Raja Pedang

Raja Pedang
#67. Menghancurkan Markas di Hutan Kepayang 2


__ADS_3

Enam orang yang tersisa menatap tidak percaya. Kenapa tiba-tiba Bidadari Suvarnabhumi bisa bergerak sangat cepat ?? pikir mereka.


Ampalo Merah segera sadar jika Bidadari Suvarnabhumi tadi tidak serius dari semula menghadapi mereka.


"Serang iblis betina ini bersamaan !!" Ampalo Merah berteriak memberi perintah. Segera serangkaian serangan dari Ampalo Merah, Itam Calua dan Lamun Pasia serta tiga Tetua lainnya menerjang dengan sangat cepat kearah Bidadari Suvarnabhumi. Angin tajam bercuitan datang susul menyusul kearah Bidadari Suvarnabhumi. Gadis cantik jelita tersenyum kecil. Pedang Mutiara Biru berkelebat bagai kilat memapas serangan Ampalo Merah. Tidak berhenti sampai disitu, pedang Mutiara Biru meliuk merobek pundak Ampalo Merah.


Trangg...!! Crack...!


Tubuh Ampalo Merah terlempar cukup jauh. Wakil ketua Tengkorak Merah memanfaatkan benturan dan berbalik untuk melarikan diri.


Ampalo Merah yang mencoba untuk melarikan diri, tiba-tiba terlempar kembali ke area pertarungan. Dia jatuh berlutut dan memuntahkan seteguk darah. Dia tidak tau apa-apa, tidak ada riak udara sedikitpun. Tiba-tiba sebuah esensi energi besar menabrak dadanya. Ampalo Merah terlempar kembali ke area pertarungan kawannya menghadapi Bidadari Suvarnabhumi. Siapa lagi yang melempar Ampalo Merah kalau bukan Raja Pedang. Lindu yang dengan tenang memperhatikan semua pertempuran, melepas pukulan tanpa ujud kepada Ampalo Merah.


Tidak mungkin lagi untuk melarikan diri. Ampalo Merah menyiapkan serangan maut untuk Bidadari Suvarnabhumi. Dia melihat sekilas kearah Itam Calua dan Lamun Pasia. Kedua ketua rampok itu terlihat cukup menderita. Empat orang tetua yang ikut membantu mereka tinggal satu orang. Tiga orang sudah tergeletak tidak berbentuk lagi dan tubuh mereka sudah bercerai berai.


"Yayang... sudah cukup main mainnya." Terdengar suara Lindu lembut dalam kepala Mayang.


Bidadari Suvarnabhumi milirik Lindu, dia tersenyum manis dan menganggukan kepala.


"Satu, dua, tiga, empat... Kalian semua segera menuju akhirat." Setelah menunjuk mereka satu demi satu. Tubuh indah Bidadari Suvarnabhumi berputar dengan kecepatan tinggi. Pedang Mutiara Biru mencuat sesekali melepaskan lidah petir bewarna biru.


Zzzssstt.... Crack Slash...!!


Jleb...!! Zzzssstt....


Pedang Mutiara Biru merobek dada Tetua yang ikut bertarung dan menembus kepala Itam Calua. Sangat cepat, kedua orang itu tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.


Ampalo Merah dan Lamun Pasia bergetar hebat. Keringat dingin membasahi punggung mereka. Rasa takut makin tebal membalut hati mereka. Kedua orang itu sepakat untuk menyerah.


"Menyerah berarti penyiksaan sebelum kematian kalian." Suara Bidadari Suvarnabhumi terdengar sangat dingin dan menakutkan.

__ADS_1


Nirmala sudah menyelesaikan pertempuran melawan ratusan anggota gerombolan Tengkorak Merah dan perampok. Begitu juga dengan lima pendekar yang jadi penunjuk jalan. Meskipun mereka mengalami luka yang lumayan banyak. Hati mereka merasa bangga karena bisa ikut bersama Raja Pedang dan Sepasang Bidadari menghancurkan markas cabang Tengkorak Merah. Sekarang mereka menonton pertarungan terakhir Bidadari Suvarnabhumi melawan Ampalo Merah dan Lamun Pasia.


Ampalo Merah yang menanti kedatangan Gordo Ketua markas Tengkorak Merah. Ampalo Merah tidak pernah tau jika Ketua markas Tengkorak Merah sudah mati dibunuh Raja Pedang. Dia juga tidak pernah tau jika anggota yang dia utus menjemput Gordo juga telah melarikan diri sangat jauh meninggalkan Banyu Lincia.


"Sekarang giliran kalian" suara Bidadari Suvarnabhumi terdengar dingin menusuk jiwa.


Ampalo Merah dan Lamun Pasia mengempos esensi energi mendalam yang mereka miliki. Aura membunuh yang sangat kuat merembes dari tubuh Ampalo Merah dan Lamun Pasia.


Alang Babega sudah beberapa hari merasa gelisah. Sudah tiga hari Seriti Merah melihat itu, dia juga ikut jadi gelisah.


"Suamiku, sudah tiga hari aku melihat dikau dilanda gelisah. Apa gerangan yang sangat menggangu pikiran mu ?"


Seriti Merah bertanya lembut kepada Alang Babega.


Alang Babega menghela nafas panjang. Dia menatap agak lama pada Seriti Merah. Baru kemudian menjawab pertanyaan Seriti Merah.


"Aku setuju, sebaiknya kita segera ke Bukit Surungan. Aku juga sudah kangen dengan Sabai." Seriti Merah mengajak Alang Babega mengunjungi Bukit Surungan. Ketika matahari naik sepenggalan, Alang Babega dan Seriti Merah meninggalkan sekte Alang Barat di Sunua menuju sekte Awan Bararak di Bukit Surungan.


Bidadari Suvarnabhumi meliuk dan melenting tinggi. Dia mengayun pedang Mutiara Biru setengah lingkaran. Bias cahaya biru tipis dan sangat tajam menyambar kearah Ampalo Merah. Kesiutan angin membelah udara tipis. Ampalo Merah mengayunkan pedangnya untuk menahan serangan yang datang. Namun kali ini, serangan dari Bidadari Suvarnabhumi bukan ayunan pedang biasa. Dia mengayun pedang dengan jiwa pedang. Tidak ada yang mampu menahan kecuali penguasa jiwa pedang juga.


Kilau sinar biru melintas melewati Ampalo Merah.


Craasssh...!


Awalnya tidak terjadi apa-apa. Ampalo Merah hanya merasa kulitnya menebal. Lalu semua menjadi gelap. Darah mulai merembes perlahan dan tubuh Ampalo Merah tersungkur. Putus menjadi dua bagian.


Lamun Pasia pucat dan takut setengah mati. Dia langsung bersujud dihadapan Bidadari Suvarnabhumi.


"Bi.. Bidadari Suvarnabhumi, diantara kita tidak pernah ada masalah. Mohon izinkan aku meninggalkan tempat ini." Lamun Pasia berkata agak tergagap gagap. Bidadari Suvarnabhumi diam menatap tajam Lamun Pasia.

__ADS_1


Bidadari Suvarnabhumi menghela nafas dalam-dalam. Dia bicara kepada Lamun Pasia seakan tidak ada masalah apapun.


"Kita memang tidak pernah ada masalah sebelumnya." Bidadari Suvarnabhumi diam sejenak. Lamun Pasia merasa sedikit lega di dadanya. Rasa lega itu hanya sejenak, lalu berganti dengan rasa takut dan amarah yang sangat besar begitu mendengar kalimat lanjutan dari Bidadari Suvarnabhumi.


"Karena kau sudah datang untuk beraliansi dengan gerombolan Tengkorak Merah kau boleh pergi. Tapi hanya nyawa atau tubuh saja." Bidadari Suvarnabhumi tersenyum sangat dingin.


Lamun Pasia bangkit melesat kearah gadis cantik jelita itu. Menggunakan sebelas langkah ajaib yang diajarkan Lindu, Bidadari Suvarnabhumi tiba-tiba sudah berada disisi Lamun Pasia. Sinar biru lebar dan terang berkelebat.


Craasssh...!!


Kepala penyamun sungai Musi itu jatuh menggelinding. Semua orang tanpa sadar menarik nafas lega. Usai sudah pertarungan di markas cabang Tengkorak Merah di hutan Kepayang.


"Saudara saudara tolong bebaskan semua tahanan dan kumpulkan semua harta yang ada di markas ini." Semua pendekar dan Nirmala serta Bidadari Suvarnabhumi pergi membebaskan semua tawanan dan mengumpulkan semua harta benda yang ada.


Ada delapan orang gadis dan empat pemuda yang ditawan di markas Tengkorak Merah. Semua akan dijual sebagai budak. Mereka berasal dari kampung yang tidak terlalu jauh dari Bunyu Lincia.


Harta benda yang berhasil dikumpulkan ada sebanyak tiga pedati. Terdiri dari keping emas, perak, perhiasan dan kain. Lindu minta bantuan lima pendekar untuk mengantarkan para gadis tawanan kembali kerumahnya masing-masing.


Setelah membagi semua harta rampasan secara proporsional, mereka berpisah. Lima pendekar itu sangat senang dengan pembagian yang dibuat Lindu.


"Terimakasih Raja Pedang dan Sepasang Bidadari. Hari ini menjadi hari paling bersejarah dan paling membanggakan bagi kami. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami." mereka menjura dalam-dalam kepada Lindu, Nirmala dan Mayang.


"Terimakasih tuan muda, terimakasih nona atas semua yang telah diberikan kepada kami." Para tawanan yang telah dibebaskan menghatur sembah kepada Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.


Raja Pedang dan Sepasang Bidadari juga meninggalkan hutan Kepayang. Setelah terlebih dahulu membakar semua bangunan dan tumpukan mayat gerombolan Tengkorak Merah dan Begal hutan Bayat serta Penyamun sungai Musi. Satu lagi markas cabang Tengkorak Merah dihancurkan oleh Raja Pedang dan Sepasang Bidadari.


Berita kehancuran markas cabang Tengkorak Merah dan terbunuhnya ketua Begal hutan Bayat serta Penyamun sungai Musi segera menjadi topik utama di warung kopi dan tempat lain.


\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2