
Lindu tersenyum ringan melihat serangan dari Mambang. Menggunakan sebelas langkah ajaib, Lindu mundur setengah tindak dan memukul pundak Mambang.
Slash...!!
Luka seperti sayatan pedang terbentuk di pundak Mambang. Hanya luka kulit, tapi sangat mengagetkan. Hanya sedikit gerakan menghindar langsung melukai Mambang, meski hanya luka ringan.
Mambang berfikir kejadian itu hanya kebetulan. Dia merasa dari aura yang merembes dari Lindu hanya tingkat langit puncak. Kalau bukan karena dia terlalu menganggap remeh tidak mungkin akan ada luka dipundaknya.
Mambang kembali menyerang dengan gerakan yang sangat cepat.
Pedang membelah langit
Pairit mengoyak surga
Dua serangan mematikan datang dengan sangat cepat kearah Lindu. Sesaat sebelum serangan Mambang sampai ke tujuan, Lindu menghilang dari tempatnya.
Pletak...!!
Aach.....!!
Mambang mengusap usap kepalanya yang benjol karena dipukul Lindu dengan ranting ditangannya. Mambang mulai ragu dengan keyakinannya. Bagaimana mungkin pemuda dengan kemampuan tingkat langit bisa membalas saat dia diserang ? Apakah pemuda itu menekan aura kekuatan sebenarnya ?
"Sekarang giliran ku" Lindu langsung bergerak bagaikan kilat.
Bak...!! Bugh....!!
Pletak...!! Desz....!! Slash...!!
Serangkaian serangan yang dilakukan Lindu, menghantam tubuh dan kepala Mambang. Bahkan sebuah luka baru terbentuk melintang di dada Mambang. Mambang benar benar babak belur seperti yang dijanjikan Lindu. Pemuda itu melihat Lindu tersenyum ringan padanya. Punggungnya tiba-tiba terasa dingin. Rasa takut mulai merayapi hatinya.
Mambang segera menyadari kalau dia sudah salah memprovokasi Lindu. Murid kesayangan Datuk Hitam Parigi berbalik melarikan diri. Tapi sebuah bayangan berkelebat dengan sangat cepat. Sebuah suara yang sangat menakutkan terdengar ditelinga nya.
"Tinggalkan sebelah mata mu sebelum minggat" Bersamaan dengan itu terdengar
Crack....!!
Aaaachhh....!!
Terdengar teriakan kesakitan sangat keras dari mulut Mambang, ketika sebelah matanya melenting keluar di congkel Lindu.
__ADS_1
"Kau tunggu pembalasanku segera" Mambang melarikan diri, namun masih sempat meninggalkan ancaman. Dengan menggunakan energi lembut, Lindu memukul bola mata Mambang.
"Bawa nih mata jelekmu, oh ya, ingat baik-baik namaku Raja Pedang" ucap Lindu. Bola mata itu melayang kencang menghantam punggung Mambang yang sudah menjauh. Mambang jatuh bergulingan dan terus melarikan diri.
Lindu menghela nafas dan mendekati Nirmala dan Mayang.
"Kalian tidak apa-apa kan ?"
Sebelum Dhamma Mayang dan Nirmala menjawab terdengar suara mendengung dekat pohon bodhi besar. Tampak sebuah portal dimensi terbuka. Tiga sosok wanita yang sangat cantik muncul dari portal dimensi itu. Ketiga wanita itu adalah Ratu Shima ibunda Nirmala bersama Larasati dan Andini.
Nirmala tiba-tiba mendengar detak jantungnya sendiri yang berdetak kencang. Gadis itu merasakan ikatan yang sangat kuat dengan wanita yang berdiri ditengah. Dia menatap nanar pada wanita yang paling cantik yang berdiri ditengah. Mata gadis cantik itu berkabut dan air matanya menggenang. Perempuan yang berdiri ditengah maju selangkah dan membuka tangannya lebar lebar.
Nirmala berlari dan masuk kedalam pelukan wanita itu.
"Bunda..." Bisikan halus keluar dari mulut Nirmala.
"Nirmala... kau sudah besar putriku..." Ratu Shima menyambut tubuh Nirmala dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Suaranya terdengar lembut.
Seriti Merah sebelum mereka pergi menuju bukit Gunuang Ledang sudah menjelaskan tentang Ratu Shima kepada Nirmala. Nirmala menyimpan rapi informasi gurunya rapi di sudut hati. Begitu melihat Ratu Shima Nirmala merasa ada getar rindu tiba-tiba di hatinya. Setelah mencocokan dengan apa yang dijelaskan, Nirmala yakin wanita yang di tengah adalah ibunya. Itulah sebabnya dia menubruk memeluk wanita cantik itu.
Beberapa waktu kemudian, Ratu Shima merenggangkan pelukannya. Ia menatap pada Nirmala cukup lama.
"Siapakah kedua temanmu ini putri ku ?"
Ratu Shima menatap Nirmala sambil tersenyum. Nirmala terlihat sedikit bingung dan agak sungkan. Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi mengenalkan diri mereka pada Ratu Shima.
"Aku Lindu Alam..."
"dan aku Dhamma Mayang" Lindu dan Dhamma Mayang membungkuk memberi hormat kepada Ratu Shima. Larasati tersenyum melihat mereka dan mengajak semua kembali ke istana Bunian.
"Sebaiknya kita istirahat dulu ke istana Yang Mulia".
Ratu Shima mengangguk dan mereka menuju istana Bunian.
"Kenapa kau Mambang. Siapa yang sudah melukai mu ?" Datuk Hitam Parigi menatap muridnya yang sudah babak belur dan satu bola matanya hilang.
Mambang menceritakan semua kejadian yang dia alami pada gurunya Datuk Hitam Parigi. Tentu saja isinya tidak sesuai dengan kejadian yang dia lakukan. Dia hanya menceritakan bertemu gadis yang mirip dengan Ratu Sijundai. Ia berniat meringkus gadis untuk untuk dibawa ke markas Rawa Hitam. Mambang sangat yakin bahwa gadis itu adalah putri dari Ratu Sijundai yang pernah disusupkan keluar nagari Bunian.
Ketika hampir berhasil, gadis itu dibantu oleh orang yang mengaku sebagai Raja Pedang. Setelah memukulnya hingga babak belur, Raja Pedang mencongkel satu matanya sebagai tantangan untuk penguasa Rawa Hitam.
__ADS_1
Tentu saja semua laporan dengan berbagai bumbu penyedap itu membuat Datuk Hitam Parigi menjadi marah. Setelah menghela nafas dalam-dalam dia mengobati murid nya.
"Istirahatlah murid ku. Satu purnama kedepan kita akan menyerang istana Bunian." Setelah itu Datuk Hitam Parigi berlalu dari ruangannya menuju tempat pasukannya berlatih.
Hari itu, Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi duduk diruang keluarga istana Bunian. Mereka duduk bersama Ratu Shima, Andini dan Larasati dalam suasana kekeluargaan.
"Nirmala... Bunda melihat segel jiwa pada dirimu sudah lepas. Bagaimana gurumu nona Seriti Merah melakukan semua itu ?" Ratu Shima bertanya dengan penuh minat pada Nirmala.
"Sebetulnya uda Lindu yang paling banyak berperan melepaskan segel jiwa itu..." Nirmala lalu menceritakan secara detail semua kejadian mulai dari mendapatkan bunga Wijaya Kusuma Ungu sampai dengan proses Lindu melepaskan segel jiwa yang sangat rumit.
Ratu Shima, Larasati serta Andini menatap kagum pada Lindu. Ratu Shima kemudian mengucapkan terimakasih kepada Lindu.
"Terimakasih Raja Pedang. Apa yang kau perbuat untuk Nirmala sangat besar artinya bagiku. Aku akan memberikan hadiah yang pantas untuk mu"
Lindu menunduk mendengar ucapan Ratu Shima. Perlahan Lindu mengangkat wajah menatap Ratu Shima yang sangat cantik itu agak lama.
"Tidak perlu melakukan semua itu bunda Ratu. Semua yang aku lakukan memang sudah jadi kewajibanku pada Lala." Ratu Shima sedikit mengernyitkan dahinya, begitu juga dengan Larasati dan Andini. Lindu melanjutkan bicaranya.
"Kami sengaja datang kesini untuk minta restu dari mu bunda Ratu." Lindu berhenti sejenak dan menarik nafas. Dia melihat sekilas kepada Larasati dan Andini, lalu kembali melihat kepada Ratu Shima.
"Sebelum segel jiwa dilepas dari Lala, kami sudah diikat dalam perjodohan oleh kakek ku Alang Bangkeh, Patriak sekte Alang Barat bersama bibi Seriti Merah dan Dewi Bulan, Matriak sekte Angso Duo. Tidak ada paksaan atas ikatan perjodohan ini."
"Betul bunda, Lala dan kakak Mayang bersama menyetujui untuk menjadi pendamping uda Lindu." Lala menimpali ucapan Lindu dan Dhamma Mayang mengangguk membenarkan.
Ratu Shima bersama Larasati dan Andini terperangah mendengar penjelasan dari Nirmala putrinya. Wanita itu melihat sikap putrinya dan Dhamma Mayang biasa saja. Tapi rasa sayang dan cinta terpancar kuat dari kedua gadis cantik itu terhadap Lindu. Ratu Shima bisa merasakan hal itu. Dia jadi ingat dengan suaminya Mangaraja Tohir. Suaminya adalah pemimpin tertinggi dari klan Mangaraja. Sebuah klan terkuat yang ada di wilayah kekaisaran Madania.
"Apakah kau sudah yakin dengan pilihan mu Nirmala ?" Ratu Shima menatap Nirmala lama dan dalam. Nirmala balas menatap Ratu Shima dan mengangguk dengan mantap. Lalu Ratu Shima menatap dalam pada Bidadari Suvarnabhumi.
"Kau juga begitu Mayang ?"
Bidadari Suvarnabhumi juga mengangguk dengan mantap.
"Ya bunda Ratu. Kami sepakat untuk selalu bersama, saling isi dan saling menjaga." Nirmala mengangguk membenarkan Bidadari Suvarnabhumi. Lindu menarik ujung bibirnya tersenyum.
"Baiklah, aku tidak akan membatalkan apa yang sudah terjadi. Tapi aku ingin menguji kemampuanmu Lindu sebagai pelindung Nirmala dan Mayang putriku."
Lindu menatap Ratu Shima dan tersenyum mengangguk kan kepala.
"Apa yang harus aku lakukan bunda Ratu ?"
__ADS_1
\=\=\=***