
Badak Mantagi menoelkan Piarik miliknya. Sebuah kristal bewarna hitam besar hampir seukuran setengah kepala bayi melenting ke udara. Pria gempal itu langsung loncat menyambar dan menyimpan batu kristal spiritual itu.
Ular raksasa membanting banting tubuhnya. Hutan lebat dan semak belukar itu jadi porak poranda. Tetua pertama sekte Iblis Tambun Tulang yang berbadan besar gempal itu kembali melesat cepat menghantam kepala ular raksasa. Pukulan keras berisi ajian gampo bumi kali ini dengan telak menghantam kepala ular raksasa. Pukulan keras berisi ajian gampo bumi kali ini mengakibatkan kepala ular raksasa itu pecah. Tubuh ular raksasa itu mengejang merubuhkan beberapa pohon sebelum akhirnya mati.
Badak Mantagi mendekati Iblis Cantik Tambun Tulang. Setelah melihat Iblis Cantik Tambun Tulang tampak aman aman saja, mereka kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Banowati, kita terpaksa naik satu kuda bersama sampai ke kota terdekat."
Badak Mantagi mengulurkan tangannya dari atas kuda. Dia menarik Iblis Cantik Tambun Tulang dan melesat cepat dengan kudanya.
---***
Dubilih Galo menatap Tetua Mantiak Rayo dengan serius. Coba terangkan dengan lebih rinci tetua Mantiak. Enam tetua lain yang ikut hadir dalam pertemuan rutin sekte Dubilih Enggano menatap Mantiak Rayo.
Mantiak Rayo menghela nafas dalam-dalam, kemudian mulai bercerita.
"Beberapa bulan terakhir telah muncul seorang pendekar muda yang sangat hebat. Tapi sepak terjangnya sungguh menggiriskan. Dunia hijau rimba persilatan menamainya Raja Pedang." Mantiak Rayo diam sejenak memperhatikan ekspresi diwajah setiap orang. Semua tampak masih diam menunggu kelanjutan ceritanya
"Menurut berita yang beredar Raja Pedang baru berusia 16 tahun. Dalam usia yang masih sangat muda itu, dia mampu mengalahkan Delapan Benteng Caniago dalam satu serangan. Bukan hanya itu, Raja Pedang juga telah memunuh banyak orang penting sekte Iblis Tambun Tulang. Termasuk Duo Baruak dan Kelabang Iblis, salah seorang tetua sekte Iblis Tambun Tulang.
Kalian tau apa yang lebih memalukan. Batino Seribu Rupa dan Cingauak Bangkai yang mengeroyok Raja Pedang, dibikin cigin, lari terbirit-birit dan keadaan luka parah."
Semua yang hadir terkejut dan nyaris tidak percaya. Mantiak Rayo tersenyum sekilas, dia merasa senang melihat reaksi semua yang hadir.
"Apa kau melihat sendiri pertarungan mereka...?" tetua Kuriak Banto, tetua kedua di sekte Dubilih Enggano bertanya. Mantiak Rayo menggelengkan kepala...
"Tidak semua, tapi waktu Raja Pedang baru saja selesai bertarung melawan Delapan Benteng Caniago, aku tiba di lokasi.
__ADS_1
Ada satu lagi, ini lebih heboh. Dalam perjalanan balik ke sekte, aku melewati hutan Tebo. Markas gerombolan Tengkorak Merah yang ada di hutan itu, sudah luluh lantak rata dengan tanah." Patriak sekte Dubilih Galo dan semua Tetua yang hadir terkejut,. benar-benar tak percaya akan berita yang dibeberkan Mantiak Rayo. Tapi mereka tidak bisa membantah.
"Bagaimana reaksi dari pihak gerombolan Tengkorak Merah dengan kejadian itu ?" Patriak Dubilih Galo bertanya dengan serius. Mantiak Rayo tidak langsung menjawab. Wanita sensual yang menjadi tetua ke empat sekte Dubilih Enggano menatap yang satu demi satu.
"Aku belum mendengar kabar apapun. Mungkin butuh waktu beberapa minggu lagi bari terlihat reaksi mereka." Mantiak Rayo menjawab dan berasumsi dengan mata sedikit menerawang. Mantiak Rayo kemudian bertanya pada Dubilih Galo.
"Ada apa Patriak, sikap anda terlihat sedikit aneh ?"
Dudilih Galo menghela nafas panjang, dan menatap semua Tetua sekte Dubilih Enggano satu demi satu.
"Pertemuan kali ini, kita harus membahas masalah ini bersama." Dubilih Enggano menunggu reaksi dari semua tetua yang hadir. Semua tetua tampak menunggu kelanjutan dari Dubulih Enggano.
"Seminggu yang lalu, utusan dari gerombolan Tengkorak Merah datang berkunjung. Mereka datang tidak banyak, hanya tiga orang. Namun tingkat kultivasi mereka amat tinggi. Dua diantara mereka berada ditingkat langit awal dan satunya ditingkat langit atas. Mereka mengaku adalah utusan yang dikirim oleh Tetua kedua Iblis Segalo Lincia. Tujuannya agar kita mengakui bahwa gerombolan Tengkorak Merah adalah pemimpin semua sekte golongan hitam yang ada di benua Emas."
Dubilih Galo diam sejenak. Dia menghela nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan.
"Bagaimana posisi sekte besar golongan hitam seperti sekte Darah Hitam dan sekte Iblis Tambun Tulang setelah semua kekaisaran di benua Emas takhluk ?" Tetua agung Dubilih Picak minta Patriak Dubilih Galo menjelaskan.
"Itulah yang tidak dijelaskan. Menurut Hantu Sakau yang memimpin rombongan yang datang kemaren, itu semua akan dibahas pada pertemuan enam purnama mendatang di markas mereka di Tano Niha. Karena itu aku minta masukan kalian sebelum memutuskan apakah aku ikut pertemuan itu atau tidak."
"Aku pikir, Patriak harus hadir di dampingi oleh tiga atau empat tetua dan dua puluh anggota inti." Tetua agung Dubilih Picak memberi masukan.
Setelah berembuk cukup lama akhirnya usulan Dubilih Picak diterima dengan suara bulat. Tetua yang akan menjadi pendamping ditetapkan empat orang, yaitu tetua satu Dutino Pancalia seorang wanita sangat cantik tampak berusia 27 tahun, meski usia sebenarnya sudah 150 tahun. Wanita ini menangani semua bisnis kotor sekte Dubilih Enggano.
Sekte Dubilih Enggano meski termasuk golongan hitam, mereka tidak mau melakukan perampokan. Mereka memiliki banyak bisnis yang memberi pemasukan melimpah untuk sekte.
Tetua lain yang ikut menjadi pendamping adalah Iblis Sagalo Lincia, Mantiak Rayo dan Tualang Basian tetua ke tujuh.
__ADS_1
"Patriak sebaiknya kau memberi tau sesepuh Datuk Sipasan Biso sebelum pergi ke Tano Niha" tetua agung mengingatkan Dubilih Galo.
Datuk Sipasan Biso adalah kakek dari Dubulih Galo. Seorang pendekar tingkat agung awal ketika mulai mengasingkan diri di gunung Karst. Hal itu dilakukan Datuk Sipasan Biso setelah terluka parah. Waktu itu sekitar lima puluh tahun yang lalu. Ketika itu terjadi pertarung sengit antara Datuk Sipasan Biso bersama Datuk Rajo Nan Itam melawan seorang pendekar super sakti yaitu Dewa Tanpa Bayangan. Pertarungan terjadi karena Datuk Sipasan Biso dan Datuk Rajo Nan Itam menyerang kaisar kekaisaran Suvarnabhumi sebelumnya yang sedang melakukan acara pemujaan dewa Kala di stupa Muara Jambi. Pada saat penyerangan itu, Datuk Rajo Nan Itam mati terbunuh, sedangkan Datuk Sipasan Biso terluka parah. Butuh waktu puluhan tahun bagi Datuk Sipasan Biso untuk bisa sembuh. Sejak kejadian itu, Datuk Sipasan Biso menghilang dari rimba hijau dunia persilatan.
Setelah mendapatkan restu dari Datuk Sipasan Biso, rombongan sekte Dubilih Enggano berangkat menuju Tano Niha. Mereka berlayar mengendarai lancang dari Enggano menuju Bintuhan. Dari Bintuhan menuju koto Babilang Kaum. Dari koto Babilang Kaum mereka kembali berlayar menuju Tano Niha. Perjalanan itu akan makan waktu yang sangat lama.
---***
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang telah memasuki koto Situmba. Mereka mencari penginapan untuk membersihkan diri dan beristirahat. Telah lebih dari seminggu mereka sejak mereka memasuki hutan Barangin.
Koto Situmba merupakan kota yang lumayan besar. Kota ini terkenal sebagai kawasan pertanian herbal dan tanaman spiritual. Berada di lembah gunung Talamau dan hutan Rimbo Panti yang menjadi kediaman binatang spirit jenis macan. Menurut desas-desus yang beredar ada yang sudah ditingkat legenda, sehingga mereka bisa merubah diri menjadi bentuk manusia. Pemimpin tertinggi yang juga menjadi pemimpin semua binatang spiritual di benua Emas dipanggil dengan nama Inyiak Rao Nan Putiah.
Perkebunan tanaman spiritual milik sekte Marunggai Ameh juga ada dipinggir koto Situmba. Terbentang sangat luas, tampak ada beberapa bangunan besar ditengah kebun itu. Walaupun tidak ada pagar yang tampak sebagai pembatas, kebun luas itu dilindungi oleh formasi pelindung berlapis dan sangat kuat.
Badak Mantagi bersama Iblis Cantik Tambun Tulang pelan mengarahkan kuda mereka menuju bangunan besar dan mewah. Sebuah papan nama terpasang digapuranya
Penginapan Anggrek Bulan
Seorang pelayan sepertinya orang negeri Dataran Soendae di benua Javana menyambut dengan ramah.
"Silahkan tuan, silahkan Nyonya. Apakah anda berdua juga akan menginap atau hanya singgah untuk makan ?"
"Siapkan sebuah kamar besar untuk kami dengan air hangat untuk mandi. Siapkan juga makanan serta tuak terbaik yang kalian punya. Kami akan istirahat disini dua hari." ucap Badak Mantagi dan memberi 10 keping emas pada pelayan. Pelayan itu menerima dengan senyuman lebar diwajahnya. Lalu dengan terbungkuk dia mengantarkan Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang ke kamar paling besar dan mewah.
"Silahkan tuan dan nyonya, air panas sudah tersedia dikamar mandi. Hidangan akan segera kami antar."
Pelayan itu langsung berbalik pergi menuju dapur restoran untuk menyiapkan makanan bagi tamunya. Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang masuk, menutup pintu dan mandi dalam bak mandi besar yang tersedia. Merasa nyaman ketika air hangat meresap di kulit, memicu dua orang itu menuntaskan keinginan purba mereka yang sudah tertunda cukup lama.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=