
Ang Coa Mosin berlari sangat cepat sambil menggendong tubuh Iblis Binal Lembah Tengkorak. Pria yang berasal dari Tionggoan itu terus berlari. Dia tidak begitu tahu dengan wilayah benua Emas tengah. Disebuah lembah yang berbeda disebuah hutan lebat pria itu berhenti. Setelah memperhatikan semua hal, dia melihat sebuah goa yang terletak di sebuah tebing. Goa itu berada sekitar dua meter di atas dataran lembah.
Ang Coa Mosin melenting dan masuk kedalam goa. Goa itu tidak terlalu besar, dalamnya hanya lima meter dengan lebar tiga sampai empat meter. Setelah menurunkan Iblis Binal Lembah Tengkorak, Ang Coa Mosin mengerahkan zhenqi dan energi mendalam. Semua kotoran yang ada di dalam goa langsung terbang keluar. Sekarang goa itu menjadi bersih.
Ang Coa Mosin memasukkan sebutir pil penyembuhan ke dalam mulut Iblis Binal Lembah Tengkorak. Dia mendudukkan perempuan itu dan memijat beberapa titik akupuntur dipunggungnya. Iblis Binal Lembah Tengkorak mulai sadarkan diri. Wanita binal itu mulai siulian dan menyerap esensi pil penyembuhan. Ang Coa Mosin juga melakukan hal yang sama.
Seminggu kemudian kedua pentolan Tengkorak Merah membuka matanya. Bekas luka pada tubuh mereka telah hilang. Keduanya keluar dari goa. Tempat yang mereka gunakan itu berada di lembah Sungai Buluh. Daerah yang cukup rawan dan didiami oleh banyak binatang spirit tingkat dua.
Setelah membersihkan badan disungai kecil yang ada disitu. Ang Coa Mosin memburu binatang spirit jenis rusa emas. Iblis Binal Lembah Tengkorak menyiapkan api untuk membakar hasil buruan Ang Coa Mosin. Mereka makan sambil ngobrol ini itu. Lalu mereka memutuskan menetap sementara di goa di lembah Sungai Buluh. Selama empat bulan mereka tinggal di dalam goa dan melakukan kultivasi ganda sepanjang hari. Kemudian mereka rehat selama seminggu dan mengulangi lagi kultivasi ganda. Hal itu mereka lakukan selama hampir empat bulan. Selama itu pula tidak ada sehelai benangpun yang jadi penutup tubuh mereka.
Pada minggu ketiga di bulan keempat, mereka menyatu erat. Tanpa ada celah ruangpun diantara dua tubuh yang menyatu itu. Kemudian kabut hitam kemerahan mulai membungkus tubuh keduanya dan tidak lama kemudian terdengar suara kaca pecah. Ang Coa Mosin menerobos naik ketingkat agung tinggi sedangkan Iblis Binal Lembah Tengkorak menerobos naik ketingkat suci tinggi. Perlahan kemudian mereka melepaskan diri. Tubuh indah Iblis Binal Lembah Tengkorak tampak kencang berkilau. Dadanya juga terlihat kencang menantang. Hasrat purba Ang Coa Mosin kembali bangkit. Pria Tionggoan itu menerkam kembali tubuh menawan Iblis Binal Lembah Tengkorak. Dia ******* semua yang ada dihadapan nya.
Seekor lele besar menemukan sebuah lobang dinding sungai bambu. Lobang itu tertutup rumput air yang cukup padat. Ikan lele itu menyentuh lobang itu dengan kepalanya. Lobang itu terasa agak sempit namun ikan lele itu tidak menyerah. Dia berusaha menyibak rumput yang menutupi lobang itu. Ikan lele bergerak maju mundur, sekarang tubuhnya bisa masuk sebagian. Ikan lele itu kembali bergerak maju-mundur memasuki lobang dinding sungai. Perlahan akhirnya dia bisa memasukkan seluruh tubuhnya dan menikmati gesekan dinding lobang yang terasa agak menjepit tubuhnya.
Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak, sangat menikmati penyatuan mereka. Mereka bergerak dalam irama yang sama, untuk mencapai puncak secara bersamaan. Setelah itu mereka mandi bersama disungai kecil. Dalam sungai kembali hasrat purba mereka muncul dan mereka kembali melakukan hubungan badan dalam sungai bambu.
Prangg...!!
Mayang mendengar bunyi kaca pecah dalam kepalanya. Hanya dua bulan. Wanita cantik menawan itu telah menorobos ketingkat suci puncak. Namun esensi energi dari pil bulan masih sangat banyak dalam tubuhnya. Mayang melanjutkan kultivasi untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Enam bulan lewat dua minggu terlewatkan sudah. Mayang dan Nirmala telah naik ketingkat suci puncak. Setengah langkah lagi mereka akan menembus tingkatan besar, naik ke tingkat agung awal.
__ADS_1
Mayang membuka tangannya mengarahkan kekiri dan kanan tubuhnya. Perlahan wanita cantik menawan itu menyalurkan zhenqi ke tapak tangannya. perlahan air talago membeku. Wanita cantik menawan itu lalu melenting keluar talago. Naik terus tinggi, lalu berputar dengan kencang. Sesaat kemudian dia turun menuju palanta. Nirmala dan Lindu sudah duduk menunggu nya.
"Kalian sudah selesai...? Hm.. tidak buruk." terdengar suara lembut Dewa Tanpa Bayangan. Mereka bertiga berbalik dan menghaturkan sembah.
"Bersihkanlah diri kalian dulu. Sabai dan Hampu sedang menyiapkan makanan untuk kalian."
Lindu, Nirmala dan Mayang pergi membersihkan diri. Sabai dan Hampu menata makanan di atas palanta. Hampu sekarang telah berada ditingkat bumi atas, adapun Sabai berada ditingkat raja awal. Gadis kecil ini hampir menyamai Lindu kecepatan kultivasinya. Kecantikan nya sudah mulai terlihat. Mereka berdua merasa betah tinggal di Talago Dewi. Suasana yang tenang, membawa kedamaian di jiwa Sabai dan Hampu. Ditambah energi alam yang sangat besar di Talago Dewi sangat membantu mereka dalam kultivasi.
Lindu, Nirmala dan Mayang telah kembali. Mereka kaget dan kagum melihat perkembangan diri Sabai.
"Sabai, kau sudah ditingkat raja sekarang !?" Nirmala menatap kagum pada Sabai. Gadis kecil itu tersenyum manis. Nirmala mengamati Sabai lebih teliti.
"Kau juga semakin cantik kakak lihat" Nirmala lalu merangkul gadis kecil itu.
Tiga hari terlewatkan begitu saja. Dalam waktu itu Nirmala dan Mayang ikut membimbing pelatihan Sabai. Selesai makan siang, Lindu minta izin dan restu dari Dewa Tanpa Bayangan.
"Guru... besok kami akan kembali turun gunung. Untuk mengurangi, kekuatan mereka dari golongan hitam dan Tengkorak Merah. Kami akan menghapus keberadaan sekte Iblis Tambun Tulang. Setelah itu kami akan menuju sekte Alang Barat." Dewa Tanpa Bayangan mengangguk. Lalu manusia setengah dewa itu bertanya kepada murid dan mantu muridnya.
"Apa rencana kalian terhadap gerombolan Tengkorak Merah kedepannya ?"
"Sehabis berkunjung ke sekte Alang Barat, kami akan mengikuti pertemuan sekte dan klan golongan putih sekte Marunggai Ameh. Pertemuan itu akan memutuskan nasib Tengkorak Merah kedepannya bersama kroni kroninya." Dewa Tanpa Bayangan mengangguk mendengar jawaban Lindu.
__ADS_1
"Lindu... tolong jelaskan pada saudara Alang Babega kami berdua baik-baik saja." Hampu meminta bantuan Lindu.
"Akan aku sampaikan kepada paman Alang Babega pesan mu paman Hampu."
"Jika jadi kau menyerang sekte Iblis Tambun Tulang, aku ingin ikut."
"Paman Hampu, bukan aku menolak. Tapi kami akan sangat membutuhkan paman pada saat pertempuran besar yang mungkin segera terjadi."
"Baiklah, aku akan segera meningkatkan kemampuan dan kekuatan ku. Khabari kami bila saatnya tiba." Hampu lebih bersemangat. Sekarang tujuannya bukan hanya membesarkan Sabai, tapi juga menghancurkan angkara murah di benua Emas.
Halimun yang biasanya menutupi Talago Dewi, tidak terlihat pagi ini. Lindu, Mayang dan Nirmala duduk takzim di hadapan Dewa Tanpa Bayangan.
"Ungku guru, kami mohon diri. Mohon restu mu agar kami bisa mengurangi kejahatan di alam persada ini." Lindu serta Mayang dan Nirmala menghaturkan sembah. Mayang dan Nirmala berkata bersamaan.
"Terimalah sembah hormat kami Ungku guru."
Dewa Tanpa Bayangan menepuk pundak Lindu dan tersenyum bijak.
"Berangkatlah, restuku selalu ada untuk kalian."
Lindu, Mayang dan Nirmala bangkit setelah memjura dalam kepada Dewa Tanpa Bayangan dan Hampu. Nirmala memeluk Sabai sebentar. Mereka melenting tinggi lalu menghilang. Dewa Tanpa Bayangan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ayo, sekarang menuju sekte Iblis Tambun Tulang !" teriak Nirmala senang.
\=\=\=***\=\=\=