Raja Pedang

Raja Pedang
#94. Nirmala vs Ang Coa Mosin


__ADS_3

Ular emas itu mengamati Nirmala dengan sengit dan menunggu peluang yang muncul agar bisa melakukan serangan mematikan. Kepala ular emas bergerak gerak perlahan ke kiri dan kanan. Sesekali ular emas membuka mulut dan mendesis keras.


Bbzzzssstt...!!


Kkhhhh...!!


Nirmala tersenyum kecil dan bicara dengan gaya slengean.


"Ayo serang... ayo he hee heee.... Kali ini akan ku pecah kepala kecilmu itu hehe hehehe..."


Seakan mengerti dengan kata kata Nirmala mendesis dan menembakkan racun nya.


Zhuuutt...!!


Segumpal cairan lendir berwarna ungu melesat cepat kearah Nirmala. Bau yang sangat amis dan hawa panas mengiang. Itu adalah racun yang sangat kuat. Jika racun mengenai kulit, racun ular emas akan meresap dan menghancurkan jaringan darah dalam tubuh. Tentu saja kematian tidak mungkin untuk dihindarkan.


Nirmala melesat tinggi, racun ular emas lewat dibawah tapak kakinya. Tubuh Nirmala masih melesat tinggi. Lalu dia bersalto tiga putaran dan meluncur sangat cepat kearah ular emas. Ditangannya Pedang Bintang berkeredep dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Craakk...!! Craasssh...!!


pedang Bintang memotong tubuh keras ular emas. Nirmala mengambil sebutir kristal spiritual bewarna merah keemasan. Menyimpan batu kristal spiritual ular emas dan Pedang Bintang kedalam gelang ruang.


Nirmala tersenyum lebar dan memetik buah sukun emas. Aroma yang unik tercium dari buah sukun emas, yang mendatangkan perasaan tenang dan nyaman. Setelah menyimpan buah spiritual sukun emas. Nirmala turun langsung keatas batu besar dan mendarat tanpa suara didepan Lenggo. Gadis itu melongo melihat Nirmala yang sudah berdiri didepannya.


"Kau... kau seperti bidadari yang turun dari langit Nirmala. Cantik sekali. Apakah kau bisa terbang ??" Lenggo bertanya dengan mata membulat.


Nirmala tersenyum manis melihat kepada Lenggo.


"Mungkin karena itu rimba hijau dunia persilatan memanggilku dan kak Mayang sepasang bidadari. Eh... ayo kita tangkap limbek putiah dan burung Punai kepala biru nya." ajak Nirmala. Lenggo seperti tersadar dan tersenyum ngambang.


"Ayo Nirmala" dia melompat turun keatas pasir di bawah batu. Nirmala mengikutinya.


Lenggo mulai mengobok air telaga dengan sebuah ranting bambu yang masih ada daunnya. Sesaat kemudian dia berhenti dan tiba-tiba muncul gelembung kecil kecil yang semakin lama semakin banyak.


Nirmala menatap siaga kearah gelembung yang terus muncul. Tiba-tiba seekor limbek besar bewarna putih. Lalu disusul oleh cukup banyak limbek putiah lainnya. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan limbek putiah yang muncul.


Ukuran limbek putiah itu sangat besar, bahkan lebih besar dari paha pria dewasa. Panjang tubuhnya juga lebih dari satu meter.


Air gemercik dan sedikit gemuruh. Nirmala menatap dengan kagum.


"Gilaaa... limbek putiah disini banyak banget... Gimana kita menangkap limbek limbek itu Lenggo ?" Lenggo tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kepada Nirmala.


"Rasa rasanya sepuluh sampai dua belas ekor sudah cukup yaa..." Lenggo berkata setengah bertanya. Nirmala hanya diam menatap Lenggo.

__ADS_1


Gadis cantik dari hutan kuno gunung Tua itu merapikan ranting bambu menjadi sebuah galah.


Pyaaarr...!! Pyaaarr...!!


Lenggo memukul air tempat limbek putiah berkumpul. Puluhan limbek putiah melompat ke udara. Kemudian Lenggo melenting tinggi dan bergerak sangat cepat menoel belasan limbek putiah. Limbek yang kena sentil melenting jauh kepangkal pohon sukun emas. Nirmala kagum melihat gerakan lincah dan gemulai tubuh indah Lenggo.


"Ayo Nirmala..." Lenggo berlari cepat diatas permukaan air lubuk dengan sangat cepat. Nirmala mengikuti dengan satu lompatan panjang. Sebetulnya gadis bunian itu terbang rendah dengan gaya orang melompat.


Mereka segera mengambil limbek putiah dan memasukkan kedalam kantong penyimpanan.


"Eeehh... kok semua tiga belas ekor ?" Nirmala melihat kepada Lenggo dengan mata penuh tanya. Gadis cantik manusia harimau itu tersenyum dan mengangguk.


"Yang satu akan kita bakar langsung disini." katanya sambil mengeluarkan bumbu.


Lenggo dengan cekatan membersihkan tubuh Limbek putiah. Setelah bersih, dia menyayat tubuh limbek putiah dan membalurkan bumbu ketubuh limbek putiah. Lenggo kemudian menusuk tubuh limbek putiah dari kepala sampai tembus dekat ekor. Terakhir dia menaruh limbek putiah diatas diangan sederhana.


Sesaat kemudian aroma sedap dan gurih memenuhi udara.


"Waaaahh... baunya enak banget... Aku jadi lapar..." Nirmala setengah berseru mencium aroma limbek putiah bakar yang wow banget.


Satu jam kemudian, limbek putiah bakar itu hanya tinggal tulang dan kepala yang super keras.


"Haduuuh, rasanya kenyang sekali. Oh ya Lenggo, rasanya kita gak usah mencari Punai kepala biru. Ini sudah cukup siang."


Ketika mereka sampai di perkampungan klan Manusia Harimau. Ada belasan anggota gerombolan Tengkorak Merah berdiri dan duduk dipalanta rumah Datuk Rao Api. Ketika melihat Nirmala dan Lenggo datang mereka mulai usil menggoda.


Seorang dari anggota itu malah berani mendekati Nirmala dan tangannya dengan ringan membelai pipi Nirmala.


"Alangkah cantiknya engkau Dewi rimba..." ucapannya tertahan berganti teriakan kesakitan. Nirmala menangkap tangan yang hampir menyentuh pipinya.


Kraakkk...!! Aaaachhh...!!


Nirmala meremas tangan anggota gerombolan Tengkorak Merah sampai remuk. Dia langsung berteriak melolong kesakitan. Teman temannya langsung datang dengan wajah sangar penuh ancaman.


Tapi salah seorang dari mereka menunjuk kearah Nirmala dan berkata dengan suara ragu-ragu...


"Bukankah kau salah seorang dari sepasang bidadari Suvarnabhumi ?" Nirmala tersenyum lebar...


"Naaa... tuh tau ! Kalian pasti anggota Tengkorak Merah. Kalau begitu.... Selamat jalan ke neraka !!" Nirmala langsung berkelebat. Ditangannya sudah tergenggam Pedang Bintang.


Craasssh...!! Craasssh...!!


Dua kepala langsung menggelinding di tanah.

__ADS_1


Teman temannya langsung teriak dan menghunus senjata mereka.


"Bunuh perempuan sial itu !!"


Buunuuuhh...!!


yang lain ikut berseru. Semua anggota gerombolan Tengkorak Merah menerjang kearah Nirmala. Benturan senjata terdengar kencang.


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Aaauuummm...!!


Lenggo berubah wujud menjadi seekor harimau muda dengan warna bulu dominan keemasan. Suara pertarungan terdengar sampai kedalaman rumah.


Datuk Rao Api dan Datuak Rimau Putiah bersama para tetua klan Manusia Harimau keluar diikuti oleh lima orang tamunya dari Tengkorak Merah.


Nirmala yang melihat kearah rumah gadang klan Manusia Harimau kaget. Dia masih mengingat dengan jelas wajah dua orang disana. Seorang lelaki Tionggoan dengan rambut dikepang satu. Tidak salah lagi, pria itu pasti Ang Coa Mosin. Wanita disebelah kirinya pastilah Iblis Binal Lembah Tengkorak.


Ang Coa Mosin juga menatap kearah Nirmala. Pria Tionggoan itu terkejut dan menunjuk Nirmala. Dia langsung berteriak keras dengan suara cadelnya.


"Itu... itu pelempuan yang belcama Laja Pedang...!!" Mendengar teriakkan Ang Coa Mosin, Iblis Binal Lembah Tengkorak mengangguk.


"Ayo kita habisi dia..." Iblis Binal Lembah Tengkorak langsung bergerak. Dia menerjang Nirmala dengan cepat dan kuat.


"Aahhh... benar. Kau perempuan binal itu. Hari ini kau harus mati." Nirmala mengayun pedang Bintang menyambut kedatangan Iblis Binal Lembah Tengkorak.


Traaanggg...!! Baaamm...!!


Terjadi benturan keras senjata dan dentuman keras ketika pukulan mereka bertemu.


Nirmala dan Iblis Binal Lembah Tengkorak sama terdorong sampai lima tombak.


Saat itu pula sosok Ang Coa Mosin muncul didepan Nirmala. Dua pukulan mengarah kepala dan dada Nirmala. Udara beriak dan gemuruh suara pukulan menuju kepala dan dada Nirmala.


Gadis cantik jelita itu tidak tinggal diam. Dia menebas tangan Ang Coa Mosin yang menuju kepalanya. Ang Coa Mosin menarik tangan yang menuju kepala Nirmala. Namun pukulan kearah dada terus melesat dengan cepat dan kekuatan penuh.


Blaaarrr...!!


Krraaakk...!! Aaachhhh...!!


Nirmala berhasil menangkis, namun tangan menangkis menjadi patah.


\=\=\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2