan masuk ke mulut anggota sekte Palajang. Lelaki itu langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Wajahnya menjadi merah dan mata serta hidungnya mengeluarkan air.


"Ha... haa... haaa... Sudah tua dan jelek begitu masih bisa nangis begitu sedih... haa... haaa..." Malin terpingkal pingkal melihat tampang kriyut miyut anggota sekte Palajang itu.

__ADS_1


Anggota sekte Palajang itu tentu saja menjadi sangat marah. Dia dan temannya langsung mencabut goloknya dan menyerang Malin.


Malin dan Nuri berkelebat sangat cepat.


Baaakk...!! Buaghhh...!!


Aaghh...!! Uugh...!!


Kedua anggota sekte Palajang itu terlempar bergulingan. Pria yang dilempari tulang ayam itu langsung bangkit. Pipinya bengkak memberi. Dia meludahkan darah dan dua giginya yang copot. Malin telah memukul mukanya dengan keras. Temannya lebih buruk lagi, Nuri dengan keras memukul dadanya. Dia merangkak dan berusaha bangkit setelah memuntahkan seteguk darah.


Tiga temannya yang duduk dimeja besar, mendatangi meja Wisesa. Kacak Mudow menunjuk Malin dengan tangan kirinya.


"Kami adalah orang-orang sekte Palajang. Aku adalah Kacak Mudow salah seorang tetua dan dia Kabau Hitam dan Dewi Kecubung Maut. Lebih baik kalian ikut kami baik-baik untuk merima hukuman atau apa yang sudah kalian perbuat." Kacak Mudow berkata dengan sikap arogan.


Wisesa mengangkat kepalanya menatap tajam Kacak Mudow.


"Jadi engkau yang bernama Kacak Mudow. Susah payah dicari tidak ketemu, eh malah datang sendiri untuk mati." Kacak Mudow kaget mendengar suara dingin Wisesa. Hatinya sedikit bergetar tapi dia menutupi dengan tertawa lantang.


Ha... haa... haaa...!!


"Siapa kau Buyuang busuak ?"

__ADS_1


\=\=\=\=\=***\=\=


#Buyuang busuak \= lelaki kurang ajar.


__ADS_2