Raja Pedang

Raja Pedang
#24. Menjual Hasil Buruan


__ADS_3

Pagi itu, restoran One rame dikunjungi orang orang dari rimba persilatan untuk sarapan. Lindu tidak ikut sarapan. Dia hanya minum segelas kopi pahit dan tiga butir sala lauak. Ia ikut duduk untuk menemani teman temannya sarapan. Kupingnya aktif menangkap berbagai obrolan pengunjung restoran.


Dari salah satu meja ia mendengar ada acara lelang yang akan diadakan besok akan ada acara lelang di Balai Lelang Menara Gading. Dia berfikir akan menanyakan hal itu waktu berkunjung ke Ustano Menara Gading nanti.


Selesai sarapan, Lindu, Wisesa dan Nirmala pergi ke Ustano Menara Gading. Mereka bertiga jalan dengan santai sambil ngobrol. Orang orang dijalanan melihat kepada mereka dengan kagum. Seorang wanita yang sangat cantik dan dua pemuda tampan benar benar menarik perhatian.


Banyak pemuda dan gadis yang melihat kearah mereka. Para pemuda hampir semua terpesona melihat kecantikan Nirmala yang begitu memukau. Namun mereka tidak berani mengganggu, ada Wisesa yang berpenampilan seorang pendekar dengan dua gagang belati tumbuk lada mencuat dipinggangnya.


Matahari sudah naik tinggi sepenggalan, hangatnya sinar matahari mulai terasa. Orang orang semakin ramai berlalu lalang. Banyak rombongan dari berbagai sekte dan klan terlihat berjalan mungkin menikmati suasana kota.


Lindu, Nirmala dan Wisesa terus berjalan santai menuju Ustano Menara Gading. Tentu saja Nirmala yang tau dimana letak Ustano Menara Gading. Tidak terasa mereka sampai didepan Ustano Menara Gading. Toko sumber daya Ustano Menara Gading di kota Pariaman tampak megah. Berdiri disebuah persimpangan jalan yang ramai. Terdiri atas dua bangunan besar. Bangunan pertama merupakan bangunan tiga lantai. Paling bagus dibanding bangunan lain disekitarnya. Bangunan mempunyai dua muka menghadap pada dua jalan. Didepan bangunan ada papan nama toko yang ditulis dengan huruf timbul bewarna emas USTANO MENARA GADING.


Bangunan kedua lebih besar dari bangunan pertama. Hampir dua kalinya. Meski tinggi bangunan hampir sama, bangunan kedua hanya dua lantai. Berada di belakang bangunan pertama tetapi menghadap kesisi jalan samping. Ada halaman luas didepannya dengan delapan pohon nyiur. Didepan bangunan itu ada papan nama BALAI LELANG MENARA GADING.


Seorang pelayan toko menghampiri rombongan Lindu begitu mereka memasuki Menara Gading.


"Silahkan Tuangku, silahkan Rangkayo, Menara Gading akan berupaya memenuhi apa yang kalian perlukan." Pelayan itu menyapa dengan ramah.


Lindu melihat kedalam toko yang sudah ramai pengunjung. Dia menyerahkan token emas yang diterimanya dari Limbubu. Pelayan itu menerima lempeng emas itu pelayan itu membungkuk lebih dalam.


"Maaf Tuangku, silahkan ikuti saya" pelayan toko membawa Lindu dan yang lainnya kesebuah ruangan dilantai dua. Ruangan itu tidak besar, namun kesan mewah terpantul dari tatanan ruang dan meja kursi yang ada didalamnya.


"Mohon tunggu sebentar Tuangku. Saya akan memberi tau Angku Tambusai pimpinan Menara Gading."


Pelayan itu pergi setelah menyediakan minuman dan makanan kecil. Lindu bersama Nirmala dan Wisesa duduk sambil menyesap minuman air niro yang berasa manis. Semilir angin lembut mengalir kedalam ruangan dari jendela yang terbuka.


Tidak begitu lama, pelayan toko kembali bersama seorang pria berusia tiga puluhan. Penampilan seperti seorang budayawan dan bersahaja. Namun dari tubuhnya terpancar energi seorang pendekar tingkat langit. Lindu, Nirmala dan Wisesa berdiri untuk dan sedikit menundukkan kepala menyambutnya. Pria itu tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya


"Saya Tambusai, silahkan duduk ?"

__ADS_1


Pria itu berkata ramah melihat Lindu dan dua temannya berdiri. Tambusai menarik kursi dan duduk di depan Lindu. Pria itu menatap mereka sejenak secara bergantian. Ada sekilas kekaguman melintas dimatanya saat melihat Nirmala dan Wisesa. Jenius jenius muda fikirnya. Mengagumi Nirmala yang sudah berada ditingkat raja meski baru sebelas tahun. Tapi ia sedikit ragu ketika tidak mampu membaca tingkatan Lindu. Pemuda tampan itu memperkenalkan dirinya serta Nirmala dan Wisesa pada Tambusai. Angku Tambusai berdiri dari kursinya, membungkuk pada Lindu sambil menyerahkan token emas milik Lindu.


"Kehormatan besar bagi saya untuk bisa berkenalan dengan Raja Pedang. Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk pendekar muda ?" Angku Tambusai bertanya ramah. Semua manejer dan pimpinan Ustano Menara Gading sudah mendapatkan info tentang Lindu. Seorang pemuda tampan dengan kemampuan sangat tinggi. Diberi gelar Raja Pedang oleh si Pedang Kilat.


Lindu menerima kembali token emas dan menyimpan di kantong bajunya.


"Maaf Angku Tambusai, apakah Ustano Menara Gading bersedia untuk membeli kulit binatang spiritual ?"


"Ya... kami membeli kulit, daging dan batu kristal spiritual tingkat perak keatas. Apakah Raja Pedang mau menjual hasil buruannya ?" Tuanku Tambusai bertanya kepada Lindu. Lindu mengeluarkan kulit Kerbau Besi Tanduk Intan beserta tanduknya. Angku Tambusai terkejut melihatnya. Kerbau Besi Tanduk Intan adalah hewan spiritual tingkat langit. Hanya pendekar suci keatas yang mampu membunuh hewan ini. Apakah Raja Pedang sudah berada ditingkat suci ? Angku Tambusai bertanya-tanya dalam hatinya.


"Apakah pemuda ini setingkat Patriak sekte Marunggai Emas, atau lebih tinggi lagi ? Siapa pemuda yang bergelar Raja Pedang ini sebenarnya ? Usia tulangnya masih belasan tahun tapi kekuatannya seperti pendekar yang berusia lebih dari ratusan tahun...??!" Banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepala Angku Tambusai.


"Raja Pedang, jika anda setuju kulit dan tanduk ini kami hargai dua puluh lima ribu keping emas." Setelah diam sejenak Lindu menganggukan kepala setuju dengan harga yang ditawarkan Angku Tambusai. Angku Tambusai menyerahkan sebuah kantong penyimpanan berisi dua puluh lima ribu keping emas. Lindu menerima dan menyimpan ke cincin semesta miliknya.


"Lala, keluarkan hasil buruanmu" Lindu minta Nirmala mengeluarkan hasil buruan yang dia dapatkan di hutan Rimbo Toboh. Nirmala mengibaskan tangannya. Dihadapan mereka muncul enam kulit Serigala Api dan tiga kulit Sanca Hijau dan lima kulit Rusa Tanduk Putih, beserta tanduknya. Angku Tambusai melihat pada Wisesa. Mengerti maksud tatapan Angku Tambusai, Wisesa mengeluarkan suara.


"Aku tidak punya hasil buruan" Pemuda itu tersenyum dan menggeleng.


"Terimakasih Angku Tambusai untuk mau menerima hasil buruanku. Oh iya panggil aku Nirmala saja" Angku Tambusai tersenyum pada Nirmala dan menyerahkan kantong penyimpanan berisi tiga puluh ribu keping emas.


Usai transaksi hasil buruan, buruan Lindu bertanya tentang lelang.


Angku Tambusai menjelaskan tatacara lelang pada Lindu. Apa saja peraturan yang harus dipatuhi peserta lelang. Juga barang jenis apa yang bisa dilelang. Mereka bertiga mendengar penjelasan Angku Tambusai dengan serius.


"Apakah kami boleh hadir di acara lelang ?" Lindu bertanya pada Angku Tambusai. "Apa aku bisa nitip ini untuk di lelang ?"


Angku Tambusai menerima sebuah botol tembikar kecil berisi lima butir pil tanchi. Ia membuka tutup botol dan mengeluarkan sebutir pil bewarna hijau muda. Wangi aroma herbal yang kuat memenuhi ruangan. Mereka merasa segar ketika menghirup aroma wangi herbal tersebut. Angku Tambusai buru-buru menyimpan kembali pil tersebut.


"Iii ini pil tanchi ?!"

__ADS_1


"Ya... itu pil tanchi kadar kemurnian seratus persen" Lindu menjelaskan. Angku Tambusai sangat senang. Balai lelang akan punya dua produk utama untuk lelang besok. Setelah menyimpan botol tembikar kecil itu, Angku Tambusai memberikan sebuah plakat undangan lelang untuk Lindu.


"Ini adalah plakat undangan untuk VIP" Lindu menerima plakat undangan lelang dari Angku Tambusai. Setelah menyimpan plakat undangan, Lindu berpamitan bersama Nirmala dan Wisesa kepada Angku Tambusai.


Sampai di penginapan One, mereka kembali ke kamar masing-masing. Wisesa segera menemui gurunya Datuak Batungkek Ameh.


"Guru.... Ternyata Raja Pedang yang selama perjalanan ini kita dengar orangnya ada bersama kita" Datuak Batungkek Ameh menatap Wisesa dengan tatapan penuh tanya.


"Ya... Lindu adalah Raja Pedang yang selama perjalanan ini namanya sering kita dengar." Wisesa lalu menceritakan semua kejadian di Ustano Menara Gading siang tadi pada gurunya. Datuak Batungkek Ameh mendengar semua cerita Wisesa dengan mulut setengah terbuka.


Malam harinya Seriti Merah mengajak semua orang berkumpul. Mereka disuguhi minuman khas teh talua tapai dan makanan ringan. Seriti Merah menjelaskan bahwa dia ikut acara lelang besok. Dia menanyakan siapa saja yang mau ikut. Ni Nur akan membelikan undangan untuk bisa ikut hadir di acara lelang.


"Guru.... Apakah itu lelang yang diadakan balai lelang Menara Gading ?" Nirmala bertanya pada Seriti Merah. "Kalau iya, tidak usah beli undangan."


Seriti Merah menatap Nirmala, kemudian menatap Lindu dan Wisesa. Datuak Batungkek Ameh juga melakukan hal yang sama. Wisesa tidak bercerita apa apa soal lelang ketika pulang sore tadi.


"Uda Lindu sudah dapat plakat undangan VIP dari Angku Tambusai" Nirmala menjelaskan. Lindu menganggukan membenarkan apa yang dikatakan Nirmala.


"Memangnya bibi mau beli apa di acara lelang ?" Lindu bertanya pada Seriti Merah.


"Lelang kali ini ada tanaman spirit bunga Wijaya Kusuma warna ungu. Aku sudah sepuluh tahun mencari bunga itu. Aku harus mendapatkan bunga itu" air muka Seriti Merah memancarkan tekad yang sangat kuat saat berkata. Lindu menganggukan kepala menatap Seriti Merah seakan meyakinkan Seriti Merah bahwa niatnya akan terlaksana.


\=\=\=***\=\=\=


note :


- Tuangku adalah panggilan kehormatan untuk seorang lelaki yang pintar atau kaya.


- Rangkayo adalah panggilan kehormatan untuk wanita

__ADS_1


- Angku panggilan hormat pada lelaki yang lebih tua.


- air niro, adalah minuman yang buat dari air kuncup kembang aren yang direbus dengan daun pandan.


__ADS_2