Raja Pedang

Raja Pedang
#47. Menuju Istana Bunian 2


__ADS_3

Lindu bersama Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi berlari cepat melintasi hutan rawa Kiambang. Setelah tiga jam berlari cepat tanpa berhenti mereka bertemu kebun kebun sayuran dan hamparan sawah milik penduduk.


Lindu melambatkan larinya dan mulai berjalan. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi mengikuti apa yang dilakukan Lindu. Setelah melewati hamparan kebun penduduk, mereka kembali melesat dengan cepat.


Setelah berlari selama dua hari sampailah mereka di kaki bukit Gunuang Ledang. Lindu mencari tempat yang ada pohon bodhi besar seperti seperti yang diberitahukan Seriti Merah. Setelah dua jam mencari, akhirnya di kaki bukit Gunuang Ledang patahan ke delapan terlihat sebatang pohon bodhi besar.


Ada seorang pemuda gagah duduk bawah pohon bodhi besar itu. Melihat tiga datang kearahnya pemuda itu tersenyum dan berdiri.


"Dua gadis cantik dan satu belatung, ada apakah gerangan kalian mencari ku ?" Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tertegun mendengar pemuda itu menyamakan Lindu dengan belatung. Perlahan amarah merambat naik ke kepala dua gadis itu.


"Sepertinya kau sudah bosan hidup" Bidadari Suvarnabhumi berkata tajam dengan tatapan dingin melihat pemuda itu.


"Ah... cantik kau terlalu mudah tersinggung. Tau kah kau sedang berhadapan dengan siapa ?


Eit... tunggu dulu..." pemuda itu menatap agak lama pada Nirmala.


"Aku mencium bau Bunian bercampur dengan bau manusia pada dirimu Nona. Siapa kau sebenarnya ? Kau sangat pantas menjadi pendamping ku" pemuda itu bertanya dengan sebelah matanya membesar. Singik sekali gayanya yang sangat merendahkan.


Pemuda itu bernama Mambang murid dari Datuk Hitam Parigi salah satu yang terkuat di nagari Bunian. Selama ini Datuk Hitam Parigi berusaha merongrong kekuasaan Ratu Sijundai alias Ratu Shima ibunda Nirmala, penguasa nagari Bunian.


Datuk Hitam Parigi menjadi penguasa Rawa Hitam yang membentang melingkari hampir setengah bukit Gunuang Ledang.


Rawa Hitam memiliki suatu kemampuan yang unik, yaitu mengisap jiwa manusia yang terjebak kedalamannya. Rawa Hitam juga menjadi pembatas antara dunia bangsa lelembut nagari Bunian dan dunia asli manusia biasa.


Datuk Hitam Parigi adalah sosok yang memiliki darah campuran dari bangsa manusia dan bangsa bunian. Ibunya adalah manusia biasa dan ayahnya seorang kepala prajurit di nagari Bunian. Mungkin itu menyebabkan Datuk Hitam Parigi memiliki kemampuan unik. Dia bisa mengetahui dunia gaib, yang ada dan berdampingan dengan dunia biasa. Dengan kemampuan itu, Datuk Hitam Parigi bisa keluar masuk nagari Bunian tanpa ada yang menyadari.


Setelah mengetahui jati dirinya, timbul keinginan untuk menguasai nagari Bunian. Diam-diam Datuk Hitam Parigi membangun pasukannya. Dia memilih Rawa Hitam sebagai markasnya. Datuk Hitam Parigi kemudian membangun pasukannya yang terdiri dari bangsa lelembut warga nagari Bunian dan manusia.


Saat ini Datuk Hitam Parigi sudah berada ditingkat agung tinggi. Ini agak terlambat karena dia membutuhkan beberapa tahun untuk mengobati luka dalam yang dideritanya ketika menyerang nagari Bunian.


Sekitar lima belas tahun lalu ketika berada ditingkat suci puncak dia menyerang nagari Bunian. Datuk Hitam Parigi hampir saja memenangkan pertarungan melawan Ratu Sijundai bersama panglima dan penasehat perang sekaligus pengawal pribadinya. Pada saat itulah seorang kesatria yang gagah bernama Mangaraja Tohir menolong Ratu Shima yang sudah terdesak hebat.

__ADS_1


Kesatria sakti mandraguna itu mengalahkan Datuk Hitam Parigi dalam pertarungan yang adil satu lawan satu. Pada pertarungan itu Datuk Hitam Parigi terluka parah dan melarikan diri. Sesampai di pinggir hutan bambu yang jadi pembatas rawa hitam, Datuk Hitam Parigi jatuh pingsan. Seorang anak lelaki dari bangsa lelembut yang lagi kesasar menemukan dan kemudian menunggui Datuk Hitam Parigi sampai tersadar kembali. Datuk Hitam Parigi mengangkat anak lelaki itu menjadi muridnya. Tidak sia sia Datuk Hitam Parigi mengambil murid. Ternyata anak itu meliki bakat luar biasa. Sehingga dalam waktu lima belas tahun, anak itu sudah memiliki kemampuan ditingkat suci atas.


Anak lelaki itulah yang kini berdiri di hadapan Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala.


Nirmala menatap sinis pada Mambang. Niat membunuh yang kuat merembes keluar memberi tekanan pada Mambang. Namun pemuda itu tersenyum kecil seperti tidak menyadarinya. Nirmala menyerang Mambang dengan cepat dan ganas.


"Sudah tidak pantas bagimu menikmati udara di dunia ini setelah penghinaan dari mulut busukmu terhadap suami kami !"


Sementara itu di istana Bunian, Ratu Shima terlihat gelisah. Larasati yang menjadi penasihat perang sekaligus pengawal pribadinya merasa heran. Tidak biasa Ratu Shima bersikap seperti itu.


"Yang mulia, anda terlihat gelisah, apakah ada yang mengganggu fikiran anda ?"


Ratu Shima tidak langsung menjawab. Penguasa cantik itu menatap Lara agak lama. Diluar urusan kerajaan, mereka merupakan sahabat baik. Larasati adalah orang yang paling mengerti dan memahami Ratu Shima.


"Aku merasa Nirmala putriku sedang ada didekat portal dimensi" ucap Ratu Shima sedikit ragu, kepada Larasati.


Larasati langsung mengambil sikap hening. Dia melakukan penerawangan melihat apa yang terjadi di dekat portal dimensi. Lara melihat dua wanita sangat cantik tengah bertarung melawan Mambang murid Datuk Hitam Parigi. Dia juga melihat seorang pemuda tampan yang tidak dikenalnya sedang serius mengamati pertarungan itu.


Juga ada seorang pemuda tampan tengah mengamati pertarungan mereka. Sebaiknya kita segera kesana Yang mulia Shima."


Setelah berganti pakaian yang ringkas Ratu Shima dan Lara beserta Andini menuju portal dimensi.


Mambang menghadapi semua serangan Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi dengan santai. Jarak dua level pada tingkat suci memang sangat jauh, seperti sebuah jurang pemisah yang lebar dan dalam.


Bamm....!!


Dhuaarr....!!


ledakan keras terdengar berulang ulang. Setiap terjadi benturan, Nirmala ataupun Bidadari Suvarnabhumi akan terdorong mundur beberapa tombak.


Lindu mengamati pertarungan itu dengan serius. Dia paham lambat laun Nirmala dan Mayang akan kalah. Tapi dia melihat pertarungan ini sangat baik untuk mengasah kemampuan kedua gadisnya.

__ADS_1


Baammm...!!!


Bumm...!!


Benturan keras kembali terjadi dan Bidadari Suvarnabhumi serta Nirmala kembali terlempar. Nirmala merasa sangat kesal. Gadis itu kembali menyerang dengan sangat cepat. Nirmala menyerang dengan ilmu pedang Tarian Angin Barat tingkat ke lima.


Gelombang penghancur karang


Nirmala melenting menerjang kearah Mambang dengan sangat cepat. Ratusan ayunan pedang memotong dan menebas berbagai bagian tubuhnya ditangkis dan dihindarkan dengan sangat baik. Tangan kanan Mambang menyerang balik dengan gerakan mencengkram kerah dada Nirmala. Suatu gerakan yang sangat tidak sopan, jorok dan kurang ajar. Namun angin tajam terasa mengarah ke tengkuk dan punggungnya. Mambang membatalkan gerakan dan menangkis serta menghindari serangan yang dilakukan oleh Bidadari Suvarnabhumi dengan kekuatan besar.


Tak....!!


Track....!! Bamm...!!


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala kembali terdorong mundur. Kedua gadis cantik itu meludahkan seteguk darah dan kembali menata posisi menyerang.


"Cukup...!!" Lindu menghentikan pertarungan itu


"Lala, Yayang, kalian berdua istirahatlah. Biar aku menghadapi monyet budug itu." Lindu melangkah kearah Mambang.


"Akhirnya kau maju juga belatung. Aku pikir kau akan tetap sembunyi dibelakang gadis cantik itu seperti banci."


Lindu menatap tajam kepada Mambang. Senyum ringannya yang unik tersungging di bibirnya. Ia mengambil satu ranting kecil.


"Aku akan memukulmu sampai babak belur dan mencongkel satu matamu yang tidak bisa melihat dengan jelas. Ayo keluarkan senjatamu." ucap Lindu penuh nada menghina.


Mambang menjadi sangat marah mendengar ucapan Lindu. Mambang mencabut Piarik dan pedang pusakanya.


"Kau yang minta belatung, senjataku tidak bermata" Mambang menerjang Lindu dengan sangat cepat. Pedangnya bergerak kearah leher untuk memotong dan membelah dari atas kepala. Jika serangan itu mencapai sasaran leher Lindu akan putus dengan tubuh terbelah dua. Jika Lindu mampu mengelak ataupun menahan maka masih ada tusukan dari piarik bersarang dijantungnya. Lindu hanya tersenyum ringan menyambut kedatangan serangan dari Mambang.


\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2