Raja Pedang

Raja Pedang
#105.Bentrokan dengan Sekte Darah Hitam 2


__ADS_3

Tangan dan kaki Marda bergerak menghantam wajah dan lambung si pria. Pria itu terdorong tiga langkah. Mukanya bonyok dan perutnya terasa mules. Dia menatap Marda dengan amarah yang memuncak. Matanya merah dan digenangi air mata.


"Kau harus mati bang.... ! Berani menentang kehendak sekte Darah Hitam...!!" Dia membentak dengan keras, berharap teriakan nya bisa membawa kawan-kawannya datang membantu. Dan apa yang diharapkannya terkabul.


Bukannya takut, Marda tertawa ngakak. Lalu mimik wajahnya berubah lucu ketika bicara...


"Ee... ee eeh, apakah kau mau nangis ?? cup cup cuuup...! Jangan nangis dedek, ntar Abang kasih kue yaa..." Marda tertawa keras diikuti oleh Rao Mudo dan Binu. Wajah pria anggota sekte Darah Hitam, menjadi keras membesi. Merah kehitaman karena amarah yang amat sangat.


Tiga orang kawan ikut marah sambil menahan tawa. Seorang pria dengan ikat kepala merah menengahi.


"Kenapa kalian ribut-ribut begini ? Maafkan sikap rekan saya yang mungkin arogan."


Wisesa mengerutkan keningnya. Pria dengan ikat kepala merah itu suaranya terdengar ramah. Meski dia bicara sambil tersenyum, tapi matanya menyorot tajam penuh ancaman. Sebelum Wisesa bicara, Rao Mudo sudah bicara dengan suara tajam.


"Apa maksudmu berpura-pura begitu ?! Kau berbicara baik baik namun tatapan mata mu penuh ancaman.


Apa karena kalian dari sekte Darah Hitam kalian pikir kami takut ?!" Mendengar kalimat pedas dari Rao Mudo, wajah pria dengan ikat kepala merah itu jadi membesi. Bahkan kawan kawannya yang semua menggunakan ikat kepala kuning sudah marah.


"Kita hajar saja mereka Horbo" ternyata pria dengan ikat kepala merah itu bernama Horbo, tepatnya Horbo Gerger. Pria bernama Horbo itu mengangkat tangannya. Dia tersenyum sinis.


"Apakah kau tau apa yang kau katakan bodat sialan ??" Rao Mudo menjadi marah dipanggil bodat alias monyet oleh Horbo. Sebagai manusia harimau perkataan Horbo sangat merendahkan dirinya. Sebagai penghuni puncak Piramida sebenarnya, dikatakan sebagai bodat yang berbeda ditingkat terbawah. Tidak ada cara lain untuk menghapus penghinaan itu kecuali dengan darah orang yang mengatakannya.


Rao Mudo melenting dengan gerakan lompek harimau yang terkenal.


Whuuuuzzzh...!! Craakk...!!


Horbo terdorong mundur tiga tombak dengan dada robek tercakar. Darah merembes dari luka didada Horbo.


"Baru tingkat raja menengah sudah petantang petenteng kau didepan kami." Rao Mudo mendengus dan menggeram.


Horbo dan kawan-kawannya menjadi marah. Tanpa diperintah mereka menyerang Rao Mudo bersamaan.


Plaak...!! Praaakk...!!


Terdengar suara nyaring empat kali. Semua pria dari sekte Darah Hitam kembali terlempar dengan pipi robek oleh tamparan. Rao Mudo menarik sebelah ujung bibirnya.


Tuan muda klan Manusia Harimau itu berbalik dan menyerang Horbo. Pria dengan ikat kepala merah itu berusaha bangkit dan menahan serangan Rao Mudo. Namun sayangnya serangan yang dilakukan Rao Mudo terlalu cepat dan kuat untuknya.

__ADS_1


Whhaaaammm...!!


Praaakk...!! Buaaghhh...!!


Uuugh...


Hanya terdengar lenguhan kecil dari mulut Horbo. Horbo terlempar beberapa tombak. Tubuhnya terlipat dengan leher patah. Mati !!


Whhaaaammm...!!


Angin panas menderu menuju Rao Mudo. Birong Biang menerjang tapak tangan terbuka bewarna merah. Pukulan yang mengandung energi api menghatam ke dada Rao Mudo.


Grrrmrrhh...!!


Grroooaaarrr....!!


Esensi energi sangat kuat melesat dalam geraman Rao Mudo. Jemari tangannya membentuk cakar harimau. Tangan itu mengayun bersilangan membentuk cahaya hijau muda.


Baaamm...!! Blaaarrr...!!


Dentuman keras terdengar. Bias gelombang energi menyebar luas.


Tubuh Rao Mudo dan Birong Biang sama terlempar tiga tombak. Kekuatan mereka boleh dibilang seimbang. Sama-sama berada ditingkat bumi puncak.


Aura hewan buas penguasa piramida kehidupan memancar kuat dari Rao Mudo. Wisesa, Sabai, Lenggo, Marda dan Binu masih diam mengawasi pertarungan itu.


Rao Mudo menyusun langkah untuk kembali menyerang. Dia sesaat lebih dulu memulihkan diri.


Harimau putih menerkam rembulan


Rao Mudo berseru dan menerjang kearah Birong Biang yang lagi bersiap-siap. Pukulan beruntun Rao Mudo datang susul menyusul. Birong Biang berusaha menghindar dan menahan serangan.


Baaamm...!! Blaaarrr...!!


Tubuh Birong Biang terlempar dan muntah seteguk darah. Birong Bodat segera melesat membantu Birong Biang bangkit.


Birong Bodat menatap tajam kepada Rao Mudo. Dia tersenyum sinis dan menunjuk Rao Mudo dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Kau akan membayar semua ini dengan nyawamu manusia harimau." Dia mendesis lalu menekan Rao Mudo dengan aura energi tingkat suci awal. Rao Mudo merasa ditimpa sebuah bukit. Dia meringis dan wajahnya kriut miut.


Melihat kondisi Rao Mudo semakin tertekan, Sabai ikut nimbrung. Gadis muda remaja itu memancarkan auranya untuk menetralisir tekanan aura Birong Bodat. Ternyata aura Sabai yang merupakan aura murni energi tempur mampu menahan dan perlahan menekan aura kematian yang dipancarkan Birong Bodat.


Sabai berdiri dari duduknya. Dia pindah berdiri disebelah Rao Mudo. Birong Bodat kaget melihat seorang gadis remaja ikut berdiri disebelah pemuda manusia harimau.


"Hei gadis kecil, kenapa kau ikut-ikutan berdiri. Ini urusan orang dewasa, bukan urusan anak kecil. Pergi sana jangan sampai kau mati karena serangan nyasar...!!" Birong Bodat menyuruh Sabai meninggalkan arena pertempuran.


"Hi hii hiii... kau terlalu banyak bicara pak tua. Gadis kecil ini mampu memisahkan kepala dan tubuhmu.


Bersiaplah !!"


Pedang menulis langit...!!


Sabai melesat dengan kecepatan tinggi. Pedang Bintang bergerak membuat coretan seperti sedang menuliskan sesuatu.


Sabai berfikir ini kesempatan menguji ilmu pedang peninggalan Nirmala. Ilmu pedang bayangan lelembut. Kapan lagi pikir gadis itu. Raja Pedang kaget melihat jurus yang dimainkan Sabai untuk menyerang Birong Bodat. Dia tau betul, itu adalah ilmu pedang milik Nirmala istrinya.


Birong Bodat langsung merasa tertekan oleh jurus pedang aneh itu.


Saat Birong Bodat kelabakan menghadapi Sabai. Rao Mudo kembali bergerak menerjang Birong Biang.


Esensi energi pukulan menderu mengoyak udara dengan paksa. Birong Biang yang tengah konsen melihat pertarungan Birong Bodat kaget. Serangan Rao Mudo sudah sangat dekat. Tidak mungkin lagi menghindar. Birong Biang berusaha untuk menangkis sebisanya. Dia melapisi tubuhnya dengan energi mendalam.


Baaamm...!! Dhuuuaaaarrr...!!


Birong Biang terlempar lima tombak. Tubuhnya tertahan menabrak dinding kapal. Birong Biang memuntahkan banyak darah dari luka dalam yang dialaminya.


Birong Biang masih masih kondisi kacau. Rao Mudo sudah berada dekat Birong Biang.


Whhaaaammm...!!


Pukulan keras Rao Mudo akan menghantam wajah Birong Biang. Namun kesiutan angin tajam mencuit sangat cepat menuju Rao Mudo. Tiba-tiba satu angin padat menahan angin tajam, sementara itu Rao Mudo sudah membuang diri kesamping.


Blaaarrr...!!


Benturan keras terdengar. Gelombang bias energi menghantam Birong Biang. Tubuhnya menghantam dinding kapal. Dinding itu retak memanjang.

__ADS_1


Pandeta Iblis kaget. Dia langsung memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2