
Malam mulai turun menelan senja. Kegelapan yang pekat tersimpan banyak misteri. Hawa dingin mulai terasa menusuk tulang. Dikamarnya Lindu mulai melakukan kultivasi singkat. Lindu naik ke ranjang dan duduk bersila. Perlahan Lindu menutup mata dan fungsi semua inderanya. Lindu mulai menyerap energi spiritual langit dan bumi.
Di kamarnya, Nirmala baru selesai mandi dan berganti pakaian. Nirmala mendatangi gurunya yang sedang duduk menikmati secangkir teh. Mereka menempati kamar yang luas. Ada set meja tamu dengan empat kursi yang ditempatkan dekat jendela besar. Juga ada dua tempat tidur besar disana.
Seriti Merah duduk menikmati secangkir teh serah kembang Telang. Kelembutan rasa dan aroma teh sereh kembang Telang meresap melenakan Seriti Merah ketika teh disesap melewati rongga mulut dan tenggorokannya. Seriti Merah menatap jauh keluar jendela. Wajahnya seperti suram dan penuh beban. Tapi hanya sesaat, wajah Seriti Merah berubah sangat terkejut. Seriti Merah memutar wajah ke arah Nirmala dengan mata terbuka lebar.
Nirmala melangkah lebar menuju meja teh dimana gurunya sedang menikmati secangkir teh. Aroma wangi lembut dan menenangkan merembes dari tubuhnya. Tapi yang dirasakan Seriti Merah adalah hal lain.
"Nirmala....??
Kau menerobos dua tingkat. Kenapa bisa....???
Kapan kejadiannya...??"
Seriti Merah memberondong Nirmala dengan beberapa pertanyaan sekali gus. Nirmala ditariknya untuk duduk dekat dekat.
"Ayo ceritakan."
Nirmala menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat dan duduk dekat Seriti Merah. Gadis cantik itu menceritakan dari awal secara detail. Berawal dari dia dan Lindu pergi ke taman kota. Sampai dia mengalami luka akibat bertarung dengan orang klan Caniago. Kemudian mengkonsumsi pil hijau pupus yang diberikan oleh Lindu untuk mengobati lukanya. Mendengar penjelasan Nirmala, Seriti Merah malah memikirkan hal lain.
"Apa.... Kamu bilang, pemuda itu mengalahkan Dewi Kematian ?"
"Bukan hanya itu guru, uda Lindu juga mengalahkan Delapan Benteng Caniago dalam satu serangan. Lala pikir mestinya uda Lindu juga bisa mengalahkan Dewi Kematian dalam satu serangan."
Nirmala menceritakan semua kehebatan Lindu dengan penuh semangat. Seriti Merah tidak begitu memperhatikan sikap Nirmala. Dia lebih fokus memikirkan Lindu.
"Seberapa tinggi tingkatan pemuda itu ?" pikirnya.
Mampu menghancurkan Delapan Benteng Caniago dalam satu serangan, dan mengalahkan Dewi Kematian. Seriti Merah sangat mengenal Delapan Benteng Caniago dan Dewi Kematian. Mereka semua adalah para pendekar kelas atas. Terutama Dewi Kematian, tingkat kemampuannya malah lebih tinggi daripada Patriak klan Caniago.
"Apakah dia sudah ditingkat suci...??" pikir Seriti Merah.
"Apakah mungkin diusianya yang masih sangat muda sudah mencapai tingkat setinggi itu ? Genius macam apa anak itu ?
Apak jangan jangan anak itu monster ?? Yaa... monster. Pasti seorang monster...!!"
__ADS_1
Seriti Merah tiba tiba tersenyum misterius. Ia menatap Nirmala muridnya lekat lekat. Nirmala merasa agak salah tingkah dipandang lama dan dalam oleh gurunya.
"Jadi.... Lindu memberikan pil tachi padamu ?
"Terus dia memberikan panggilan khusus Lala pada mu dan kau mengganti panggilan mu dari Mala jadi Lala ?"
Ditanya hal itu dan ditatap dalam dan lama oleh gurunya, bikin Nirmala bingung.
"Emang kenapa guru ? Uda Lindu memang sangat baik orangnya, dan aku pikir panggilan Lala lebih bagus dari pada Mala"
Nirmala menimpali gurunya dengan senyuman manis dan sikap polos dan lugu. Melihat respon Nirmala, Seriti Merah mengalihkan pandangan keluar jendela. Perempuan itu pelan menarik nafas dalam dan panjang kemudian menghembuskan perlahan lahan.
Sementara itu Kudu masih terus mengawasi pintu masuk Aia Badarun. Berjaga jaga apa Lindu masih menginap atau akan keluar meninggalkan kota segera. Jika itu terjadi, Kudu dan rombongan sekte Iblis Tambun Tulang akan segera menyantroninya.
Mengingat pertarungan sore tadi, sebenarnya Kudu merasa sangat takut didalam hatinya terhadap Lindu. Mengingat Lindu mengalahkan Delapan Benteng Caniago hanya dalam satu serangan. Mana ada yang mampu melakukan semua itu. Para Tetua sekte Iblis Tambun Tulang juga tidak akan ada yang mampu. Tidak tau kalau Patriak sekte. Selama ini tidak pernah ada yang mampu berhadapan dengan Delapan Benteng Caniago.
---***
Malam turun semakin jauh. Udara malam semakin dingin. Kudu akhirnya meninggalkan Aia Badarun menuju markas cabang sekte Iblis Tambun Tulang. Sesekali Kudu masih melempar pandangan kearah pintu Aia Badarun.
"Aku sudah menemukan pemuda yang membunuh senior Arit Setan dan anggota kita wakil tetua."
"Dimana anak setan itu sekarang ?" Baruak Panjalu minta penjelasan pada Kudu.
Lelaki buntung itu melaporkan dengan detil semua kejadian yang dia amati. Kejadian demi kejadian Kudu jelaskan secara mendetil pada Duo Baruak. Duo Baruak sangat terkejut mendengar mendengarkan laporan dari Kudu. Pemuda yang mereka cari mampu mengalahkan Dewi Kematian dan Delapan Benteng Caniago. Sayangnya rasa kaget itu disimpan mereka rapat rapat dalam hati, muka mereka tetap saja tidak menunjukkan apapun.
Duo Baruak sebenarnya ada rasa takut didalam hatinya. Bagaimana pemuda itu bisa mengalahkan Delapan Benteng Caniago dalam satu serangan, pikir mereka. Duo Baruak pernah bertemu dan bertarung dengan Delapan Benteng Caniago. Saat pertarungan itu mereka tingkat kultivasi mereka dua level lebih tinggi dari pada Delapan Benteng Caniago. Namun Delapan Benteng Caniago adalah kelompok solid. Jika mereka bertarung bersama kekuatan mereka meningkat jauh. Setelah bertarung hampir lima jam, mereka berdua berhasil lolos melarikan diri dengan tubuh penuh luka.
--flash back--
Hari sudah beranjak sore. Nagari Guguak Ulu Banda yang berada di kaki sebelah timur gunung Tandikek sudah luluh lantak. Pertarungan antara Duo Baruak dengan Delapan Benteng Caniago sudah berada dipuncaknya. Pertarungan sudah terjadi sejak siang belum juga usai. Baruak Panjalu dan Baruak Panjali berdiri sedikit goyah dengan posisi saling beradu punggung. Nafas mereka sudah mulai memburu. Darah mengalir dari beberapa luka lebar ditubuh mereka . Sementara lawan yang mereka hadapi Delapan Benteng Caniago masih tampak cukup segar.
Duo Baruak menjerit sangat nyaring tubuh mereka mulai ditutupi kabut. Setelah kabut tebal pelan pelan menghilang. Ditempat Duo Baruak berdiri telah digantikan oleh dua ekor kera putih bertubuh sangat besar. Kera bertubuh besar itu memancarkan aura kegelapan yang sangat besar. Kera kera itu menjerit jerit menyerang Delapan Benteng Caniago yang mengelilingi mereka. Tapi lawannya adalah Delapan Benteng Caniago yang sangat perkasa. Gerakan delapan pendekar sangat teratur dan begitu kuat dalam formasi patkwa. Mereka bergerak menangkis dan menyerang beraturan susul menyusul dan saling melengkapi. Serangan tanpa henti bagai gelombang dalam satu kesatuan yang solid.
Delapan benteng Caniago kembali menekan Duo Baruak. Meski telah berganti wujud dengan ajian kera putih, Duo Baruak kembali terdesak hebat. Merasa tidak mungkin lagi melanjutkan pertarungan karena maut pasti menjemput mereka. Baruak Panjalu mengirim transmisi suara kepada Baruak Panjali untuk berusaha melarikan diri.
__ADS_1
Pada satu kesempatan, akhirnya Duo Baruak berhasil meloloskan diri dengan tubuh penuh luka.
---flash end---
Sekarang anak muda yang ingin mereka bunuh mampu mengalahkan Delapan Benteng Caniago. Bukan saja mengalahkan, tapi hanya dengan satu serangan target mereka, telah menghancurkan Delapan Benteng Caniago. Bagaimana mereka bisa melakukan meskipun tugas untuk membunuh target, meski jumlah mereka ada dua puluh orang lebih.
Duo Baruak minta Kabau Basi kepala markas cabang sekte Iblis Tambun Tulang untuk ikut membantu membereskan Lindu.
Akhirnya Kabau Basi setuju membantu Duo Baruak dan juga menambah jumlah anggota lima belas orang lagi. Mereka sepakat untuk menyerang Lindu bersama. Mereka langsung bersiap untuk pergi ke Aia Badarun untuk menghabisi Lindu
Pagi datang dengan damai. Lindu perlahan menyelesaikan kultivasinya. Pemuda tampan itu membersihkan diri dan berganti pakaian, kemudian turun ke restoran di lantai dua untuk sarapan bersama Nirmala dan Seriti Merah.
"Sarapan apa kita uda Lindu?" Gadis kecil yang cantik itu bertanya ke Lindu. Nirmala merasa sudah akrab dengan Lindu. Gadis cantik itu sangat mengagumi Lindu. Masih sangat muda, tampan dan ilmunya sangat tinggi. Gurunya Seriti Merah saja mengakui dan merasa bukan siapa siapa didepan Lindu.
"Pesankan pisang goreng dengan ketan dan kopi gula aren untuk uda Lala."
Tidak lama seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Lindu menambah pesanan untuk dirinya nasi goreng.
Dua orang anggota sekte Iblis Tambun Tulang duduk makan lontong disebelah meja Lindu. Mereka merubah penampilan agar tidak diketahui bahwa mereka dari sekte Iblis Tambun Tulang. Tujuannya tentu saja untuk bisa nguping pembicaraan Lindu. Setelah merasa cukup mereka pergi menemui Duo Baruak dan anggota sekte.
"Mereka bertiga pagi ini akan melanjutkan perjalanan ke Pariaman wakil ketua"
"Kalau begitu kita bereskan mereka di hutan bambu." Kabau Basi merespon laporan yang disampaikan. Mereka pasti melewati jalur hutan bambu. Karena memang itu jalur paling dekat dan cepat untuk mereka ke Pariaman. Rombongan Duo Baruak langsung berangkat dan menunggu Lindu di hutan bambu yang terletak tidak jauh setelah melewati gerbang keluar dari kota.
Lindu meninggalkan Aia Badarun bersama Nirmala dan gurunya Seriti Merah. Mereka berjalan dengan santai. Menjelang gerbang keluar, seorang pendekar yang diutus oleh pemimpin Menara Gading menemui mereka dan menyerahkan sepucuk surat.
"Maaf, Tuan Muda ini ada surat dari tuan Limbubu."
Lindu menerima dan membaca pesan dari Tinju Gledek, yang berisi bahwa sekte Iblis Tambun Tulang telah menunggu mereka di hutan bambu.
"Sampaikan terima kasih ku pada tuan Limbubu." ucap Lindu sambil menyerahkan surat yang sudah dibacanya ke Seriti Merah. Wajah Seriti Merah berubah, dia menatap Lindu. Tapi melihat Lindu tak ada perubahan sedikitpun, Seriti Merah juga merasa tenang.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan meninggalkan kota. Setelah berjalan sekitar dua jam mereka sampai di hutan bambu. Semilir angin dan gemerisik daun bambu meniringi langkah mereka.
Hampir melewati setengah hutan bambu Duo Baruak, Kabau Basi dan 30 orang anggota sekte Iblis Tambun Tulang menghadang perjalanan Lindu beserta Nirmala dan Seriti Merah.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=